CHAPTER 14 : THE ORDO

1468 Words
1 jam sebelumnya... Lima orang pria berpakaian serba hitam sedang berkumpul di sebuah ruangan luas yang hanya diterangi oleh cahaya lilin yang menyala di setiap sudut ruangan. Mereka berdiri berkerumun dan nampak sedang memperdebatkan suatu hal. Masing-masing dari mereka mengenakan jubah hitam dengan tudung, serta sebuah bross yang melambangkan ordo mereka. Sebuah bross berbentuk mawar hitam yang terlilit oleh rantai besi yang merupakan lambang dari sebuah ordo yang cukup dikenal oleh masyarakat kalangan bawah sejak abad pertengahan. Sebuah ordo yang sangat ketat dalam menyeleksi para anggotanya, di pimpin oleh klan Black sebagai pemimpin tertinggi yang merupakan klan penyihir terhebat di masanya, anggota-anggota ordo tersebut terdiri dari para pengusaha yang gemar berbuat curang, klan pembunuh bayaran paling mematikan, dan beberapa orang picik yang ingin hidup enak tanpa perlu mengeluarkan banyak usaha. Namun pada pertemuan kali ini, hanya orang-orang yang memiliki jabatan tinggi di ordo lah yang berhak datang. Diantara nya ada sang pemimpin tertinggi, lalu dewan penasihat ordo, serta para dewan-dewan tinggi lainnya. Ruangan luas itu hanya diselimuti cahaya remang-remang dari cahaya lilin yang dinyalakan di setiap sudut ruangan, serta sinar rembulan perak yang masuk lewat jendela raksasa yang berada tepat di belakang sebuah kursi singgasana dengan ukiran yang rumit. Di atas singgasana itu duduklah seorang pria paruh baya yang masih sangat tampan dan juga gagah di usianya yang sudah tak muda lagi, ia merupakan sang pemimpin ordo dari klan Black yang kini tengah berganti nama menjadi Osborne. Pria itu bernama Antonio Osborne. Dari singgasananya, ia menatap dengan malas kepada kelima tikus tak tahu diuntung yang sedang merengek seperti bayi. Ingin sekali rasanya ia melenyapkan kelima orang tak tahu diri itu, namun sayangnya ia masih membutuhkan kelima nya untuk membantunya membangkitkan tuannya. Dengan jengkel ia pun berteriak lantang dari kursi singgasana nya. "Enough!!" raungnya keras dengan suara baritonnya yang khas bak singa yang sedang mengaum marah. Sontak hal itu membuat rengekan kelima orang tadi berhenti seketika. Kelimanya langsung berjajar rapi seraya menunduk hormat kepada sang pemimpin. "Sekarang, siapa yang bisa menjelaskan pada ku mengapa kita masih terjebak di sini sementara gerhana bulan akan segera terjadi?"tanya nya dengan penuh ketenangan yang mencurigakan sembari menatap kelima tikus yang kini hanya bisa mencicit dalam diam. "Tak ada?"ujarnya lagi kali ini dengan alis yang terangkat sebelah disertai tatapan mematikan di kedua netranya. "A—anu tuan, ta—tapi ada sa—satu m—masalah..."lirih salah satu dari kelima pria berjubah hitam tadi dengan terbata-bata. "Ah, aku baru tau jika seorang Robinson berani membuat satu kesalahan. Katakan, apa itu?"sahut Antonio dengan nada yang tenang, namun netra cokelatnya nampak berkilat dalam kesuraman itu, kilatan tajam bak pisau yang mampu mengoyak korbannya dengan cara mengerikan. "A—anu it—itu...ma—mawar nya. Ada satu masalah dengan mawarnya..."cicitnya dengan takut. "Katakan dengan jelas, Robinson!!" hardik sang ketua dengan keras, membuat pria bernama Robinson dan yang lainnya terlonjak ditempat. "Anak itu...mengalami sebuah kecelakaan, dan saat ini sedang koma di rumah sakit..."jawabnya sembari menunduk dalam. Ia benar-benar ketakutan ketika melihat sang ketua murka padanya. Ia merutuki nasib sialnya yang terpaksa harus mengurus anak itu, anak yang akan menjadi bayaran untuk segala kemewahan yang telah mereka dapatkan selama ini. Hening cukup lama, tak ada jawaban apapun yang dilontarkan oleh sang ketua. Akan tetapi keheningan panjang itu membuat nafasnya terasa sesak karena tercekik oleh ketakutan. Tak ada satupun yang bisa menebak hukuman apa yang akan keluarga nya dapatkan karena kecerobohannya kali ini. Sekarang ia hampir merasa yakin, jika keluarga nya pasti akan mendapatkan hukuman yang cukup berat hanya karena anak itu. Anak yang terpaksa ia angkat menjadi putri bungsunya demi memberi bayaran yang setimpal atas apa yang ia dan keluarganya telah dapat selama ini. Dan setelah keheningan yang lama, hal yang mengejutkan justru terjadi. "Well, untunglah dia tidak mati. Setidaknya kita hanya perlu mengukur waktu untuk mempertemukannya dengan Lord Master." balas Antonio dengan entengnya. "Kalau begitu, mari kita mulai ritualnya."lanjutnya sebelum berjalan lebih dulu meninggalkan ruangan tersebut yang kemudian diikuti oleh kelimanya. **** Seorang pria muda dengan tampilan yang acak-acakan, tengah mengukir sebuah bentuk pentagram raksasa di atas tanah yang berada di halaman belakang salah satu rumah aset keluarganya yang amat luas, terletak di jantung hutan yang paling rimbun. Kemeja putihnya penuh dengan bercak merah yang berasal dari darah seekor kambing hitam yang ia pakai untuk membuat simbol pentagram raksasa yang baru saja selesai ia buat. Setelahnya ia menaruh batangan lilin berwarna merah di kelima sisi pentagram tersebut. Setelah selesai, ia pun merapikan barang-barang yang tadi ia gunakan untuk menggambar simbol itu, bersamaan dengan kedatangan para anggota ordo yang akan segera melakukan ritual. Lalu, tiba-tiba sang ayah menghampirinya kemudian menepuk pundaknya pelan. "Terima kasih, Ken. Kau boleh kembali ke dalam, sisanya biar ayah yang urus."ujar sang ayah dengan binar kebahagiaan di wajahnya yang seketika mengubah ekspresi sang anak ketika sang ayah telah berlalu dari hadapannya. Ia berderap cepat masuk ke dalam rumah mewah milik keluarganya itu dengan wajah panik bukan main, karena sudah bisa dipastikan rencananya kali ini benar-benar gagal total. Ia mondar-mandir di dalam salah satu kamar yang menjadi kamarnya di rumah ini, memikirkan cara apa lagi untuk bisa menggagalkan rencana sang ayah. Ia pikir dengan membuat anak itu terbaring koma dapat memutus mata rantai kutukan yang menjeratnya, tapi ternyata dugaannya salah. Kalau sudah seperti ini ia harus mencari cara lainnya untuk membebaskan anak itu, dan memilikinya, batinnya dalam hati. Ia sudah bertekad untuk melakukannya, tak ada yang dapat mengubah pendiriannya, karena apa yang sudah menjadi miliknya tak akan pernah ia lepas dengan mudah. Dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua, ia dapat melihat kelima anggota ordo termasuk sang ayah sudah berdiri mengelilingi simbol pentagram raksasa yang tadi ia buat sembari memegang batang lilin berwarna hitam di depan d**a mereka, sedangkan sang ketua berjalan mengelilingi kelima anggotanya. Tak beberapa lama, ia kemudian melihat kepala pengawal sang ayah beserta tiga bawahannya nampak sedang menggotong sesosok tubuh yang nantinya akan dijadikan cangkang tempat bersemayamnya sang iblis, mereka menyebutnya dengan sebutan Lord Master, tapi bagi seorang Kenneth Robinson, iblis itu hanyalah makhluk manja yang tak bisa melakukan apapun tanpa bantuan para pelayan manusianya, bagian yang menyedihkannya adalah justru si kuat lah yang harus tunduk di bawah kaki si lemah, sebuah kebodohan yang terkadang membuatnya muak. Sedari awal ia tak pernah benar-benar mempercayai ordo terkutuk itu, karena ia yakin semua hal yang berhasil ia raih adalah hasil kerja kerasnya sendiri bukan karena bantuan iblis lemah itu dan karena itulah ia merasa tak memiliki hutang apapun pada makhluk terkutuk itu. Namun, sayangnya sang ayah adalah pengikut yang amat taat dan patuh pada segala peraturan yang ada di dalam ordo. Sebaliknya, bagi Kenneth itu hanya sebuah bentuk halus dari kata pengecut yang coba disembunyikan sang ayah di balik topeng dinginnya itu. Dan Kenneth sudah merasa amat sangat muak dengan sifat pengecut sang ayah, membuatnya bertekad untuk secepatnya keluar dari ordo sialan itu dengan membawa serta adik bungsunya. Ia akan melakukan cara apapun untuk itu. Gerhana bulan kini sudah mulai berlangsung di langit, kelima anggota ordo itu mulai menyanyikan mantra pembuka ritual. Sesosok tubuh yang sudah tak bernyawa di letakkan tepat di tengah-tengah simbol tersebut. Sesosok tubuh itu adalah Daniel, sepupu jauh Kenneth yang sengaja di lenyapkan oleh orang tuanya sendiri karena penyakit keterbelakangan mental yang ia miliki. Namun ia tak mau ambil pusing dengan itu lantaran ia tak mengenal dekat sang sepupu. Bayangan hitam sudah hampir menutupi bulan sepenuhnya, sedang kelima orang di bawah sana semakin khusyuk merapalkan mantra. "Vota tua dat, ut te iurat adorare." "Aurum, argentum, gemmas — tibi divitias ponit." "Debita rependenda sunt, et veniet tibi." Hembusan angin kencang tiba-tiba menerpa pepohonan, mantranya mulai bereaksi. Kenneth memperhatikan dengan seksama reaksi dari kelima anggota ordo, hampir semuanya nampak mencoba tetap tenang dan melanjutkan merapalkan mantranya dengan khidmat. "Omnes reuocare, nullus arridere, qui te consoletur. Infernus es in vinculis, oculi ardentes, ignis ignis. Eructare et torquere te usque ad astra exspirare..." Bersamaan dengan itu, cahaya merah menyala mengelilingi tubuh Daniel. Lalu dalam hitungan detik, tubuh tak bernyawa itu mulai bergerak dan membuka matanya. Kenneth terkejut bukan main melihat itu semua, rasa paniknya kembali. Tanpa sadar ia mengigit bibirnya karena merasa resah, tangannya kemudian mengepal erat penuh tekad. Waktunya kini tak banyak, ia harus secepatnya menemukan sebuah cara untuk melepaskan kutukan itu dari sang adik agar mereka bisa kabur dari incaran para penyembah iblis bodoh itu. Lalu, tepat saat ia menoleh ke bawah ke tempat ritual itu sedang dilaksanakan, ia terkesiap dan dengan refleks segera menutup gorden. Jantungnya berdegup sangat cepat ketika sang sepupu tiba-tiba mendongak ke arahnya dan menatapnya, diikuti oleh anggota ordo lainnya yang juga ikut menatapnya dengan tatapan yang sama persis, tajam menusuk, seolah menghakiminya karena sudah mengintip kegiatan ritual mereka diam-diam. Kenneth pun tak memiliki pilihan lain selain meminta bantuan pada seseorang. Dan pilihannya itu jatuh pada salah satu rekan bisnisnya yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang setara dengan para anggota ordo, Mr. Hemlock.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD