Penampakan mengerikan berwujud gadis kecil yang tengah berdiri hanya berjarak beberapa langkah dari tempat ku berdiri membuat ku berteriak semakin histeris karena terlalu kaget. Anehnya, teriakan nyaring ku tak terdengar sama sekali, dan sosok gadis kecil berwujud menyeramkan itu malah tersenyum miring sembari menatapku seolah aku sedang melakukan tarian sirkus aneh. Lalu tatapan mengejek menyebalkan itu tiba-tiba saja berubah, kilatan sadis yang membuatku merinding seketika memenuhi kedua matanya, suara desisan marah tiba-tiba keluar dari bibirnya yang keriput dan penuh dengan bercak hitam aneh yang mengerikan. Aku pun tersentak mundur dibuatnya, tubuhku seketika menegang kaku saat lampu dapur tiba-tiba saja padam menyisakan kegelapan pekat yang serasa seperti sedang menyedot seluruh oksigen yang ada di paru-paru ku, sesak hingga rasanya seperti sedang dicekik kuat oleh tangan-tangan tak kasat mata.
Hitungan detik telah berlalu, sayangnya tak terjadi apapun yang malah membuatku merasa semakin khawatir. Percayalah, ketika kau rasanya sudah menghabiskan hampir seluruh hidupmu berkutat dengan segala hal aneh dan gelap, maka kau tidak akan suka ketika harus dihadapkan pada kesunyian seperti ini. Intinya adalah, jika kau berada di kegelapan dan semuanya terdengar amat sangat sunyi, percayalah, sesuatu yang sangat buruk lebih dari mimpi buruk mu sedang merayap mendekatimu. Dan bagian terburuknya adalah kau bahkan tidak akan pernah tahu apa itu, sampai sesuatu misterius itu menyergapmu atau mungkin mengoyakmu hingga tak bersisa.
Dan kini, aku sedang bersiap untuk segala kemungkinan terburuk. Ku raih benda apapun yang bisa ku jangkau untuk ku jadikan senjata pertahanan diri, seluruh indera ku sudah siap siaga, mataku dengan sangat awas menatap kegelapan di sekelilingku. Lalu sebuah suara ketukan samar dari arah belakangku membuatku segera berbalik secepat angin. Dapat ku rasakan benda yang ku jadikan senjata terasa amat dingin di genggamanku, kontras dengan tanganku yang kini terasa seperti membeku. Lalu, tiba-tiba sebuah hembusan dingin menyentuh telinga kananku, membuatku tanpa sadar mundur ke sebelah kiri seraya menyipitkan mata mencoba menembus kegelapan di depanku. Usaha yang sia-sia, karena aku tetap tak bisa melihat apapun selain kegelapan, namun sekonyong-konyong aku langsung terkesiap ketika punggungku menabrak sesuatu atau mungkin seseorang. Hembusan nafas hangatnya terasa di ubun-ubun ku, artinya orang itu lebih tinggi dariku, lalu suara detak jantungnya yang berdetak amat cepat disertai sebuah lengan hangat yang tiba-tiba saja sudah mendekap pinggang ku erat.
Sontak, hal itu membuatku berontak marah dan melayangkan siku ku tepat mengenai perutnya dengan sangat keras, hingga suara mengaduh kesakitan terdengar darinya. Lalu keadaan pun menjadi terbalik, aku berhasil terbebas darinya bahkan aku juga berhasil memelintir salah satu tangannya dan menahannya di belakang punggung nya. Hingga tiba-tiba saja aku tersentak ketika lampu dapur yang kembali menyala, memaparkan pemandangan kacau di sekelilingku. Ada banyak ceceran cairan berwarna hitam yang mengotori dapur. Bercak-bercak cairan hitam itu ada di mana-mana, bahkan hingga dinding dapur pun tak luput dari cairan hitam misterius berbau busuk yang menyengat itu. Lalu, ketika ku perhatikan sekali lagi ternyata cairan hitam berbau busuk itu berasal dari tangan yang sedang ku tahan tadi, menetes-netes di lantai juga mengotori tanganku. Sontak aku pun mendongak hanya untuk mendapatkan seringai lebar suamiku, lengkap dengan cairan hitam yang sama mengotori sebagian wajahnya.
"Ugh...wow! Aku tidak tahu jika istriku ternyata memiliki tenaga sekuat ini." ujarnya sembari menoleh padaku. Aku pun segera melepaskan cekalan tanganku padanya saat mendengar ia meringis kembali.
"Bagaimana bisa kau ada di sini? Lalu, bercak cairan apa ini?" tanyaku padanya, aku tak bisa menghentikan diriku untuk tidak menatap jijik pada bercak-bercak cairan hitam aneh yang nyaris memenuhi dapur dan membuatnya nampak seperti tergenang oleh cairan lumpur hitam. Lalu, tanpa sengaja aku menemukan potongan tubuh yang sedang terbakar. Aku ingin berjalan menghampiri potongan tubuh itu, namun Nathan segera menarikku dan saat aku menoleh padanya kedua netranya sedang menatapku tajam, dan aku pun hanya bisa mendesah lemah ketika menerima isyarat itu.
"Sebentar lagi sisa sampah busuk itu akan lenyap dengan sendirinya." celetuknya seraya menatap tajam pada potongan tubuh yang mulai mengeluarkan asap tersebut. Membuatku kembali menoleh dan menatap api kemerahan yang sedang melahap habis setiap bagiannya, menimbulkan suara mendesis. Lalu, tiba-tiba aku menyadari jika baju yang sedang terbakar itu sama persis seperti baju yang di pakai oleh gadis misterius yang sebelumnya ingin menyerang ku. Mataku pun seketika membola, aku kembali menoleh ke arah Nathan dengan wajah penuh tanda tanya. Namun, ia hanya menatapku sekilas sebelum kembali mengarahkan tatapan dinginnya pada potongan tubuh yang sedang terbakar itu, lengkap dengan kernyitan di dahinya.
"Jangan khawatir, aku akan melindungi mu dari kotoran-kotoran menjijikan itu mulai sekarang." jawabnya tanpa mengalihkan tatapannya dari potongan tubuh yang terus mendesis karena dilahap oleh sang api.
"Tapi...makhluk apa itu sebenarnya?" tanyaku.
"Hanya seekor serangga yang salah masuk rumah." balasnya ambigu. Aku pun mengernyit sembari menatapnya dengan tatapan, 'seriously?!'. Yang hanya di balas dengan tawa renyah seolah aku baru saja melakukan adegan lucu yang langsung membuatku mengerucutkan bibirku dongkol.
"Yang terpenting sekarang, dia tidak akan bisa mengganggu mu lagi. Dan akan aku pastikan itu berlaku selamanya, oke?" pungkas nya seraya menatapku dalam seolah mencoba meyakinkan ku untuk percaya padanya. Di tatap seperti itu membuatku tak bisa berkutik lagi selain hanya bisa mengangguk mengiyakan. Tentu saja, aku tak ingin mencari masalah dengan 'suami tercintaku' saat malam gerhana bulan belum berlalu total. Aku masih ingin berjalan dengan normal keesokan paginya, tentu saja. Lalu, Nathan menuntunku untuk kembali ke kamar, meskipun aku sudah mencoba untuk menolak dengan alasan lapar dan ingin makan sesuatu. Tetapi nampaknya Nathan sudah tahu jika hal itu hanyalah alasan ku saja untuk menolak ajakannya, sehingga ia pun membalas dengan berkata, "Aku juga sedang kelaparan. Makanya kita harus cepat-cepat ke kamar, karena kau tahu sendiri kan jika sedang kelaparan mood ku akan memburuk dengan drastis." ujarnya dengan tatapan yang mengisyaratkan sesuatu. Dan aku pun pada akhirnya hanya bisa menurut dengan pasrah.
****
Purnama penuh masih menggelayut manja di langit malam nan pekat, segerombolan kelelawar tampak terbang rendah menembus gelap dan rimbun nya hutan malam itu. Namun, gerombolan kelelawar itu tiba-tiba saja lenyap. Satu persatu hewan nocturnal itu bak di tarik oleh sesuatu yang tak kasat mata. Lalu, terdengar suara langkah kaki yang terburu berderap cepat di kegelapan hutan. Desah nafas serta ringisan turut mengalun, meramaikan kesunyian hutan pada malam itu. Disusul kemudian jeritan histeris seorang wanita yang terlihat sangat syok setelah melihat kejadian brutal yang tengah terjadi di depan matanya. Namun, sayangnya di situlah letak kesalahannya di saat seharusnya ia tidak memberi tahukan keberadaannya pada sang monster yang tengah memuaskan dahaga laparnya dengan makanan favoritnya, jantung manusia.
Semakin banyak jantung manusia yang ia makan, semakin kuat sang iblis juga semakin lama waktu yang ia miliki untuk memporak-porandakan dunia manusia. Namun, tak sembarang jantung, jantung itu adalah jantung pilihan yang haruslah milik seseorang yang memiliki keburukan menyerupai sang iblis, karena jika tidak, hal itu malah akan melemahkan sang iblis hingga ia tampak seperti apel busuk yang mengering.
Dan kini, pilihan itu jatuh pada seorang pria bernasib malang yang kalah berjudi setelah mempertaruhkan hartanya yang tersisa, anak perempuan satu-satunya. Setelah kalah, dalam keadaan mabuk berat ia tanpa sengaja tersesat di hutan yang memang berada tak jauh di belakang kasino tempatnya bermain, dan tanpa sengaja memaki orang yang salah hanya karena menghalangi jalannya. Kini pria paruh baya itu telah terbaring kaku di tanah dengan lubang menganga di dadanya, disaksikan oleh putri semata wayangnya yang memang sedang mencarinya.
"Ap-apa yang kau lakukan pada ayahku?" ujarnya dengan tergagap. Kedua matanya membola ngeri saat sosok monster itu tiba-tiba menoleh padanya dengan mulut yang berlumuran darah sang ayah. Netra kemerahan milik sang monster memaku kedua netra hitam miliknya, membuatnya tersentak mundur dan nyaris tersandung kakinya sendiri lantaran kilatan aneh yang menjanjikan kengerian terpampang jelas di kedua netra semerah darah itu, tubuhnya tiba-tiba mendadak menjadi sangat lemas bahkan hanya untuk sekedar menarik nafas. Pemandangan di depannya begitu mengerikan hingga membuatnya sangat terguncang dan tak mampu berpikir jernih, karena jika iya, dia seharusnya sudah berlari atau berteriak meminta tolong untuk menyelamatkan diri. Bahkan saat sang monster tiba-tiba bangkit berdiri dan melompat ke hadapannya, dia hanya bisa menyaksikan semua itu tanpa bisa melakukan apapun untuk melindungi dirinya.
Ekspresi dingin di wajah tampan sang iblis itulah yang membuat sang gadis kembali terkesiap, karena ia mengenali siapa sosok itu sebenarnya. "Daniel...?!" ujarnya tak percaya. Ya, ia mengenali wajah tampan nan dingin itu. Anak laki-laki pendiam yang suka bertingkah aneh dan merupakan tetangga sebelah rumahnya. Banyak rumor yang mengatakan kalau anak tetangganya yang aneh itu merupakan anak yang dikutuk, sehingga bertingkah tidak wajar untuk anak seusianya. Tak pernah ada yang tahu soal kebenaran rumor itu. Akan tetapi, setahunya anak itu kini tengah terbaring sakit dan sedang mendapatkan perawatan di luar negeri.
"Daniel...? Itu kau kan?" tanya nya lagi memastikan.
Senyum miring tipis terbit di bibirnya yang berlumuran darah. Di matanya, gadis lugu di depannya itu nampak seperti boneka yang bisa ia gunakan sesuka hatinya. Hatinya yang lemah membuatnya dengan mudah jatuh ke dalam jeratan hipnotis sang iblis. Kini, gadis dengan rambut hitam lurus itu sudah sepenuhnya jatuh dalam kuasanya, dan ia benar-benar akan berbuat sesuka hatinya dengan menggunakan gadis itu sebagai pion nya.
Lalu, perintah pertama pun ia berikan untuk menguji kemampuan pion barunya itu. Tatapan dinginnya berkilat, mengirimkan perintah mutlak yang harus dikerjakan oleh sang gadis dengan sempurna. Kedua netra hitam milik sang gadis terpaku dengan tatapan patuh. "Lakukan apa yang ku perintahkan tadi dengan baik, Giselle. Maka kau akan ku izinkan untuk bertemu dengan ayah mu." imbuhnya dengan jelas yang dibalas anggukan patuh oleh sang gadis. Setelahnya, ia pun berbalik dan berjalan pergi meninggalkan tuan nya untuk segera melaksanakan apa yang telah diperintahkan, sedangkan sang iblis menyeringai puas di belakangnya.
"Akhirnya, aku tak perlu membuang-buang tenaga ku. Kalau seperti ini, seluruh kekuatan ku akan pulih dengan cepat." tukasnya dengan seringaian lebih lebar seraya menjilat sisa darah yang ada di bibirnya.
Sementara itu, di dalam bar yang sekaligus juga kasino, Giselle menatap ke seluruh penjuru ruangan, mencari seseorang yang memenuhi kriteria targetnya. Tak membutuhkan waktu lama, hanya dalam hitungan detik tatapannya sudah mengunci targetnya. Senyum miring tipis dengan tatapan dingin melintas di wajah polosnya, namun itu hanya berlangsung dalam beberapa detik yang singkat, karena segera tampilan sadis itu berubah menjadi tatapan gadis lugu yang berpura-pura kebingungan dan panik. Ia berjalan menghampiri mereka dengan langkah yang penuh perhitungan, lalu, tepat saat langkahnya semakin mendekati sang target, sebuah panggung sandiwara pun dimulai.
Dengan lihainya ia memanipulasi mereka semua seolah ia adalah aktris berbakat yang sudah amat lihai melakoni peran itu. Memaku perhatian semua orang yang duduk di meja itu untuk menatap ke arahnya seorang seolah terhipnotis, dengan wajah lugunya yang menampilkan kekhawatiran bercampur kepanikan ia menggiring mereka semua untuk masuk secara sukarela ke dalam jebakan besar yang telah ia siapkan. Dan tanpa tahu apapun kelima pria itu saling berpandangan memberi kode kepada sesama rekannya untuk tak menyia-nyiakan tangkapan besar yang mendatangi mereka dengan sendirinya seolah kemujuran semesta sedang berpihak pada mereka. Dengan naluri penjahat mereka yang sudah terasah bertahun-tahun lamanya, mereka tahu bahwa gadis lugu di hadapan mereka itu adalah sasaran empuk yang diberikan oleh siapapun yang mengawasi mereka di atas sana. Dalam hati, mereka tak bisa untuk tak tertawa licik saat segala macam rencana busuk bermunculan di benak mereka, namun yang paling utama adalah keserakahan. Dan itulah justru yang diincar oleh sang gadis. Ia pun tersenyum bangga dalam hati, karena sebentar lagi ia akan dapat melihat sang ayah setelah tugasnya selesai dengan sempurna.
"Saya mohon tolonglah kami, Paman. Ayah saya harus segera menyerahkan uang itu agar ibu saya bisa segera di operasi, tapi kami sama sekali tak memahami soal mesin mobil." ujarnya setengah panik. Lalu, salah satu pria dengan wajah paling menyeramkan di antara kelima pria itu, dengan tato yang menghiasi otot-otot bisepnya yang besar berdiri dan memerintahkan keempat rekan lainnya untuk segera membantu sang gadis. Pria bertubuh besar itu bisa dipastikan adalah pemimpinnya dilihat dari perkataannya yang langsung diangguki oleh rekan-rekannya.
Segera saja Giselle mengucapkan terima kasih berkali-kali pada kelima pria yang sudah mau berbaik hati membantunya itu,"....saya pasti akan memberikan imbalan yang setimpal jika paman sekalian berhasil membuat mobil kami menyala kembali." ujarnya sembari mengarahkan kelima pria itu ke tempat mobilnya mogok, tempat di mana jebakan mematikan telah menanti kelima pria bodoh dengan keserakahan yang membuat mereka dengan mudahnya terpedaya. Karena sedari awal ekspresi yang diperlihatkan sang gadis sangat jelas terlalu dibuat-buat seandainya saja mereka tak dibutakan dengan kata 'uang'.
Mereka pun kini telah sampai di area belakang kasino yang menghadap langsung ke kegelapan hutan yang hanya berjarak beberapa meter jauhnya. Cahaya rembulan perak di langit menyinari kegelapan hutan, menciptakan ilusi aneh yang membuat siapapun yang melihatnya menjadi seperti terhipnotis. Hasrat semu yang dapat menjerat setiap manusia yang berhati lemah. Mereka kini terlihat seperti orang-orang yang sedang menyongsong kebahagiaan mereka dengan penuh sukacita yang tak lain adalah kuburan mereka sendiri, lengkap dengan siksaan menyakitkan yang akan mengirim mereka ke dalam kekalnya siksaan neraka yang abadi.
Sedangkan Giselle hanya memperhatikan kelima pria bodoh yang sedang menyambut malaikat mautnya itu dengan penuh sukacita dari pinggir hutan. Menyaksikan kehebatan tuan nya yang juga membuatnya takjub. Sebuah kekuatan dasar yang sudah pasti dimiliki oleh setiap iblis manapun, kekuatan ilusi untuk menipu dan menjerat para mangsanya.
Lalu, tak lebih dari hitungan detik kelima pria bertampang mengerikan tadi satu persatu jatuh ke atas tanah hutan yang dingin dengan lubang mengerikan di d**a mereka. Beberapa terbujur kaku dengan ekspresi terkejut bercampur ngeri di wajah mereka, namun ada juga yang terbujur kaku dengan ekspresi kosong di wajahnya. Sedangkan sang iblis nampak terlalu sibuk melahap setiap jantung yang ada dengan sangat rakus, ia sama sekali tak memedulikan keadaan sekitarnya. Setelah jantung manusia terakhir habis ia lahap, ia pun mendesah puas ketika kekuatannya hampir sepenuhnya pulih. Kini, waktunya menyantap hidangan penutupnya. Sementara itu, para gagak yang berhasil mengendus aroma kematian mulai berdatangan, kemudian mulai melahap sisanya.
Sang iblis pun menoleh ke arah pion barunya yang telah berhasil melakukan misi pertama yang ia berikan, kemudian memberikan isyarat padanya untuk datang mendekat. Dengan patuh Giselle segera berjalan menghampiri tuan nya lengkap dengan senyum bangga terpatri di wajahnya. Ekspresi yang tercetak di wajahnya itu mau tak mau membuat sang iblis diam-diam tertawa mengejek. Ah, betapa bodohnya gadis-gadis manusia, ejeknya dalam hati.
"Ya, Master. Anda memanggil saya?" sapa Giselle sesopan mungkin, dalam hatinya ia merasa bangga dan tak sabar untuk menerima hadiah dari tuan nya itu. Ia yakin jika tuan nya itu pasti akan memberikan hadiah padanya karena telah berhasil melakukan tugas pertama yang ia perintahkan padanya.
"Tentu. Tentu saja. Saatnya kau menerima imbalan atas kerja keras mu barusan. Kau berhasil menjalankan perintah ku dengan sempurna dan kau harus bangga dengan itu." ujar sang iblis dengan nada manis yang dibuat-buat.
"Ya, Master. Terimakasih." balas Giselle dengan senyum percaya diri melengkung di bibirnya.
"Dan karena itu, sesuai janji ku, aku akan mengizinkan mu untuk bertemu dengan ayahmu. Namun, sebelum itu aku akan memberi hadiah kecil atas keberhasilan dirimu tadi." sambungnya sembari berjalan menghampiri Giselle dan berdiri tepat di hadapan gadis itu.
Mendengar itu tak ayal membuat Giselle menjadi tak sabar dan amat penasaran dengan hadiah apa yang akan diberikan sang tuan padanya. Akan tetapi, hal yang selanjutnya terjadi justru di luar dugaannya, terdengar bunyi krak memekakkan menggema di kegelapan hutan, diiringi suara kepakan sayap juga koakan serak dari para gagak yang beterbangan ke langit malam yang hitam pekat. Di susul dengan suara tawa serak yang khas menggaung setelahnya.
Malam itu pun menjadi malam titik balik dari kebangkitannya di dunia manusia tanpa tahu jika kehadirannya mengusik iblis lainnya yang sudah lebih dulu berkuasa di dunia manusia. Lalu, sebagai tanda permulaan, ia mengirim banyak gagak kelaparan yang datang bergerombol dari balik pekatnya langit malam. Gagak-gagak yang kelaparan itu pun segera memenuhi hutan, kemudian, dengan satu gerakan tangannya para gagak itu menyerbu dengan brutal bar dan kasino yang berdiri beberapa meter tak jauh dari bibir hutan. Memangsa siapapun yang ada disana dengan brutal, sedang sang iblis menyaksikan hal itu bagai sedang menyaksikan adegan dalam Opera sabun yang membosankan. Malam itu pun akan terkenang sebagai malam pembantaian massal yang dilakukan oleh para gagak yang kelaparan.