CHAPTER 13 : THE ECLIPSE OF THE MOON

1418 Words
Alexa terbangun lalu mengerjapkan kedua matanya, sekelebat ingatan tentang apa yang sudah ia lakukan seketika membuat pipinya bersemu kemerahan. Ia pun tak bisa menghentikan dirinya untuk tidak tersenyum-senyum sendiri dari balik selimut, tanpa menyadari sosok yang sedari tadi terus setia memperhatikannya. Nathan yang sedang berbaring miring sembari memperhatikan setiap jengkal ekspresi yang diperlihatkan oleh sang istri, mau tak mau ikut tersenyum melihat rona kebahagiaan tercetak jelas di wajah cantik tersebut. Kecupan lembut nan manis tiba-tiba mendarat tanpa pemberitahuan di kening Alexa, membuat sepasang netra karamel itu membola kaget. Tubuhnya tiba-tiba membeku dengan kaku, tawa konyol di bibirnya pun ikut terhenti. Dengan sangat pelan, Alexa menoleh ke sampingnya. Mendadak tawa canggung yang aneh tiba-tiba saja keluar dari mulutnya tanpa dipinta ketika ia baru menyadari bahwa sejak tadi tingkah laku konyolnya sedang ditonton sang suami. Rasa malu bercampur gengsi membuat Alexa akhirnya berdeham singkat, sebelum menatap wajah tampan suaminya. "Selamat pagi. Mau ku buatkan sarapan?" ucap Alexa sembari berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah padam dengan selimut. Menyadari bahwa istrinya sedang merasa malu, Nathan pun terkekeh kecil sembari mengambil jam weker yang ada di meja nakas di samping istrinya. Alexa yang melihat tangan Nathan terjulur ke arahnya, sontak saja membuatnya dengan cepat bersembunyi kembali di balik selimut. Namun, ketika menyadari jika ternyata tangan itu terjulur untuk mengambil jam weker yang ada meja nakas yang berada tepat di sampingnya, Alexa berusaha sekuat tenaga untuk menetralkan ekspresinya. "Ah, sepertinya kita bahkan sudah melewatkan jam makan siangnya."celetuk Nathan tiba-tiba dengan senyum jahil di bibirnya sembari memperlihatkan jam weker yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Sontak saja Alexa langsung memelototkan matanya kaget, melihat hari yang sudah sangat siang. Melihat reaksi lucu yang ditampilkan sang istri membuat Nathan menjadi gemas, ia pun kembali mendaratkan kecupan ringan di pipi istrinya. Hal itu membuat Alexa refleks menutup wajahnya, kemudian bangkit dari ranjang dan kabur dari sana. Melihat tingkah menggemaskan itu, sontak Nathan pun tertawa seraya menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Ia pun juga ikut bangkit dari ranjang, kemudian mengambil jubah tidur miliknya yang tergeletak di ujung ranjang. Kemudian ia pun mengikuti sang istri, keluar dari kamar mereka. Saat menuruni tangga menuju lantai bawah ia menemukan istrinya yang cantik sedang berkutat di dapur. Sedang Alexa sibuk berkutat dengan potongan sayuran serta adonan telur yang akan ia jadikan omelet, ia sama sekali tak menyadari jika Nathan kini sedang berjalan menghampirinya, kemudian memeluknya dari belakang, membuatnya terlonjak kaget dan menjatuhkan adonan omelet di tangannya. Segera saja ia berjongkok untuk membersihkan adonan omelet yang tercecer di lantai, namun tangannya terus-menerus bergetar tanpa sebab, mungkin efek akibat terkejut tadi. Membuat sang suami segera menghentikannya dan membawanya kembali berdiri karena merasa khawatir pada sang istri. "Biar pengurus rumah saja yang membereskannya."ujar Nathan sembari membersihkan tangan Alexa di wastafel dengan lembut. "Tidak. Aku bisa membereskannya sendiri, Nath."balas Alexa sembari menoleh dan menatap suaminya yang masih fokus membersihkan tangannya dari sisa-sisa adonan telur omelet tadi. "Jangan membantah, Sayang. Lebih baik kau bersiap-siap karena kita akan makan di luar."sahut Nathan sembari membawa istrinya meninggalkan dapur. **** Di lain tempat, sesosok pria jangkung dengan tubuh atletis dan berwajah tampan sedang berbicara pada seorang pria yang sama tampannya namun terlihat lebih tua darinya. Mereka nampak sedang mendiskusikan sesuatu yang serius di atas sebuah rooftop sebuah perusahaan pemasok berlian ternama di seluruh daratan Eropa, Robinson Diamond Company. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu mulia milik klan keluarga konglomerat terkenal, bernama Alexander Robinson. Keduanya nampak seperti sedang merencanakan sesuatu. "Kita harus segera melaksanakan ritualnya malam ini juga, Ken. Malam ini adalah malam gerhana bulan. Tak ada lagi waktu yang pas selain ini. Kita tentu tidak mau menerima kemurkaan Lord Master karena keterlambatan yang sebenarnya bisa kita akali." ujar si pria yang lebih tua. "Tapi, Dad. Malam ini bukan malam gerhana bulan merah. Apa kau yakin kita akan berhasil membangkitkannya?"sahut si pria yang lebih mudah nampak gusar. "Itu semua bisa kita atur asal kau bisa menemukan inang yang tepat. Dan juga kau tentu tidak lupa kan hal yang sudah ku wanti-wanti sejak lama?" tanya nya sembari menatap tajam sang putra sulungnya. "Ya, Dad. Aku sudah melakukan semuanya sesuai instruksi mu. Little Lily aman tanpa tersentuh laki-laki manapun. Aku sendiri yang sudah memastikannya agar tak ada lelaki yang mau mendekatinya."balas sang anak mencoba menyembunyikan gejolak emosi yang selalu timbul ketika ia membicarakan sang adik. Katakanlah ia adalah kakak yang jahat, namun sayangnya ia tak memiliki pilihan lain. "Bagus. Kalau begitu persiapkan sisanya dengan baik dan jangan sampai melakukan kesalahan sedikitpun. Aku yakin setelah ritualnya berhasil kau akan segera mendapatkan apa yang kau inginkan." tekan sang ayah sembari menepuk lembut punggung anaknya sebelum berlalu dari tempat itu. "Sayangnya meskipun itu terjadi, aku tetap tak akan pernah mendapatkan apa yang ku inginkan." desahnya kemudian dalam hati setelah melihat ayahnya menghilang di pintu masuk rooftop itu. Lelaki tampan dengan netra abu-abu dingin itu pun mendesah keras sembari memejamkan kedua matanya dan mendongak ke atas. Sejenak ia membiarkan sekelebat siluet sosok yang amat ia sayangi memenuhi benaknya. Meski logikanya selalu berhasil menentangnya dengan sangat keras, namun nyatanya ia tak berhasil menghapus sosok itu dari relung memori di hatinya. Hal itu justru membuat perasaan itu semakin mengakar dalam di sana, pelan tapi pasti mulai mengikis kewarasan yang ia miliki. Sayangnya sampai sekarang ia masih belum menemukan satupun cara untuk membebaskan sosok gadis yang selalu memenuhi benaknya itu dari kutukan mengerikan yang menjeratnya. Kembali mendesah keras, ia pun lalu berbalik ikut pergi meninggalkan rooftop itu. **** Lukisan langit senja sore itu membuat Alexa hampir menitikkan air matanya. Pasalnya momen ini adalah momen impiannya sejak lama. Berdiri berangkulan dengan orang yang ia cintai sembari menatap goresan langit senja di cakrawala, menanti sang surya kembali ke peraduannya. Setelah acara makan romantis yang di buat oleh sang suami, mereka kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar pulau sembari menikmati pemandangan. Rangkulan tangan Nathan tak pernah lepas dari tangannya, bahkan entah sudah yang ke berapa kalinya suaminya itu mendaratkan ciuman-ciuman manis di kening dan pipinya. Mereka sedang berjalan bersisian di sepanjang jalan setapak menuju sebuah bukit untuk melihat matahari terbenam. Bukit itu tak hanya menawarkan pemandangan langit sore yang indah, namun juga pemandangan laut di sore hari yang tak kalah menakjubkan. Lalu tepat saat matahari terbenam, Nathan mencium lembut sang istri dengan penuh perasaan. Dilatari pemandangan laut lepas dengan debur suara ombak, baik keduanya sama-sama menyalurkan perasaan cinta yang mereka miliki. Alexa kemudian tersenyum lebar tatkala Nathan menempelkan keningnya sembari menatapnya dalam dan intens. Mereka pun kembali memagut, menyalurkan seluruh perasaan yang mereka miliki sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke pondok. Saat itu bulan sudah memunculkan sosoknya di langit, namun tiba-tiba cahayanya perlahan mulai tertutup oleh bayangan hitam raksasa. Alexa yang sedang berjalan bergandengan tangan dengan sang suami pun sontak terkejut, bersamaan dengan suaminya yang tiba-tiba mematung di tempat seraya menatap lurus ke arah gerhana bulan yang akan terjadi di langit. Sayangnya, gerhana bulan kali ini benar-benar membuat Alexa sangat syok karena gerhana bulan itu sendiri merupakan titik puncak bangkitnya kekuatan kegelapan. Mengingat apa yang terjadi terkahir kali tepat saat gerhana bulan sebelumnya terjadi, Alexa pun langsung terkesiap panik. Lalu menoleh perlahan ke arah suaminya. Nathan masih terpaku menatap lurus gerhana bulan yang sedang berlangsung di angkasa. Namun netranya kini berubah menjadi hitam seluruhnya dengan bulatan merah menyala di bagian tengahnya, pertanda jika kekuatannya sedang berada di titik puncaknya. Tanpa ia sadari, kini sosoknya telah berubah menjadi Mr. Hemlock, si badut psikopat yang siap memburu korbannya. Ia pun kemudian menyeringai lebar menampilkan deretan gigi tajam mengerikan miliknya, lalu ia bersiap untuk berlari, berburu jiwa-jiwa kotor yang darah dan dagingnya sangat lezat untuk menjadi santapannya. Namun sebelum itu terjadi, tiba-tiba ia merasakan ciuman basah yang masih amatir mencoba mencumbu bibirnya. Rasa manis dari ciuman itu membuatnya menoleh dan terkejut ketika mendapati wanitanya sedang mencoba memancing hasratnya, seharusnya ia tak perlu melakukan hal berbahaya seperti itu padanya. Lebih baik ia membiarkan dirinya membunuh untuk menyalurkan hasratnya yang sedang berada di titik puncaknya, bukan malah melakukan hal bodoh seperti mengorbankan diri. "Kau salah dengan memancing gairah ku seperti ini, Sayang. Bagaimana kalau aku tiba-tiba memintamu bertanggung jawab dan menyelesaikan apa yang kau mulai sampai tuntas, apa kau tidak takut, hm?" serunya dengan nada mengejek. "Well, kau pikir aku akan semudah itu melepaskan mu, hm? Dan ngomong-ngomong aku tidak takut sama sekali, Sayang." balas Alexa tepat di telinga sang badut dengan penekan di kata terakhir. Hal itu membuat sang badut terkekeh kesenangan, sedangkan Alexa merasa flash back ke masa lalu. "Selamat tinggal malam romantis. Dan, Hai, malam yang akan penuh dengan mimpi buruk! Ku harap aku masih bisa berjalan normal esok hari." gerutu Alexa dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD