Lorong-lorong gelap yang nampak meliuk-liuk tak berujung, ditambah dengan adanya kumpulan kabut tipis yang mengelilinginya, membuat labirin raksasa di depannya itu nampak seperti perangkap berukuran raksasa dan mematikan mematikan yang sengaja dibuat oleh para iblis untuk menjebak mangsa-mangsanya. Kabut tipis di sekelilingnya, membuat pintu masuk labirin tersebut bak pintu masuk ke dunia lain, yang gelap dan suram. Alexa mendesah keras mencoba menahan kesal karena merasa terus dipermainkan. Ia tak mengerti mengapa sekarang dirinya justru dikejar-kejar oleh iblis lain saat seharusnya ia menikmati hari-hari bulan madunya yang manis bersama suaminya.
Kemudian ia pun teringat jika beberapa kali Behemoth menyebut darahnya menguarkan aroma yang memabukkan. Namun, lagi-lagi ia tak mengerti mengapa semuanya bisa menjadi seperti itu. Ia sama sekali tak memiliki petunjuk lainnya. Apa mungkin ia memiliki kelainan darah yang menyebabkan dirinya selalu jadi incaran makhluk kegelapan?. Akan tetapi, ia tak dapat menemukan satu jawaban pun untuk pertanyaan itu, membuatnya merasa semakin frustrasi.
Bagian paling menyebalkan dari itu semua adalah ia sama sekali tak tahu bagaimana caranya keluar dari tempat ini. Ia bahkan tak tahu tempat macam apa ini dan tak ada satupun petunjuk yang bisa memberitahu nya. Di sekelilingnya hanya ada lautan kabut juga pintu masuk labirin yang disertai dengan sebuah pos penjaga yang berdiri tak jauh dari pintu masuk itu.
Seketika Alexa pun membulatkan matanya tak percaya, karena ia sangat yakin jika sebelumnya tak ada pos penjaga apapun disana. Pos kecil bercat merah itu seperti muncul begitu saja dari udara kosong. Alexa pun mendekati pos tersebut, berharap ada setitik saja petunjuk yang dapat membantunya untuk keluar dari dunia antah berantah ini. Pos itu seperti ticker box tempat penjualan karcis di pasar malam, catnya yang berwarna merah sudah mengelupas di beberapa bagian, dan juga kaca pembatas yang sudah nampak kusam. Baru saja Alexa ingin melihat bagian dalamnya, sesosok badut aneh bertopi tiba-tiba mengejutkannya.
Sosok aneh berwujud badut itu tiba-tiba muncul dan membuat Alexa terlonjak mundur karena kaget. Topinya yang seperti topi pesulap dengan paduan garis-garis berwarna merah dan putih, diangkat sedikit seperti gestur memberi salam. Namun tatapan matanya yang tajam dan tak ramah membuat Alexa merasa tak nyaman dan memutuskan untuk menjaga jarak aman dari pos itu. Apalagi ketika melihat kulit wajah sang badut yang hampir seputih kertas dengan beberapa bagian yang nyaris terkelupas, ia merasa telah mengambil keputusan yang salah dengan mendatangi pos itu. Lalu, suara anak kecil yang ceria keluar dari mulut badut itu, suara yang sangat mencurigakan. Namun kalimat yang di ucapkan si badut membuat Alexa merasa tertarik.
"Selamat datang di Labirin Kematian. Tempat di mana seluruh ketakutan mu akan menjadi kenyataan. Ini tiket dan petanya."ujar sang badut dengan nada ceria.
"Tunggu sebentar. Bisakah kau jelaskan tempat apa ini?"tanya Alexa seraya memperhatikan detail wajah sang badut. Namun semakin diperhatikan, Alexa justru merasa jika badut itu bisa saja langsung tersapu angin bagai debu yang beterbangan, karena kulitnya yang sepucat kertas emakin banyak mengelupas dan kostum yang ia kenakan, rompi berwarna hitam dengan kaos lengan panjang bergaris-garis hitam dan putih, nampak sangat usang, dengan noda-noda berwarna cokelat tua di bagian d**a dan bagian lengan yang robek.
"Mohon maaf sekali, tapi anda harus mencari tahu itu sendiri. Peraturannya hanya satu, jangan pernah tunjukkan ketakutanmu jika kau ingin selamat."jawab sang badut masih dengan nada ceria yang sama yang membuat Alexa kebingungan karena tak paham maksud dari kalimat terakhir yang di ucapkan badut itu. Namun, baru saja ia ingin bertanya lagi, badut itu sudah tidak ada disana. Ticket box itu benar-benar kosong. Alexa bahkan sudah mengelilinginya tetapi tak bisa menemukan pintu keluar nya di mana pun. Ia pun segera kembali ke bagian depan ticket box itu untuk mengambil tiket dan sebuah peta yang tadi diberikan oleh sang badut.
Menarik nafas dalam, ia pun mencoba mengikuti saran sang badut untuk tak menunjukkan ketakutannya, dengan cara menghapus segala hal-hal yang ia takuti dari benaknya. Hanya itulah cara yang terpikirkan oleh Alexa saat ini. Dengan itu, Alexa pun memulai perjuangannya melewati labirin kematian. Ia tahu petualangannya kali ini akan lebih berbahaya dari petualangan-petualangannya sebelumnya, namun ia tak memiliki pilihan lain selain maju agar bisa keluar dari dunia antah berantah ini.
****
Selangkah demi selangkah, kakiku membawaku semakin mendekati pintu masuk labirin kematian ini. Gumpalan kabut tipis di udara merusak jarak pandang ku, aku tak bisa dengan jelas melihat ke depan karena terhalang kabut tipis itu. Dan karenanya aku berusaha untuk berhati-hati, setiap langkah yang ku ambil selalu ku selipkan doa di dalamnya, berharap Tuhan di atas sana memberikan perlindungannya padaku agar kali ini aku bisa segera bebas dari dunia mengerikan ini.
Hawa dingin tiba-tiba menyergap seluruh tubuhku, ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di dalam labirin raksasa nan gelap ini. Dinding-dinding nya nampak terbuat dari kumpulan sesemakan dan tanaman rambat yang menjulang tinggi di atasku, membentuk lorong panjang nan gelap hingga seratus meter ke depan. Labirin ini begitu sunyi hingga aku dapat mendengar suara langkah kakiku sendiri yang melangkah di atas tanah yang basah.
Kedua netra ku mencoba menyesuaikan diri dengan kegelapan yang mengelilingi ku, hingga kini aku bisa melihat setiap detail yang terlewati tadi, sesemakan yang ternyata memiliki duri-duri kecil di setiap batang dan daunnya, juga sulur-sulur yang bergumul layaknya benang kusut, serta suara desauan nafas. Aku pun seketika menoleh dengan cepat ke belakang, namun tak menemukan siapapun disana. Padahal aku sangat yakin mendengar suara desah nafas dari arah belakangku, akan tetapi aku hanya menemukan lorong gelap yang kosong. Ternyata tanpa ku sadari aku sudah berjalan cukup jauh dari pintu masuk labirin.
Berjarak beberapa langkah di depanku terdapat tiga persimpangan. Aku pun segera membuka peta yang diberikan oleh badut tadi dan menemukan serupa titik berpendar bertuliskan "you", yang ku asumsikan merupakan titik dimana posisiku berada. Namun, ada yang aneh dari peta itu, karena dari tiga persimpangan tadi ku lihat ada tiga titik berpendar lainnya yang sama persis seperti milikku sedang berjalan menuju ke arahku, tetapi ketiga titik berpendar itu bertuliskan Mr. Hemlock, Audrey dan Mom. Mataku pun melotot tak percaya ketika menemukan nama adikku yang sudah lama tiada tertulis jelas di peta itu, tepatnya di persimpangan kedua yang berada tepat di depanku, lorong yang segaris lurus denganku. Hatiku langsung mencelos tatkala melihat titik berpendar itu bergerak semakin mendekatiku. Aku pun bertanya-tanya dalam hati, apakah kali ini aku sanggup bertemu dengannya lagi?