“Enghh..” Humairah melenguh pelan. Tangan Rafa tidak mau diam. Sayang sekali jika ia diam saja tidak melakukan apapun. Rafa menggerakkan tangannya ke bawah mencari area favorite kesukaannya. Sebentar lagi ia harus berbagi area favoritnya pada buah hatinya jika dia sudah lahir. Rafa tersenyum saat mendapatkannya. Ia bisa menyentuhnya secara langsung karena Humairah tidak memakai pelindung, hanya kain tipis yang menutupinya. Terasa pas di tangannya. Hanya saja akhir-akhir ini semakin berisi karena kehamilan Humairah. “Emhh..” “Mas Rafa!” panggil Humairah dengan nada meracau. “Saya sangat menyukai ini, Humairah. Saya gemas sekali saat menyentuhnya.” “Pelann, mas!” Rafa semakin tidak terkendali. Ia melangkah pelan membuat tubuh Humairah terdorong ke belakang. Dan… Brugh “Awss..

