PART 14

1283 Words
-Alesha POV- Mataku terus kuedarkan kesetiap sudut ruangan yang baru aku sadari cukup besar dan mewah dengan berbagai benda-benda mahal didalamnya. Mencari sosok yang sedang kunantikan sejak tadi, sejak kedatanganku kerumah ini. "Oh ya Sha, gimana sama ujian nasionalnya tadi, lancar?" Suara lembut terdengar dari depanku, gadis itu mulai menyecap minuman buatannya, Bozcaada, minuman asal turki yang sengaja dibuatnya untukku. Dia berjanji kalau ujian nasionalku selesai, sepulangnya aku harus mampir kerumahnya dan menikmati minuman khas turki. Bozcaada atau yang lebih dikenal Red Poppy Sirup adalah salah satu minuman tradisional Turki yang terbuat dari kelopak poppy merah, air dan gula dengan cara alami. Aku tersenyum membalas pertanyaannya. Gadis itu terlihat cantik ketika wajahnya terbuka sempurna, cadarnya sengaja dilepas karena sudah berada dilingkup rumah, dan hanya ada aku saja. Gadis yang aku kira akan sulit bergaul dengan orang asing yang jauh berbeda dengan orang Turki kebanyakan, bahkan hari ini membuatku tercengang, karena bukan hanya mudah bergaul, dia juga konyol dan tidak peduli apapun ketika sudah sedang beraksi, hanya saja itu akan dilakukan dengan orang yang sudah dia kenal dan dekat dengannya. Dan aku bersyukur, aku termasuk diantaranya, dia terbuka dan begitu baik denganku. "Alhamdulillah Shena, setidaknya Allah akan mempermudah semuanya." Jawabku. Tapi aku melihat wajah gadis itu berubah seiring kepalanya yang mulai tertunduk. Apa ada yang salah? Aku fikir, setiap aku berbicara tentang kemudahan-kemudahan dan bukti sayang-Nya Allah padaku, gadis itu terlihat tidak suka. Padahal jika dengan Kak Ayaz, kakaknya, dia bersikap biasa saja bahkan ikut senang dan antusias. "Kenapa She?" Aku mulai mencoba membuka suara, rasa penasaranku berubah menjadi curiga. Apa benar, gadis sepertinya yang mau menutup semua auratnya, tidak suka dengan Tuhannya? Apa benar? Namun kalimatku hilang seiring kepala yang tadi tertunduk, mendongak dan langsung tertuju keambang pintu masuk. Mataku yang tadinya memperhatikan dirinya, berubag mengikuti pandangannya. Dan menemukan seorang laki-laki tegap sedang berdiri diantara dua pintu. Jadi, Kak Ayaz sejak tadi tidak ada dirumah, dan dia baru pulang? Bagaimana bisa aku menghabiskan waktu menelusuri setiap sudut rumah ini dengan mataku, kalau yang aku cari tidak ada disini. Astaghfirullah Ya Rabb, kenapa aku terlalu merindukan seseorang yang tak pantas ku rindukan. Laki-laki itu meneruskan langkahnya kerumah lebih dalam. Melewatiku juga Shena. Ternyata kehadiranku tidak sama sekali dia sadari. Sampai akhirnya deheman Shena menggoyahkan fokusnya dan berbalik melihat sekilas kearahku dan Shena, kemudian kembali berbalik. Namun beberapa saat kemudian laki-laki itu kembali mengulang memperhatikan kearah kita, lebih tepatnya kearahku. "Alesha, sejak kapan kamu disini?" Tanyanya ketika melihatku, aku hanya bisa nyengir. "Setahun yang lalu." Celetuk gadis didepanku. Dia terlihat kesal kepada kakaknya. "Makanya, kalo masuk rumah, liat-liat kek ada orang nggak dirumah." Tambah gadis itu. Kebawelannya adalah salah satu sifatnya yang bisa mudah bergaul. "Shena, jangan mulai deh." Peringat Ayaz. "Yasudah, Alesha.. Aku tinggal dulu sebentar." Tambahnya, yang kemudian bergegas masuk setelah mendapat persetujuanku dalam bentuk anggukan. "Alesha." Panggil Shena yang masih samar kudengar. "Alesha." Ulangnya lagi. "Oh-iya, a-ada apa She?" Jawabku, jujur selepas kepergian Ayaz, aku melamun memperhatikan punggung Ayaz yang mulai pergi dan menjauh kedalam rumah. "Boleh aku tanya sesuatu sama kamu?" Tanya Shena dengan mata teduhnya. "Boleh lah She.." Jawabku. Dengan senang hati aku mendengarkan pertanyaannya. "Apa kamu, suka sama Kak Ayaz?" Deg. Pertanyaan itu berhasil merobek kesadaranku. Suka? Apa benar aku menyukainya? Apa benar yang ku katakan ke Rayyan adalah kenyataan? Lalu rasa sukaku ini bisakah berujung? Bisakah jika jarak terlihat begitu jauh diantara kita, karena sebuah hubungan yang sebentar lagi akan mengikatku dengan Rayyan. Aku masih bergeming. Diam dan tidak menjawab pertanyaan Shena. "Aku melihat hal yang sama dimatamu, seperti halnya di mata Kak Ayaz, Sha.." Ucapnya lagi. Aku mulai mencerna kalimat itu. "Maksudnya She?" Tanyaku ingin tahu kejelasan kalimat yang diucapkan Shena. "Jujur Sha, aku tidak pernah melihat Kak Ayaz sepeduli ini pada perempuan. Bukannya mau sombong, tapi disekeliling Kak Ayaz sangatlah banyak perempuan-perempuan yang menginginkannya, mulai dari yang bajunya tinggal seperempta ditubuh, atau yang menutup aurat sepenuhnya. Mereka semua tidak pernah ada yang dipedulikan, bahkan sekedar menyapa saja. Tapi kali ini, hal itu tidak terjadi denganmu. Di matanya dengan mudah menangkap wajahmu dan dnegan mudah pula dia menyapamu. Dan sama-sama tanpa kalian sadari, kalian saling menyimpan rasa suka, iya kan? Bisa kasih aku penjelasan? Aku sudah ingin tau sekali Sha, kalau memang kamu bisa membalas rasa yang dimiliki Kak Ayaz, aku akan sangat bersyukur." Ucapnya sembari menggenggam jemariku, dia seperti meyakinkanku kalau kakaknya benar-benar memiliki rasa padaku. Rasa? Kenapa hatiku masih munafik untuk mengakui bahwa aku juga memiliki rasa itu, kenapa rasanya masih berat untuk mengungkapkan hal itu. "Mmm, nanti dulu ya She.. Aku boleh ijin dulu ke belakang? Pertanyaanmu buat aku ketar-ketir." Ucapku sembari nyengir. Tapi dibalas gadis itu dengan tawa lepasnya. "Silahkan boleh, kamu lurus aja ke belakang, nanti sebelum ada dapur, itu udah ada kamar mandi kok." Jawab Shena. Aku segera melangkahkan kakiku buru-buru, mengikuti intruksi dari gadis itu. Berjalan lurus kebelakang, dan harus bisa menemukan kamar mandi sebelum dapur. Dan tidak lama kemudian, aku sudah menemukan tempat teristimewa bagiku kali ini. Segera ku tenggelamkan diriku didalam ruang itu. Beberapa saat kemudian, aku sudah keluar dari kamar mandi dan bisa pergi kembali ke Shena. "Sha." Panggil seseorang dari arah dapur. "Kak Ayaz." Ucapku ketika melihat laki-laki itu sedang berjalan kearahku. Langkahnya pun begitu mewah, seperti mataku yang dengan bodohnya memperhatikannya. Ya Rabb tundukkan pandanganku. Namun ketika mataku mulai kuatur untuk menunduk, tanpa kurencanakan, mataku menemukan sesuatu yang hampir tidak bisa ku percaya. Kalung salib menggantung dileher laki-laki itu dengan indahnya. Simbol sebagai tanda dia menyayangi apa yang ada dalam kehidupannya. Siapa Kak Ayaz yang sebenarnya? Mataku mengerjap, tidak peduli lagi pandangan yang harus kutundukkan. Aku ingin tau apa tujuannya memakai kalung itu. Seperti sudah tahu apa yang aku maksud, wajah laki-laki itu berubah. "Aku bisa menjelaskannya.." Ucapnya. "Tolong jelaskan." Ucapku. Aku menunggu jawabannya, penjelasannya tentang apa yang dia sembunyikan selama ini, atau bahkan memang aku yang terlalu buta. "Jujur, aku menyukaimu, sejauh ini kamu yang bisa membuat tidurku tidak tenang. Karena senyum dan keramahanmu yang masih terbayang. Tapi karena itu pula, aku takut untuk mengatakan semuanya. Aku takut kalau hal ini akan menciptakan jarak yang sangat jauh diantara kita. Karena kita..." Kalimat laki-laki yang bertele-tele itu berhasil kupotong. "Kita beda agama? Katakan Kak? Apa selama ini yang aku bicarakan tentang Tuhanku, bukanlah Tuhan yang kamu akui?" Ucapku. Yang berhasil membuat satu tetesan air bening keluar dari kelopak mata. Bukan ini yang kumaksud, aku tidak mau kembali menangis, apalagi dengan hal yang sangat tidak benar. Aku jadi ingat dengan apa yang dikatakan oleh Rayyan, laki-laki itu seperti memberi kode bahwa aku akan merasakan ini, rasa perih karena kenyataan kalau aku dan Ayaz berbeda agama. "Agamaku, adalah Kristen ortodok syiria. Tapi apa yang kita lakukan tidak jauh berbeda bukan? Kita puasa, kita sholat, kita juga mengucapkan salam yang sama. Lalu apa kita akan berjarak lebih jauh setelah ini? Kita bisa menyatukannya, karena sudah ada banyak kesamaan." Ucapnya menjelaskan kenyataan yang sesungguhnya. "Tolong sekarang dnegarkan aku Kak. Tuhanku, Allah SWT. Sudah menjelaskan dengan sangat jelas dalam ayat AlQuran-ku. Bahwa Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. bukan berarti agamaku mengajarkanku untuk bersikap keras pada agama lain. Islam tidak mengajarkan kekerasan. Bahkan Islam masih tetap mengajarkan berbuat baik pada non-muslim. Tapi untuk menyatukan agama satu dan agama lain dnegan persepsi bahwa ada kesamaan. Aku akan menolaknya, kita bisa berteman, tapi tidak dnegan agama kita Kak." Ucapku, sungguh ini begitu sulit. Namun diotakku semakin banyak memutar ingatanku bersama Rayyan, penjelasannya yang tiba-tiba menyangkut menikah perbedaan agama, juga akibatnya. Kenapa ini menjadi sebuah kebetulan yang tidak masuk akal. "Maaf Kak, aku permisi." Ucapku yang langsung berlari keluar, melewati Shena yang sedanf menghampiriku kedapur. Kenapa gadis itu juga tidak mengatakan kebenarannya. Kenapa aku merasa sudah dibohongi. Kenapa aku menjadi ingin bertemu Rayyan, dan mengatakan kalau orang yang aku sukai adalah orang yang salah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD