PART 9

1227 Words
"Eh Sha, lo kenapa sih daritadi diem mulu?" Suara Dirah akhirnya menyadarkan kedua sahabatnya bahwa satu lagi sahabatnya sejak tadi tidak ikut nimbrung dengan yang mereka bahas. Alesha menggeleng. Sejujurnya, dia sedang memikirkan sikapnya nanti kalau seandainya tiba-tiba bertemu dengan Rayyan, apa harus tetap terlihat nyolot seperti dulu setiap bertemu tulang hidungnya Rayyan saja sudah bereaksi tidak suka, atau bersikap baik karena kejadian kemarin malam ketika laki-laki itu bersikap begitu manis dan mengerti dirinya pada saat itu. "Seriusan lo?" Tanya Azalea memastikan, dia tidak yakin kalau sahabatnya itu benar-benar tidak apa-apa. "Sha, kalaupun lo ada masalah. Setidaknya lo cepet kelarin atau lupain dulu. Ujian nasional udah makin deket. Jangan sampek masalah itu ganggu pikiran lo." Saran Ashila. Yang dibalas Esha dengan senyuman cerianya. "Masalah apa sih? Nggak ada masalah yang harus gue kelarin, atau gue lupain. Gue biasa aja kok. Tenang lah, woles gaes.." Balas Alesha menunjukkan kalau dia benar-benar baik-baik saja, tanpa ada masalah. "Lo yakin nggak mau ceritain sesuatu sama kita?" Tanya Dirah lagi. "Belum saatnya." Jawab Esha yang membuat Shila, Zalea, juga Dirah mengernyitkan dahinya. "Oh ya, Dirah lo udah pinjem buku latihan UNAS-nya Kak Adiva? Gue udah dapet dari Kak Aisya nih.." Alesha mencoba mengalihkan pembicaraan, setidaknya mereka tidak memberi pertanyaan yang akan menyudutkannya lagi. Adirah menepuk jidatnya. Dan beristighfar. "Astaghfirullah Ya Rabb, gue lupa.. Kak Adiva udah balik ke Semarang. Gimana dong?" Adirah baru ingat kalau dia harus meminjam buku pada kakaknya yang sekarang sedang menempuh S1nya di UIN Walisongo fakultas Tarbiyah. "Yaelah, lo mah gitu." Gerutu Shila. "Kurang makan bayem nih anak." Celetuk Alesha. "Lo kira gue popeye, makan bayem mulu." Sahut Adirah yang tidak terima. "Yaa, setidaknya lo butuh asupan zat omega 3, biar daya ingat lo itu makin meningkat." Jelas Alesha. "Sok deh. Kayak lo nggak pikun juga, Sha." Sahut Azalea sekarang, dia berdecak melihat Alesha menasehati Adirah, sedangkan dirinya sendiri juga sama halnya dengan Adirah. Alesha nyengir. "Eh, dhuha yuk. Keburu jam istirahatnya abis." Saran Ashila, menghentikan percakapan ketiga sahabatnya yang sudah menjurus kemakanan, karena dia begitu sensitif dengan hal itu, akhirnya dia memutuskan untuk menyudahinya. "Eh iya, udah selesai semua kan makannya?" Tanya Zalea sembari melihat satu persatu piring sahabatnya, kurang kerjaan. "Bersih amat piring lu Rah." Tambahnya, yaa, ini yang dia cari. Satu bahan bullyan. "Mestii." Adirah berdiri dan ngelonyor duluan, yang diiringi tawa ketiga orang dibelakangnya. *** "Jadi orang yang ada dimimpi lo itu beneran ada Shil?" Tanya Adirah, mereka masih berempat, berjalan menuju mushola sekolah untuk menunaikan sholat dhuha. Dan kali ini, mereka sedang sibuk membicarakan laki-laki yang ada dimimpi Ashila, ternyata memang benar ada, dan baru beberapa hari kemarin Ashila bertemu dengannya. "Serius. Gue juga nggak nyangka, gue juga heran, mana bisa ada orang persis banget sama yang ada dimimpi gue."Jawab Ashila, dia tidak salah bicara kali ini. "Mungkin, itu sudah jodoh lo. Nggak salah kan setelah kalian kenal, Allah sudah menyatukan kalian." Sahut Zalea, yang membuat Ashila mendelik. "Maksud lo? Walaupun menikah muda itu baik, tapi sekarang gue masih belum ada pikiran sampek kesana. Plis deh." Elak Ashila, yang tidak hanya membuat Zalea tertawa geli, tapi juga membuat mimik muka Alesha berubah. Menikah muda? Jodoh? Jalan Allah? Alesha tersinggung, karena dia merasa dengan hal itu semua. "Terkecuali Adirah, yang pengen banget menikah muda." Tambah Ashila sembaru melirik kegadis yang ada disamping kirinya sejak tadi. Tapi ternyata disampingnya sudah tidak ada orang lagi, kosong. Dia mencoba menengok kesamping kanan, namun hanya ada Azalea dan Alesha. "Loh Dirah mana?" Tanya Shila. "Iya? Mana Dirah?" Zalea ikut bingung. "Mana gue tau, yang disampingnya siapa tadi?" Tanya Alesha. "Gue." Jawab Ashila. "Lah terus sekarang kemana?" Tanya Alesha lagi. "Ya mana gue tau." *** Langkahnya terhenti ketika gadis itu melihat sosok laki-laki dan seorang gadis ada didalam kelas. Adirah mulai menyembunyikan tubuhnya dibalik tembok yang diatasnya ada jendela kecil, meninggalkan ketiga sahabatnya yang sedang sibuk untuk pergi ke musholla, menyelipkan kepalanya yang tertutup oleh kerudung diantara jendela yang sedikit terbuka, dan mencoba menilik apa yang sedang terjadi dengan laki-laki yang secara sembunyi-sembunyi ia kagumi, Umar. Ninda, gadis yang dilihatnya sedang menangis terisak dan mencoba memegang pergelangan tangan Umar, gadis yang terkenal cantik dan mantan dari Rayyan itu memberi tatapan yang nanar pada laki-laki yang sekarang terlihat begitu peduli padanya. "Maaf Nin, aku nggak akan ngomong kayak gitu lagi, nggak akan bikin kamu nangis kayak gini lagi." Suara itu samar didengar oleh Adirah. "Aku yang nggak akan ngelakuin kesalahan itu lagi. Rayyan udah bilang kalo hubunganku dengannya sudah berakhir, tapi aku masih saja tidak peduli. Sampek akhirnya aku sadar kalo, kamu yang begitu peduli denganku Mar, maafin aku." Gadis itu masih terus terisak, suaranya parau karena terlalu banyak menangis. "Sudahlah Nin, aku tidak peduli dengan hal itu lagi. Jangan menangis, berhentilah. Aku mohon." Dengan mata Adirah sendiri, dia melihat jemari Umar mengelus lembut pipi Ninda yang bercucuran airmata. Sebegitu peduli dan sayangnya kah? Adirah menunduk, dia tidak mau melihat apa yang sedang dia lihat sekarang. Percaya tidak percaya, Umar memang seperti itu, sama halnya dengan Rayyan teman satu gengnya, hanya saja untuk umur hubungannya, Umar mempunyai jangka waktu yang lebih panjang. Tanpa dia sadari, matanya begitu cepat meluncurkan airmata. Setiap kali dia memergoki Umar bersama pacarnya, hatinya merasa ditusuk-tusuk dengan pisau, yang dia bayangkan kalau Umar lah yang melakukannya. "Apa yang lo lakuin disini? Nguping lagi?" Sergah seseorang didepannya, yang menyadarkannya dalam keheningan. Adirah mendongak, melihat Umar yang sekarang sudah ada didepannya. Dia melihat kanan kiri laki-laki itu, tapi tidak menemukan Ninda. "Apa yang sebenarnya yang lo kepoin dari gue?" Tanya lagi laki-laki itu. Adirah tidak bisa menjawab, hanya bisa menundukkan kepalanya. "Dirah." Suara cempreng itu berhasil menghapus ketegangan Adirah. Dia bersyukur, karena setelah ini sahabatnya datang, dan menyelamatkannya dalam situasi yang sering kali mengancamnya itu. "Dir, lo darimana aja sih?" Tanya Alesha yang sudah ada disamping Adirah. "Umar." Ucap Azalea ketika matanya tidak hanya menemukan Adirah sahabatnya, tapi juga Umar. "Apa yang lo lakuin disini sama Dirah?" Tanya Azalea lagi. Dia tahu betul kalau Umar tidak suka dengan Adirah, entah kenapa itu. "Tanya aja sama temen lo." Jawab Umar. "Ada apa ini?" Suara dari balik Umar, langsung memecah kesadaran Alesha. "Rayyan." hatinya berbisik, Alesha tahu, laki-laki itu akan ada didepannya setelah ini. Dan benar, laki-laki itu berdiri disamping Umar sekarang, dan sedikit menyunggingkan senyumnya pada Alesha. "Ray, tolong bilang sama calon istri lo untuk kasih tau ke temennya, jangan suka nguping, dan ikut campur urusan orang." Ucap Umar yang membuat semua yang ada disana terhenyak kaget. Tak terkecuali Alesha, bagaimana Umar tau hal itu. Dia mendelik kearah Rayyan, untuk bersikap baik pun dia masih engah karena laki-laki itu masih tetap menyebalkan. Melihat wajah Alesha yang berubah kesal dan ingin sekali membejek-bejeknya, Rayyan memutuskan untuk mengajak Umar pergi dari tempat itu. "Mmm, Umar. Gue lupa, kalo ada anak baru dikelas dan pengen gabung sama geng kita. Lo harus tau dia siapa." Ucap Rayyan, langsung membalikkan badan dan pergi. "Calon istri?" Ucap Adirah bingung, begitupun dengan kedua orang disampingnya. "Elo calon istrinya Rayyan?" Tanya Azalea kearah Ashila. "Enggaklah, lo kali?" Tanya balik Ashila. "Apa lagi gue. Enggaklah." Jawab Azalea. Ketiga orang itu akhirnya saling berpandangan, dan sadar bahwa hanya ada satu orang diantara mereka yang sudah pasti, dan mereka yakini adalah calon istri dari Rayyan. Azalea, Adirah, dan Ashila, mereka memutar kepalanya kearah gadis yang sejak tadi diam, dan berpura-pura melihat sekeliling. Tapi nyatanya, dia tidak bisa menyembunyikan hal itu. Apalagi mata ketiga sahabatnya yang tertuju langsung padanya. "A..apa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD