PART 13

1465 Words
Hidup bercukupan dengan tinggal di luar negeri dan menempuh pendidikan S1 Ilmu Pengetahuan Bisni di Swedia, tidak membuat Hilda, putri sulung dari Ibrahim menjadi penyuka pergaulan bebas dinegeri itu, dia masih seorang perempuan yang taat beragama dan takut akan dosa. Selain tinggal di negeri orang, ditinggal ibunya sejak kecil membuat Hilda tumbuh menjadi perempuan yang mandiri. Sampai-sampai banyak orang yang mengira Ibrahim hanya mempunyai satu anak yaitu Ilham, padahal kalau mereka tahu, Hilda adalah anak sulung yang dibangga-banggakan oleh Ibrahim. Dan karena ikhtiarnya dalam menempuh pendidikan, juga ketaatannya yang jarang sekali ditemukan dinegara yang terkenal akan kualitas lingkungan yang baik dan rendah akan pencemaran polusi udaranya itu, Hilda menemukan seorang imam yang menjadikannya bidadari syurganya, tidak lama setelah pernikahan mereka berdua tinggal bersama Ibrahim, yang pada saat itu sedang sibuk membujuk Ilham untuk mau dijodohkan dengan perempuan bernama Haida. Berita bahagia pun datang, ketika kehamilannya yang sudah tiga bulan mereka ketahui, dan suaminya yang bernama Farid itu pun memboyongnya kerumah baru yang akan mereka tempati untuk menyambut anak yang ada dikandungan Hilda. Ibrahim sempat membujuk Hilda untuk tetap tinggal, namun kedua suami istri itu berdalih tidak ingin merepotkan ayahnya yang juga akan segera menikahkan Ilham. Akhirnya waktu itupun tiba, dan kejadian yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Hilda, kebahagiaan juga sekaligus luka yang membekas sampai sekarang. Pindahan kerumah barunya, yang hanya dibantu oleh Ibrahim juga Ilham membuat Hilda dan Farid kesulitan. Entah karena apa penyebabnya, Farid yang mengemudikan mobilnya begitu pelan, bisa oleng dan membanting setir sampai menabrak pembatas jembatan yang saat itu mereka lewati, dan seketika Farid meninggal ditempat. Kenyataan yang diketahui oleh Hilda saat sudah ada dirumah sakit, karena dia juga tidak sadarkan diri ketika kejadian itu terjadi, membuatnya kembali kehilangan kesadaran diri, hampir berulang kali. Dia masih tidak percaya, kebahagiaan yang baru akan dia jemput bersama suaminya, malah sudah terenggut duluan. Kesedihan itu tidak berujung, sampai dia berhayal kalau Farid masih berada disampingnya, menemaninya ketika kehamilannya semakin membesar. Begitupun ketika dia melahirkan, putri cantik yang hadir dalam hidupnya semakin membuatnya kehilangan akal, tidak lagi merasa ada Farid disampingnya, namun merasa Farid sudah meninggalkannya, sampai akhirnya perempuan itu benar-benar depresi. Putrinya tidak bisa kalau harus dirawat oleh Hilda, Ibu mertuanya meminta ijin pada Ibrahim untuk merawat cucunya itu, sampai Hilda benar-benar pulih dari depresinya. Namun untuk Ibrahim, tidak hanya kejadian itu yang membebankan pikirannya. Kematian calon istri Ilham, juga membuatnya terbebani apalagi dia baru tahu satu kejujuran kalau perempuan itu sudah melahirkan seorang anak laki-laki lima bulan sebelumnya, seperti rencana Allah yang benar-benar tidak bisa ditebak, Ibrahim semakin terperangah ketika Ilham mengajukan satu nama perempuan yang ingin dikhitbahkan untuknya. Rumi, perempuan yang dia ketahui teman putranya, ternyata menjadi pilihannya. Tidak hanya itu, setelah pernikahan Ilham dan Rumi, kebahagiaan pernah menyelimuti kehidupan mereka karena kedatangan anak dalam kandungan Rumi, namun kandungan itu gugur karena kandungan lemah dan terpaksa tidak bisa lagi memiliki seorang anak. Ibrahim semakin sedih, tidak karena dirinya yang ingin sekali memiliki cucu dari Ilham dan Rumi, namun melihat menantunya yang hampir putus asa dan dia tidak mau lagi apa yang dialami Hilda juga terjadi pada Rumi. Akhirnya dia mengusulkan untuk mengangkat anaknya Hilda untuk Ilham dan Rumi yang sebelumnya meminta ijin dulu pada ibu mertua Hilda yang sudah merawat. Ilham menyetujui, begitupun Rumi. Mereka berdua mulai merawat dan mengasihi gadis kecil itu layaknya putri sendiri, Maila, Ibu dari Rumi begitu senang karena melihat putrinya bisa kembali bahagia seperti dulu. *** "Setidaknya lo masih bisa melihat orangtua kandung lo." Ucap laki-laki yang tadi mengantarkan Alesha ketempat orangtua kandungnya yang sekarang dia ketahui tinggal dirumah Ibu dari ayahnya. Wanita bernama Hilda, yang menjadi orangtua kandungnya sempat depresi dan sembuh total beberapa tahun yang lalu, dan begitu menyayanginya saat dia sadar Alesha lah putri yang dia sia-siakan hanya karena meratapi nasibnya yang dulu sudah terjadi. Kenapa Hilda tinggal dirumah Ibu mertuanya? Kenapa tidak tinggal dengan Eyang Ibrahimnya yang notabenenya adalah orangtua kandung ibunya? Alasannya muncul karena Ibu mertuanya hanya memiliki satu putra, dan dia adalah Farid, ayah dari Alesha, meski putranya sudah meninggal, namun dia menganggap Hilda adalah anaknya, pengganti Farid, dengan itu dia memaksa Ibrahim untuk merawat dan membantu putrinya untuk sembuh dari depresinya. Alesha melihat kearah laki-laki yang ada disampingnya, yang menjajari langkahnya. Beberapa waktu lalu, Alesha meminta ijin untuk berkunjung kerumah Hilda, ibunya. Namun Ilham dan Rumi masih sibuk ditempat kerjanya masing-masing, sampai akhirnya Ilham mengutus Rayyan untuk mengantarkan Alesha. Yang sebelumnya Rayyan sudah diwanti-wanti agar memberi jarak diantara mereka. "Ya, gue bersyukur ternyata gue masih bisa diberi kesempatan untuk tau tentang hal ini sebelum terlambat." Ucap Alesha tersenyum lega. Dia menunggu sahutan dari Rayyan, namun laki-laki terdengar hening. Alesha menoleh sekilas kearahnya dan mendapatkan wajah yang terlihat sedih. "Lo beruntung, sedangkan gue? Gue udah terlambat sebelum melihat wajah orangtua kandung gue yang sesungguhnya." Ucap Rayyan setelah keheningan menempati tubuhnya. Alesha merasa bersalah karena sudah menyinggung apa yang menjadi snagat sensitif dihati laki-laki itu, dia baru tahu kalau laki-laki disampingnya yang terlihat meremehkan setiap masalah, kini seperti memiliki beban berat yang dia rasakan. "Maaf, gue gak bermaksud buat nyinggung lo. Gue cuman.." "Ya, nggak apa-apa. Memang kenyataannya seperti itu." Sahut Rayyan yang sudah merubah mimik wajahnya lebih terlihat ceria, padahal Alesha juga tahu kalau itu dibuat-buat. Namun gadis itu tidak ingin Rayyan berlarut-larut dengan kesedihannya. "Yaah, setidaknya lo orang lain yang pertama tau tentang hal ini." Ucap Alesha. "Terimakasih, karena lo sudah mau nganterin gue. Satu poin untuk etika baik lo terhadap gue." Tambah Alesha. "Perlu berapa juta koin lagi? Bahkan nanti, kebaikan gue tidak bisa terhitung oleh poin. Karena nanti, gue bukan lagi orang lain untuk lo." Ucap Rayyan yang membuat Alesha terhenyak. Namun laki-laki itu sibuk membukakan pintu belakang untuk Alesha. "Masuklah." Ucap Rayyan mempersilahkan. Alesha pun masuk kedalam mobil. Mendengar kalimat Rayyan tadi, Alesha memiliki ketakutan lebih. Tinggal hitungan bulan, pernikahan itu akan terlaksana, dan benar, Rayyan bukan lagi orang lain untuk dirinya nanti. "Lo yakin dengan pernikahan nanti?" Tanya Alesha setelah melihat Rayyan memasuki mobil dan duduk dikursi pengemudi. "Keyakinan itu sudah gue terapin setelah lo menyetujuinya. Kenapa? Lo nggak yakin?" Tanya balik Rayyan. Alesha menjadi salah tingkah. "Yakin, gue yakin. Tapi untuk lo sendiri, apa segampang itu lo menyetujuinya? Bagaimana dengan mantan-mantan dan cewek-cewek yang masih berusaha deketin lo?" Jelas Alesha. Mesin mobilpun menyala seiring pertanyaan Alesha selesai. Laki-laki itu tersenyum miring, kemudian tancap gas. Tidak lama kemudian, Rayyan menjawab pertanyaan Alesha. "Memang mantan-mantan dan cewek yang ngedeketin gue banyak, dibandingkan elo, lo itu jauh dibawah standar mereka. Fashion lo yang kayak emak-emak, pakai makeup juga enggak..." Jelas Rayyan yang tanpa dia sadari Alesha sudah bersungut-sungut, dikepalanya sudah tumbuh dua tanduk tak kasat mata. Ingin sekali dia menerkam laki-laki yang seenak udelnya mengatai dirinya yang jelas-jelas sekarang sedang mendengarkannya. "Tapi cewek-cewek seperti mereka, akan kalah dengan cewek yang sudah diberikan-Nya untuk gue. Perjodohan ini atas dasar kemauan orangtua gue. Ridho Allah adalah ridho orangtua. Berarti apa yang gue dapatkan sekarang lebih baik dari apa yang gue inginkan." Tambah laki-laki itu yang sebenarnya belum selesai. Intinya, dia bersyukur atas perjodohan ini. "Yaah, gue juga heran. Kenapa laki-laki seperti lo, yang bahkan tidak ada ekspektasinya diotak gue bisa jadi calon suami. Sekarang malah menjadi pilihan satu-satunya untuk dinikahi." Ucap Alesha. "Iya, gue pun sepemikiran sama lo. Bahkan gue berfikir nanti setelah menikah, kesenangan apa yang akan kita lakukan. Padahal kita tau sendiri, kita jauh beda tentang hobi dan kesukaannya." Ucap Rayyan sembari tertawa kecil, menertawai hayalannya nanti tentang pernikahan yang akan berisi hanya dengan pertengkaran dan perdebatan seperti halnya yang terjadi setiap mereka bertemu. "Tapi setidaknya itu hanya perbedaan kecil. Kita bisa memulai melakukan kebiasaan yang dilakukan masing-masing menjadi berdua." Celetuk Alesha. Terdengar tawa geli dari arah depan, tepatnya kursi pengemudi. "Kenapa lo ketawa?" Ucap Alesha. "Nggak, gue ngerasa lo mulai terbuka dan menerima dengan perjodohan ini. Dengan itu, perbedaan kecil yang lo maksud pasti bisa kita lakukan bersama-sama." Ucap Rayyan. Alesha menepuk jidatnya, dia salah jika membuat Rayyan percaya diri. "Kecuali perbedaan keyakinan." Tambah Rayyan. Dia masih belum selesai berbicara. Namun apanyang dikatakan Rayyan membuat Alesha mengernyitkan alis. "Perbedaan keyakinan?" Tanya Alesha. "Iya, pernikahan akan menyatukan perbedaan-perbedaan, namun pernikahan tidak akan bisa menyatukan dua agama. Karena pada hakikatnya, setiap agama memiliki Tuhan masing-masing, dan memiliki kepercayaan masing-masing yang akan sulit dipersatukan. Seperti disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 221, Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita b***k yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik dengan wanita-wanita mukmin sebelum mereka beriman." Ucap Rayyan menutup penjelasannya yang semakin membuat Alesha heran, Rayyan laki-laki yang suka keluyuran dengan banyak cewek, juga urakan. Ternyata tau dan mengerti tentang dalil dalam Al-Quran. "Maksud pembicaraan lo tentang ini apa? Tentang perbedaan agama? Gue nggak ngerti." Ucap Alesha. "Yaah, lo bisa tela'ah sendiri nanti, tapi garis besar ya. Gue dan lo, hanya punya satu Tuhan, yaitu Allah SWT." Ucap Rayyan.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD