CHAPTER 8 : A TRAP FROM THE DEVIL

1674 Words
"Audrey Quenzel", begitulah yang tertulis di sebelah titik berpendar yang ada di peta yang Alexa bawa. Titik itu terus bergerak, berbeda dengan titik lainnya yang bertuliskan Mr. Hemlock dan Mom yang perlahan menghilang. Lalu, berbarengan dengan itu garis-garis yang melambangkan tiap lorong labirin perlahan lenyap dan peta itu mendadak menjadi kertas lusuh yang kosong. Tak ada tulisan apapun disana, bahkan meski Alexa sudah membolak-balik nya dan melakukan segala cara supaya gambar rute labirin itu kembali, tetapi tak ada hasil apapun. Peta itu kini kosong. Namun, ketika Alexa menoleh ke depan, semuanya telah berubah. Tak ada lagi lorong sempit dengan dinding tanaman di sekelilingnya, meskipun kabut tipis dan pekatnya langit malam masih menemaninya. Akan tetapi, semuanya telah berubah, kini dirinya bukan lagi berada di dalam lorong labirin yang gelap, melainkan di tengah jalanan yang amat ia kenali. Seketika, tubuh Alexa pun mematung di tempat. Irama jantungnya terdengar berdegup kencang hingga terasa sakit. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan. Bagaimanapun ia berusaha keras, namun memori itu dengan cepat merangkak naik dari bawah alam sadarnya dan segera memenuhi benaknya bak air bah yang bergulung-gulung menerjang daratan dengan dahsyatnya. Di depannya jalanan nampak lengang, namun beberapa meter ke depan terdapat taman bermain yang ramai dipadati pengunjung, terutama anak-anak. Taman bermain yang merupakan bagian dari pasar malam itu dipadati oleh orang-orang yang ingin menghabiskan malam weekend mereka. Alexa ingat sekali dengan lokasi pasar malam itu, hanya sejauh dua blok dari rumahnya. Dan ia dulu sering sekali kesana dengan sang adik, Audrey. Tempat itu juga merupakan tempat menghilangnya sang adik. Tepat di belakang arena bermain itu terdapat ladang yang sudah lama terbengkalai, dan di sana lah potongan jasad sang adik di temukan. Tepat lima hari setelah hilangnya sang adik, kepolisian setempat kemudian menemukan potongan tangan yang sudah nyaris membusuk di ladang terbengkalai itu, lalu setelah diselidiki potongan tangan itu ternyata adalah milik adiknya. Kepolisian pun segera menyisir area di sekitar ladang tersebut dan menemukan tetesan darah yang mengarah ke sebuah gudang bobrok tak jauh dari tempat itu. Dan tepat di gudang itulah kepolisian kemudian menemukan genangan darah beserta potongan baju yang terakhir kali dipakai oleh sang adik, gaun sederhana berlengan panjang berwarna biru muda beserta jaket jeans biru tua, juga sepatu milik sang adik yang kesemuanya memiliki banyak noda darah. Setelah itu kepolisian pun akhirnya memvonis jika adiknya yang lucu dan manis itu telah mati karena dimakan oleh binatang buas dan yang tersisa hanyalah potongan tangannya. Alexa ingat sekali jika saat itu ia memarahi para polisi yang menginvestigasi kasus sang adik, karena ia tak percaya jika adiknya menjadi korban akibat hewan buas. Potongan tangan berlumuran darah yang nyaris busuk yang ditemukan oleh pihak kepolisian, menurutnya, tidak mengindikasikan jika itu akibat hewan buas karena potongannya terlalu rapih, seperti sengaja dipotong oleh sesuatu. Namun tak ada yang mau mendengarkan nya, semuanya menganggap jika kasus itu telah selesai, kasus itu pun di tutup begitu saja. Bahkan reaksi kedua orang tuanya pun sama dengan yang lain, mereka mengaggap jika Alexa lah yang terlalu berlebihan dan memintanya untuk menenangkan diri dan segera mengikhlaskan kepergian sang adik. Namun, meski berapa kali pun Alexa mencoba, ia tetap tak bisa mengikhlaskan kematian sang adik yang menurutnya sangat janggal, karena daerah tempatnya tinggal merupakan perumahan yang terletak tak jauh dari pusat kota, tak ada hewan buas yang akan tinggal di tempat yang cukup ramai karena mereka biasanya hidup bersembunyi di hutan atau tempat-tempat yang tak terjamah, dan meski begitu kepolisian berasumsi mungkin yang menyerang sang adik adalah sekawanan anjing liar yang suka berkeliaran di malam hari. Namun, lagi-lagi Alexa memprotes pernyataan itu karena hampir tak ada anjing liar yang berkeliaran di sekitar lingkungannya, dan lagi-lagi tak ada yang mau mendengarnya, hingga Alexa hanya mampu memendam semua pertanyaan yang ada di benaknya itu sendirian selama bertahun-tahun. Dan kini ia seperti di bawa kembali, mengenang kembali ke masa itu. **** Malam yang sama seperti saat itu. Langit yang gelap pekat tanpa sinar dari rembulan maupun bintang, membuatku semakin dicekam kepanikan. Jalanan yang amat lengang tanpa seorangpun, membuatku tak bisa bertanya dan hanya mengikuti insting. Aku pun masih tak tahu mengapa malam itu jalanan begitu lengang, seolah itu hal yang disengaja agar aku tak bisa bertanya pada siapapun soal adikku yang tiba-tiba menghilang. Semuanya bagai reka ulang kejadian, termasuk perasaan panik dan khawatir yang mulai mendominasi benakku kini, sama persis seperti waktu itu. Seketika aku pun kembali berpikir, jika saja saat itu aku pulang lebih awal, mungkinkah dia masih bersamaku hingga saat ini? Seharusnya aku menepati janjiku, janji kami, untuk saling melindungi dan menjaga. Namun, saat itu ku pikir, aku hanya akan telat pulang dua jam lebih lama dari biasanya, dan ku yakin jika Audrey akan baik-baik saja menunggu ku di rumah. Namun ternyata semuanya malah berubah menjadi mimpi buruk yang tak berujung. Seharusnya saat itu aku tak perlu memedulikan malam perayaan kelulusanku dan aku yang merupakan anggota panitia penyelenggara, lagipula tugasku tidak terlalu penting dan bisa digantikan oleh teman-temanku yang lain. Tapi lagi-lagi ku pikir adikku itu tidak akan kemana-mana selama aku belum pulang. Dan seharusnya ayah dan ibuku lebih memperhatikan kami, jadi semuanya pun tidak akan menjadi lebih buruk seperti ini. Namun, lagi dan lagi aku tak bisa berhenti menyalahkan diriku yang sangat ceroboh dengan tidak menepati janji kepada adikku untuk selalu menjaganya. Karena itulah aku pun mulai berlari menembus pekatnya malam yang dingin, berlari seperti orang kesetanan seperti saat itu. Sembari terisak aku menatap sekeliling berharap menemukan seseorang yang dapat ku tanyai atau ku pintai tolong, namun sama seperti saat itu tak ada seorang pun di sepanjang jalan. Nafasku mulai terasa semakin sesak tatkala memori mengerikan itu mulai terulang di benakku tanpa dipinta. Dengan terseok, aku mencoba mengerahkan seluruh tenagaku yang tersisa agar bisa sampai di lokasi pasar malam itu. Namun, berbeda dengan dulu, pasar malam itu kini tak ubahnya bak kuburan terbengkalai, berbagai arena bermain nampak sudah sangat usang, bahkan ada yang sudah rusak di makan zaman. Bunyi derit pagar besi tua yang merupakan gerbang masuk pasar malam itu mengagetkan ku secara tiba-tiba. Meski begitu, itu sama sekali tak menyurutkan keinginanku untuk masuk ke dalam pasar malam itu. Deretan stan-stan makanan dan aksesoris yang dulunya penuh dengan warna-warna cantik, kini tak ubahnya tenda lusuh dengan bau busuk yang menguar. Penasaran, aku pun mencoba mendekati salah satu stan yang terlihat masih layak, stan burger, namun seketika aku langsung menutup hidungku dan nyaris memuntahkan isi perutku karena bau busuk yang menyengat yang berasal dari sisa-sisa daging burger yang ditinggalkan tergeletak begitu saja disana. Aku pun segera berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Baru sepuluh langkah berjalan, aku kembali dikejutkan dengan suara tawa anak kecil. Suara tawa yang sangat ku kenali, suara tawa adikku. Kemudian aku melihat sesosok gadis kecil yang berlari cepat di antara stan-stan yang nyaris roboh ini. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung mengikutinya. Gadis kecil itu mengenakan pakaian yang sama persis dengan pakaian yang dipakai adikku sebelum dinyatakan hilang, gaun sederhana berwarna biru langit berlengan panjang, juga jaket jeans biru tua. Aku pun refleks memanggil namanya dan berharap ia berhenti berlari. Gadis itu berhenti berlari, bahkan menoleh padaku, dan aku terkejut karena langsung mengenalinya meski wajahnya yang sudah rusak dan berlumuran darah, aku bahkan mengenali cengiran lebar itu. Cengiran lebar yang selalu ditunjukkannya ketika ia berhasil menjahili ku. Lalu, tiba-tiba sesuatu yang tumpul dan dingin menabrak ku, hingga membuatku terjatuh ke dalam salah satu gerbong kereta mainan yang muncul tiba-tiba dari belakangku. Sebuah suara yang familiar pun terdengar, "Sudah lama kita tidak memainkan ini kan, Kak? Ayo kita bermain sampai puas kali ini."ujar suara itu diiringi gelak tawa di akhir. Aku pun menoleh ke bagian belakang gerbongku, tempat asal suara tadi, dan menemukan adikku sudah duduk manis disana seraya menyeringai lebar. Ekspresi yang sama sekali tak kukenali yang seketika itu juga membuatku langsung tersadar jika sosok ini bukanlah adikku. **** Kereta mainan itu semakin melaju cepat, Alexa berada di gerbong kedua dari depan, sedangkan sang adik di gerbong yang berada tepat di balakangnya. Ia masih memperhatikan sosok misterius yang mengambil rupa sang adik sedang menertawakan kebodohannya, layaknya psikopat yang berhasil menjerat korbannya. Seringai puas dengan tatapan tajam nan dingin itu sudah jelas bukan milik adiknya, karena Audrey tak pernah menatapnya dengan cara seperti itu, wajahnya terlalu polos dan lugu untuk bisa menampilkan senyum seperti itu. Dengan geram ia pun meninju sosok menyebalkan yang meniru wujud sang adik dengan sangat keras, sampai-sampai kepalan tinjuannya melesak masuk ke dalam daging wajah sosok itu, membuatnya semakin tak berbentuk. Namun, sosok itu tetap saja tertawa melihat kemarahan mendidih yang tercetak jelas di wajah Alexa. "Beraninya makhluk kotor ini meniru wujud adikku yang manis!" geramnya dalam hati seraya menggemeletukkan giginya kesal. Lelehan cairan kemerahan yang kini menempel di tangannya menguarkan aroma busuk yang amat menyengat, membuat Alexa berusaha mengenyahkan cairan lengket itu dari tangannya. Ia pun terpaksa menggosoknya ke baju yang ia kenakan karena tak dapat menemukan cara lain, dan harus mengernyit jijik melihat bajunya yang harus ternoda darah. Sementara itu kereta terus melaju menembus gelapnya terowongan. Seketika terowongan sempit itu dipenuhi cahaya merah yang berasal dari lampu depan kereta. Sinar merah itu membuat terowongan tersebut seperti sedang bermandikan darah, tak hanya itu saja karena Alexa dibuat membeku di tempat ketika telinganya menangkap suara gesekan besi tak jauh di depannya. Dan benar saja, beberapa kapak dan palu raksasa tampak menempel di langit-langit terowongan, bergoyang ke kiri dan kanan, seolah seperti siap memenggal apapun yang melewatinya. Suara tawa cekikikan dari belakang Alexa lah yang membuatnya kembali tersadar dari kebekuannya. Ia menolah ke belakangnya dan kembali mendapatkan seringai sadis yang terbit di wajah sosok menyebalkan yang menyerupai adiknya itu. Sadar saat dirinya tak memiliki banyak waktu untuk meladeni sosok sinting yang mengambil wujud sang adik itu, Alexa pun memutuskan untuk segera melompat dari dalam gerbong kereta mainan itu dan mendarat di tanah berbatu nan lembab yang merupakan lantai terowongan itu. Dengan nafas yang tak beraturan, Alexa segera berlari berlawanan arah dengan arah kereta tadi. Namun, baru beberapa meter ia berlari, ia malah melihat kereta mainan itu datang kembali ke arahnya, cahaya merah yang berasal dari lampu depan kereta itu mengagetkannya. Semakin kaget ketika melihat siapa yang menumpangi kereta tersebut. "Hai, Sayang. Kita berjumpa lagi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD