4. Seperti Keluarga

2134 Words
Kini Ananta, Geana dan Mama dari pria yang menemani Geana tadi belanja di pasar tengah berada disebuah restoran ternama. Sebenarnya tadi Geana sempat menolak ketika Anan dan Mamanya mengajaknya makan di restoran ini, Geana yakin satu menu makanan disini seharga dengan banyaknya barang belanjaannya di pasar. Baru kali ini Geana menginjakkan kakinya disebuah restoran yang tergolong elit, meskipun beberapa kali Devandra mengajaknya namun pria itu tak pernah mengajaknya masuk. Jangankan mengajaknya, memperkenalkannya sebagai seorang istri pada rekan kerjanya saja Devandra seperti merasa malu. Geana tak merasa sakit hati akan perlakuan Devandra, toh ia sudah merasakan hal yang lebih buruk dari itu. "Saya ikut kalian saja," balas Geana sambil tersenyum ketika Anan dan Mama dari pria itu menanyakan menu apa yang akan ia pesan. Mata Geana sesekali melihat interior restoran yang terlihat sangat berkelas, Geana sadar diri bahwa ia tidak cocok berada disini. Apalagi pakaian yang ia kenakan saat ini bukanlah menunjukan bahwa ia seorang istri dari pengusaha kaya, Geana selalu tampil sederhana jika diluar rumah. Namun jika di dalam rumah ia akan berpenampilan sedikit menarik, itupun karena paksaan dari Devandra. "Ya sudah, kami pesan menu yang tadi tiga porsi. Oh iya, minumnya ice lemon tea saja" ucap Mama pada pegawai restoran itu. "Baik, pesanan akan segera siap. Harap ditunggu ya Pak, Bu .... " "Kamu kerja apa Geana?" Tiba-tiba Mama Anan itu bersuara membuat Geana kaget sekaligus bingung ingin menjawab apa. "S-saya tid-..." Lagi, suara Anan memotong perkataannya yang akan berkata dengan jujur. "Geana mengajar disalah satu yayasan pendidikan Ma, sebagai guru TK." Mata Geana menatap Anan tajam karena pria itu kembali berbohong. "Oh gitu, berarti Geana mudah dekat ya dengan anak-anak? Apalagi kalau sudah menjadi seorang Ibu" ucap Mama dengan antusiasnya. Sebenarnya Geana tidak enak membohongi Mama Anan seperti itu, namun ketika ia akan membuka suara untuk berkata jujur Anan selalu memotong perkataanya. Apa pria dihadapannya itu tidak tau hukum berbohong itu apa? Apalagi yang kini tengah ia bohongi adalah Mamanya sendiri. Sepertinya Geana harus memberikan penjelasan pada Anan setelah ini, Anan harus meminta maaf pada Mamanya karena telah banyak berbohong. Geana tidak mau dia ikut-ikutan terkena dosa karena mengikuti rencana Anan yang entah apa itu. "Ayo dimakan Geana, tidak usah sungkan. Makanan disini enak-enak loh, restoran ini milik Kakaknya Anan." Geana mengangguk dengan mata yang memandang takjub. "Iya Tante." Selama mereka makan, mata Anan tiada henti memandang Geana yang tengah makan dengan lahap. Senyum terukir dibibirnya, semoga saja mimpinya menjadi kenyataan. Membangun sebuah keluarga kecil bersama Geana dan Aldi, ia akan membantu Geana keluar dari pernikahannya yang penuh luka itu. Geana menyadari sedari tadi Anan memandanginya, wanita itu hanya bisa menundukkan pandangannya. Merasa malu jika terus dipandangi oleh Anan, sedangkan Mama tersenyum simpul menatap anak dan calon menantunya itu. "Ehem .... " dehem Mama membuat Anan yang tengah menatap Geana tersentak, pria itu langsung mengalihkan pandangannya menuju makanan yang ada dihadapannya ketika tertangkap basah tengah menatap Geana. "Tatap-tatapannya nanti saja kalau sudah halal," tegur Mama sambil tersenyum geli. "Mama .... " Anan tersipu malu dengan pipi yang sedikit merah karena Mama menggodanya. "Loh, Mama kan hanya bicara apa yang tadi Mama lihat. Bukannya makan kamu malah melihat Geana terus, nanti kalau kalian sudah halal mau tatap-tatapan atau pegang-pegang juga boleh. Sekarang tidak boleh, belum mahram." Pertanyaannya, kapan kah status mereka menjadi halal disaat status Geana kini adalah istri orang? Benak Anan bersedih ketika mengingat akan status Geana. Sedangkan Geana kini menatap Anan yang tengah malu karena tertangkap basah oleh sang Mama karena sedari tadi menatapnya, Geana bingung mengapa Anan sedari tadi menatapnya? Apakah ada yang salah dengan dirinya? Ah Geana mulai memeriksa penampilannya sendiri namun tak mendapati kalau ada yang salah dengan dirinya. "Jadi, kapan kamu akan melamar Geana Anan?" Uhhuuk ... Uhukk .... Sontak Anan dan Geana tersedak secara bersamaan ketika mendengar pertanyaan Mama, melamar? Mana mungkin Anan akan melamar Geana. Melamar melalui suami Geana maksudnya? Bisa-bisa ia disebut sebagai pebinor karena selancang itu. Sedangkan Geana tak kalah terkejutnya dari Anan, mana mungkin Anan melamarnya. Mereka kan tadi hanya pura-pura saja, dia juga sudah menikah dan memiliki anak kok. "Loh? Kalian ini kenapa sih? Tersedak kok secara bersamaan," tegur Mama ketika Anan dan Geana kompak meminum ice lemon tea. "Tidak apa-apa Ma, Anan hanya sedikit terkejut saja mendengar pertanyaan Mama" jawab Anan yang kini tenggorokannya telah merasa lega. "Memangnya ada yang salah dengan pertanyaan Mama?" "Ma, Anan dan Geana baru saja saling mengenal. Lebih tepatnya satu bulan, untuk menuju ke jenjang yang lebih serius kan membutuhkan waktu." Sebenarnya sih jika Geana itu single, mau mereka baru bertemu satu hari pun Anan pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Tapi masalahnya Geana kan sudah menikah. "Satu bulan itu sudah lebih dari cukup, kalau kalian ingin lebih saling mengenal. Setelah menikah kan juga bisa, justru itu lebih bagus." Geana bingung harus berkata apa, apa dia jujur saja ya? "Tante sebenarnya-..." "Iya Ma, nanti Anan dan Geana akan membicarakannya." Anan memotong perkataan Geana yang akan berkata dengan jujur. "Benar ya? Mama tunggu kabar baiknya." Mama memastikan. "Iya Mama." Anan menjalankan mobilnya untuk mengantarkan Mamanya pulang terlebih dahulu barulah ia akan mengantarkan Geana pulang. "Ayo mampir dulu Geana .... " ajak Mama setengah memaksa. "Tidak Tante, saya harus menjemput an-..." Geana hampir saja keceplosan kalau dia akan menjemput Aldi anaknya. "Menjemput?" tanya Mama dengan kening berkerut. "Maksudnya Geana harus segera pulang Ma .... " Anan menyela, untunglah Mama percaya. "Ya sudah, sebelum Tante dan Om ke Surabaya pokoknya kamu harus mampir ya Ge?" "Iya Tante..." Geana hanya bisa mengiyakan sambil tersenyum. "Anan pergi dulu ya Ma? Assalamualaikum." Anan dan Geana menyalami tangan Mama bergantian. "Saya pamit ya Tante? Assalamualaikum." "Waalaikumsalam, Anan bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut. Ada calon mantu Mama itu." Anan memberikan tanda sip pada Mamanya sambil tersenyum kemudian mulai menjalankan mobilnya. "Menjemput Aldi dulu Mbak?" tanya Anan yang dibalas anggukan dari Geana. "Ngomong-ngomong usia Mbak Geana berapa ya?" tanya Anan hati-hati membuat Geana segera menoleh ke arah Anan. "Kenapa kamu ingin tau?" tanya Geana dengan kening berkerut. "Gak apa-apa sih Mbak, mau tau saja. Kalau Mbak tidak mau jawab juga tidak apa-apa" ucap Anan sambil menggaruk tengkuknya, kebiasannya jika sedang gugup. "28." "Bagaimana Mbak?" bingung Anan. "Umur saya 28 tahun," jelas Geana. "Berarti selisihnya tidak banyak dengan umurku," gumam Anan yang terdengar samar ditelinga Geana. "Apa?" "Eh tidak apa-apa Mbak." Fokus Anan kembali menatap pada jalanan didepan. "Setelah ini kemana Mbak?" tanya Anan ketika melihat dua belokan jalan. "Belok ke kanan," interupsi Geana yang dibalas anggukan kepala dari Anan. Tak lama kemudian mereka tiba di sekolah TK Aldi, disana mereka menemukan Aldi yang berdiri di depan sekolah TK-nya. Geana langsung menghampiri Aldi dan memeluknya, dibalasnya oleh Aldi pelukan hangat dari sang Ibu. Wajahnya terlihat sangat riang melihat kehadiran Anan yang baru saja turun dari mobil. "Om Anan!" sapa Aldi riang sambil menghampiri Anan. "Halo Aldi." Anan menerima uluran tangan dari Aldi, anak itu sangat sopan sekali. Aldi langsung menyalami tangannya. "Om ada disini? Sama Mama?" tanya Aldi dengan suara riang khas anak-anak. "Iya, tadi habis nganterin Mamamu belanja" jawab Anan sambil mengusap kepala Aldi. "Papa tidak pernah mengantarkan Mama belanja, Mama selalu belanja sendirian" ucap Aldi polos membuat Geana langsung menarik tangan Aldi agar mendekat kepadanya. "Jangan bilang begitu lagi ya Aldi?" bisik Geana agar tidak didengar oleh Anan. "Memangnya kenapa Ma? Aldi kan cuma bicara sama Om Anan." "Tidak baik mengatakan tentang Papa pada orang lain Aldi," nasihat Geana pada putranya, ia mencoba memberi pengertian pada Aldi yang tak tau apa-apa itu. "Tapi kenapa Ma? Om Anan kan bukan orang lain, dia Om-nya Aldi." Mendadak Geana sakit kepala, bingung ingin menjelaskan apa pada Aldi. "Intinya Aldi tidak boleh berbicara seperti itu lagi ya, Sayang?" "Iya Ma." Akhirnya Aldi mengiyakan ucapan Mamanya. "Bekalnya tadi dihabiskan?" tanya Geana, wanita itu mengambil alih tas Aldi untuk ia jinjing agar Aldi merasa lebih nyaman. "Iya Ma, Om Aldi boleh minta es krim?" Aldi beralih pada Anan, tanpa rasa sungkan dia meminta dibelikan es krim pada Anan seakan Anan adalah orang terdekatnya. "Boleh dong, Sayang. Ayo kita beli es krim," ajak Anan semangat. Dia menggandeng tangan Aldi mengajaknya memasuki mobil. Geana hanya bisa diam hingga Anan menegur, akhirnya Geana ikut masuk kedalam mobil. Seperti kemarin, Aldi dan Anan berbicara dengan akrab layaknya mereka Ayah dan anak. Terkadang Geana merasa iri dengan kehangatan yang hanya dirasakan sesaat seperti ini, ingin sekali ia merasakan kehangatan keluarga bersama sang suami. Geana hanya memikirkan kebahagiaan Aldi, untuk kebahagiaannya biarlah asalkan Aldi bisa terus tersenyum. "Mama, ayo turun" ajak Aldi tak sabar ketika mobil telah berhenti di kedai es krim yang kemarin. "Iya .... " Geana pasrah saja ketika Aldi menarik tangannya dan tangan Anan menuju bangku kecil yang terletak ditengah-tengah pengunjung lainnya. "Aldi mau es krim rasa anggur, dikasih mesis sama wafer... Terus es krim vanila, ada coklat sama buah stoberinya" ucap Aldi antusias menyebutkan es krim yang akan dia pesan. "Memang Aldi bisa habis makannya?" tanya Anan hanya sekedar bercanda. "Habis, soalnya Aldi suka banget sama es krim" cengir Aldi membuat Anan gemas dan mengusap kepala Aldi. "Mbak mau apa?" Pertanyaan Anan membuat lamunan Geana terhenti, ia menatap Anan yang kini seperti tengah meminta jawabannya. "Saya tidak perlu, kalian saja" jawab Geana sambil tersenyum. "Kenapa?" "Masih kenyang." Anan mengangguk kemudian beranjak pergi. "Mama benar tidak mau? Ini enak loh Ma" ucap Aldi sambil menyuapkan es krim vanila kedalam mulutnya. "Iya, Aldi makan saja." Bukannya mengerti dengan jawaban Geana, Aldi malah menyodorkan sesuap es krim pada Geana. "Buka mulutnya Ma, aaa." Mau tidak mau Geana membuka mulutnya menerima suapan dari Aldi dan itu tidak lepas dari penglihatan Anan, pria itu tersenyum. "Om Anan mau?" "Hah?" "Tadi Om Anan lihatin es krim Aldi terus, Om Anan mau disuapin kayak Mama juga?" Belum sempat Anan menjawab Aldi menyodorkan sesuap es krim ke dekat bibir Anan yang mau tidak mau membuka mulutnya menerima suapan dari Aldi. Jantung Anan berdegup dengan kencang setelah menerima suapan dari Aldi, artinya tadi ia dan Geana makan dalam sendok yang sama? Secara tidak langsung mereka berciuman? Astaghfirullah, Anan segera beristighfar dalam hati ketika pikiran kotornya sempat melintas. Ditatapnya Geana yang juga tengah menatapnya, apakah dia juga merasakan hal yang sama seperti yang Anan rasakan? "Ehem .... " Anan berdeham hingga kontak mata mereka terputus begitu saja. "Om kenapa?" tanya Aldi sang pelaku utama yang membuat suasana menjadi canggung. "Om tidak apa-apa, Aldi habiskan ya es krimnya?" Anan bersikap biasa-biasa saja, padahal jantungnya sedari tadi tiada henti berkonser ria didalam sana. "Siap Om!!" Aldi dengan semangat menghabiskan es krimnya hingga tandas. Keceriaan Aldi tidak sampai begitu saja ketika Anan mengajaknya menuju mall, disana Anan membiarkan Aldi memainkan permainan apa saja di game zone. Sedangkan Geana pula ikut tersenyum melihat kebahagiaan Aldi, Anan dan Geana memperhatikan Aldi yang tengah mandi di kolam bola-bola berwarna-warni bersama anak-anak seusianya. Terlihat sangat riang dan ceria sekali, semoga saja kebahagian yang Aldi rasakan tidak pernah hilang. "Terima kasih, lagi-lagi kamu sudah mengantarkan kami pulang dan mengajak Aldi jalan-jalan." Geana mengucapkan terima kasih ketika ia sudah turun dari mobil Anan. "Iya Mbak, sama-sama. Aku juga merasa senang melihat Aldi bahagia seperti tadi, semoga saja Mbak dan Aldi selalu bahagia ya." Dalam ucapan Anan terkandung makna tersembunyi, pria itu tersenyum dan menjalankan mobilnya setelah mengucapkan salam. Ketika memasuki rumah Geana terkejut melihat suaminya tengah duduk disofa keluarga sambil menonton siaran berita di televisi, untunglah Aldi kini tengah tidur dalam gendongannya jika tidak Aldi pasti akan jujur kemana mereka pergi. Dengan gugup, Geana menghampiri suaminya dan menyalaminya. "Assalamualaikum Mas, Mas sudah pulang?" tanya Geana. "Hhmm, darimana saja?" "Aku tadi habis ke pasar terus menjemput Aldi, Mas" jawab Geana. "Ya sudah, sana buatkan aku kopi." Geana dapat mengucapkan syukur karena suaminya tidak menanyainya macam-macam. "Iya Mas, aku kedalam dulu menidurkan Aldi" pamit Geana sebelum beranjak menaiki anak tangga. Geana mengusap kepala Aldi yang telah ia baringkan diatas tempat tidurnya, diusapnya kening Aldi yang sedikit berkeringat. Aldi memang akan mudah tertidur sehabis jalan-jalan karena rasa lelahnya, namun meskipun begitu Aldi sama sekali tidak merasa kapok. "Semoga selalu bahagia ya, Nak?" ucap Geana mengecup kening Aldi sebelum beranjak menuju dapur membuatkan kopi untuk sang suami. "Mas sudah makan?" tanya Geana ketika meletakkan secangkir kopi diatas meja. "Hhmm .... " gumam Devandra sambil menyeruput kopi buatan istrinya. "Apa ini?!!" bentak Devandra setelah menyemburkan kopi yang telah ia minum diatas meja hingga kotor. "K-kopi Mas .... " Geana menunduk takut melihat wajah suaminya yang memerah karena emosi. "Kamu becus tidak sih membuat kopi?! Kenapa pahit sekali?! Sudah bertahun-tahun menikah denganku masa kamu tidak bisa membuat kopi sesuai selaraku!?" sentak Devandra dengan suara meninggi. "M-maaf Mas." Seingatnya Geana ia sudah memasukan takaran yang pas antara gula dan kopi sesuai selera suaminya, namun Geana selalu saja salah di mata Devandra. "Bersihkan ini! Aku sudah tidak selera lagi berada dirumah!" tukas Devandra setelah itu meninggalkan Geana yang tengah terisak kecil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD