"Jadi lo serius mau ngelamar Alesha?" Tanya Jay, dia tidak mengira kalau teman lamanya itu, yang suka bermain-main dalam hubungan, kini malah mengambil keputusan menikah muda, secepat itu.
Rayyan menyecap kopinya yang masih panas dengan wajah tenangnya, tidak perduli segala pertanyaan yang dilontarkan oleh Jay terhadapnya. Sedangkan Umar dan Alfan yang ada didepan mereka hanya cekikikan melihat kekepoan Jay.
"Bisa nggak lo berenti kepoin gue? Mantan-mantan gue bisa kalah sama lo." Sahut Rayyan sembari meletakkan kembali cangkir berisi kopi itu. Kedua orang yang tadinya cekikikan kini lebih loss menertawai Jay.
"Uh dasar," Kepalan tangan terarah kelengan Rayyan yang bersikap biasa aja menanggapi tingkah Jay.
"Lo sih, sensi amat. Gue yang nggak tau apa-apa, juga biasa aja. Kenapa lo kepo amat." Ucap Alfan, tepatnya nasihat. Ya, laki-laki itu paling cuek diantara mereka berempat.
"Lo nggak tau rasanya, sahabat lama tapi nggak tau apa-apa tentang kehidupan sahabatnya." Jawab Jay.
"Uuh, cewek abis." Sahut Umar yang kembali disahuti tawa oleh ketiga laki-laki itu.
"Ray," Suara itu membuyarkan tawa mereka. Salah satu anggota dari geng mereka, datang dari arah luar cafetaria tempat mereka nongkrong. "Ada Ninda, dia nyari lo." Tambahnya ketika melihat Rayyan sudah memperhatikannya.
"Ninda." Ucap Umar sembari mengernyitkan alisnya. Kenapa Rayyan yang dia cari?
"Udah pernah gue bilang bukan?" Sahut Rayyan. "Yaudah, gue kedepan dulu, mau nemuin cewek menye-menye itu." Rayyan berdiri untuk melangkah.
"Ray, tunggu." Umar mencegahnya. Dan laki-laki itu berhenti melangkah untuk sekedar mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh Umar. "Jangan bikin, dia nangis lagi." Ucapnya, lebih kearah memohon.
"Gue nggak jamin. Bukannya ada lo, tempatnya buat nangis." Jawab Rayyan dan langsung kembali meneruskan langkahnya.
"Siapa Ninda?" Tanya Alfan yang memang dia tidak tahu siapa gadis itu.
***
"Ada apa nyari gue?"
Gadis bernama Ninda itu memperhatikan laki-laki yang menghampirinya dengan pandangan yang nanar, dan matanya sudah mengembunkan airmata yang siap meluncur.
"A-apa benar, kamu mau menikah?" Tanya gadis itu dnegan nada bergetar.
"Iya." Jawab Rayyan dengan singkat.
"Secepat ini?"
"Iya."
"Apa kamu nggak mau ngomong sesuatu sama aku?"
"Tentang apa?"
"Tentang hati kamu." Gadis itu berharap sekali untuk laki-laki itu mengutarakan sesuatu dihatinya yang ada tentangnya. Apakah cinta pertamanya itu tidak ada secuilpun yang berbekas dihati laki-laki itu, bahkan Ninda sendiri tidak bisa menghapus masa itu, yang dia akui begitu membuatnya bahagia.
"Iya, ada yang mau gue omongin." Jawab Rayyan.
Jawaban laki-laki itu membuat Ninda berubah menjadi lebih tenang, meski rasa ingin tahunya sedang menggebu-gebu. Matanya mencoba menelisik mata dan bibir laki-laki itu, menunggu agar segera mengungkapkan apa yang sebenarnya ada dihatinya.
"Apa? Katakan?" Ninda masih menunggu.
"Gue mohon sama lo, lupain semuanya. Jangan lagi berharap sama gue. Bukannya lo sendiri sudah berjanji ke Umar untuk nggak nangis lagi karena gue." Ucap Rayyan.
"Bukan itu yang aku mau, aku mau kamu ngomong apa aku masih ada dihatimu?" Tanya gadis itu.
seseorang dibalik pintu terhenyak, perasaan Umar begitu sakit tanpa terkecuali. Gadis yang dia selama ini dia anggap akan bahagia karena kehadirannya, ternyata masih menempatkan Rayyan sebagai alasan terbahagianya. Umar sendiri terlalu mentulikan telinganya ketika sahabatnya, Rayyan memberitahu padanya bahwa Ninda tidak akan berubah secepat itu.
Sedangkan laki-laki yang berdiri didepannya, tidak luluh sama sekali pada gadis itu.
"Sejak gue memutuskan buat putus sama lo, sejak itu juga gue nggak ada perasaan apapun sama lo. Sama sekali." Ucap Rayyan dengan wajah tak tersentuhnya. Dia merasa bersalah, tapi jika sedikit saja dia luluh dan kasihan dengan Ninda, gadis itu akan merasa Rayyan masih mempunyai perasaan dengannya, dan peluang untuk balikan akan masih ada. Dia tidak mau itu.
"Lalu, apa mungkin kamu membiarkan aku sendirian memiliki perasaan itu?" Tanya Ninda. Rayyan muak akan hal itu. Sudah berapa kali, gadis itu menanyakan kalimat seperti itu.
"Itu salah lo sendiri. Gue udah bilang kan, lupain perasaan itu, percuma, kita nggak akan pernah balikan lagi." Ucap Rayyan, yang membuat cairan bening turun dengan cepat dari mata gadis itu.
"Kenapa kamu nggak pernah ngerti perasaanku sih? Apa hatimu sebatu itu?" Ucap Ninda.
"Batu? Kalo hati gue batu..."
"Cukup." Laki-laki yang tadinya bersembunyi, kini muncul karena tidak bisa melihat gadis itu kembali menangis disebabkan oleh sahabatnya. "Ray, berhenti bicara." Tambahnya, memutuskan untuk tidak memberi ruang berbicara bagi Rayyan.
"Kenapa? Apa lo masih mau membela cewek yang nyatanya nggak akan pernah bisa menghargai lo?" Ninda terhenyak dnegan kedatangan Umar.
"Bukan berharap untuk dihargai, tapi setidaknya gue nggak mau siapapun ceweknya menangis hanya karena rasa sakitnya pada cowok seperti kita." Jelas Umar. Dia tidak bisa setega Rayyan.
"Tidak Mar, benar kata Rayyan. Aku tidak pantas untuk dibela. Maaf, selama ini aku hanya bisa mengecewakanmu karena perasaanku." Sahut Ninda, gadis itu memutuskan untuk berbalik dan pergi dari hadapan kedua laki-laki itu.
"Nggak lo kejar?" Tanya Rayyan yang melihat Umar masih tetap berdiri.
"Gue nggak berhak lagi buat ngejar." Jawab Umar.
"Alhamdulillah kalo lo sudah tau, cewek seperti Ninda tidak akan bisa menepati janjinya." Jelas Rayyan.
"Gue pergi dulu," Ucap Umar, dia tidak lagi berselera kembali kedalam. Dia ingin se diri. "Titip salam aja sama anak-anak didalem. Assalamualaikum." Tambahnya yang kemudian berlalu, membawa jaket dan helmnya yang ada ditempat berbentuk persegi khusus helm.
"Waalaikumussalam." Dan akhirnya, meski dnegan kekerasan hatinya, dia bisa menyadarkan sahabatnya tentang orang yang selama ini dibela, tapi tidak tahu diri.
Tit.. Tit.. Tit..
1 pesan dari Ayah
Rayyan membuka pesan itu.
"Ray, cepat pulang. Kita siap-siap kerumah Pak Ilham."
Isi pesan itu mengingatkannya pada tujuannya hari ini.
Laki-laki itu segera memasukkan ponselnya disaku. Dan mengambil jaket juga helm ditempat yang sama saat Umar mengambil. Tidak perduli, pamit atau tidakkah dia pada dua orang laki-laki yang masih ada didalam, yang masih menyimpan rasa penasarannya, terutama Jay.
***
"Hei, apa yang lo lakuin disini?" Umar berhenti tepat ketika dirinya melihat gadis yang menyebalkan sedang memasang muka kusutnya di samping motor beatnya.
"Umar," Gadis itu terhenyak mengetahui laki-laki itu turun dari motornya dan menghampirinya. "Ban aku bocor." Ucap gadis itu, tidak perduli kegugupannya ketika setiap kali bertemu dengan Umar. Yang ada difikiran Adirah sekarang hanya bagaimana untuk cepat-cepat sampai kerumah Alesha, karena para sahabatnya sudah sampai sana dan sedang membantu untuk acara lamaran.
"Terus kenapa lo disini? Kenapa nggak usaha cari tambal ban?" Ucap Umar.
"Kamu kira aku daritadi nggak melakukan itu? Sudah, dan tidak ada tambal ban sama sekali dijalan ini." Jawab Adirah yang tidak terima dituduh karena tidak ada usahanya.
"Ya sudah, sebentar. Gue cariin dulu. Lo disini, hati-hati." Umar kembali naik kemotornya, namun meninggalkan helm ditangan Adirah. "Pegangin."