“Aaakkhh..” Rafa menggendong Humairah seperti koala. Untung saja dengan sigap Humairah mengalungkan kedua tangannya pada leher Rafa untuk berpegangan. Jika tidak, ia bisa terjatuh. “Mas Rafa mau bawa Humairah ke mana?” “Kamar!” “Mau ngapain? Bukannya pekerjaan Mas Rafa belum selesai!?” Rafa tersenyum penuh arti. Pekerjaannya bisa ditunda, tapi untuk hal ini ia tidak bisa menundanya. “Pekerjaan itu bisa diselesaikan nanti.” “Tapi…” Cup Rafa mencium sekilas bibir Humairah agar wanita itu berhenti berbicara. “Saya mau melanjutkannya di tempat tidur.” jawabnya sembari tersenyum smirk Humairah tersenyum meremehkan. Padahal baru beberapa menit yang lalu Rafa menolaknya. Dan sekarang justru Rafa yang menginginkannya. Begitu mudah membujuk rayu suaminya. Perasaan Rafa dengan mudah l

