Beberapa Jam Sebelumnya
Setelah Bima, Arga, dan Leona pergi dari sana, Dion dan kedua temannya masih berada di tempatnya. Dion yang kesulitan untuk berdiri, mencoba untuk mendudukkan dirinya lalu bersandar pada dinding di belakangnya.
"Sialan! Aku tidak percaya pukulannya sekeras ini. Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia bisa mengalahkanku dalam sekali pukul," gumam Dion merasa kesal.
Pemuda itu cukup terkejut dengan kemampuan Bima. Dia yang awalnya meremehkan Bima, harus menerima kekalahannya. Namun, bukan Dion namanya jika langsung mengakui kekalahannya begitu saja.
Bukan tanpa alasan, selama berada di Akademi, tidak pernah ada yang berani melawannya, bahkan dia mengira kemampuannya jauh di atas mereka. Namun, dugaannya salah, kemampuan Bima ternyata jauh diatasnya.
"Kau lihat cara dia bertarung tadi? Keren sekali ya," ujar salah seorang teman Dion kepada lainnya.
"Benar, cara dia menghindari semua pukulan sangat keren dan tidak masuk akal."
"Lalu saat dia memukul, kau lihat, 'kan?"
"Iya, pukulan sangat kuat, bahkan Dion tidak mampu menahannya," ucapnya lalu diikuti tertawaan keduanya.
Dion yang mendengar obrolan kedua temannya menatap sinis kepada mereka. "Diam, Sialan!" Aku hanya lengah saja tadi," ucap Dion berdalih.
"Benarkah itu atau cuma alasanmu saja?" tanyanya berniat mengejek Dion.
"Tentu saja. Lihat saja, lain kali aku tidak akan kalah darinya."
"Wah, kau yakin mau melawannya lagi? Aku ragu kau bisa mengalahkannya," ujarnya terkesan meremehkan Dion.
Tentu saja Dion tidak bisa menerima itu. "Apa katamu? Aku tidak bisa mengalahkannya? Memangnya kenapa, Sialan? Apa dia terlihat lebih kuat dariku, hah?" tanya Dion tidak ingin terlihat lemah.
"Jujur saja, iya, dia terlihat lebih kuat darimu."
"Sialan kau!"
Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki mulai terdengar dari ujung koridor. Keadaan koridor yang sepi membuat suara itu terdengar menggema saling bersahutan. Semakin lama suara itu semakin keras yang berarti pemilik langkah itu semakin mendekat.
Suara langkah itu terdengar halus saat mengenai lantai dengan tempo yang lambat. Bersamaan dengan itu, sebuah bayangan samar mulai terlihat memantul di lantai dan juga dinding koridor.
Sinar cahaya sore dari arah belakang membuat wajah dari pemilik langkah itu terlihat samar dari kejauhan. Namun, sosoknya semakin terlihat saat jaraknya sudah semakin dekat. Dilihat dari postur tubuhnya, pemilik langkah itu adalah seorang pria.
Sejak kedatangannya, Dion dan kedua temannya sudah terpaku menatap kedatangan pemilik langkah tersebut. Dia terus berjalan dan menghentikan langkahnya tepat di hadapan mereka bertiga. Ia menatap mereka dengan senyum menempel di bibirnya.
"Kau tahu, kau tidak akan pernah bisa mengalahkannya dengan kemampuanmu saat ini," ucap pria tersebut.
"Apa maksudmu?" tanya Dion.
Pria itu mulai berjongkok menghadap Dion. "Apa kau mau tahu cara mengalahkan anak itu?" ucapnya lagi.
Mendengar ucapannya, Dion mendengus remeh. "Cih! Kau pikir siapa dirimu? Kau datang kesini hanya untuk mengatakan hal yang tidak berguna seperti ini? Apa kau pikir orang tua sepertimu bisa mengalahkannya, hah?"
"Akui saja, Anak Muda, kemampuannya jauh di atas dirimu."
"Tidak! Kemampuannya tidak lebih hebat dariku. Aku hanya lengah saja tadi."
Mendengar ucapan Dion, membuat pria itu terkekeh. "Lengah katamu? Apa kau pikir tumbang dengan satu pukulan itu disebut lengah? Kau kalah darinya, Anak Muda."
"Tidak, Sialan! Aku tidak kalah! Sudah kubilang aku hanya lengah!" sanggah Dion berkali-kali tidak ingin mengakui kekalahannya.
Karena terlalu menaikan suaranya, Dion kembali merasakan nyeri di wajahnya akibat pukulan Bima. Wajahnya tidak bisa berbohong, ia terlihat meringis kesakitan.
"Ada apa dengan raut wajahmu? Apa pukulannya sangat menyakitkan?"
"Diamlah! Aku hanya merasa gatal," balas Dion.
Setelah beberapa saat Dion baru menyadari sesuatu. "Hei, tunggu dulu, bukannya kau salah satu Pembimbing Beladiri di sini? Ada perlu apa kau denganku?"
"Tidak ada, aku hanya kebetulan lewat sini."
"Sebentar, siapa ya namamu?" Dion memejamkan mata sambil memegang kedua alisnya mencoba mengingat nama pria yang berada di hadapannya.
Beberapa detik kemudian dia kembali membuka matanya. "Ah, lupakan saja. Apa gunanya aku mengingat namamu?!"
Pria itu kemudian terkekeh mendengar celotehan Dion. "Hei, Bocah! Kau banyak bicara juga ya? Ingat ini, namaku Arya Acynonix dan satu hal yang harus kau tahu, aku adalah Ras Valosa tercepat," ucapnya.
"Hah? Kalosa? Apa yang kau bicarakan, Sialan?" tanya Dion tidak mengerti maksud ucapan Nix.
Raut wajah Nix berubah menjadi kecut. Ia kemudian menghela napas panjang. "Haa ... Bocah Bodoh! Bukan Kalosa tapi Valosa."
"Valosa? Apa itu?" tanya Dion.
Tepat di sebelahnya, salah seorang teman Dion yang tengah mendengarkan pembicaraan mereka rupanya sedikit mengetahui tentang Valosa. "Hei, apa katamu Valosa? Bukankah itu hanya dongeng zaman dulu?"
Dion menoleh kepadanya. "Dongeng apa?"
"Aku pernah mendengar tentang Valosa dari orang tuaku, katanya, itu adalah nama sebuah Ras yang dulu hidup berdampingan dengan manusia, tapi karena perang besar, mereka tiba-tiba menghilang dari dunia," tuturnya.
Dion mengerutkan keningnya. "Dongeng macam apa itu? Aneh sekali."
Pemuda itu mengalihkan pandangannya pada Nix. "Hei, apa maksud ucapanmu barusan? Ceritakan kepadaku, apa itu Valosa?"
Mendengar itu, Nix terkekeh sesaat. "Untuk apa aku menceritakannya kepadamu? Tidak ada untungnya untukku. Lagipula, Bocah Bodoh sepertimu tidak akan mengerti ucapanku."
Mendengar ucapan Nix yang terkesan mengejeknya membuat Dion merapatkan giginya karena merasa kesal. Diam-diam dia mengencangkan kepalan tangannya dan dalam beberapa detik, ia langsung melayangkan pukulannya tanpa aba-aba.
Dion membelalakkan matanya saat menyadari pukulannya meleset. Nix mampu menghindari pukulannya tanpa terduga. Ia memiringkan kepalanya sehingga membuat pukulan Dion hanya melesat di samping telinganya.
Dion mendengus kesal. "Cih! Kenapa pukulanku semakin lambat saja? Ini pasti karena pertarunganku dengan orang itu."
Nix kembali terkekeh mendengar ocehan Dion yang masih merasa hebat. "Hei, Bocah! Kau sebut itu pukulan? Kenapa pelan sekali? Anak kecil juga bisa melakukannya," ujar Nix diikuti tawa lebarnya.
"Hei, Sialan! Apa maksudmu? Kau pikir kau bisa memukul lebih hebat dariku, hah?"
"Baiklah, aku akan tunjukkan cara memukul yang benar."
"Cih! Bicaramu seperti—"
BUGH!!
Satu pukulan telak menghantam wajah Dion dengan cepat sampai dia tidak menyadari kedatangannya. Pukulannya sangat cepat, bahkan membuat Dion terdiam sesaat karena terkejut dengan kedatangannya.
"Bagaimana?" tanya Nix setelah melayangkan pukulannya.
"Bagaimana apanya, Sialan?! Pukulanmu tidak terasa sama sekali."
"Begitukah? Baiklah."
BUGH!!
Satu lagi pukulan keras menghantam wajah Dion, kali ini tepat mengenai tulang hidungnya. Reflek, Dion langsung memegang batang hidungnya karena sedikit merasa perih akibat pukulan itu.
"Sialan! Hentikan—
BUGH!!
Nix tidak mempedulikan ocehan Dion, ia terus menghantam wajah Dion dengan pukulannya, membuat pemuda itu tidak berdaya.
"Hentikan, Sialan!"
Nix semakin beringas, ia kembali menghantam wajah Dion dengan pukulannya. Pukulan bertubi-tubi membuat Dion tidak mampu berkata-kata karena saking cepatnya.
Kedua temannya yang ada di sana meringis, mengerutkan wajahnya saat pukulan Nix terus menerus menghantam wajah Dion.
"Cukup! Henti—"
Nix semakin membabi buta, kali ini dia menghantam wajah Dion dengan pukulan disertai tamparan perih di wajahnya. Membuat pembuluh darah pemuda itu satu persatu pecah sehingga menimbulkan bercak merah di wajahnya.
"He—Hentikan! Sudah cukup!" Dion terus merengek meminta Nix berhenti memukulnya.
Setelah beberapa saat, Nix berhenti menghantam wajah Dion. Senyum puas tergambar di bibirnya. "Bagaimana, hah? Kau sudah paham arti pukulan?"
Dion mulai menyentuh satu per satu bagian wajahnya yang terkena pukulan Nix. Ia meringis kesakitan saat merasakan nyeri di seluruh wajahnya. Ia merasakan wajahnya seperti habis disengat ribuan lebah.
"Bagaimana apanya, Sialan? Kau jangan merasa senang karena aku tidak bisa menghindari pukulanmu. Aku hanya sedikit kelelahan karena habis bertarung tadi. Jika saja tenagaku tidak habis, aku pasti bisa menghindari semua pukulanmu," ujar Dion masih mencoba meninggikan harga dirinya.
"Terserah kau saja, Bocah!" Setelah berkata demikian, Nix mulai berdiri dan hendak melangkahkan kakinya dari sana. Namun, Dion kembali bertanya tentang Ras Valosa yang dia ucapkan.
"Jika kau ingin tahu apa itu Valosa, datanglah ke Gedung Tua di belakang Akademi malam ini," ucap Nix.
"Gedung Tua? Untuk apa aku datang ke sana, Sialan? Kau tinggal bilang padaku apa itu Valosa! Kenapa repot sekali?"
"Jika aku mengatakannya di sini, kau tidak akan percaya. Kau harus melihatnya langsung."
"Begini, Pak Tua, aku terlalu malas untuk datang malam-malam ke Akademi, apalagi ke Gedung Tua yang kau maksud. Aku tidak punya waktu untuk itu."
"Kalau begitu, terserah kau saja. Namun, kau melewatkan kesempatan untuk bisa mengalahkan anak itu."
"Hei, tunggu dulu, siapa yang kau maksud 'anak itu'?"
"Anak yang mana lagi? Tentu saja pemuda yang baru saja mengalahkanmu, Bocah!"
Mendengar ucapan Nix, Dion langsung tertawa lebar. "Jangan bercanda, Sialan! Bagaimana bisa aku mengalahkan dia hanya dengan datang ke Gedung Tua malam ini? Apa di sana ada pohon permintaan, hah? Yang bisa mengabulkan semua keinginan? Kalau begitu, kau datang saja sendiri, lalu mintalah kekuatan super untuk dirimu sendiri," ejek Dion diikuti tawa lebar kedua temannya.
Nix menghela napas panjang mendengar ocehan Dion. Ingin sekali dia menghajarnya sampai mati. Namun, karena suatu alasan, dia tidak bisa melakukan itu karena akan membahayakan hidupnya.
"Haa ... Bocah Bodoh! Terserah kau saja. Kau hanya membuang waktuku saja." Setelah berkata demikian, Nix mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.
Langkah kakinya terdengar bersahutan diantara koridor. Semakin lama, suara itu semakin tidak terdengar, sampai benar-benar menghilang dari pendengaran.
***
Langit sudah menguning dan cahaya matahari perlahan memudar. Leona terlihat berjalan sendirian menyusuri jalan setapak di antara dua hutan yang bersebrangan. Ia berjalan dengan langkah cepat agar segera sampai ke rumahnya sebelum malam tiba.
"Ya ampun, Aku baru menyadari jalan yang setiap hari aku lewati ternyata cukup mengerikan," gumam Leona merasakan aura mencekam saat melihat hutan di sebelahnya.
Tapi dengan segera, Leona menepis hal mengerikan dari pikirannya. "Ah tidak! Ini pasti hanya perasaanku saja. Lebih baik aku mempercepat langkah kakiku."
Leona semakin mempercepat ritme langkahnya, namun karena kelelahan ia kembali memperlambat langkah kakinya, bahkan lebih lambat dari sebelumnya.
Walaupun sangat ingin berhenti untuk istirahat, Leona tidak melakukannya karena terlalu takut jika harus berlama-lama di tempat tersebut.
Perasaan gelisah mulai menyelimutinya saat langit sudah mulai gelap. Rasa takut akan sesuatu dari dalam hutan membuatnya kembali mempercepat langkah. Namun, apa daya, kakinya sudah terlalu lemas untuk terus memaksakan berjalan.
Dengan nafas yang terengah-engah Leona kembali bergumam, "Apa lebih baik aku istirahat saja ya?"
Setelah beberapa kali berfikir, akhirnya Leo memutuskan untuk berhenti sejenak di pinggir jalan untuk menghela nafas dan memulihkan tenaganya.
Ia memijit perlahan lututnya yang terasa pegal, kemudian turun ke betisnya yang terasa ngilu karena terlalu lama berjalan. Padahal, saat berjalan bersama temannya, dia tidak pernah merasakan kelelahan seperti ini.
Leona menatap sekeliling untuk melihat keadaan sekitar. Langit sudah gelap seutuhnya dan suara burung hantu mulai terdengar bersahutan. Suasana mulai terasa semakin mencekam ditambah hawa dingin yang menusuk tulang belakang.
Minimnya pencahayaan membuat keadaan sekitar terlihat samar. Pandangan Leona terbatas beberapa meter ke depan karena hanya mengandalkan cahaya bulan.
Lalu entah dari arah mana, Leona mendengar langkah kaki mendekat. Ia segera bangun dari tempatnya. "Ah ... sepertinya sudah cukup istirahatnya. Aku harus segera pulang."
Leona mulai kembali melangkah. Namun, semakin lama suasana semakin mencekam, tapi Leo berusaha mengabaikan rasa takutnya. Namun, tiba-tiba, terdengar suara desisan dari arah belakang. Membuat Leona tidak mampu menahan lagi ketakutannya, ia langsung merubah langkahnya menjadi lari.
Nafasnya terasa sangat berat, tapi ia tidak bisa berhenti saat ini.
SSTTT!!
Suara itu terdengar semakin dekat yang membuat Leona semakin merasa ketakutan. Kurangnya cahaya membuat Leona tidak bisa melihat batu di depannya sehingga membuatnya jatuh tersungkur.
"Aww ...." Leona meringis kesakitan sambil memegangi lututnya yang menghantam tanah.
SSTTT!!
Dalam kondisi seperti itu, Leona berusaha untuk segera berdiri. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil. Ia sudah kehabisan tenaga di kakinya.
Leona menoleh ke arah belakang, memberanikan diri untuk melihat suara itu.
SSTTT!!
Suara itu kini sangat dekat dengannya, membuat Leona diselimuti ketakutan. Mulutnya bisu tidak mampu berbicara sepatah kata pun.
Ketika tubuhnya mematung, sebuah tangan besar dengan cakar runcing perlahan menutup mulutnya. Dengan tubuh gemetar, Leona berusaha menoleh ke belakang untuk melihat sosok dibalik tangan bercakar itu. Matanya membelalak saat melihat mata bersinar berwarna kuning dengan pupil runcing tengah menatapnya.
SSTTT!!!