Hari ini Anan mengantarkan kepergian orangtuanya ke Bandara, sebenarnya Anan sudah berkali-kali membujuk Papa dan Mamanya agar tetap tinggal namun yang namanya orangtua mau tidak mau harus dituruti ucapannya apalagi Mamanya sangat bersikeras. Sedangkan Papanya hanya menurut saja, mau tetap tinggal bersama Anan terserah pun juga mau ke Surabaya terserah, Papanya begitu menuruti permintaan istrinya. Sebentar lagi pesawat akan segera lepas landas, sebelum pergi Papa dan Mamanya memeluknya, Aby, Fahri dan juga menantu-menantunya yang turut hadir dalam melepas kepindahan Papa dan Mama.
"Papa dan Mama jaga diri baik-baik di sana, Fahri, Anan dan Aby tidak bisa mengunjungi kalian dalam waktu dekat" ucap Fahri sambil menyalami tangan kedua orangtuanya.
"Papa dan Mama kenapa harus pindah ke sana segala? Padahal di sini kan anak-anak Mama sudah banyak yang menetap dan berkeluarga, tinggal Anan tuh yang belum." Kali ini Aby yang berbicara sambil sedikit menyindir Anan.
"Apaan sih lo Kak?" protes Anan pada Aby.
"Loh kan emang bener yang gue bilang, lo tuh udah tua belum nikah-nikah juga. Gue seumur lo itu udah dapat dua anak berumur lima tahun." Anan menatap Aby sengit, Kakaknya yang satu ini memang sangat menyebalkan dengan dirinya berbeda dengan Fahri yang kalem-kalem saja.
"Itu lo nya aja yang kebelet kawin, umur gue baru dua puluh lima ya? Masih tergolong muda tuh" balas Anan menggebu, matanya menatap Aby sinis.
"Kalian ini kenapa sih? Orangtua mau pergi bukannya diberi kesan bagus malah ribut kayak begini, kamu Anan tidak usah dibalas omongan Kakakmu itu." Asa menginterupsi membuat Aby senang karena dibela oleh sang istri.
"Kamu juga Aby, sudah tua masih saja suka gangguin Anan." Anan tertawa remeh melihat Aby juga ikut terkena.
"Aku belum tua kali, Yang. Masih muda." Asa tak menanggapi, wanita itu menatap kedua mertuanya dengan lembut.
"Papa dan Mama selalu jaga kesehatan ya di sana? Di sini kami akan selalu mendoakan Papa dan Mama, kalau ada apa-apa tolong hubungi kami ya Pa? Ma?" Mama memeluk Asa sekilas.
"Iya terima kasih ya, Sayang? Tolong jaga putra dan cucu-cucu Mama" balas Mama menatap lembut Asa.
"Sesering mungkin kami akan berkunjung disana, pokoknya Mama jangan lupa telfon Aira ya kalau sudah sampai?" Kali ini Aira memeluk Mama mertuanya dan menyalami Papa mertuanya.
"Terima kasih menantu-menantu Mama dan Papa, semoga kalian selalu diberikan kesehatan ya? Papa dan Mama pamit dulu. Pesawatnya sudah mau berangkat. Assalamualaikum .... " Akhirnya mereka melepaskan kepergian Papa dan Mama yang saat ini telah memasuki pesawat yang akan membawa dua orang lansia itu menuju Surabaya.
"Pulang yuk, Yang? Kita tinggalkan orang jomblo." Aby merangkul bahu Asa sambil menyindir Anan yang melotot.
"Ih Aby, jangan begitu" tegur Asa sambil mencubit pinggang suaminya, Aby dan Asa pergi meninggalkan Anan yang kini bersama Fahri serta Aira.
"Bagaimana perusahaan Anan?" tanya Fahri ketika mereka berjalan beriringan menuju tempat parkiran berada.
"Baik Kak, sudah gue handle." Jawab Anan singkat.
"Nanti kalau ada apa-apa kamu bisa telfon saya." Anan mengangguki perkataan Fahri.
Diantara ketiganya, orang yang paling kaku adalah Fahri. Sikap Kakaknya itu tidak berubah jika berurusan dengan keluarganya, masih sama. Sama-sama kaku, berbeda dengan Aby yang berubah jahil jika berhubungan dengan orang yang dia kenal. Terkadang Anan bertanya-tanya bagaimana Kakak iparnya itu bisa tahan dengan sikap Kakaknya yang kelewat kaku itu, Anan tidak tau saja jika Aira dulu hampir menyerah. Bagaimana Anan bisa tau masalah orang dewasa? Dia saja dulu masih sangat kecil.
"Kami duluan ya, Anan? Kamu hati-hati dijalan. Ingat jangan ngebut bawa mobilnya" peringat Aira.
"Iya Kak, Kakak juga nasihatin tuh Kak Fahri. Jangan terlalu kaku gitu kalau sama keluarga, kayak sama orang lain saja." Fahri menatap Anan tajam yang dibalas cengiran oleh pria itu.
"Anan .... " peringat Fahri.
"Bercanda Kak, ya udah Anan duluan ya? Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Anan melambaikan tangannya sebelum mengendarai mobilnya membelah jalanan hingga mobilnya meninggalkan area bandara.
* * *
Geana menatap nanar dua orang yang tengah memadu kasih di atas sofa ruang keluarga, dua orang itu masih asyik bermesraan karena belum menyadari kehadiran Geana dan Aldi. Geana yang baru tersadar kalau ada Aldi pun menutupi mata sang anak agar tidak melihat adegan live yang tidak baik ditonton oleh anak seusia Aldi, perlahan-lahan Geana mendekati dua orang itu dengan tangan yang menutupi mata Aldi. Geana menuntun Aldi agar mengikuti langkahnya, Aldi tak membantah ataupun protes ketika matanya ditutup oleh Geana.
"Mas .... " panggil Geana lirih membuat dua orang itu tersadar dan menjauhkan dirinya masing-masing.
"Kamu sudah pulang?!" tanya Devandra dengan wajah yang tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
"Siapa dia Mas?" tanya Geana sambil menatap wanita seksi yang bajunya berantakan karena permainan mereka tadi.
"D-dia..." Belum sempat Devandra menjawab, wanita yang mengenakan dress pink seksi itu berdiri dan dengan pedenya mengulurkan tangannya kearah Geana.
"Putri, calon istri Mas Devandra." Geana hanya menatap uluran tangan dari wanita bernama Putri itu tanpa berniat menerimanya, pandangan wanita itu beralih pada sang suami.
"Putri, kamu apa-apaan sih?" Devandra menarik Putri agar menjauh dari Geana.
"Loh yang aku bilang kan benar Mas, sebentar lagi kita kan akan menikah. Mas tidak lupa kan sama janji Mas padaku?" Tangan wanita bernama Putri itu bergelayut manja di lengan Devandra.
"Benar begitu Mas?" Bibir Geana bergetar ketika berucap.
"Hei dengar ya kamu, sebentar lagi kami akan menikah. Dan kamu akan pindah dari sini!" ucap Putri yang kini tersenyum meremehkan kearah Geana.
"Mas .... "
"Geana dengar-..." Belum sempat Devandra berbicara Geana memotong dengan cepat.
"Aku masih bisa bertahan dengan sikap kasar Mas padaku dan Aldi, namun aku tidak dapat bertahan jika Mas sudah selingkuh. Ceraikan saja aku Mas, aku tidak mau jadi yang kedua," ucap Geana ketika tau bahwa statusnya tidak akan lagi sama.
"Apa yang kamu bicarakan Geana? Aku tidak akan pernah menceraikan mu!!" Devandra berucap dengan nada tinggi.
"Lagipula kamu dan Aldi mau tinggal dimana kalau kita bercerai? Aku yakin kamu tidak akan mampu bertahan hidup!!" Hati Geana sakit ketika mendengarnya, bukannya merasa menyesal Devandra malah menghina dan meremehkannya.
"Aku pasti akan kuat Mas, ada Allah yang selalu bersamaku" jawab Geana sambil menahan laju air mata yang akan keluar.
"Usir saja Mas, lagipula aku tidak mau jadi yang kedua. Apalagi dengan istrimu yang kampungan ini, sudah tidak tau diri dihidupi olehmu malah sekarang meminta cerai." Putri memanas-manasi keadaan.
"Hei kamu kemasi barang-barangmu dan keluar dari sini!" usir Putri dengan kejam sambil mendorong bahu Geana hingga tubuh wanita itu mundur beberapa langkah.
"Kita mau kemana Ma?" tanya Aldi ketika Geana mengemasi pakaiannya bersama Aldi, memasukkannya kedalam tas.
Geana hanya mengemasi beberapa saja, tidak semua barang Geana bawa. Yang wanita itu bawa hanya barang beliannya sendiri, sedangkan barang yang pernah Devandra berikan tak ia bawa. Wanita itu mengemasi pakaiannya dan Aldi dengan air mata yang tiada henti menetes, rasanya sakit dan sesak ketika tahu bahwa ia diselingkuhi. Pengorbanannya selama ini tak ada artinya, rasa sakitnya selama ini tak membuahkan hasil. Bukan bahagia yang ia dapat, malah luka yang selalu Devandra torehkan untuknya.
"Kita lihat saja nanti kamu akan bertahan berapa lama diluar sana tanpaku," sengit Devandra ketika Geana dan Aldi akan keluar dari rumah.
"Aku yakin aku akan bertahan, meskipun nanti hidupku akan susah aku tidak akan pernah mengemis padamu Mas. Segera urus surat perceraian kita jika kamu memang ingin menikahi wanita itu." Geana menatap Devandra dan Putri yang tengah menatapnya angkuh.
Aldi sedari tadi tak berhenti mengoceh menanyakan pada Geana kemana mereka akan pergi, Geana dengan sabar menjawab pertanyaan Aldi yang sudah beberapa kali anak itu tanyakan. Aldi masih dengan baju TK-nya mengikuti langkah Mamanya yang entah kemana akan membawanya pergi, anak itu terlalu kecil untuk mengetahui apa yang terjadi antara Papa dan Mamanya.
"Kita mau kemana Ma? Aldi sudah lelah berjalan," ucap Aldi membuat Geana mengentikan langkahnya.
"Aldi lelah ya, sayang? Kita istirahat dulu." Geana mengajak Aldi duduk di pinggir jalan.
"Maafkan Mama ya, Sayang?" gumam Geana sambil mengusap dahi Aldi yang sedikit berkeringat, Geana tahu sebentar lagi Aldi pasti akan jatuh sakit karena terlalu lama dibawah sinar matahari yang begitu terik.
"Yang bersama Papa tadi siapa Ma? Kenapa kita tadi pergi? Kenapa Mama membawa baju Mama dan Aldi? Kenapa Papa tadi terlihat marah sekali dengan kita?" Banyak pertanyaan yang Aldi lontarkan membuat Geana bingung, bingung untuk mencari jawaban akan pertanyaan sang anak.
"Kita akan memulai hidup baru tanpa Papa, Aldi mau ya tinggal berdua saja sama Mama?" Geana membelai lembut kepala Aldi.
"Memangnya Papa kenapa Ma? Kenapa kita tidak tinggal bersama Papa lagi?" Bibir Geana bungkam mendengar pertanyaan Aldi, bagaimana Geana akan menjelaskan semuanya pada Aldi kalau Papa dan Mamanya tidak mungkin bersama lagi?
"Papa dan Mama tidak bisa bersama-sama lagi, Sayang. Sekarang Aldi ikut Mama ya?" Geana kini menggendong tubuh Aldi yang sudah mulai menunjukan gejala sakitnya.
"Ma, Aldi lapar" lirih Aldi didalam gendongan Geana.
"Sabar ya sayang." Geana sedikit kesusahan dengan posisinya saat ini, tangan kanannya menahan tubuh Aldi sedangkan tangan kirinya membawa tas baju mereka.
Geana menepi sebentar, ia mendudukan Aldi kepangkuan-nya sedangkan tasnya ia taruh di bawah agar ia lebih mudah mengambil dompetnya. Geana menatap isi dompetnya yang hanya tersisa empat lembar uang berwarna biru, kalau uang itu dipakai untuk makan lalu bagaimana mereka akan menyewa tempat untuk berteduh? Namun melihat Aldi yang sangat kelaparan membuat Geana tak tega juga. Akhirnya Geana menggendong Aldi membawa anaknya untuk pergi kesebuah warteg dipinggir jalan.
"Bu, pesan nasi lauknya tempe sama tahu ya?" ucap Geana pada penjual warteg.
"Iya, ditunggu ya Bu?"
Tak lama menunggu, sudah ada satu piring nasi dengan lauk tempe dan tahu. Aldi hanya menatap makanan dihadapannya tanpa selera, biasanya makanan yang Aldi konsumsi tergolong mewah karena fasilitas dari Devandra. Geana menyadari anaknya yang tidak nafsu dalam memakan makanannya, Geana tersenyum miris. Wanita itu tau apa yang Aldi rasakan, Geana membelai wajah Aldi hingga anak itu menoleh kearah sang Mama.
"Kenapa tidak dimakan?" tanya Geana yang dibalas gelengan kepala.
"Aldi mau ayam Ma."
"Makan ini saja ya, sayang? Mama suapi. Nanti kalau Mama sudah mendapat pekerjaan Mama akan belikan Aldi ayam goreng yang banyak." Akhirnya Aldi mau menerima suapan dari Geana, anak itu makan dengan lahapnya. Entah karena faktor kelaparan atau makanannya yang enak.
"Mama tidak makan?" tanya Aldi yang dibalas senyuman oleh Geana.
"Mama sudah kenyang, Aldi habiskan ya?" Bohong sekali, mana ada Geana merasa kenyang. Yang ada saat ini perut Geana sedikit sakit karena harus menahan rasa lapar, ia tidak punya banyak uang untuk menambah satu porsi makanan lagi untuknya.
"Mama harus makan, Aldi tidak mau Mama sakit." Anak itu seakan mengerti apa yang Mamanya rasakan, Aldi mengambil alih sendok ditangan Geana kemudian menyuapkan isinya kearah sang Mama.
"Makasih Nak." Geana tersenyum haru karena perlakuan Aldi.
Setelah makan mereka kembali menyusuri jalanan untuk mencari tempat tinggal yang harganya sesuai dengan isi dompet Geana, lama mereka mencari hingga beberapa kali singgah ke masjid untuk melaksanakan shalat. Di sore menjelang maghrib Geana baru mendapatkan tempat tinggal, harganya memang sesuai dengan dompet Geana namun sebenarnya tempat ini tidak layak untuk ditinggali. Bangunannya sedikit tak terawat dengan beberapa tembok yang sedikit retak juga beberapa genteng yang rusak, tapi Geana bersyukur dapat memiliki tempat tinggal. Setidaknya malam ini dan beberapa hari kedepan ia dan Aldi memiliki tempat tinggal, urusan nanti biar Geana pikirkan. Wanita itu akan bekerja keras mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya dan Aldi.
"Maafkan Mama ya, Sayang? Kamu harus hidup susah seperti ini bersama Mama" ucap Geana sambil mengusap kepala Aldi yang kini telah tertidur lelap.
Geana ikut membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur yang hanya dilapisi kasur berbahan kapuk, rasanya sedikit tidak nyaman karena bertahun-tahun mereka tinggal dengan nyaman di rumah mewah. Namun Geana harus membiasakan dirinya hidup seperti ini, setidaknya tidak akan ada lagi yang menyakitinya dan Aldi. Setidaknya mereka terbebas dari suaminya yang suka sekali menyiksa. Malam harinya Geana terbangun ketika mendengar gemericik air juga beberapa tetes air yang membasahi wajahnya, ternyata hujan dan genteng diatas mereka bocor.
Wanita itu dengan telaten mengambil beberapa cangkir bekas air minum untuk mewadahi air hujan yang berjatuhan, di temaramnya lampu Geana melaksanakan shalat malam. Memohon pada Allah untuk kemudahan hidupnya dan putra satu-satunya, mengucap syukur akan kebaikan Allah yang membebaskannya dari Devandra dan memohon agar dikuatkan dalam segala ujian yang kini tengah ia jalani.
"Semoga aku tetap menjadi hamba-Mu yang kuat dan selalu bersyukur atas nikmat-Mu ya Allah." Geana menyudahi doanya, melipat mukena yang ia kenakan kemudian kembali menghampiri Aldi.
"Maafkan Mama sayang, maaf." Geana mengusap pipi Aldi yang sedikit memerah karena digigit nyamuk, tiada henti Geana mengucapkan kata maaf karena mengajak Aldi hidup susah bersamanya.
Geana berjanji akan mencari pekerjaan agar Aldi dapat hidup dengan layak, Geana akan berusaha memberikan kebahagiaan untuk Aldi. Itu janji seorang Ibu untuk anaknya.