ARGHHHHH!!! ternyata teriakan itu berasal dari sebuah ruangan yang tampak tidak asing, didalamnya terdapat 2 orang pria berumur dan satu anak perempuan berumur 11 tahun, tidak salah lagi anak itu adalah Agnes.
Terlihat Hartono mulai melucuti kumpulan helai benang yang menyelimuti Agnes, Agnes yang terus melawan mulai menangis pasrah karena tubuh mungilnya telah di tindih oleh pria yang hendak melucuti pakaiannya itu.
Terlihat air mata membasahi wajah Agnes serta teriakan Agnes yang mulai melemah dan tidak bersuara, hanya ada tangisan dan kehampaan akan kepedihan yang dihadapi Agnes.
Bersamaan dengan helai benang yang tidak menutupi tubuhnya sedikitpun, Agnes mulai memejamkan mata dan berharap kejadian ini berlalu.
"Jangan masuk nanti hamil" ucap Haris sambil merokok seolah tak terjadi apa apa.
"Santai aja kau" balas Hartono sambil melanjutkan kegiatan kejinya ke anak berumur 11 tahun
Suasana latar kembali ke tetesan air dan mulai redup perlahan hingga gelap total, kemudian suasana latar berubah seperti bulu mata lentik yang mulai membuka mata diikuti dengan kegelapan yang mulai sirna.
"Ahhhhhh" teriak Agnes sambil terbangun dengan posisi duduk dalam kondisi yang telah memiliki helai benang di sekujur tubuh. Agnes mulai memperhatikan kasur yang tampak tidak asing baginya.
"huhhhh" hela nafas Agnes, karna dia yakin dirinya sudah aman.
"Ini pasti cuman mimpi buruk" gumam Agnes dalam hati
"Tidak mungkin ayahku melakukan hal sejahat itu padaku" gumam Agnes lagi
Tok... tok... tok....
pria berumur masuk melalui pintu kamar dan melangkahkan kaki, sambil membawa hidangan martabak coklat untuk Agnes.
"Piuh, itu beneran cuman mimpi" gumam Agnes lagi
"Ayo dimakan... jangan diliatin doang... " ucap pria itu
"wahh....tumben... makasih banyak ayahhhh... " balas Agnes
pria itu meletakkan piring penuh martabak coklat tersebut sembari mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
"nih spp dan uang jajan seminggu" ucap ayah Agnes
Agnes menganggukkan wajahnya sembari tersenyum lebar dan mulai menyantap martabak coklat tersebut.
"tumben ayahku gini... jadi ga enak perasaanku...." gumam Agnes
"dia dapat uang dari mana ya ?... ehh apaan sih aku ini... gak... gak... gak boleh berburuk sangka" gumam Agnes lagi
Terlihat jam di ruang tamu Agnes berputar dengan begitu cepat, di ruang kamar tampak Agnes sangat ambisius dalam belajar, dia begitu tajam memperhatikan setiap kalimat yang ada di dalam buku. Tidak lama kemudian terlihat Agnes mulai mengangkat kedua tangannya seolah melakukan peregangan yang menandakan ia akan menyudahi belajarnya. Kemudian ia menutup buku dan merapikan mejanya, lalu mengibas kasurnya dan sedikit merapikannya juga.
Agnes kemudian keluar kamar dan mengambil handuk terlihat bersiap-siap untuk mandi. Agnes mulai merasa aneh karena kejadian malam itu benar-benar terasa membekas di diri Agnes, di tambah lagi jam dinding menunjukkan pukul 3 sore, Agnes tau betul walau di hari libur ia tidak tidur hingga selama ini.
Agnes kemudian tiba-tiba merinding dengan nafas naik turun, Agnes mengingat semua detail kejadian malam itu.
PECAHAN KACA TIBA-TIBA MUNCUL, LATAR BERGETAR KENCANG, SEMUA KLIP KEJADIAN MALAM TADI TAMPAK SAMAR TERLIHAT DI SEMUA PECAHAN KACA ITU.
DI TENGAH SEMUA ITU AGNES TERIAK DENGAN SANGAT KENCANG DI IKUTI DENGAN BUTIRAN KACA DI LATAR BELAKANG YANG MENAMPILKAN SEMUA KLIP KEJADIAN MALAM ITU.
ARGHHHHHHHHH!!! TERIAK AGNES SANGAT KENCANG
setelah itu, Agnes kehilangan keseimbangan dan mulai terjatuh, anak berumur 11 tahun itu terlihat paranoid, trauma dan ketakutan. Latar berfokus pada air mata yang tanpa disadari Agnes mulai membasahi pipinya dan jatuh di lantai.
Agnes terlihat diam bak patung dalam beberapa menit, Agnes terlihat sangat tidak berdaya hanya bisa ketakutan dan menangis dalam diam.
"mamah.. mamah.. " dengan suara lemah ia memanggil mamanya dua kali
TIMELINE BERGANTI MUNDUR DUA TAHUN YANG LALU
"Mamah....sakit" ucap Agnes setelah terjatuh saat bermain dengan temennya
"cuman luka kecil.... nanti juga sembuh" ucap mamanya sambil mengobrol dengan tetangga
"ehekk... ehekkk.... " ucap Agnes yang manja
"Lemah amat... jadi wanita kuat dikit kek... " ucap mamanya tampak menyindir
"ihh... aku masih sembilan tahun mama nih... ehek.....saat aku gede nanti ehek....aku bakal jadi wanita baik, pintar dan kerja keras kayak mama... " ucap Agnes sambil terisak-isak
"hehehe... iya putri kecil ku" balas mamanya sambil mendekat perlahan dan mencium kening Agnes.
TIMELINE KEMBALI BERPINDAH DUA TAHUN KEMUDIAN
Tampak seorang pria mengendarai motor dengan kecepatan lumayan tinggi, melewati perkebunan dan persawahan yang sepertinya masih daerah perdesaan. Pria itu memperlambat laju kendaraannya hingga sampai di rumah yang tampak sederhana dan familiar.
Setelah mengunci stang motornya, ia berjalan langkah demi langkah menuju pintu rumahnya.
saat ia membuka pintu
SHREKKK:;
TANPA ABA-ABA ANAK 11 TAHUN MENYERANGNYA DENGAN PISAU DAPUR
PRIA itu lengah dan tertusuk di perut kiri, namun tangan pria itu reflek menahan tangan mungil yang tampak telah terkena percikan darah.
lalu pria itu dengan mudah membantingnya
TUMM!!
dan merebut pisaunya.
"ANAK JALANG KAU" UCAP PRIA ITU
Anak itu terlihat menahan rasa sakit kemudian berdiri dan melanjutkan tendangan mungilnya ke arah kaki pria itu.
"SLEPP"
Pria itu langsung menusuk kaki kirinya dengan pisau
"argh" gerangan Agnes dan hebatnya ia masih bisa menahan rasa sakit dan berusaha berdiri
"PUNCH" bogem mentah langsung mengarah ke pipi kanannya
Agnes yang awalnya berdiri langsung terpental ke lantai untuk kedua kalinya.
"GA TAU TERIMA KASIH KAU? " ucap pria itu
"Aku ga sudi mengakuimu sebagai ayahku" balas Agnes dengan raut wajah menahan rasa sakit
Pria itu meletakkan pisau di atas kursi ruang tamu sudut paling kiri
"Ayah melakukan ini juga demi kamu!!, tubuhmu yang ayah jual akan kembali ke dirimu dengan hasil yang lebih besar, kamu akan paham suatu saat kalau hasil yang kamu dapat itu impas" ucap ayahnya yang mencoba memanipulasi Agnes
"Kamu ga merasa bersalah ketika melihat aku di aniaya dan di siksa...., kamu malah mendikte aku dengan ajaran keji mu...dasar manusia keji..... " balas Agnes dengan mata yang dipenuhi air mata dan kaki kiri yang bersimbah darah
"Agnes... Agnes... kalau kamu bertingkah bodoh lagi, aku jamin kamu akan menyusul ibu mu" ucap pria itu
"Kamu ga pantas bicara soal ibu... " balas Agnes
"Kamu mau hidup atau mati tergantung tindakan kamu selanjutnya, cobalah bertindak nekat kalau kamu berani....dasar anak bekas pakai! " balas pria itu
Agnes diam sesaat walaupun sudah jelas betapa sakitnya hati anak berumur 11 tahun ketika dihina dan dianiaya oleh seorang yang harusnya menjadi pelindung nomor satu baginya.
"iya...aku paham...." ucap dingin Agnes setelah diam beberapa saat
"bagus...tenang.. ok?, jangan melawan atau kamu akan mati sia-sia" balas pria yang dulunya disebut ayah oleh Agnes, sembari mengamankan pisau di lemari atas.
"hari-hari yang ku jalani setelah itu sangat berat, setiap minggu aku diperjual belikan oleh ayahku, memang sebagian uangnya di berikan untukku, namun ini keterlaluan, ini merupakan hari ke-18 yang dimana pertama kali aku menulis di buku harianku untuk menghilangkan stres sejak kejadian itu. Ku jalani hariku dengan pola yang sama dalam beberapa minggu ini, hanya dijadikan alat investasi dan objek pemuas... apa diriku emang serendah dan sehina ini?. Aku tidak bisa melawan dan hanya menerima nasibku sampai aku berumur 15 tahun, ku jalani empat tahun hari ku yang menyedihkan, saat aku masuk Sekolah Menengah Atas frekuensi itu mulai berkurang dan sialnya aku malah mulai menerima kondisiku. Aku berusaha melawan perasaanku yang kebetulan mulai fokus pada prestasiku di bidang kimia. Selain itu, aku juga mulai aktif berorganisasi, yah itu bagus kau tau. Tapi, yang aku benci, ketika aku mulai merasa damai dan melupakan dendamku pada b*jingan itu. Singkatnya saat liburan pertengahan semester, untuk yang terakhir kali... aku yang mengajak ayahku untuk menghasilkan uang seperti sebelumnya dengan sandiwara seolah aku membutuhkan uang, ayahku pun menyetujui itu dengan raut senyum biadabnya sambil mengatakan "akhirnya kamu paham Agnes betapa menguntungkannya ini". Sialnya dia benar waktu itu arghhhh, walau begitu aku tetap tidak terima.
baik kembali ke persoalan utama, dimana teman ayahku yang biadab itu telah berada di kamarku. Sebelum melakukannya mereka tampak mengobrol dan tertawa seperti iblis. Aku semakin membenci wajah mereka berdua di hari itu. Kamarku memiliki jendela cukup kecil namun muat untuk anak kurus berumur 15 tahun sepertiku. Terlihat perhatianku tertuju pada kunci kamar yang diletakkannya di meja, tasku dan jendela, bertepatan dengan beberapa saat kemudian dimana temen ayahku yang mulai membuka bajunya dan betapa buruknya ia ingin segera melampiaskan nafsunya padaku, aku dengan sandiwara kehausan mencoba ingin minum sebelum melakukan itu dan diizinkan oleh ayahku yang sedang merokok santai, aku memang mengambil air putih dan minum. Namun, bukan itu tujuanku.... saat mereka lengah aku dengan cepat mengeluarkan sesuatu dari kantongku sambil melihat ke arah meja yang di atasnya sudah tersedia reaksi kimia jenis O2 dan CH4, ayahku berbulan-bulan lalu pernah bertanya tentang reaksi ini, namun aku memberikan alasan, kalau itu merupakan projek sekolahku. Ayahku tidak curiga dan tidak peduli karena dia merasa itu bukan urusannya, tanganku gemetar waktu itu saat mengeluarkan CN solid yang sudah ku campur dengan peledak yang reaktif terhadap O2 dan CH4, tujuanku untuk menghasilkan HCN atau gas Sianida, dan ya saat tanganku yang satu lagi menaruh gelas di meja terdengar suara "woi agnes cepat!! aku sudah mau mencapai klimaks" teriak jal*ng itu, sementara ayahku hanya santai merokok sembari berjudi di handphonenya. "Iya...aku akan memuaskanmu jal*ng si*lan" balas aku dengan tenang sembari berdiri dan spontan mencampurkan CN solid dan bahan reaktif, terlihat perhatian ayahku dan Hartono si jal*ng beberapa milidetik ke arahku, sebelum reaksi kimia itu menyatu di gelas beker. BOOM! TERJADI LEDAKAN DAHSYAT YANG MEMBUAT AKU SPONTAN TIARAP DAN MENAHAN NAFAS.....