Setelah pertemuan penuh haru itu, Mr. Hemlock segera membawa sang istri pulang. Mobil mewahnya melaju di jalanan yang sepi, sedangkan Alexa yang merasa sangat kelelahan pun tertidur di bangku penumpang, tak menyadari banyaknya kejanggalan yang ada di sekelilingnya. Ia begitu terlarut di alam mimpi bahkan tanpa menyadari bahwa ia bisa saja terjebak selamanya disana.
Langit kini telah berganti menjadi hitam seluruhnya, setelah melewati hari yang melelahkan, Alexa rasanya enggan bangun dari mimpinya, bahkan hanya untuk sekedar membuka matanya saja. Ia lebih memilih kembali bergelung dengan nyaman di ranjang king size empuknya, sebelum ia tiba-tiba membuka matanya saat mendapati sisi ranjang di sebelahnya kosong dan dingin. Dengan kedua mata yang belum terbuka seluruhnya, ia memperhatikan sekeliling kamar yang gelap. Hanya seberkas cahaya rembulan yang menerangi ruangan kamar itu melalui jendela yang terbuka. Di bawah keremangan cahaya rembulan, Alexa dapat melihat sang suami yang sedang berdiri di ujung ranjang terjauh, bersembunyi di balik bayangan gelap. Kedua netranya yang biru menatapnya dingin, sedingin samudera Antartika yang membeku.
Baru kali ini ia benar-benar merasa merinding ketika ditatap sedingin itu. Namun ada yang janggal dari suaminya, ia tak pernah suka jika ketahuan sedang mengawasi, suaminya itu pasti akan langsung menghilang di telan kegelapan atau terkadang ia akan menghambur ke dalam pelukannya. Alexa pun merentangkan tangannya sebagai isyarat meminta dipeluk, tetapi sang suami masih bergeming di tempat, masih menatapnya dengan tatapan dingin dan datar. Lalu Alexa pun menyadari, jika itu bukanlah tatapan dingin, melainkan tatapan kosong yang biasanya dimiliki oleh para mayat hidup.
"Mr. Hemlock?"panggil Alexa.
"Ya, Sayang."jawab suaminya itu dengan nada yang datar, membuat Alexa merasa sangat khawatir, mengira jika suaminya itu sedang benar-benar marah. Hingga ia mengabaikan kesalahan yang dibuat Alexa, karena semenjak mereka menikah suaminya itu melarangnya memanggilnya dengan panggilan 'Mr. Hemlock' lagi. Bangkit dari ranjang, Alexa berjalan menghampiri suaminya sebelum kemudian memeluknya erat. Meskipun sang suami membalas pelukannya, namun entah mengapa rasanya justru aneh. Ia pun mengurai pelukannya, kemudian ia menyentuhkan kedua tangannya ke wajah tampannya dengan lembut. Betapa terkejutnya Alexa ketika merasakan kulit suaminya yang begitu dingin.
"Nath? Kau baik-baik saja? Kulitmu sangat dingin. Apa kau kedinginan?"tanya nya beruntun karena khawatir. Namun reaksi yang ia dapatkan sebagai balasan, lagi-lagi hanya tatapan datar yang kosong, membuat Alexa mengernyitkan dahi bingung.
"Kau tunggulah di sini. Aku akan membuatkan cokelat panas untuk menghangatkan mu. Duduklah dulu di sini."perintah Alexa pada suaminya sembari mendudukkannya di ranjang, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut. Setelahnya ia berlari kecil menuju dapur, tak memperhatikan keanehan lainnya yang seharusnya dengan cepat Alexa sadari. Lampu rumah yang menyala redup juga suhu di dalam rumah itu yang semakin mendingin seiring langkahnya menuruni tangga dan berlari kecil menuju dapur.
Alexa sibuk mencari kesana kemari, mengacak-acak setiap isi laci dan lemari yang ada di dapur, mencari cokelat panas sachet yang biasa tersimpan di laci lemari dapur. Ia ingat sekali jika suaminya menyimpan cokelat bubuk sachet di berbagai tempat karena itu merupakan minuman kesukaan Alexa, jadi ia sengaja menyetok untuk berjaga-jaga kalau-kalau istrinya menginginkan minuman itu. Namun sekarang, Alexa sama sekali tak dapat menemukannya. Semua isi laci lemari itu nyaris kosong, selain sendok dan peralatan makan, tak ada yang lainnya. Alexa pun akhirnya memutuskan untuk membuka kulkas, mencari bahan apa saja yang bisa ia gunakan. Akan tetapi, lagi-lagi ia tak menemukan apapun disana. Kulkas itu kosong melompong.
Berbalik cepat, ia pun segera pergi mencari Richard untuk meminta tolong. Saat itulah ia mulai menyadari suhu di dalam rumah yang sangat dingin juga lampu rumah yang menyala redup. Mansion sebesar itu bahkan terdengar lebih sunyi dari yang terakhir Alexa ingat. Netranya memindai sekeliling, dan lagi, ia tak menemukan suara sedikitpun. Mansion luas itu bagai tak berpenghuni. Memutuskan untuk tak ambil pusing karena suaminya adalah prioritas nya sekarang, ia pun segera mencari Richard. Namun, alangkah terkejutnya ketika langkahnya tiba di ruang keluarga mansion, karena ia menemukan orang yang ia cari, Richard. Akan tetapi, ia tak sendirian, Mr. Dan Mrs. Quenzel juga ada di sana. Mereka sedang duduk di salah satu sofa panjang yang ada disana. Setelah Alexa perhatikan, cara duduk mereka terlihat aneh, terlalu kaku untuk ukuran laki-laki dan wanita paruh baya seperti mereka. Punggung mereka begitu tegap membentuk garis lurus, dan mereka bertiga menatap kosong ke arah tv besar yang berada di seberang ruangan. Mau dilihat bagaimanapun, mereka terlihat seperti manekin yang sengaja di tempatkan disana daripada tiga orang manusia yang sedang duduk di sofa. Merasa penasaran, Alexa pun mencoba memanggil ibunya.
"Mom...?"panggilnya pelan. Namun, seketika ia langsung bergidik takut ketika mereka malah menoleh serempak padanya dengan ekspresi datar dan kaku. Benar-benar terlihat seperti boneka manekin yang tiba-tiba hidup.
Lebih parahnya lagi, Alexa baru menyadari jika mereka tidak bernafas selayaknya manusia, d**a mereka tidak naik turun seperti manusia pada umumnya. Mereka hanya duduk kaku disana sembari melihat ke arahnya, juga dengan ekspresi yang kaku. Alexa pun mulai bertanya-tanya, benarkah tiga orang di depannya ini adalah orang yang sama yang ia kenal? Bahkan sedari tadi ibunya hanya diam saja tak menjawab panggilan darinya tadi, hanya menoleh dan menatapnya dalam diam.
Mencoba bersikap senormal mungkin agar tak memancing hal yang tidak perlu, Alexa mencoba sehalus mungkin menetralkan ekspresinya dengan segera mengalihkan pembicaraan kepada Richard.
"Ah ya, Richard, tolong jaga rumah dengan baik ya dan tolong juga antar ayah dan ibuku ke kamar mereka nanti."ucapnya mencoba bersikap biasa-biasa saja padahal ia ingin sekali segera kabur dari sana detik itu juga. Tetapi ia tak ingin lagi di kejar-kejar seperti sebelumnya, tenaganya belum benar-benar pulih.
"Mom... Dad... Kalian jangan lupa istirahat ya. Aku juga akan segera ke kamar dan beristirahat. Richard yang nanti akan mengantar kalian ke kamar kalian. Kalau begitu selamat malam semuanya."ujarnya sebelum lekas pergi dari sana. Alexa tahu jika ketiga pasang mata yang ada di sofa itu mengikuti setiap gerak-gerik nya bahkan sampai ia melangkah cepat ke arah tangga yang notabenenya berada tepat di belakang mereka dengan tubuh yang masih lurus menghadap ke depan, hanya kepala mereka yang berputar nyaris 180°.
Alexa mencoba mati-matian menahan dirinya untuk tak berlari terbirit di tangga, namun setelah ia mencapai anak tangga paling atas ia langsung berlari menuju kamarnya. Setelah masuk ke dalam ia pun cepat-cepat menutup pintu dan menguncinya. Mencoba menetralkan nafasnya yang berkejaran, ia kembali nyaris dibuat jantungan ketika menatap ranjangnya yang kosong. Ia pun segera berlari ke kamar mandi untuk mengecek, mungkin saja suaminya sedang berada di sana, tapi kamar mandi itu kosong. Lalu ia pun berlari ke walk in closet milik mereka, dan hasilnya juga sama, tak ada siapapun disana. Dengan ngeri, ia kemudian berpikir bahwa mungkin saja suaminya itu adalah bagian dari mereka. Karena dengan segala keanehan yang ia temukan sebelumnya, ia tak yakin jika itu benar-benar suaminya.
Segera saja ia memutuskan untuk cepat-cepat pergi dari mansion itu. Ia pun segera pergi menuju jendela untuk mengukur ketinggian, ia memutuskan rute terbaik untuknya kabur dari mansion itu adalah lewat jendela, meskipun beresiko tinggi jika ia tak hati-hati. Di luar langit malam nampak gelap pekat tanpa adanya sinar bulan dan juga bintang-bintang. Kumpulan kabut tipis juga memenuhi udara yang ada di luar mansion, membuat jarak pandang semakin menipis. Namun itu sama sekali tak menyurutkan niat Alexa untuk pergi dari sana.
Setelahnya, ia pun berlari ke arah walk in closet dan menemukan beberapa seprei dan selimut yang bisa ia jadikan tali, tanpa pikir panjang ia pun segera mengikat mereka dengan kuat. Setelah dirasa cukup, ia mengikatkan salah satu ujungnya ke ranjang, sedangkan ujungnya yang lain ia lempar keluar jendela. Ketika ia bersiap untuk melompat keluar jendela sembari berpegangan dengan tali dari seprei yang telah ia siapkan, tiba-tiba pintu kamar diketuk. Suara ketukan itu terdengar beberapa kali.
Sejenak Alexa merasa ragu untuk membukanya, namun kemudian ia mendengar suara suaminya yang memanggilnya dari balik pintu itu. Namun perasaan ragu kembali menghampiri ketika ia sudah berdiri di depan pintu tersebut dengan tangan yang menggenggam kenop pintu. Alexa merasa bimbang, akan tetapi kenop pintu yang di putar secara kasar dan paksa membuatnya mundur menjauh. Ditambah dengan suara gedoran keras dan juga suara-suara serak nan berat yang berteriak dari baliknya membuat Alexa urung untuk membukakan pintu itu dan lebih memilih lari kembali ke jendela. Tepat saat suara dobrakan kasar terdengar, Alexa hampir menggapai tanah. Ia pun menoleh ke atas, ke arah jendela kamarnya dan langsung bergidik takut ketika mendapati empat pasang mata yang menatapnya datar dari ambang jendela.
Dengan segera ia pun melompat ke atas tanah sebelum berlari sekuat tenaga ke arah gerbang mansion. Di belakangnya dapat ia dengar jika mereka berempat ikut berlari mengejarnya. Ia langsung mendorong kasar gerbang mansion ketika ia melewatinya. Jalanan tampak sepi dan berkabut, semuanya terlihat suram dan tak jelas, namun Alexa tak menghentikan larinya sama sekali. Meski kakinya terasa sangat sakit hingga nyaris membuatnya limbung, juga nafasnya yang sudah terasa sangat sesak. Ia masih terus berlari bahkan maski seru-seruan kasar yang memanggil namanya terdengar semakin dekat. Hingga akhirnya ia berhasil menembus kabut terakhir dan sampai di bibir tebing pembatas. Ia dapat melihat bangkai kepala ular kobra raksasa yang terpotong setengah. Ular raksasa yang sebelumnya mengejarnya, kini ia kembali ke titik semula. Titik dimana ia pertama kali bertemu dengan seseorang yang ia pikir adalah suaminya.
Menoleh kebelakang ia pun dikejutkan dengan perbedaan kontras yang jelas terlihat, tampatnya berada sekarang meski sama-sama gelap namun tak berkabut sama sekali, sedangkan beberapa meter di depannya semuanya tampak sangat berkabut. Kabut-kabut itu nampak mengelilingi sebuah labirin raksasa yang begitu gelap dan menakutkan. Tepat di tengah-tengah labirin itu terdapat jangkungan yang menjulang tinggi yang bertuliskan nama tempat itu. Dengan kelap-kelip dari lampu yang mengelilingi nya membentuk sebuah tulisan yang berbunyi,
"WELCOME TO THE LABYRINTH OF THE DEATH!"
"Di mana semua ketakutan mu akan menjadi nyata!"