7. Perkelahian di Koridor

1888 Words
Dion berlari cepat kearah Bima dengan tangan terkepal. Rahangnya mengencang geram dan matanya menatap tajam. Dalam satu hentakan, Dion melompat dan berada di udara untuk beberapa saat, bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh ke bawah, Dion melayangkan pukulan yang mengarah ke wajah Bima. Saat pukulan itu hampir menghantam wajahnya, Bima menatap dingin kepalan tangan Dion untuk beberapa saat lalu dalam satu hembusan nafas, ia menghindari pukulan itu dengan menyampingkan tubuhnya. Gerakannya mulus dan stabil tanpa membuang banyak energi. Pupil matanya tidak berpindah dari posisinya, dia masih menatap lurus ke depan. Sejak kecil, Bima selalu diberitahu oleh neneknya untuk selalu tenang dalam kondisi apapun, terutama saat berada dalam pertarungan. Jika emosi seseorang terpancing dalam pertarungan, indranya akan melemah dan tenaganya akan terbuang sia-sia. Itulah awal kekalahan seseorang dalam pertarungan. Ketenangan dalam pertarungan juga berguna untuk mempertajam insting. Saat emosi kita stabil dan pikiran fokus, maka kita akan lebih berkonsentrasi dan mampu bergerak lebih cepat, dengan kata lain reflek tubuh kita akan semakin cepat. Tidak banyak yang mengetahui bahwa saat tubuh kita merasa terancam, insting akan lebih sensitif, hal itu dikarenakan tubuh menerima semacam sinyal dari otak untuk melindungi diri dan seringkali memberi isyarat pada tubuh. Contoh kecil tanda dari sinyal otak kepada tubuh kita adalah tubuh merasa merinding di saat-saat tertentu. Kembali ke pertarungan, Dion yang menyadari pukulannya meleset, tidak memberi kesempatan bagi Bima untuk menyerang, ia kembali melayangkan pukulan dengan cepat, namun lagi-lagi Bima dapat menghindarinya. Dion tidak berhenti sampai disitu, ia terus melayangkan serangan pada Bima beberapa kali sampai nafasnya mulai terasa berat. Meskipun begitu, Bima dapat menghindari serangan Dion dengan sempurna tanpa membuang-buang banyak tenaga. Tidak ada satu pun bagian tubuh Bima yang tersentuh oleh Dion, bahkan satu helai rambut pun tidak. Dion menghentikan serangannya sejenak untuk menghela napas, sesaat kemudian ia kembali melayangkan pukulan bertubi-tubinya tanpa henti dengan ritme yang lebih cepat. Pukulannya menghasilkan suara dentuman saking kerasnya, namun ia masih tidak dapat menyentuh Bima yang terus menghindari pukulannya. Hal lain yang membuat Bima dapat menghindari serangan Dion dengan mudah adalah adanya lapisan kundalini. Kundalini atau Solar Plexus adalah suatu energi yang berpusat pada syaraf-syaraf di sekitar ulu hati dan setelah dibangkitkan akan berkumpul pada salah satu bagian tubuh. Dengan kata lain, kundalini sering disebut juga dengan tenaga dalam. Lapisan kundalini yang ada pada tubuh Bima berperan sebagai lapisan pelindung tak terlihat yang dapat melindungi tubuhnya dari serangan luar. Lapisan tersebut dapat dibangkitkan jika seseorang sudah mampu mengendalikan kundalini atau tenaga dalamnya dengan baik. Sementara itu, Dion mulai merasa kelelahan karena terus melayangkan pukulannya tanpa henti. Dia pun menghentikan serangannya dan mencoba menghela napas dalam lalu mulai mengaturnya. Dion menatap tajam pada Bima. "Hei, Sial*n! Apa kau tidak bisa memukul, hah? Dari tadi kau hanya menghindari pukulanku. Ayo serang aku, Pengecut! Mau sampai kapan kau terus mengelak?!" ujar Dion. Bima hanya menatap dingin pada Dion. Ia tidak menanggapi sedikit pun ucapan Dion yang terdengar sedang memprovokasinya. Ucapan provokasi biasa terjadi dalam pertarungan yang bertujuan untuk melemahkan mental ataupun memancing emosi lawan. Di sisi lain, tepat dibelakang Dion, kedua temannya membelalak tidak percaya melihat pertarungan mereka. Dion bergerak dengan sangat cepat, bahkan pukulannya hampir tidak terlihat, namun dihadapannya, Bima mampu menghindari semua pukulannya dengan sempurna. Sebagian besar manusia, memiliki batas kecepatan masing-masing untuk bergerak. Namun, beberapa orang dapat melebihi batasan tersebut dengan melewati latihan khusus. Tidak semua orang mampu menjalani latihan khusus tersebut karena sangat beresiko pada kondisi tubuhnya. Orang yang menjalani latihan tersebut harus melewati proses yang cukup panjang dan organ dalam yang siap hancur karena ditempa latihan berat. Kedua teman Dion menatap satu sama lain. "Ka-Kau lihat itu?" "I-Iya, mereka sangat cepat." "Apa benar mereka manusia?" Di sisi lain, tepatnya dibelakang Bima, Arga juga menatap tidak percaya melihat pertarungan mereka. Ia tidak menyangka Bima dapat menghindari semua serangan Dion. Lagi-lagi dia dibuat terkejut oleh Bima, dia baru kali ini melihat secara langsung cara temannya bertarung. Walaupun hubungan pertemanan mereka cukup dekat, tapi hanya sedikit yang Arga ketahui tentang Bima. Bahkan, setiap dia bertanya tentang kehidupan pribadinya, Bima selalu menghindar ataupun mengalihkan pembicaraan. Entah apa alasannya. Setelah beberapa saat mengatur nafas, Dion kembali melayangkan pukulan bertubi-tubinya pada Bima. Namun, keadaan tidak berubah dari sebelumnya, Bima mampu menghindari semua serangannya dengan tenang. Setelah cukup lama beradu kecepatan, Dion menyadari usahanya untuk menyerang Bima hanya sia-sia, akhirnya ia pun kembali menghentikan serangannya. Tangannya masih terkepal dan rahangnya semakin mengencang geram. "Hei, Sial*n, kau belajar beladiri dimana? Tidak kusangka gerakanmu cepat juga." ujar Dion sambil memiringkan bibirnya. Di hadapannya, Bima mulai terlihat terengah-engah, karena terlalu banyak menghindar. Namun, ia masih terlihat tenang dengan tatapan dingin tertuju pada Dion. Beberapa detik kemudian, nafasnya sudah stabil. Namun, ia masih bungkam, tidak sedikit pun menanggapi ucapan Dion. Dion mendengus kesal melihat tatapan Bima padanya. "Cih! Aku benci tatapanmu! Jika kau terus melihatku seperti itu, akan kucongkel bola matamu!" ancam Dion merasa geram. Ucapan Dion yang terdengar mengancam tidak membuat Bima gentar sedikitpun, ia sama sekali tidak peduli dengan ucapannya yang terdengar hanya omong kosong belaka."Coba saja," balas Bima singkat tanpa ekspresi. Dion mendengus remeh. "Akhirnya kau membuka mulut juga, awalnya kukira kau bisu!" ejeknya sekali lagi yang hanya ditanggapi dengan tatapan dingin Bima. "Kudengar-dengar, kau dari desa yang dekat dengan gunung, ya? Pasti kau kesulitan untuk sampai ke sini. Kau harus melewati hutan dulu untuk sampai ke Akademi. Pantas saja dari tadi aku mencium tanah, rupanya itu bau tubuhmu!" ejek Dion kemudian tertawa lebar disusul tawa keras kedua temannya. Yang dilakukan Dion barusan adalah bentuk perang urat syaraf atau psywar. Psywar adalah suatu bentuk tindakan serangan yang dilancarkan menggunakan metode psikologi dengan tujuan membangkitkan reaksi psikologis yang telah terancang terhadap orang lain. Dion sengaja melakukan psywar untuk memancing emosi Bima dan menggoyahkan mentalnya. Dalam pertarungan, seseorang yang terpancing psywar lawan secara tidak sadar akan lebih agresif dalam bertarung namun tidak akan efektif. Hal tersebut justru akan membuka celah untuk lawan menyerang. Ejekan Dion ditanggapi gelak tawa oleh komplotannya. Dion melihat sekilas kebelakang lalu kembali menatap Bima. "Kau mau melindungi perempuan sial*n itu? Silakan saja! Asal kau tahu, dia itu perempuan mura- BUGH!! Sesaat kemudian suasana menjadi hening, mereka menyaksikan sesuatu diluar dugaan mereka, Bima yang dari tadi terlihat tenang dan dingin, tiba-tiba melayangkan pukulan keras pada Dion. Pukulan itu sangat cepat dan kuat, sampai-sampai Dion tidak menyadari kedatangannya. Dion terhempas beberapa langkah ke belakang dan akhirnya jatuh terkapar di lantai akibat tidak mampu menahan pukulan Bima. Akibat pukulan itu, darah segar keluar di tepi bibir Dion. Dia mengusap dengan punggung tangannya dan melihat bercak darah di sana. Sesaat kemudian, Dion menatap Bima sambil tersenyum remeh. "Sial*n, pukulan apa ini? Dia bisa membuatku jatuh hanya dengan satu pukulan. Ini pertama kalinya bagiku mendapat pukulan seperti ini. Sepertinya tenaga dalamnya cukup terlatih. Dimana dia belajar ini," batin Dion hampir tidak percaya. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa seseorang yang mahir mengendalikan kundalini-nya mampu memusatkan tenaga dalamnya pada satu titik bagian tubuhnya, seperti tangan, kaki, atau bagian tubuh mana pun yang diinginkan. Hal itu akan menghasilkan daya hancur yang lebih kuat dari biasanya. Itulah yang baru saja Bima lakukan. Ia memusatkan tenaga dalam pada kepalan tangannya, sehingga saat ia memukul Dion, daya hancurnya lebih kuat yang membuat tubuh Dion tidak mampu menahan pukulannya. Melihat Dion yang terkapar di lantai, kedua temannya yang ada di sana mendekatinya dan berusaha membantu menegakan tubuhnya. Namun, Dion menepis semua tangan yang hendak menyentuhnya. "Lepaskan, Sial*n! Jangan menyentuhku! Aku bisa bangun sendiri!" bentak Dion sambil berusaha mendirikan tubuhnya tanpa bantuan kedua temannya. Tapi saat mencoba bangkit, tubuh Dion kembali ambruk dan semakin kesulitan untuk bergerak. Tenaga dalam tubuhnya seolah lenyap akibat pukulan dari Bima. "Brengs*k! Tubuhku tidak bisa bergerak," umpatnya merasa kesal. Dion terus mengumpat kesal karena harus menerima kenyataan bahwa dia jatuh karena satu pukulan. Dia yang selalu sombong dan berbangga diri karena menganggap dirinya langit, harus terpaksa menerima kehadiran langit lain yang berada di atasnya. Bima masih berdiri tenang dengan tatapan datar menatap Dion yang masih terduduk di lantai. Dia mulai melangkahkan kakinya perlahan melewati Dion dan kedua temannya. Mereka terlihat menepi dan memberi ruang untuk Bima sambil menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap matanya. Leona hanya menatap Bima yang berjalan kearahnya. Ia tidak mampu berkata-kata lagi saat pemuda itu berdiri di hadapannya dengan tatapan dinginnya. Bima mengulurkan tangannya perlahan pada Leo. "Ayo keluar dari sini." Tanpa ragu, Leona langsung meraih tangan Bima dan menggenggamnya. Mereka mulai melangkahkan kakinya dari sana, meninggalkan ketiga pengecut yang hampir saja membuat masalah dengan Leona. Melihat temannya berlalu dari sana, Arga langsung berlari menyusulnya. Leona berjalan di samping Bima dengan hening. Sesekali matanya melihat tangannya yang tengah berada dalam genggaman Bima. Pemuda itu nampak menggenggam erat tangan mungil Leo. Leona hanya diam dengan raut wajah gugup. Tidak ada yang tahu bahwa saat ini jantungnya tengah berdegup kencang. Entah karena masih syok dengan yang terjadi sebelumnya atau karena tengah berjalan di samping Bima. Pandangannya tertuju pada lantai koridor. Namun, sesekali matanya melirik tipis pada wajah Bima. Jambang tipis dan rahang yang tegas menghiasi wajahnya, membuat aura Bima terpancar dan membuat siapa pun yang menatapnya akan terpesona. Tatapan tajam Bima fokus menatap lurus, membuatnya terkesan sedikit misterius. Beberapa saat berjalan melewati koridor, mereka sudah berada di luar gedung Akademi. Bima melepaskan genggamannya dari tangan Leo, membuat perempuan itu sedikit terkejut. "Lain kali, lebih berhati-hatilah, terutama pada ketiga orang itu. Sebisa mungkin, jauhilah mereka. Aku tidak tahu sejauh apa yang bisa mereka lakukan kepadamu. Tapi untuk sekarang, kau aman." "I-Iya, aku akan lebih berhati-hati lain kali. Terima kasih karena sudah menolongku dari mereka, jika tidak ada kamu-" "Sudahlah, jangan terlalu difikirkan. Lagipula, aku hanya kebetulan lewat dan tidak sengaja melihatmu bersama ketiga orang itu. Tentu saja aku harus menolongmu." "Ah, iya, sekali lagi terima kasih, Bima." "Kalau begitu, aku pergi dulu." "Iya." Bima membalikkan tubuhnya dan hendak melangkahkan kakinya. Namun, teriakan Arga membuatnya kembali menoleh ke belakang. "HEI BIMA! TUNGGU AKU!" teriak Arga dari belakang. Bima menunggu beberapa saat sampai Arga cukup dekat dengannya, setelah itu ia kembali membalikkan badannya dan berlalu dari sana dengan Arga berjalan di sampingnya. Leona masih berdiri di tempatnya, menatap kepergian mereka. Tatapannya hanya terfokus pada punggung Bima. Matanya menatap takjub pada pemuda tersebut. Sepertinya benih asmara mulai tumbuh di hatinya. *** Waktu berlalu dan sore pun datang, waktu pulang untuk seluruh pelajar Akademi. Semua orang berhamburan keluar dari kelas untuk segera pulang ke rumahnya. Seperti biasa, Bima dan Arga pulang paling akhir karena ingin lebih leluasa saat berjalan di koridor. "Bim, kenapa kau meninggalkanku tadi?" tanya Arga. "Siapa? Aku tidak meninggalkanmu." balas Bima. "Hei, jangan pura-pura lupa ya! Jelas-jelas kau meninggalkanku di koridor tadi!" ucap Arga mulai menaikan suaranya. "Kau saja yang lambat," jawab Bima dengan santai. Sementara kedua pemuda itu tengah mempermasalahkan hal sepele di koridor, Leona terlihat baru saja keluar dari gedung Akademi sendirian. Biasanya, ia selalu berangkat dan pulang Akademi bersama teman satu desanya. Namun, karena suatu alasan, temannya tidak bisa masuk Akademi hari ini, yang membuatnya harus berangkat dan pulang sendirian. Suasana sore itu terlihat berbeda, langit lebih kuning dari biasanya. Nampaknya senja datang lebih cepat hari ini. Membuat Leona harus memberanikan diri untuk berjalan sendirian ke rumahnya. Namun, tanpa Leo sadari, seseorang dari kejauhan tengah menatapnya dengan senyum tergambar di bibirnya. Lidahnya yang runcing menjulur keluar, menjilat bibir atasnya dari sisi kiri ke sisi kanan. Setelah itu, ia mulai berlalu dari tempatnya. Nampak dari tatapannya, ia berniat melakukan sesuatu pada Leona. Lagi-lagi, Leona harus menghadapi masalah. Namun, saat ini entah siapa yang akan menyelamatkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD