Ah, aku benci tatapan itu. Tatapan penuh prasangka. Tidakkah seharusnya semuanya telah berakhir? Harusnya kini yang tersisa hanyalah happy ending untuk kisah kami. Tapi...meski begitu, aku sama sekali tak bisa menghentikan diriku untuk terus meraihnya lalu menggenggamnya erat, tak peduli apapun yang akan terjadi ke depannya. Mungkin, memang, takdir kami tidak saling bertautan. Namun, siapa yang peduli dengan semua itu. Aku sama sekali tak peduli.
Jadi, ku tarik dirinya agar lebih mendekat padaku, menghapus segala dinding penghalang yang menghalangi jalannya kisah kami. Meskipun semesta tak mengizinkan, tapi aku takkan pernah menyerah padanya. Mana mungkin aku sanggup menyerah saat kini dia sudah begitu dekat, netra karamelnya yang memancarkan kehangatan mampu menembus pekatnya sisi iblis dalam diriku. Membangunkan ku dari tidur panjang yang menjemukan, lalu membawaku pada suatu tempat di mana gambaran keinginan terpendam ku yang tak pernah ku tahu ada, tersimpan apik di suatu sudut tersembunyi di kedalaman hatiku yang gelap dan pekat. Keinginan untuk di cintai dan mencintai, sebuah keinginan manusiawi yang bertolak belakang untuk iblis sepertiku. Tetapi dengannya, aku punya alasan kuat untuk memperjuangkan keinginan itu. Karena itu, tolong...jangan pernah tatap aku dengan tatapan buruk itu lagi.
Lalu, tanpa ragu, aku pun seketika menyambar bibir ranumnya, namun kali ini aku menciumnya dengan ciuman yang lembut, menyalurkan segala perasaan yang ku miliki untuknya. Aku ingin ia tahu jika aku sepenuhnya sudah bertekuk lutut padanya. Bahkan untuk seribu tahun hidupku, aku akan tetap memilih keputusan yang sama. Dapat kurasakan tangannya yang tanpa sadar mengalung di leherku, menarikku mendekat bersamaan dengan segala emosi kami yang mulai bercampur baur, seolah ia pun sama sepertiku, saling membutuhkan satu sama lain, dan bahwa ia juga sama menginginkan diriku seperti aku yang menginginkannya. Bibirku tanpa sadar tertarik membentuk senyuman kecil di sela-sela ciuman kami. Bagiku, ini bahkan melampaui ekspektasi ku sendiri.
Dan melihat wajahnya yang semerah tomat, ketika kami mengakhiri ciuman kami, membuatku nyaris meledak karena bahagia. Senyum malu-malu nya yang terpatri di wajah cantiknya membuatku tak bisa menahannya lagi.
"Terima kasih."kataku padanya, dan ia hanya menatapku dengan tatapan bingung yang justru malah membuat ku gemas ingin menciumnya lagi.
"Terima kasih karena telah memilihku dan menerima diriku yang seperti ini."kataku lagi sembari mengelus lembut pipinya yang kini telah kembali ke semula. Namun, ia tiba-tiba mencium bibirku cepat, membuatku sangat terkejut akan reaksinya.
"Ayo ku buatkan menu sarapan spesial."ujarnya sembari tersenyum lebar yang ikut menular padaku, lalu menarikku meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum pergi meninggalkan tempat itu, aku menyingkirkan dahulu masalah yang tak perlu dengan sekali kedipan mata. Ku rasa tubuh tak bertuan itu bisa ku jadikan salah satu mahakarya ku juga nantinya, jadi ku pindahkan ia ke tempat 'kerjaku'. Setelahnya, aku dengan senang hati mengikuti istri ku kemanapun ia membawaku.
****
Matahari mulai meninggi, namun hawa udara nya tak terasa panas lantaran gumpalan awan hitam yang tiba-tiba saja menutupi cahaya matahari. Semenjak selesai sarapan tadi, Alexa merasa seperti orang yang linglung. Terkadang ia menoleh ke arah suaminya lalu menatapnya untuk waktu yang lama. Ia bahkan tak berhenti bertanya-tanya dalam hatinya, "Apa semua iblis memang memiliki pesona sekuat itu?".
Mereka berdua sedang berjalan santai berkeliling area sekitar pondok, sebenarnya itu adalah ide Mr. Hemlock yang mengajak sang istri untuk berkeliling karena ia khawatir tidak sanggup menahan dirinya untuk tidak menyerang sang istri yang sedari tadi selalu membuatnya tak sanggup mengunci sisi iblisnya lebih lama lagi. Tingkah manis dan manja yang Alexa tunjukkan padanya di sesi sarapan pagi tadi membuatnya nyaris hilang akal, netra karamel cantiknya yang saat itu tak pernah absen mengikuti gerak-geriknya di dapur, serta ekspresi di wajah cantiknya yang seolah meneriakkan "aku menginginkanmu, sekarang.", sungguh membuat dirinya amat sangat frustrasi. Ia tak ingin lagi melukai wanitanya jika ia memaksakan kehendaknya saat itu juga, ia tak ingin Alexa menjadi membencinya lagi. Jadi, pilihan yang tersisa hanyalah ini, dengan mencoba mengalihkan pikirannya ke hal-hal lain. Namun, lagi-lagi ia tak bisa lepas dari jeratan nafsunya sendiri.
Bagaimana tidak, wanita yang ia cintai kini tengah berdiri dengan cantiknya tak jauh di depannya, nampak berkilauan bahkan meski dengan dress sederhana bermotif bunga-bunga, sosoknya tetap berkilau bagai berlian cantik di tengah padang pasir. Aroma tubuhnya yang terbawa hembusan angin membuatnya tanpa sadar berjalan mendekati sumber dari harum yang memabukkan itu lalu mendekapnya erat dari belakang.
Alexa sempat terlonjak sedikit karena terkejut dengan tingkah sang suami yang tiba-tiba, namun akhirnya ia pun tersenyum lebar tatkala melihat kepala sang suami terkulai nyaman di pundaknya. Hamparan bukit-bukit kecil nan hijau, diselingi oleh taman-taman bunga yang indah melatari adegan manis dua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu. Mr. Hemlock pun tertawa kecil ketika melihat sang istri yang mencoba menjauhkan tubuhnya akibat ulah jahil dirinya yang mencoba menggelitik serta menciumi leher sang istri.
Namun sayang, adegan manis itu harus terusik oleh kehadiran sesuatu yang langsung merubah sikap manis dan manja sang suami, berganti dengan kerutan amarah yang menggelegak terlukis jelas di wajah tampannya. Ekspresinya pun seketika berubah menjadi bengis, membuat Alexa bertanya-tanya hal apa yang sanggup mengubah sikap manis sang suami menjadi sosok monster yang nampak jelas siap mengamuk kapanpun. Dan tak butuh waktu lama jawabannya pun datang berbarengan dengan langit yang berubah menjadi semakin gelap tiap detiknya.
Segerombolan kelelawar tiba-tiba saja muncul di langit, bak gulungan air bah hitam yang siap menyerang. Segerombolan makhluk malam itu datang dengan cepat ke arah dimana Alexa dan Mr. Hemlock berdiri, dengan suara cicitan nya yang sangat nyaring dan menyakitkan telinga. Alexa pun terpaksa menutup kedua telinganya dengan tangan karena suara cicitan gerombolan kelelawar itu menjadi semakin melengking, namun matanya seketika membola ketika ia menoleh dan mendapati suaminya sudah berubah penuh menjadi sosok iblisnya, raksasa merah berkepala tiga dengan ekor menyerupai ular. Dan Alexa hanya mampu terpaku menatap sang monster merah itu mulai mendesis marah, kedua matanya yang sehitam arang menyipit marah, lalu tiba-tiba ketiga kepala monster itu mendongak bersamaan kemudian menyemburkan api merah kehitaman dari masing-masing mulut mereka. Api hitam itu kemudian segera mengenai segerombolan kelelawar itu, namun secara mengejutkan gerombolan itu terpecah menghindari api hitam ganas yang sedang mengincar mereka, sebelum kemudian kembali menyatu. Namun kali ini mereka bukan membentuk formasi, melainkan membentuk seekor makhluk aneh yang belum pernah dilihat oleh Alexa.
Kulitnya berwarna sehitam arang, matanya berwarna kuning bak mata milik predator, dengan telinga panjang yang runcing dan juga sayap hitamnya yang membentang lebar, membuatnya nampak seperti sosok kelelawar raksasa purba yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya di suatu goa tersembunyi yang entah berada di mana. Alexa bahkan tak sanggup berkedip ketika melihat sosok kelelawar raksasa itu mulai menyeringai lebar ke arahnya.
"Bukankah wanita secantik dan semenarik dirimu lebih cocok bersanding di singgasanaku daripada membuang-buang waktumu dengan monster berkepala tiga rendahan sepertinya?"ujar kelelawar raksasa itu dengan nada yang mengejek yang seketika langsung menyulut api kemarahan panas dari monster merah yang kembali menyemburkan api hitamnya ke arah kelelawar purba tersebut.
Melihat akan adanya perang besar antara dua monster mengerikan tersebut membuat Alexa segera berpikir keras mencari jalan keluarnya. Ia tak mungkin membiarkan suaminya tersebut dilukai oleh siapapun. Entah mengapa ia sangat benci dengan gagasan bahwa suaminya bisa saja kini sedang dalam bahaya, karena Alexa sama sekali tak mengetahui makhluk berbentuk kelelawar hitam raksasa itu adalah makhluk jenis apa, dan apakah makhluk itu dapat membahayakan suaminya atau tidak.
Namun setelah beberapa detik terlewati tanpa jawaban apapun, Alexa mulai merasa khawatir dan panik. Apalagi ketika melihat kelelawar hitam raksasa itu kini mulai menunjukkan kekuatan aslinya, pengendali cuaca. Angin badai yang cukup besar tiba-tiba saja datang dan mengepung mereka dari segala arah. Alexa yang merasa amat kesal kemudian membayangkan jika kelelawar hitam sialan itu tercekik hingga batang lehernya patah. Lalu tanpa diduga, apa yang ada di bayangan Alexa tersebut benar-benar menjadi kenyataan. Kelelawar hitam itu tiba-tiba memegangi lehernya, nampak sangat kesakitan. Kemudian terdengar suara "crack" menyakitkan, dan kelelawar raksasa itu pun jatuh tak berdaya ke tanah.
Alexa hampir saja bersorak kesenangan ketika tiba-tiba saja terdengar suara kekehan serak yang berasal dari sosok kelelawar raksasa itu. Ternyata itu tak menyakitinya sama sekali, karena dalam hitungan detik kelelawar raksasa itu berhasil bangkit berdiri. Alexa pun segera membuat tubuh raksasanya itu menghantam tanah dengan sangat menyakitkan, berkali-kali hingga tubuh kelelawar raksasa itu terpendam jauh di dalam tanah. Namun, lagi-lagi itu tak memberi efek apapun padanya karena suara kekehan menyebalkan itu kembali terdengar di telinga Alexa dan kelelawar hitam raksasa itu selalu berhasil bangkit kembali.
Melihat hal itu, Mr. Hemlock pun segera mengambil tindakan. Ia membuat tanah di sekitaran kelelawar raksasa itu amblas membentuk lubang hitam yang sangat besar dan dalam mengubur tubuh raksasa kelelawar tersebut. Mengira kelelawar raksasa itu sudah terkubur dan tewas, Mr. Hemlock pun mengubah wujudnya ke semula, lalu menggandeng tangan sang istri untuk meninggalkan tempat itu. Namun, sesuatu yang mengejutkan pun terjadi. Kelelawar hitam raksasa itu kembali bangkit tanpa Mr. Hemlock sadari, lalu dengan kekuatannya ia mengambil Alexa dan membawanya pergi. Mr. Hemlock bahkan tak sempat mengejarnya karena makhluk itu menggunakan portal antar dimensi yang langsung menutup seketika setelah tubuh kelelawar raksasa beserta Alexa tertelan ke dalam lubang hitam tersebut. Hal itu membuat Mr. Hemlock meraung marah hingga menyebabkan tanah disekitarnya bergetar hebat, dan sekujur tubuhnya diliputi oleh api panas berwarna kehitaman pertanda jika ia sedang benar-benar sangat marah. Dengan membabi buta ia nyaris membakar seluruh isi pulau dengan api hitam miliknya, namun aksinya itu dihentikan oleh Richard yang mencoba menenangkan tuannya dengan membisikkan sesuatu pada sang tuan. Kernyitan marah masih terlihat jelas namun kini Mr. Hemlock sudah sedikit lebih tenang karena ia tahu kemana makhluk kotor itu membawa istrinya.
****
Alexa mengedipkan matanya seraya memijit kepalanya yang terasa berdentam-dentam menyakitkan, perlahan ia bangkit dari ranjang tempatnya terbaring. Sekelilingnya nampak sangat gelap, namun ia bisa mendengar suara tetesan air di kejauhan. Bau tanah yang lembab semakin membingungkan Alexa. Namun hal itu tak berlangsung lama, karena deretan obor mulai menyala, menerangi ruangan berdinding batu tempat Alexa berada. Dilihat dari apa yang ada di sekelilingnya, nampaknya kini ia sedang berada di dalam sebuah goa yang entah berada di mana. Disusul dengan suara langkah kaki yang menggema, membuat Alexa segera meningkatkan kewaspadaannya.
Sepasang sepatu boots berlumuran lumpur muncul di hadapannya, membuat Alexa segera mendongak ke atas untuk melihat wajah sang pemilik sepatu boots itu, namun tak berhasil karena wajahnya tertutupi bayangan gelap. Lalu sebuah suara terdengar, berbicara padanya dengan logat khas yang tak Alexa pahami.
"Maaf, tapi aku tidak bisa mendengar jelas suaramu dengan jarak yang sejauh itu."kata Alexa dengan sopan.
Dan Alexa seketika langsung terperangah melihat wajah sang pemilik sepatu boots berlumuran lumpur itu. Dari pakaiannya, ia terlihat seperti petani biasa, namun aura yang dipancarkan sama hitamnya dengan milik suaminya, Nathan. Seketika ia pun menyadari jika terjadi sesuatu yang aneh pada dirinya, ia merasa lebih peka dalam melihat aura seseorang, juga ia kini bahkan bisa memukul orang tanpa menyentuh.
"Tunggu. Memukul orang tanpa menyentuh...?" batinnya. Alexa pun kembali mendongak menatap pria yang sedang memegang sekop di depannya, mencoba menimbang-nimbang baik buruknya apabila ia menggunakan kekuatan nya sekarang, namun ia memutuskan untuk berhati-hati, karena ia tak tahu apakah pria itu adalah jenis makhluk yang sama seperti suaminya atau kah justru sama sepertinya.
"Ternyata jika dilihat lebih dekat seperti ini, kau terlihat lebih cantik."ujar pria misterius itu sembari tersenyum miring.
"Barusan anda ingin mengatakan apa, Pak?" balas Alexa mengabaikan sepenuhnya perkataan yang tadi dilontarkan oleh si pria.
Pria itu tiba-tiba berjalan mendekat ke arahnya, hingga jarak mereka tersisa satu jengkal saja, dan membungkukkan badannya tepat di depan wajah Alexa. Netranya yang berwarna cokelat gelap tiba-tiba saja berubah menjadi semerah darah, dan pupilnya yang berwarna putih berubah menjadi hitam. Alexa langsung tersadar dengan apa yang akan dilakukan iblis di depannya itu, menghipnotisnya.
"Apakah aku terlihat setua itu di matamu?"tanyanya seraya menatap Alexa dengan lekat. Tak ingin semuanya menjadi semakin rumit, Alexa pun memutuskan untuk diam tak menjawab. Hal itu mengundang senyum miring yang tipis terukir di bibir sang iblis.
"Sekarang lupakanlah suami bodoh mu itu dan jadilah milikku." ujarnya lagi kemudian dengan nada yang lembut, mencoba mempengaruhi pikiran Alexa. Sayang sekali, hal itu tak berpengaruh apapun padanya. Tetapi Alexa memilih mengikuti alur yang ada dan bermain-main dulu sebelum melancarkan penyerangan, jadi ia pun berpura-pura telah terpengaruh dan jatuh dalam jerat hipnotis dari iblis yang belum ia ketahui namanya itu. Ia pun menampilkan senyuman lebar di bibirnya namun dengan tatapan yang kosong.
Melihat hal itu, membuat sang iblis senang dan menyebutkan namanya sebagai pengikat segel hipnotis yang ia beri.
"Namaku adalah Behemoth, dan kini kau resmi menjadi permaisuri ku." ucapnya dengan percaya diri, sembari mengecup lembut tangan Alexa, tanpa menyadari tatapan Alexa yang tajam dan menusuk mengetahui ada iblis lain yang berani menyentuh dirinya.
Iblis itu kemudian menuntun Alexa dengan lembut menuju singgasana nya bersamaan dengan dirinya yang merubah wujudnya menjadi sosok yang membuat Alexa terlonjak kaget karena tak percaya.
"Bagaimana bisa ia merubah dirinya menjadi sosok Nicholas Foster. Sialan. Nick itu adalah cowok impianku, idolaku. Aaarrgghh, seharusnya ku lenyapkan saja dia tadi. Beraninya ia menyamar menjadi Nicholas-ku...!" gumam Alexa di dalam hati, ia merasa amat sangat jengkel sekarang dan benar-benar menyesal karena tidak langsung melenyapkan iblis di depannya ini saat memiliki kesempatan, namun ia tak bisa menunjukkan ekspresi itu terang-terangan sekarang. Jadi ia pun mencoba menetralkan ekspresinya yang pasti tidak karuan menjadi ekspresi datar kembali layaknya orang yang berada dalam pengaruh hipnotis.
"Kau pasti kaget ya, Sayang. Yah, karena kau sudah jadi permaisuri ku sekarang, aku akan memberi tahu mu satu rahasia penting. Aku adalah Nicholas Foster yang terkenal itu. Aku menciptakannya sendiri dengan wajah ini karena aku bosan terus-terusan bersembunyi di dalam goa yang sempit seperti ini sedangkan iblis-iblis lainnya bebas berkeliaran sesuka hati mereka. Bahkan beberapa dari mereka memiliki ribuan penggemar wanita yang siapa melayani kapanpun mereka mau, tapi...aku hanya butuh dirimu. Bau darahmu yang memabukkan membuatku ingin segera melahap mu sekarang juga, kau tahu?"jelasnya panjang lebar yang membuat Alexa rasanya ingin mengamuk sekarang juga, iblis di depannya ini benar-benar berisik dan tak punya malu. Kali ini ia benar-benar sudah tak sanggup lagi untuk bersandiwara, api amarah di dalam dirinya sedang mengamuk keras meminta pelampiasan. Namun, saat Alexa baru saja ingin menyerangnya, sang iblis malah mengatakan sesuatu yang membuat Alexa membatu di tempat.
"Dan aku tau siapa dalang dari kematian adik mu. Aku tahu dengan sangat jelas siapa pelakunya, sejelas diriku yang bisa melihat kilatan kebencian untukku di kedua matamu yang cantik. Sayang sekali, tapi akting mu tadi benar-benar bagus, Sayang."