6. Mayat Bersimbol

1838 Words
Seminggu Kemudian Bima tengah duduk sendirian di dalam kelasnya sementara yang lain pergi keluar untuk menikmati waktu istirahat. Ada yang pergi ke kantin untuk mencari makanan, ada yang menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk membaca buku atau hanya sekedar tidur di sudut ruangan, bahkan ada yang hanya duduk di lantai koridor sambil bersandar pada dinding untuk mengistirahatkan otaknya setelah lelah berpikir seharian. Biasanya, Bima menghabiskan waktu istirahatnya untuk membaca buku yang selalu ia bawa di suatu tempat yang cukup tenang. Namun, ia merasa suasana kelas saat ini cocok untuknya menikmati waktu istirahat. Bima terlihat membuka lembaran-lembaran bukunya dengan perlahan. Beberapa lembar halaman sudah selesai ia baca. Bola matanya menatap pekat pada tulisan yang tertera pada lembaran buku. Ia memusatkan perhatiannya pada buku tersebut, sampai suara langkah kaki seseorang membuyarkan fokusnya. Bima melirik tipis kearah suara langkah tersebut. "Kau sedang apa, Ar?" ucapnya datar tanpa menoleh. "Astaga! Bagaimana bisa?" sontak Arga dengan wajah terkejut. Beberapa menit sebelumnya, Arga baru saja kembali dari toilet dan hendak memasuki kelas. Saat di ambang pintu, ia melihat Bima terlihat fokus membaca bukunya dan niat jahilnya pun muncul. Ia berniat mengejutkan Bima, tapi sebelum itu, Arga harus cukup dekat dengan Bima. Ia pun mulai menjinjitkan kakinya lalu melangkah dengan perlahan kearah Bima. Langkah demi langkah ia lakukan dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara langkah kaki, bahkan ia harus menahan napasnya saat menempelkan kakinya ke lantai agar suara langkah kakinya tidak terdengar sama sekali. Namun, baru saja tiga kali melangkah, Bima sudah menyadari keberadaannya, padahal ia tahu jelas kalau langkah kakinya sangat pelan, bahkan dirinya sendiri pun tidak bisa mendengar suara langkahnya, bagaimana bisa Bima mendengarnya? "Bagaimana apanya?" tanya Bima dengan tatapan masih terpaku pada bukunya. "Bagaimana bisa pendengaranmu setajam itu, Bim? Aku saja tidak bisa mendengar langkah kakiku sendiri." "Itu karena cara melangkahmu kurang halus." "Kurang halus?" tanya Arga tidak mengerti maksud dari perkataan Bima. Bima menoleh pada Arga. "Ya, apa kau tahu bagaimana cara harimau berburu?" "Tentu saja aku tahu. Harimau memburu mangsanya dengan mengejarnya." jawab Arga dengan percaya diri. Bima tersenyum tipis mendengar ucapan Arga. "Sebelum itu?" "Hah? Sebelum itu? Sebelumnya memang apa?" "Harimau akan mengejar mangsanya saat jarak keduanya sudah cukup dekat. Lalu bagaimana cara harimau mendekati mangsanya tanpa diketahui olehnya?" "Bagaimana?" "Harimau menggunakan bantalan di kaki mereka untuk berjalan senyap agar mangsanya tidak mengetahui kedatangan mereka." "Woah ... lalu?" tanya Arga. "Kau bisa menggunakan tehnik berjalan senyap seperti harimau agar langkahmu menjadi halus," balas Bima. "Kau tahu caranya?" lontar Arga lagi. "Kalau itu aku tidak tahu," jawab Bima dengan santai. Arga memutar bola matanya sambil mendengus kasar. Ia mengira Bima mengetahui tehnik berjalan yang sedang ia bicarakan. Setelah itu, ia berjalan menghampiri Bima dan mulai duduk di sebelahnya. Sedangkan Bima, kembali terpaku pada bukunya. "Hei, aku mempunyai kabar terbaru soal penemuan mayat di belakang akademi, kau mau dengar?" "Ya, bagaimana kelanjutannya?" balas Bima menoleh pada Arga. "Katanya, mayat itu salah satu murid di akademi ini." "Kau serius?" tanya Bima dengan tatapan serius. "Ya, menurut berita yang tersebar seperti itu. Katanya, dia adalah perempuan yang ikut Bidang Beladiri di kelas 1-4." "Kelas 1-4? Itu artinya dia satu angkatan dengan kita?" seru Bima. "Iya, penyebab kematiannya masih belum diketahui, tapi dugaan sementara dia mati diserang hewan buas." "Diserang hewan buas? Di sekitar akademi?" ujar Bima seolah tidak percaya. "Ya, aku juga berpikir itu tidak masuk akal. Tidak mungkin hewan buas hanya menyerangnya," lugas Arga berpikir sama dengan Bima. "Lalu keadaan tubuh perempuan itu bagaimana?" lontar Bima. "Masih lengkap dan utuh. Hanya ditemukan beberapa bekas cakaran dan bekas gigitan di lehernya," balas Arga. Bima hanya diam sambil menatap kosong pada bukunya. Ia terlihat seperti tengah memikirkan sesuatu. "Tapi, ada hal aneh yang terjadi pada kejadian ini," ujar Arga memecah keheningan sesaat. Bima menoleh pada Arga dan menatapnya serius tanpa berkata. "Pada tubuh perempuan itu ditemukan semacam ukiran aneh yang membentuk sebuah simbol yang dibentuk oleh cakar." Bima mengernyitkan dahinya semakin merasa kebingungan. "Simbol?" "Ya, sebuah simbol. Aneh sekali, 'kan? Bagaimana mungkin hewan buas yang membuat ukiran itu di tubuhnya, itu pasti karena sesuatu yang lain." "Ya, kau benar. Aku pun berpikir seperti itu, tapi ... bagaimana dengan bekas gigitan di lehernya?" "Ah ... Aku tidak terlalu mengingat kalau soal itu, tapi kalau aku tidak salah, sepertinya mereka mengatakan gigitan itu identik dengan gigitan hewan sejenis harimau atau singa, ... atau cheetah ya? Pokoknya hewan sejenis kucing besar." "Gigitan kucing besar? Lalu simbol aneh ...." Bima bergumam mencoba mencari hubungan diantara dua hal tersebut "Nah itulah keanehannya, jika benar perempuan itu mati karena hewan sejenis itu, kenapa mayatnya masih utuh? Dan siapa yang bisa menjelaskan soal simbol itu?" Bima melirik singkat pada Arga karena ucapannya cukup masuk akal. "Lalu, jika dia dibunuh oleh manusia, bagaimana mungkin ada gigitan hewan buas di lehernya? Apa ada manusia yang memelihara hewan buas di daerah ini?" "Memelihara hewan buas? Itu tidak mungkin. Hewan buas bukanlah hewan yang mudah dijinakkan. Dan kalau pun itu adalah gigitan hewan buas, aku tidak terlalu yakin." "Ya, kau benar. Persis seperti yang kupikirkan." Suasana menjadi hening, tidak ada lagi obrolan diantara mereka untuk beberapa saat. "Hei, Bim." ucap Arga memecah keheningan. Bima melirik pada Arga. "Apa kau percaya Manusia Siluman?" tanya Arga dengan tatapan serius yang membuat hawa disekitar mulai terasa dingin. Bima terdiam untuk beberapa saat sebelum membalas ucapan Arga. "Tidak." Setelah berkata demikian, Bima memasukan bukunya ke dalam tas lalu bangun dari duduknya. "Hei, kau mau kemana, Bim?" tanya Arga. "Mencari udara segar." Bima melangkahkan kakinya keluar dari kelas. "Hei! Tunggu aku, Bim!" teriak Arga mulai menyusul Bima keluar dari kelas karena takut jika harus tinggal sendirian di dalam kelas saat suasana mulai terasa mencekam. *** Sementara itu, Leona baru saja balik dari kantin dan hendak kembali ke kelasnya. Ia berjalan sendirian melewati koridor yang cukup sepi karena setiap penghuni kelas tidak berada di dalam kelas mereka. Lalu dari ujung koridor, terlihat tiga orang pemuda tengah menunggu kedatangan Leona sambil memandangnya dengan tatapan c***l. Leo sudah melihat keberadaan tiga pemuda tersebut, namun tidak ada jalan lain, ia terpaksa harus terus berjalan dan melewati ketiga pemuda tersebut. Saat Leona hendak melewati mereka, salah satu pemuda menghadang jalannya, yang mana itu adalah Dion. "Hei, kenapa buru-buru sekali, Cantik?" ucap Dion menggoda Leo. "Bi-Bisa beri aku jalan, aku mau kembali ke kelasku." Leona terlihat sedikit ketakutan. "Hei, bukannya kita satu kelas? Kenapa tidak bareng saja denganku? Ya, 'kan? Dion mengedipkan matanya meminta kedua temannya mengiyakan ucapannya. "Ma-Maaf, tapi aku sedang terburu-buru saat ini." "Memang ada apa sih di kelas?" ucap Dion sambil mencolek dagu mulus Leo. Leo yang merasa dilecehkan oleh Dion, merasa tidak terima. Ketakutannya seakan hilang dan sorot matanya berubah. Ia kini menatap tajam pada Dion. "Dengar ya, kalau kamu sekali lagi menyentuhku, aku akan berteriak!" Mendengar ucapan Leo yang terkesan mengancam membuat Dion dan kedua temannya tertawa lebar. "Teriak saja, Nona. Silakan berteriak! Tidak akan ada yang membantu disini." Leona menelan ludahnya, ia menatap sekitar dan benar yang diucapkan oleh Dion. Koridor tempatnya berdiri sangat sepi, semua orang tengah berada di tempat lain. "Tapi ngomong-ngomong, kau cantik sekali. Bayaranmu permalam berapa?" PLAK!! Satu tamparan keras dari Leo mendarat di pipi Dion, ia tidak bisa menerima ucapan Dion yang terdengar melecehkannya. "Dengar ya! Aku bukan perempuan murahan! Jaga bicaramu!" Mendengar hal itu, Dion kembali tertawa. "Woaw ... kau cukup berani ya. Bagaimana kalau malam ini, kau datang ke rumahku untuk tidur bersamaku lalu aku akan memberimu uang." PLAK!! Satu lagi tamparan keras mendarat di pipi Dion. Ia memegang wajahnya yang terasa perih akibat tamparan Leo. "Dengarkan aku, Brengs*k! Aku tidak akan pernah mau datang ke rumahmu atau pun tidur denganmu! Bahkan aku punya lebih banyak uang darimu," ucap Leo berapi-api sambil menunjuk kasar pada Dion. Perkataan dari Leona mulai terdengar kasar dari sebelumnya. Sebenarnya Leo perempuan yang cukup ramah, namun jika dirinya merasa direndahkan, tentu saja ia akan melawan dan menunjukkan sisi liarnya. "Kenapa kau terus menamparku, Cantik? Apa salahku padamu? Aku hanya ingin-" Satu tamparan hampir saja kembali mendarat di pipi Dion, namun ia segera menyadarinya dan langsung mencengkram lengan Leo yang melayang kearahnya. "Dengar, Perempuan Sial*n! Aku bukan seorang pria yang menahan pukulanku kepada seorang perempuan. Aku akan membalasnya seperti yang perempuan lakukan kepadaku, kau paham!" Leona hanya memalingkan wajahnya dari wajah Dion. Dion mencengkram kedua pipi Leo lalu menghadapkan wajahnya kepadanya. "Kau tahu, aku bisa saja menamparmu balik saat ini, tapi aku tidak ingin merusak wajah cantikmu. Apa kau mau jadi pacarku? Kau bisa jadi terkenal karena berpacaran denganku." "Aku tidak akan pernah mau mempunyai hubungan dengan laki-laki b******k sepertimu." PLAK!! Satu lagi tamparan keras mendarat di wajah, namun bukan wajah Dion, melainkan wajah Leo. Ya, tamparan itu berasal dari tangan Dion. Leona hanya diam merasakan perih di pipinya. Seumur hidupnya, baru kali ini ia ditampar oleh orang lain. Bahkan kedua orang tuanya pun tidak pernah memukulnya. Bendungan air mata mulai terlihat di pelupuk matanya, kini Leona kembali merasa ketakutan. Sesaat ia menyadari bahwa di hadapannya ada tiga orang pemuda dari Bidang Beladiri, tidak seharusnya perempuan seperti dirinya berhadapan dengan mereka. "Bagaimana? Apa kau berubah pikiran?" tanya Dion lagi. Leona masih diam mematung sambil merasakan perih di pipinya yang tak kunjung hilang. Dion kembali mencengkram pipi Leo dengan kasar sampai ia meringis kesakitan. Belum sempat Dion membuka mulutnya, dia menyadari kedatangan orang lain dari arah samping. "Lepaskan dia!" ucapnya datar. Suara itu terdengar tidak asing di telinga Dion. Ia menoleh ke samping dan menemukan dua orang pemuda tengah berdiri menatapnya dengan dingin. Mereka adalah Bima dan Arga yang berniat keluar dari kelas untuk mencari udara segar, tapi malah menemukan penindasan tiga orang pengecut kepada seorang perempuan. Dion melepaskan cengkramannya dari pipi Leo lalu mulai memiringkan bibirnya membentuk senyuman remeh. "Kau lagi rupanya, kebetulan sekali saat ini aku sedang kesal dan ingin menghajar orang." Dion menoleh singkat kepada kedua temannya dan menyuruh mereka untuk menjaga Leona agar tidak pergi. "Bim, sepertinya kita harus menghindari perkelahian dengannya. Ini akan sangat merepotkan," ungkap Arga pada temannya. "Kau tidak ingat yang aku katakan tadi? Kalau kau manusia, kau tidak akan membiarkan manusia lain tersakiti." Kalimat bijak itu kembali keluar dari mulut Bima. "Tapi, apa kau yakin akan bertarung dengannya?" tanya Arga memastikan. "Iya, tenanglah," balas Bima santai. "Hei, Bod*h, kalian sedang membicarakan apa? Kalian sedang berencana lari, hah?" celoteh Dion lalu tertawa lebar diikuti tertawaan kedua temannya. "Kau banyak bicara ya?" ujar Bima tanpa ekspresi. Mendengar ucapan Bima, emosi Dion naik. Ia mengepalkan tangannya erat. "Aku beri kalian kesempatan terakhir, kalian akan aku izinkan lewat tapi jangan pernah ikut campur urusanku. Bagaimana?" Bima tidak menanggapi ucapannya, ia hanya diam sambil terus menatap dingin pada Dion. Dion mendengus kesal. "Hei, Sial*n, berani sekali kau menatapku dengan tatapan itu! Kau mau mati?" "Coba saja!" balas Bima terdengar menantang. Dion semakin geram, rahangnya mengeras dan sorot matanya menatap tajam. Kepalan tangannya semakin terkepal kencang. Bima hanya berdiri di tempatnya, tidak ada reaksi berlebihan, hanya tatapan dingin tanpa ekspresi yang ia pasang. Tangannya bahkan belum terkepal, hal itu membuat Dion semakin geram karena merasa diremehkan oleh Bima. "Kau akan menyesal telah membuat masalah denganku, Sial*n!" seru Dion geram. Dalam sekejap, Dion melesat cepat kearah Bima sambil melayangkan pukulannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD