"Katakan, gimana bisa lo kenal, dan gitu aja dijodohin sama Rayyan?"
"Gue gak nyangka, kalo jodoh lo sedeket ini."
"Apalagi, ternyata jodoh lo itu orang yang selalu bikin lo kesel."
"Ah kemakan omongannya sendiri sih, makanya jangan suka benci sama Rayyan. Tau kan akhirnya."
Satu argumen dengan argumen lain terus berdatangan dari tiga bibir gadis yang berfikir hal mustahil seperti itu bisa saja terjadi.
"Apasih kalian! Dengerin gue dulu. Plis!" Sentak Alesha yang berhasil membuat ketiganya kicep. Mereka mulai memasang telinga baik-baik. Kamar yang tadinya bersih kini berantakan karena tingkah empat gadis yang tidak ada habisnya itu.
"Ayah dan Ayahnya Rayyan itu berteman dan mempunyai rencana sejak dulu untuk menikahkan putra atau putri mereka. Dan Ayah sudah bertekad buuulat banget, kalo gue dan Rayyan akan menikah nanti setelah lulus SMA." Jelas Alesha.
"Haa serius lo? Terus gimana sama kuliah lo?" Tanya Adirah.
"Tetep, gue ikut snmptn, kalo nggak bisa ya sbmptn. Setidaknya cita-cita gue jadi dokter bisa terwujud. Nikah atau enggak, bukan jadi penghalang buat gue." Jawab Alesha dengan keoptimisannya.
"Kok lo bisa seyakin itu? Dan kenapa lo setuju-setuju aja sama keputusan itu?" Tanya Asilah.
"Siapa yang setuju menikah dengan laki-laki yang kalian sendiri tau gimana kelakuannya, tingkahnya aja gue empet liatnya. Tapi gimana lagi? Semua orang seneng banget liat gue sama Rayyan setuju pernikahan itu, gimana kalo seandainya mereka tau gue nggak setuju, pasti kecewa berat sama gue." Jawab Alesha lesu. Dia ingat sekali jawaban setujunya diatas meja, karena Rumi, bundanya, membuatnya menyetujui keputusan itu.
"Terus pernikahan lo itu didasari atas apa Sha? Jangan karena takut ngecewain orang, lo sendiri yang nanggung akibat dari keputusan itu."Ucap Azalea, dia benar, siapa yang harus menanggungnya, kalau bukan Alesha sendiri, atau juga dengan Rayyan.
"Kita sudah belajar tentang bab menikah, talak, rujuk. Dan lo juga pernah cerita tentang Amma Sarah lo. Seharusnya lo tau, pernikahan bukan main-main Sha, lo bisa aja bilang iya-iya setuju, tapi nanti lo juga yang ngejalaninnya dengan Rayyan." Asilah menambah.
"Terus gue harus gimana?" Tanya Alesha, dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Ya nggak gimana-gimana Sha, lo udah ambil keputusan itu juga kan. Lagian nih, kita kan belum tau Rayyan itu gimana orangnya, gimana sikapnya kalo jadi imam keluarga. Yang kita tau kan hanya sekilas tentang namanya yang suka ganti-ganti cewek, tawuran. Bisa jadi dia laki-laki yang bertanggung jawab, dan sayang dengan keluarganya. Iya kan?" Sahut Adirah yang membuat ketiga sahabatnya melongo, bukan karena kagum dengan omongannya. Tapi,
"Jangan karena Rayyan temennya Umar, terus lo baik-baikin nama dia." Celetuk Azalea yang mulai curiga dengan bahasan sahabatnya itu.
"Kok Umar sih, gue bicara dari sudut pandang Alesha bukan diri gue sendiri, kalo Umar buat gue mah, gue udah tau dari dulu dia gak seplayer itu... Yakin deh Sha, mantepin hati lo, ini udah keputusan yang lo ambil, setidaknya buat opini kebaikan didiri Rayyan." Ucap Adirah lagi.
"Betul juga sih, lo kan belum tau apa dan gimana Rayyan sebenarnya. Yang kita liat selama ini dia cuman suka ganti-ganti cewek dan cari masalah sama musuhnya sampai tawuran segala. Kita nggak tau gimana pribadinya yang lain kan." Sahut Azalea membenarkan permyataan Adirah.
Alesha menarik nafas panjang dsn menghembuskannya keras.
***
"Gila lo Mar, kenapa lo bilang Alesha calon istri gue didepan temen-temennya." Ucap Rayyan gusar, dia melabrak (kebiasaan anak gadis) sahabatnya itu yang sedang menikmati kopi diwarung langganan mereka.
"Santai Ray." Jawab Umar yang tetap masih menikmati kopinya, tidak perduli sahabat satu gengnya itu sedang gusar dan sangat mengintimidasinya.
"Santai kata lo? Lo udah janji buat ngerahasiain ini!" Ucap Rayyan yang mulai bernada biasa tapi mempunyai sejuta intimidasi dimatanya. Hanya saja Umar tidak terpengaruh sekalipun.
"Memangnya siapa yang nyebut kalo Alesha itu calon istri lo? Gue nggak nyebut namanya sama sekali kan?" Jelas Umar. Dan membuat Rayyan melihat kearahnya.
"Bener juga. Lo kan cuman ngomong calon istri doang," Pikir Rayyan. "Tapi mereka juga akan tau, diantara temen-temennya pasti nggak ada yang ngaku, sudah pasti Alesha satu-satunya orang yang mereka yakini calon istri gue." Pikir lagi Rayyan sembari mengusap-usap wajahnya.
"Sorry sorry Ray, ini semua karna Adirah, kalo dia nggak cari gara-gara sama gue, pasti gue nggak bakal keceplosan kayak gitu." Ucap Umar yang mengakui kesalahannya.
"Kenapa memangnya sama Adirah, gue rasa dia biasa aja, lo yang terlampau gak suka." Ucap Rayyan.
"Dia nguping pembicaraan gue sama Ninda." Jawab Umar, tapi tiba-tiba wajahnya berubah ketika sadar membicarakan nama gadis itu didepan Rayyan.
"Ninda? Apa yang lo omongin sama dia? Bukannya gue udah bilang sama lo, cewek itu cuman permainin hati lo." Ucap Rayyan.
"Dia tadi nangis dan bilang kalo dia sadar, dia minta maaf." Jawab Umar. Dan Rayyan pun tersenyum miring.
"Dan lo percaya?" Tanya Rayyan sangsi. Dan berhasil membuat Umar semakin bertanya-tanya, kenapa sahabatnya itu terlihat begitu tidak suka dengan Ninda, yang notabenenya pernah menjadi pacar pertamanya, bahkan salah satu gadis yang berpacaran dengannya cukup lama.
"Kenapa sih lo? Kenapa lo terlihat nggak suka gitu? Apa jangan-jangan lo masih punya perasaan sama dia?" Tebak Umar, yang jujur dirinya sendiri bingung dengan yang terjadi. Ninda, Rayyan, kenapa hidupnya harus diputari dengan hubungan tidak jelas antara gadis itu.
"Mar, gue udah pernah bilang sama lo. Sejauh hubungan yang pernah gue jalani, sama sekali gue nggak tau gimana itu rasa suka..." Jelas Rayyan yang langsung disahuti oleh Jay, teman lamanya yang baru saja pindah dari kota lamanya, laki-laki itu membawa satu temannya untuk ikut bergabung dengan Rayyan dan Umar.
"Dan yang lo tau hanya rasa kasian sama cewek-cewek yang pernah jadi pacar lo, karena mereka ngemis-ngemis buat jadian sama lo."
"Jay." Ucap Rayyan. Umar ikut melihat kearah Jay dan Alfan.
"Sejak kapan lo balik?" Tanya Rayyan.
"Dan sampai kapan lo tetep gini?" Tanya balik Jay.
"Apasih lo," Gerutu Rayyan. "Siapa?" Ucapnya sembari melihat kearah Alfan, yang terlihat seperti anak pendiam.
"Kenalin, dia temen gue dikota dulu, namanya Alfan." Ucap Jay.
"Hei." Sapa Alfan sembari menyalami Rayyan dan Umar.
"Dia ikut pindah kesini juga." Tambah Jay.
"Wah, temen baru dong ini." Ucap Rayyan.
"Iyalah, masak pacar baru." Sahut Jay sembari melirik kearah Rayyan. Dan berhasil membuat kedua orang, selain Rayyan, tertawa terbahak-bahak.
"Berenti nyindir gue bisa?" Ucap Rayyan.
"Bisa, setelah lo bener-bener jatuh hati sama perempuan." Ucap Jay.
***
"Salam Alaikum Esha." Salam seseorang yang ada dibelakang gadis itu, setelah para sahabatnya selesai mengintrogasinya habis-habisan, mereka pulang dengan hati lega dan rasa penasaran yang sudah terobati dengan mengkupas rahasia sahabatnya hingga keakar-akarnya.
Kini Alesha berjalan kembali kedalam rumah, namun suara itu mengurungkan niatnya untuk melangkah.
"Waalaikumsalam warrahmatullah." Balas Alesha, dan senyumnya mengembang ketika laki-laki yang ingin sekali menjadi obat rasa galaunya tiba-tiba datang kerumahnya. Tapi untuk apa Ayaz datang kerumahnya?
"Alesha, boleh aku berbicara denganmu?" Ucap Ayaz langsung.
"Berdua?" Tanya Alesha, dia berfikir matang-matang sebelum syetan mencoba menggodanya.
"Tenang, kita tidak berdua. Lagian aku ingin berbicara denganmu juga karena..."
"Salam Alaikum Kak." Seorang perempuan keluar dari persembunyiannya, ah entah darimana. Tapi perempuan itu yang pernah dia lihat dipegang tangannya oleh Ayaz untuk masuk kedalam mushola, kapan hari.
"Ini dia, kenalkan Alesha, dia Afsheen, adik ku yang baru pindah dari Turki beberapa hari yang lalu." Ucap Ayaz, ooh jadi dia adiknya. Alesha berah-oh ria dalam hatinya.
"Senang, berkenalan denganmu." Ucap Afsheen. Alesha tersenyum tapi juga mengernyitkan dahinya. Baru pindah, tapi bisa bicara dengan bahasa indonesia.
"Jangan kaget gitu, kita juga bisa bahasa indonesia seperti halnya dirimu Sha." Ucap Ayaz.
"Senang berkenalan denganmu juga Afsheen." Ucap Alesha mulai bisa akrab dengan gadis itu.
"Sheena Kak, panggil saja seperti itu."