3. Jodohkah?

2124 Words
Keseharian Geana Gevara Ayunda adalah membersihkan rumah, mengurus Aldi dan suaminya. Meskipun kerap kali ia kadang tak dihargai sebagai seorang istri namun sebisa mungkin Geana melaksanakan kewajibannya sebaik-baiknya, berharap suatu saat keajaiban kan datang memberikan bahagia padanya dan Aldi. Banyak sekali tetangga kompleks perumahannya merasa iri akan status Geana yang menjadi istri Devandra, seorang pengusaha kaya raya. Namun tak taukah mereka justru Geana tidak ingin ada diposisi-nya saat ini, Geana jika boleh memilih ia lebih baik hidup dengan harta yang cukup namun kebahagiaan yang melimpah. Bukannya harta yang melimpah namun kebahagian yang tak pernah ia dapatkan, mungkin rasa sakit dan penderitaan yang kerap kali menghinggapinya. "Aldi, sarapan sudah Mama buatkan. Kamu sudah siap belum?" Geana membuka pintu kamar Aldi. "Sebentar lagi Ma." Geana tersenyum dan menghampiri Aldi yang tengah memakai pakaiannya. Geana sudah biasa mengajarkan Aldi agar anak itu mandiri dimulai dari memakai pakaiannya sendiri, Aldi kini sekolah disalah satu TK. Tahun depan Aldi sudah lulus TK dan mulai masuk sekolah SD, tak terasa Aldi sudah semakin besar dan pernikahannya dan Devandra sudah berlangsung lama. "Pinter anak Mama." Ucap Geana ketika Aldi sudah menyelesaikan pekerjaannya yaitu menyimpul dasi berwarna hijau muda khas baju TK-nya. "Iya dong Ma, kan Mama yang ngajarin Aldi" ucap Aldi yang dibalas usapan dikepalanya. "Ya sudah yuk kita turun, Aldi harus sarapan biar kuat belajarnya." "Iya nanti Aldi kuat kayak Batman bisa melawan para penjahat." Aldi sudah berlari keluar kamar terlebih dahulu. Hanya Aldi-lah yang dapat menumbuhkan senyum dibibir Geana, kebahagiaan Geana adalah Aldi putranya. Tidak ada harta berharga yang Geana miliki selain Aldi, Aldi adalah harta paling berharga dan ia jaga sepenuh hatinya. "Jangan lari-larian sayang, nanti jatuh" tegur Geana. "Aldi tidak akan jatuh Ma, Aldi kan punya kekuatan super" ucap Aldi yang kini sudah berada dibawah meninggalkan Geana yang masih menuruni anak tangga. Ketika Geana sudah tiba di dapur Aldi sudah duduk manis dengan tangan yang menumpu pada meja makan, Geana tersenyum kemudian menghampiri Aldi. "Makan yang banyak ya." Geana mengambilkan nasi goreng sosis untuk Aldi. "Susunya diminum juga." Dituangkannya s**u putih kedalam gelas milik Aldi. "Siap Mama." Aldi makan dengan lahapnya sarapan yang dibuat oleh sang Mama. "Aldi, Mama tinggal sebentar ya? Mama harus membangunkan Papamu dulu." "Iya Ma," jawab Aldi sambil mengunyah makanannya. Diusapnya sekilas kepala Aldi kemudian pergi menuju kamarnya untuk membangunkan suaminya, Devandra tidak akan bangun jika Geana tidak membangunkannya apalagi keadaan sang suami tadi malam mabuk parah. Devandra selalu lalai dalam melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, tak heran lagi bagi Geana. Bukannya Geana tidak mau menasehati sang suami namun sudah sangat sering sekali, yang ia dapatkan ketika membuka suaranya adalah sebuah makian dan u*****n kasar yang keluar dari mulut suaminya. Geana merasa sakit hati? Tentu, istri mana yang tidak akan sakit hati jika diperlakukan kasar oleh suaminya sendiri? "Mas, bangun ...." Wanita itu menggoyangkan lengan sang suami yang masih bergelung dengan nyamannya didalam selimut. "Mas sudah pagi, Mas tidak ke kantor?" Perlahan-lahan Devandra membuka matanya. "Apa sih?! Mengganggu orang tidur saja," balas Devandra kasar sambil mendudukan dirinya. "Mas mandi ya, ini tadi baju untuk Mas ke kantor sudah aku siapkan. Aku dan Aldi menunggu Mas di meja makan ya?" ucap Geana yang dibalas gumaman oleh Devandra. "Hhmm." Akhirnya Geana memilih menyusul Aldi yang telah menghabiskan sarapannya dan kini sedang meminum susunya, tak lama kemudian Devandra datang dan duduk disalah satu bangku meja makan. Geana dengan sigap mengambilkan sarapan untuk sang suami dan membuatkan secangkir kopi hitam. "Mas hari ini bisa mengantar Aldi? Aku mau belanja soalnya," tanya Geana. "Aku sibuk, kamu antar saja Aldi setelah itu baru belanja" balas Devandra acuh membuat Geana menghela nafasnya, Devandra tidak pernah satu kali pun mengantarkan Aldi ke sekolahnya. "Iya Mas." Geana menundukkan wajahnya. Wanita itu langsung meraih tangan sang suami ketika Devandra sudah bangkit berdiri, setelah itu membiarkan Devandra pergi tanpa memberikan kata pamit padanya dan Aldi. Sudah syukur hari ini Devandra tidak berlaku kasar padanya ataupun pada Aldi, Geana sudah berucap syukur berkali-kali. "Ayo kita berangkat sayang, semuanya sudah ada didalam tas kan? Tidak ada yang ketinggalan?" a Geana ketika Aldi sedang memakai tas di punggung-nya. "Sudah Ma, sudah Aldi siapkan" ucap Aldi sambil tersenyum. "Pinter, yuk berangkat." Sebelum berangkat Geana mengunci pintu rumah mewah itu kemudian menaruh kuncinya didalam tas kecil yang ia bawa, dirumahnya tidak ada pembantu satupun. Devandra mana mau menyewa seorang pembantu untuk meringankan pekerjaannya, Devandra lebih suka jika Geana mengerjakan sendiri pekerjaan rumah seperti mencuci pakaian, memasak, menyapu dan mengepel rumah sebesar itu. Dia seakan tidak mau mengeluarkan sepeserpun uang untuk meringankan beban istrinya. Geana dan Aldi langsung memasuki angkot yang lewat menuju sekolah Aldi, mereka harus berdesak-desakan dengan penumpang yang lainnya. Jangan kalian pikir jadi Geana sangatlah enak karena hidupnya yang serba bergelimang harta, nyatanya sama saja tak ada bedanya. Ia harus menggunakan transportasi umum untuk bepergian bersama Aldi, Devandra mana mau mengantarkan mereka. Pria itu seakan lepas dari tanggung jawabnya sebagai seorang suami maupun Papa untuk Aldi. "Aldi belajar yang rajin ya? Jangan nakal-nakal di sekolah, Bunda bangga kalau Aldi bisa menjadi anak yang membanggakan untuk Bunda." Pesan yang Geana selalu ucapkan ketika mengantarkan Aldi ke sekolah, Geana selalu berharap semoga Aldi bisa menjadi orang yang sukses nantinya. "Iya Ma, Aldi janji akan membanggakan Mama." Geana tersenyum. "Mama pamit ya? Assalamualaikum." Geana mengecup kedua pipi Aldi dengan perasaan sayang. "Waalaikumsalam, hati-hati Mama ...." Aldi melambaikan tangannya kemudian memilih memasuki sekolahnya. Kebetulan didekat sekolah Aldi ada pangkalan tukang ojek jadi Geana bisa menaiki ojek meminta tukang ojek itu untuk mengantarkan Geana menuju pasar swalayan, Geana lebih memilih membeli di pasar ketimbang harus membeli di supermarket. Toh kualitasnya sama saja namun harga di supermarket jauh lebih mahal dari harga di pasar, sedikit-sedikit Geana berusaha mengirit dan menyisakan sedikit uang belanjaannya untuk ia tabung. Ia tau harta yang kini ia dan suaminya miliki hanya titipan dari Allah yang kapan saja bisa diambil lagi, terkadang ia menyedekahkan sedikit hartanya pada orang yang tidak mampu sekedar membantu meringankan beban mereka. "Terima kasih Pak .... " "Sama-sama Bu." Setelah membayar tukang ojek itu, Geana memasuki area pasar dengan tas belanjaan yang sedari tadi ia bawa. Geana harus berdesakan dengan para pembeli yang membeludak memenuhi area pasar, banyak Ibu-Ibu yang berlalu lalang kesana kemari membeli keperluan dapur mereka termasuk Geana. Ada satu orang yang menjadi pusat perhatian Ibu-Ibu, seorang pria berjas hitam yang tengah berdiri didepan penjual bawang dengan dikerubungi Ibu-Ibu. Geana yang memang ingin membeli bawang pun berusaha menerobos kerumunan Ibu-Ibu itu, wanita itu terkejut ketika melihat seorang pria yang kemarin baru ia kenal tengah berada di pasar. "Loh kamu?!!" "Loh Mbak Geana?!!" ucap mereka berdua agak kencang karena merasa terkejut dengan kehadiran masing-masing. "Kamu ke pasar?" tanya Geana tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya akan kehadiran Anan, ya pria yang kini tengah tersenyum dengan manisnya itu adalah Anan. "Iya Mbak, disuruh Mama" ucap Anan sambil tersenyum, Geana masih mematung karena tak percaya dengan penglihatannya. Seorang Anan ada di pasar? Tidak dapat dipercaya olehnya. "Aduuh Mas ini ganteng-ganteng ada di pasar. Anak idaman pasti ini, duh kalau saja ada anak Ibu yang masih single sudah Ibu kenalin" celetuk seorang Ibu-Ibu berdaster coklat sambil menatap Anan kagum. "Anak saya single loh, mau Ibu kenalin sama anak Ibu?" Anan hanya tersenyum geli mendengar ucapan Ibu-Ibu itu yang berniat sekali mengenalkannya pada anak mereka. "Eemm maaf Bu, saya sudah mempunyai calon istri" ucap Anan yang dibalas dengusan kecewa oleh Ibu-Ibu tadi. "Yah sayang sekali ya? Pasti ini ya calon istrinya? Tidak heran sih, calonnya saja cantik begini. Mbak beruntung punya calon suami seperti dia ini, nanti biar suaminya saja yang belanja Mbak bisa duduk manis dirumah" canda seorang Ibu-Ibu pada Geana membuat Geana melotot mendengarnya. "Eh maaf Bu, saya bukan ca-.." Ucapan Geana terhenti ketika Anan kembali membuka suara. "Iya ini calon istri saya, permisi ya Ibu-Ibu kami harus belanja lagi." Anan tanpa sadar menarik tangan Geana keluar dari kerumunan Ibu-Ibu itu. "Eh, maaf Mbak." Anan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Geana. "Maaf juga ya Mbak tadi aku mengaku-ngaku jadi calon suami Mbak, soalnya aku tadi ingin melepaskan diri dari perjodohan aneh itu" ucap Anan, padahal sebenarnya ia mengaminkan perkataannya dan Ibu-Ibu tadi perihal Geana yang menjadi calon istrinya. "Iya tidak apa-apa, saya mengerti" balas Geana sambil tersenyum dan itu membuat Anan lega, pria itu pikir Geana akan marah padanya. "Mbak belanja juga?" tanya Anan ketika melihat tas belanjaan yang Geana bawa. "Iya nih." "Ya sudah kita belanjanya bareng saja ya Mbak?" Belum sempat Geana menjawab Anan sudah kembali menarik tangannya menyusuri area pasar. "Mbak mau belanja apa dulu?" tanya Anan. "Bawang merah, bawang putih dan bawang bombay" jawab Geana. "Yah padahal kita tadi ada di kios bawang ya Mbak, tapi ya sudahlah kita cari tempat lain saja soalnya tempat yang tadi banyak Ibu-Ibu rempong-nya" kekeh Anan membuat Geana ikut tertawa. "Nanti kalau Ibu-Ibunya dengar bisa habis kamu." "Tidak akan berani lah Mbak mereka menghancurkan muka ganteng aku." Geana menggeleng mendengar ucapan Anan yang terdengar sedikit narsis. Setelah belanja keperluan dapur mereka berjalan keluar dari area pasar yang semakin ramai, waktu hampir menunjukan siang hari hingga mereka kini telah tiba di luar pasar. "Saya kagum sama kamu yang mau-maunya ke pasar, jarang loh laki-laki mau belanja seperti kamu apalagi disuruh Mamanya." Anan tersipu mendengar pujian dari Geana, ia seperti tengah berada diantara awan-awan mendengar pujian yang menyejukkan hatinya. "Mbak bisa saja, nanti aku terbang loh kalau Mbak puji-puji begitu" balas Anan dengan wajah sedikit tersipu. "Loh memang kenyataannya begitu kan?" "Nanti kalau Mbak jadi istriku aku pasti yang akan membelanjakan Mbak seperti membelanjakan Mamaku, eh salah m-maaf ya Mbak aku tidak bermaksud. Maksudnya nanti calon istriku, gitu loh Mbak." Anan langsung meralat perkataannya yang ceplas-ceplos tadi. "Iya saya mengerti kok, santai saja." Geana hanya menganggap candaan ucapan Anan tadi padahal pria tadi mengatakannya serius dan penuh kesungguhan. "Jodoh kah kita Mbak? Sepertinya Allah selalu mempertemukan kita." Geana hampir tersedak ludahnya sendiri ketika mendengar ucapan Anan, Anan yang baru saja tersadar pun langsung menyengir. "Bercanda Mbak," cengirnya yang dibalas desahan nafas lega dari Geana. "Hhmm." "Mbak naik apa pulangnya?" "Angkot." "Aku antar saja bagaimana? Tidak enak naik angkot, apalagi belanjaan Mbak banyak begitu." Geana seakan tak punya kuasa menolak ketika Anan lagi-lagi menarik tangannya menuju mobil pria itu terparkir. "Anan kok lama banget sih? Mama capek tau menunggu kamu. Eh ada siapa nih?" Mama yang akan mengomeli Anan pun terhenti ketika melihat kehadiran Geana. "Ini Geana Ma, calon masa depannya Anan" canda Anan sambil mengedipkan matanya kearah sang Mama yang kini tersenyum. "Geana Tante." Geana menyalami tangan Mama Anan. "Oh ini calonnya kamu Anan, pantas saja Mama coba menjodohkan kamu sama orang lain kamu menolak. Cantik begini sih orangnya." Geana akan menyela untuk meluruskan kesalahpahaman ini namun ia kalah cepat dengan Anan yang kembali membuka suaranya. "Ma, Mama naik ke mobil duluan ya? Ada yang mau Anan dan Geana bicarakan." "Oh kalian mau berduaan dulu toh? Ya sudah Mama masuk, jangan lama-lama tapi." "Iya Mamaku sayang," balas Anan cepat agar Mamanya segera memasuki mobil. "Emm maaf ya Mbak, aku tadi tidak bermaksud begitu. Mbak bisa kan membantuku sedikit? Mama selalu ingin menjodohkan ku dengan anak temannya, setidaknya jika Mama tau kalau aku sudah punya Mbak Mama tidak akan menjodohkan ku lagi." Dasar Anan modus!! Tau saja jika Geana orangnya tidak tegaan, dia mengambil kesempatan dalam kesempitan. Hehehe ... ya tidak apa-apa, siapa taukan nanti jadi kenyataan. "Ya sudah tidak apa-apa, tapi kali ini saja kan?" Dalam hati Anan memekik senang namun ia tidak dapat berjanji hanya kali ini saja. "Ya sudah Mbak, ayo masuk. Eh Mbak duduk depan saja," larang Anan ketika Geana akan duduk dibangku penumpang belakang. "Tapi..." "Iya Geana kamu duduk didepan saja bersama anak Mama," balas Mama yang telah duduk manis dibangku penumpang. Geana akhirnya pasrah dan memilih duduk dibangku samping kemudi, Anan masih menaruh barang belanjaan Geana dan barang belanjaannya sendiri kedalam bagasi mobil. Setelah selesai, Anan duduk dibangku kemudi sambil menatap Geana yang berada disampingnya. "Eh iya Geana, kamu tinggal disini bersama siapa?" Tanya Mama memulai pembicaraan. "Saya bersama sua-..." "Geana tinggal sendiri Ma," balas Anan cepat ketika Geana keceplosan menyebutkan statusnya. "Waah Geana orang yang mandiri dong, cepat menikah sama Anan saja supaya nanti tinggal bersama Anan. Kasihan anak Tante itu tinggal sendirian disini, sebentar lagi kan Tante sama suami Tante mau pindah ke Surabaya" cerita Mama Anan sedikit memberikan kode agar Geana dan Anan segera menikah. Lah bagaimana Geana akan menikah dengan Anan sedangkan dia saja sudah memiliki suami? Ia bukan seorang wanita yang menganut sistem pernikahan poliandri yang menikah lebih dari satu pria. * * * Selamat pagi, selamat hari Jumat ya ... Semoga masih semangat mengikuti cerita ini ya... tap love ceritanya dan follow akunnya jangan lupa ya...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD