CHAPTER 15 : DISTURBIA

1340 Words
Isabelle Eloise Robinson, seorang gadis yang genap berusia delapan belas tahun, si bungsu keluarga Robinson. Orang-orang mengenalnya sebagai gadis cantik nan baik hati yang mampu membuat semua perempuan lain iri ketika melihatnya. Paras yang cantik, otak yang lumayan encer, juga latar belakang keluarga yang mendukungnya untuk jadi pusat perhatian. Karena semua itu, tak jarang ia menjadi target sasaran bully dari teman-teman sekolahnya yang merasa iri atas keberuntungan yang ia miliki, padahal sebenarnya yang terlihat tak sesuai dengan apa yang dirasakan oleh Isabell selama ini. Sayangnya, tak ada satupun orang yang tahu karena Isabell pandai menyembunyikan nya. Namun naas, kali ini ia harus menanggung akibatnya seorang diri. Kini, ia tengah terbaring koma di sebuah rumah sakit swasta akibat tabrak lari. Tak ada satu pun orang dari keluarganya, bahkan ayah dan ibunya yang mau repot-repot peduli pada keadaan yang menimpanya saat ini. Hal itu terbukti dengan tak ada siapapun yang menunggui gadis itu disaat tubuhnya yang kecil nan ringkih tersebut mencoba bertahan hidup, setelah percobaan pembunuhan oleh sosok misterius yang nyaris merenggut nyawanya. Ya, peristiwa tabrak lari yang menimpanya adalah ulah seseorang yang ingin gadis manis nan lugu itu lenyap selamanya dari dunia. Namun, sayangnya tak ada yang tahu mengenai rahasia gelap itu, hanya Isabell lah yang tahu siapa pelakunya. Berkat keadaan koma yang menimpa Isabell, pelaku sebenarnya dari kecelakaan maut itu pun masih dapat tertawa bebas, menertawakan keadaan menyedihkan yang menimpanya. Malam kian larut, rumah sakit itu semakin sepi, hanya tersisa beberapa perawat dan satpam yang bertugas jaga malam. Beberapa lorong yang ada di rumah sakit tersebut terlihat sangat gelap, karena waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Seorang perawat yang berjaga di meja depan bahkan sudah terkantuk-kantuk dan tak memperhatikan sesosok bayangan hitam yang lewat di depannya. Ruangan itu nampak sepi dengan hanya bunyi alat bantu kehidupan yang terdengar. Isabell terbaring tenang di ranjangnya yang berada tak jauh dari jendela. Gorden jendela yang terbuka lebar menampilkan pemandangan langit malam yang cerah berkat cahaya rembulan yang bersinar di langit. Membiaskan cahaya peraknya ke tubuh Isabell yang sedang tak sadarkan diri. Namun tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan tertutup lagi dengan cepat. Sesosok bayangan hitam tinggi, perlahan merayap mendekati ranjang tersebut. Wajahnya yang tertutup hoodie dan masker berwarna hitam menyisakan netranya yang berkilat-kilat ditengah kegelapan, memperhatikan dengan seksama wajah cantik yang tengah terpejam, terlihat begitu damai dari pinggir ranjang. Sebelah tangannya yang berlapis sarung tangan perlahan mulai terangkat dan terjulur ke arah wajah cantik itu, menyentuhnya pelan dan hati-hati. "Tunggulah sebentar lagi. Aku akan segera menemukan cara untuk membebaskan mu dari kutukan itu. Jadi...tolong tunggulah sebentar lagi."lirihnya sebelum segera berbalik pergi meninggalkan ruangan itu, membuatnya kembali sunyi. Namun, tak berselang lama gorden jendela ruangan rawat inap VIP tersebut melambai-lambai dengan sendirinya seperti tertiup angin yang entah datang dari mana. Karena pintu dan jendela ruangan itu masih tertutup rapat, seperti sebelumnya. Namun, kilatan angin itu tiba-tiba berhenti tepat di sisi kiri ranjang, menampilkan siluet seseorang yang sedang berdiri memperhatikan Isabell dari pinggir ranjang. Sosoknya yang cukup tinggi menghalangi cahaya bulan yang bersinar dari balik jendela kamar. Sosok itu kemudian menunduk tepat di atas wajah Isabell, memperhatikan wajah cantik itu dengan detail. Mulai dari alis cokelat gelapnya yang tebal dan tersusun rapih, bulu matanya yang panjang dan lentik, lalu hidung mancungnya yang lancip, serta bibir tipisnya yang nampak pucat juga kering. Bibirnya menyunggingkan senyum miring nan misterius. "Rupanya mengikuti si bodoh Kenneth itu ada gunanya juga. Ah...pengantinku ternyata benar-benar cantik. Aku jadi tak sabar untuk segera bertemu denganmu. Segeralah bangun, lalu datanglah kepadaku dengan sukacita. Maka semua permainan melelahkan ini akan segera berakhir." ujarnya sembari menatap wajah damai itu dengan sangat intens. Dari balik tatapan tajamnya terpancar jelas sebuah jebakan berbahaya yang akan segera ia realisasikan untuk menjerat pengantinnya agar tak dapat lari kemanapun. "Tunggulah. Aku akan berada tepat di sampingmu saat kau membuka mata."lanjutnya diiringi senyuman miring. Berbanding terbalik dengan wajahnya yang terlihat masih lugu dan polos, namun kerlingan matanya menjanjikan kesadisan yang nyata. Setelahnya ia pun menghilang ke dalam kabut hitam di udara. **** Alexa terbangun di pagi buta karena merasa amat kehausan. Langit masih gelap gulita, saat jam digital di atas nakas menunjukkan pukul 2.45 pagi. Tubuhnya terasa remuk dan ngilu hampir di seluruh bagian, begitu banyak bercak kemerahan yang menodai kulit putihnya. Itu semua karena sang suami memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sangat baik, pergulatan panas itu mereka lakukan berkali-kali hingga ia nyaris pingsan dibuatnya. Memang, tenaga suaminya sedang berada dalam puncaknya malam itu, dan Alexa tak bisa menyalahkannya juga. Setidaknya tidak ada lagi mayat yang bergelimpangan akibat ledakan hasrat suaminya. Karena hanya ada dua cara untuk menghentikan ledakan hasrat yang dimiliki oleh para raja iblis, yaitu dengan berperang di daratan atau berperang di ranjang. Sayangnya Alexa sangat membenci opsi pertama, ia benci melihat orang-orang yang terluka apalagi hanya karena alasan tak masuk akal, jadi ia pun dengan sangat terpaksa memilih pilihan yang kedua dan sangat bersyukur karena itu adalah suaminya, bukan raja-raja iblis lain, melainkan suaminya. Karena itulah setidaknya ia tidak perlu merasa bersalah setelahnya. Meskipun ia harus mendapati tubuhnya nyaris remuk redam setelah pergulatan panas yang ia pikir tak akan berakhir itu. Mendesah lemah, ia mencoba menggerakkan tubuhnya perlahan dan turun dari ranjang. Erangan lemah meluncur mulus dari bibirnya ketika ia berhasil mendaratkan kedua kakinya di lantai. Sepelan dan sehati-hati mungkin ia mencoba bangkit dari ranjang, lalu berjalan tertatih menuju pintu kamar. Rasa haus yang menyiksa tenggorokannya membuat suara erangan yang keluar terasa sangat perih. Ingin sekali ia mengutuk dan memaki, tapi ia benar-benar tak memiliki tenaga untuk itu sekarang, bahkan untuk bersuara saja rasanya sangat perih. Mencoba bergegas menuju dapur, malah membuatnya mengeluarkan erangan lain ketika dirinya hampir terpeleset di tangga. Pencahayaan yang minim karen hampir semua lampu telah dimatikan membuatnya harus ekstra hati-hati. Karena ia tak mau jika sampai membuat suaminya terbangun, karena kalau itu sampai terjadi mungkin ada baiknya jika ia kabur atau bersembunyi sampai pagi tiba. Karena pengaruh gerhana itu baru akan hilang keesokan harinya, dan sayangnya ia sudah benar-benar tak sanggup jika harus melakukannya lagi. Mendesah lega ketika dinginnya air berhasil mengaliri tenggorokannya yang kering. Bahkan untuk meredakan rasa perih di tenggorokan nya itu, ia butuh beberapa gelas air putih dingin, sampai-sampai membuat perutnya nyaris kembung karena diisi terlalu banyak air. Alexa memejamkan matanya sejenak untuk meredakan rasa nyeri yang tiba-tiba menghantam kepalanya. Saat ia membuka matanya tanpa sadar ia melirik bunga Lily putih kecil yang tumbuh di pot dari tanah liat yang diletakkan tepat di samping jendela dapur. Bunga Lily itu adalah pemberian suaminya tepat saat mereka tiba disini. Namun, melihat bunga putih kecil berbentuk lonceng kecil itu membuatnya kembali mengingat sang sahabat yang memiliki nama yang sama persis dengan bunga itu, Lily. Seketika rasa rindunya yang teramat sangat membuat kedua matanya berkaca-kaca. Alexa pun mulai berandai-andai, jika saja ia memiliki kekuatan untuk mengembalikan sahabatnya itu, ia ingin sekali memperbaiki momen terakhir perpisahan mereka yang begitu tragis. Ia tak sempat mengutarakan penyesalannya dan juga rasa terima kasihnya kepada sang sahabat sebelum mereka berpisah tepat sebelum Nathan kembali, ia benar-benar merasa menyesal karena dirinya yang terlalu larut dalam euforia kebahagiaan lantaran bertemu kembali dengan kekasihnya hingga ia melupakan sang sahabat sejenak. Setidaknya ia ingin diberikan kesempatan untuk mengucapkan terima kasih dan maaf karena tak bisa menjadi sahabat yang baik untuk Lily. Lalu, ia pun berandai-andai lagi, jika saja ia tak bertemu Nathan saat itu, apakah sahabatnya itu masih tetap hidup hingga kini, tetapi sayangnya waktu tak dapat di ulang. Alexa hanya menyesali perpisahan mereka yang harus berakhir tanpa sepatah katapun saat itu. Namun, jika ia diberikan kesempatan, ia akan meminta kesempatan untuk memberikan sebuah pelukan hangat atau setidaknya sebuah kalimat selamat tinggal kepada sahabat terbaiknya itu sebelum ia pergi. Alexa yang sedang sibuk melamun akibat kerinduannya terhadap Lily, tak menyadari jika sesosok gadis kecil dengan rambut cokelat yang dikepang dua berjalan menghampiri nya. Wajahnya yang tertutupi oleh darah tak mampu menutupi seringai sadis yang tercetak di kedua bibirnya yang sudah robek. Tangannya yang penuh bercak hitam bagai sudah membusuk tengah menggenggam pisau yang ujungnya terlihat berkilau memantulkan cahaya lampu dapur. Tak butuh waktu lama ketika sebuah suara teriakan kencang menggema di pagi buta itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD