CHAPTER 9 : ANOTHER DARK SECRET

1111 Words
"Hai, Sayang. Kita berjumpa lagi." sapa sang iblis dari atas gerbong kereta. Alexa begitu terkejut mendengar suara sapaan ceria dari makhluk yang tidak pernah ingin ia lihat lagi meskipun sedang berada di alam kematian. Apalagi panggilan sayang nya itu, membuat Alexa semakin bingung sendiri dengan perasaannya, antara ingin memukul ataukah harus lari. Karena tentu saja ia tak ingin tertangkap, tapi telinganya selalu mendesis jijik setiap mendengar panggilan yang ia gunakan untuknya, sangat jijik sampai-sampai rasanya Alexa ingin meninju mulut laknat iblis itu hingga tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun lagi. "Bukankah di dunia manusia ada pepatah yang mengatakan, jika dua orang kembali bertemu untuk yang kedua kalinya, maka sudah dipastikan jika mereka berjodoh, hm?" tanyanya namun dengan nada yang mengejek. Pertanyaan mengejek itu benar-benar nyaris menghanguskan kesabaran yang Alexa miliki. Ia benar-benar ingin meninju wajah iblis di depannya dengan sangat keras. Namun, ia kemudian tersadar, membalas ejekan iblis itu malah akan membuang waktunya. Dan meskipun ia ingin sekali memberikan sedikit saja pelajaran kepada sang iblis, akan tetapi melawan Behemoth dengan kekuatannya yang tidak seberapa sama saja seperti menyerahkan diri pada singa kelaparan untuk dimakan. Ia tak yakin jika kali ini ia bisa kembali lolos. Seraya menghembuskan nafas kasar ia pun akhirnya memilih berbalik cepat dan berlari ke arah kapak dan palu raksasa yang sedang berayun di depannya. Mungkin ia tak akan menang jika melawannya dengan menggunakan otot tapi ia yakin bahwa ia akan berhasil lolos jika menggunakan strategi, dan ia memiliki ide yang cemerlang untuk itu. Setelah memperhitungkan semuanya dengan akurat, Alexa segera mempercepat larinya. Bunyi desingan kapak besi raksasa yang saling bergesekan terdengar mengerikan di telinganya. Suara klakson kereta yang berbunyi nyaring di belakangnya menjadi penanda. Lalu ketika langkah kakinya hampir mendekati kapak-kapak raksasa yang terus bergoyang ke kanan dan ke kiri itu, ia pun segera merundukkan tubuhnya sejajar dengan tanah dan membiarkan kereta mainan itu melewatinya, menghantam kumpulan kapak dan palu raksasa yang bergoyang yang kemudian dengan segera menghantam tubuh sang iblis dengan telak, membuatnya terpenggal dan kepalanya menggelinding jatuh sementara kereta mainan itu terus melaju tanpa hambatan, membawa potongan tubuh sang iblis yang kini sudah tak memiliki kepala lagi. Alexa pun segera bangkit seraya membersihkan bajunya dari butiran tanah yang menempel. Ia menghembuskan nafas lega, tak ingin membuang waktu karena khawatir iblis itu akan bangkit kembali, ia pun segera berbalik ke arah yang berlawanan, berlari keluar dari terowongan itu. Namun, ia kemudian berjengit kaget ketika tiba-tiba ia mendengar lagu Tag You're It milik Melanie Martinez mengalun samar. Lagu itu mengingatkannya dengan masa-masa saat ia masih mencoba kabur dari cengkraman Mr. Hemlock dahulu. Menoleh ke sekeliling dengan waspada, tetapi tak menemukan siapapun di sana. Memutuskan untuk melangkah selangkah demi selangkah menjauhi bibir terowongan, ia justru dibuat terbengong karena arena taman bermain yang tiba-tiba berganti kembali menjadi lorong labirin yang panjang dan gelap. Kedua matanya membeliak lebar tak percaya, sayangnya suara alunan irama lagu Tag You're It tadi malah semakin jelas terdengar di telinganya. Dirasa atmosfer di sekelilingnya mulai tak enak, Alexa pun memutuskan untuk berjalan lurus keluar dari lorong panjang itu. Akan tetapi yang ia dapatkan setelahnya justru lorong rumit lainnya. Ia pun memutuskan untuk mengeluarkan peta dari sakunya untuk mengecek posisinya. Garis-garis lurus yang rumit muncul di atas kertas kuning lusuh yang sebelumnya kosong melompong. Garis-garis rumit yang membentuk rute labirin terkutuk itu. Kini ada tiga titik yang berpendar, di mana salah satunya adalah milik Alexa yang bertuliskan "you" di sampingnya. Titik milik Alexa itu kini berada di sebuah rute yang ditandai dengan sebuah bendera bertuliskan "Rute Kematian" dengan titik berpendar bertuliskan Mr. Hemlock yang kini sedang mendekat menuju ke arahnya. "Oh. Bolehkah aku memaki sekarang?!"komentarnya kesal setelah membaca tulisan rute kematian ditambah Mr. Hemlock. Meskipun ia tahu jika ini hanyalah bagian dari ilusi gelap milik sang iblis, namun justru itulah yang paling ia benci. Lagipula dari mana iblis itu tahu segala hal yang Alexa takuti yang bahkan dirinya saja baru menyadarinya sekarang. Ia baru sadar jika jauh di lubuk hatinya yang terdalam ia masih merasakan ketakutan terhadap suaminya sendiri. Mungkin itulah yang membuat Alexa hingga saat ini masih belum mau membuka diri sepenuhnya kepada suaminya itu dan masih bersikap waspada seperti dulu. "Yah, bagaimanapun juga tak ada pilihan lain, bukan? Toh semua ini hanyalah ilusi. Jadi, ayo selesaikan ini dengan cara yang elegan." putusnya sembari mengibaskan rambut cokelat tembaga indahnya. "I'll show you how to survive like a Queen." tukasnya dengan semangat menggebu di d**a, mencoba mengenyahkan gelenyar takut yang sebelumnya hampir menguasai benaknya kemudian melangkah maju dengan berani. **** Baiklah. Mari kita mulai petualangannya. Ku langkahkan kakiku dengan mantap dan berani, menghadapi satu-satunya ketakutan terdalam ku. Ku tahu ini terdengar sangat konyol, setelah pahit dan manis perjuangan yang kami lalui bersama, namun justru di sudut hatiku yang terdalam aku masih merasa takut pada suamiku sendiri. Bahkan meskipun aku mencoba sekuat tenaga untuk mengenyahkannya, itu sama sekali tak menghentikan diriku untuk merasa khawatir bahwa bisa saja suatu hari Nathan akan bosan denganku, namun alih-alih meninggalkanku mungkin saja ia akan membunuhku dengan mudahnya seperti korban-korban nya yang lain. Karena tak ada yang bisa mempercayai iblis karena mereka diciptakan bukan untuk itu. Mereka diciptakan untuk menyesatkan para manusia dan menjerumuskannya ke dalam jurang kegelapan penuh derita yang tiada akhirnya di neraka sana. Sementara aku sibuk dengan segala pikiran di benakku yang bagaikan benang kusut, seseorang tiba-tiba saja sudah berdiri tepat di depanku. Sepatu boots berwarna hitamnya yang mengilat membuatku segera tersadar siapa yang sedang berdiri di depanku. Lalu aku pun mendongak dan terkesima seketika itu juga. "Hallo, istri." adalah kalimat yang pertama kali keluar darinya ketika kedua pasang mata kami saling bertatapan. Posturnya yang terasa lebih tinggi dari yang ku ingat, ditambah dengan aura nya yang lebih gelap dan pekat, serta senyum lebarnya yang nampak misterius membuatku tanpa sadar beringsut mundur menjauhinya. Namun, meski begitu tak ada perubahan ekspresi di wajahnya sama sekali. Senyum lebar itu masih terpatri di sana, membuat dirinya bak menjelma menjadi boneka manekin badut yang biasanya menjadi sumber teror di dalam film horor. Kami hanya saling bertatapan selama bermenit-menit lamanya karena aku yang tak tahu harus merespon apa sapaan ceria namun aneh tadi. Hingga tiba-tiba, ia menggenggam tanganku lalu menarikku kasar. Aku dibawa berlari olehnya entah kemana, setiap aku menanyakan hal itu ia sama sekali tak menjawab bahkan tak repot-repot menoleh ke arahku. Ku coba melepaskan cekalannya di lenganku namun itu justru malah semakin memperkencang cengkraman nya itu, hingga aku pun hanya bisa pasrah diseret oleh nya entah kemana. Kami kemudian berbelok di tikungan pertama, ketika kami nyaris menabrak seseorang dengan jubah hitam hingga menutupi bagian kepalanya. Namun aku segera mengenalinya ketika kedua matanya yang sewarna denganku menatap mataku dengan tajam dan dingin. Tetapi, justru apa yang ia perbuat selanjutnya membuatku membelalakkan kedua mataku tak percaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD