PART 17

1224 Words
Umar kembali turun dari motornya, dan melangkahkan kakinya kearah gadis yang sedang merutuki nasib sialnya disamping motor yang ban-nya sudah kempes tanpa angin. "Gimana Mar? Ada tambal ban nggak?" Tanya Adirah, meski dia sudah mengerti, kalau tidak ada sama sekali tukang tambal ban yang ada didekat situ, dia sudah membuktikannya. Laki-laki itu menggeleng mendnegar pertanyaan Adirah, dan mengambil helmnya yang masih digenggaman gadis itu dnegan istiqomahnya. "Udah aku bilang kan? Kamu nggak percaya sih." Sahut Adirah ketika yang dilakukan Umar adalah hal sia-sia, ini akibat dari laki-laki itu yang tidak mau mendengar perkataan Adirah. "Kenapa lo nyalahin gue? Syukur-syukur gue mau bantu lo. Yaudah, kita tunggu taksi lewat, biar lo kerumah Alesha naik taksi, dan motor ini gue urus." Saran Umar. "Kamu urus?" Tanya Adirah sangsi, bagaimana bisa dia msngurusnya sendirian. "Sendirian?" Tambahnya lagi memastikan. "Lo kira gue nggak perlu bantuan? Lagian temen gue banyak, dan mereka bisa bantu gue." Jawab Umar ketus. Kenapa laki-laki itu tidak ada sikap baiknya sama sekali. Meski Adirah tau, sebenarnya Umar punya rasa peduli yang besar, hanya saja dia tidak bisa untuk menunjukkan pada Adirah, seperti hal yang sangat sulit, dan memalukan jika harus perduli dengan gadis seperti Adirah. Dan belakangan ini, gadis itu mulai mengintropeksi diri. Mencoba melihat sewajarnya ketika Umar lewat dihadapannya, menganggap bahwa laki-laki itu hanya bisa memaki dan membully, tidak punya hati, dan acuh. Entah bagaimana caranya, dia masih sulit melakukan itu, meski prosesnya sudah berjalan sejak lama. "Baiklah, terimakasih." Adirah memperbaiki sikapnya, cukup ucapan terimakasih. Dia tidak mau dirinya kembali mendapat jawaban ketus dari laki-laki itu, toh kalau itu terjadi lagi ketika dia sudah mengakhiri perkataannya dengan ucapan terimakasih, berarti memang jika hanya melihat wajahnya saja, Umar sudah benci pada Adirah. "Apa lo buru-buru?" Tanya laki-laki itu yang hampir membuat Adirah terhenyak, dia tidak tau kalau laki-laki itu masih mau membuka bibirnya untuk berbicara dengannya. "Sebenernya iya, tapi gimana lagi." Jawab Adirah. "Yaudah, lo jangan khawatir, motor lo aman sama gue. Itu sudah ada taksi yang mau lewat." Ucap Umar sembari matanya melihat kearah sisi kirinya dimana sudah ada taksi yang melaju menghampirinya. Dia melambaikan tangannya pertanda memberhentikan taksi tersebut. "Makasih ya, Assalamualaikum." Pamit gadis itu seiring tubuhnya masuk kedalam taksi, dia tidak menyangka jika laki-laki yang tadi begitu ketusnya sekarang sedang membukakan pintu untuknya. Kenapa tidak dari dulu Umar bersikap baik dengannya, apa memang karena dia tidak mau membuat Adirah menaruh harapan lebih seperti gadis-gadis lainnya yang sudah jatuh hati pada laki-laki itu. "Waalaikumussalam." Jawab Umar setelah kepergian gadis itu bersama taksi yang tadi dia carikan. Pandangannya masih lurus kedepan, tepatnya taksi yang sudah menghilang secepat kilat, mungkin gadis yang ada didalamnya sedang menyuruh supir taksinya untuk ngebut. "Nggak bener." Ucap laki-laki itu sembari mengambil ponselnya didalam saku, mencoba menghubungi temannya agar membantunya mengurus motor Adirah. *** "Kami datang memiliki tujuan yaitu meminta Nak Alesha untuk Rayyan, anak kami. Jikalau memang diterima, kami sangat bersyukur, namun jika tidak, semoga hubungan kita tetap terjalin tanpa mengaitkan berita tidak baik itu."Ucapan Irsyad membuat siapapun yang ada disitu ikut merasa tegang, begitu juga Rumi yang tanpa sadar kalimat dari Irsyad mengingatkannya pada ayah mertuanya, tepatnya Ibrahim meminta dirinya untuk menjadi istri dari Ilham. Sampai sekarang perempuan itu tidak bisa melupakan takdir indah dari-Nya, ketika dirinya sudah berputus asa dan memilih untuk mengubur dalam-dalam rasanya, kenyataan kembali mengurungkan niatnya dan membawanya pada keindahan takdir yang sekarang dia rasakan. "Sesuai apa yang dikatakan oleh Alesha, saya mewakilinya, menerima Nak Rayyan untuk bisa menjadi imamnya." Jawaban Ilham yang singkat namun menjawab dari pertanyaan yang diajukan, membuat rombongan keluarga besar Irsyad melukis lengkungan indah dibibir mereka, kemudian mengucapkan Hamdalah dengan serempak. Jawaban yang sangat mereka tunggu, ternyata Ilham mengetahuinya dengan menjawab secara langsung tanpa berbelit-belit. Sedangkan Rayyan yang melihat semuanya begitu gembira, masih mengalami ketegangan berlebih, sampai-sampai masih bersikap datar dan tidak tau apa yang harus dia lakukan. "Kalau begitu, kita tentukan tanggal berapa mereka melakukan akad nikahnya ya." Sahut Irsyad dengan antusiasnya. Dan siapapun yang memiliki ide tanggal yang cocok, mereka boleh mengajukannya dan akan dipertimbangkan. "Rayyan.." Bisik seseorang ditelinganya, yang menyadarkan lamunannya. "Ibu tau kamu tegang, permisilah untuk kekamar mandi atau kedapur untuk minum." Tambah seseorang itu yang ternyata Afifah, Ibunya. Rayyan mengangguk dan menelan ludahnya kemudian berkata, "Iya Bu," Dia berdehem. "Maaf, saya permisi ke kamar kecil dulu." "Oh iya, silahkan Nak." Sahut Maila, sebagai orang tua, dia cukup mengerti apa yang dirasakan oleh Rayyan. Kedua menantunya dulu juga seperti itu. Rayyan segera melangkahkan kakinya menjauh dari tempat yang membuatnya panas dingin, dia kira hal ini tidak terlalu menegangkan sampai tidak mengharuskannya untuk berlatih pernafasan, tapi akhirnya acara yang begitu singkat itu berhasil hampir merenggut semua oksigen disekitarnya, dan jawaban dari calon mertuanya lah yang sedikit membuatnya bisa bernafas lega. Langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja matanya menemukan hal mencurigakan, tepatnya pada balik tembok penyekat antara ruang keluarga tempatnya berdiri sekarang, dengan dapur. Penampakan kain berwarna jingga itu bergoyang-goyang dari balik tembok. Secara perlahan dia melangkahkan kakinya mendekat kearah dapur. Ketika tubuhnya sudah bisa menjangkau tembok sebagai penyekat itu, membuatnya bisa melihat jelas dari penampakan yang dia lihat dari kejauhan tadi. "Pare!" Dengan sengaja Rayyan mengagetkan gadis yang sejak tadi berdiri didepan tembok itu tanpa melakukan apapun. Dan karena rasa kagetnya, Alesha masih sempat mengambil botol bekas air mineral yang ada diatas kulkas dan memukul dengan keras kearah suara yang mengagetkannya tadi. "Ish, rasain lo setan. Mati mati dah lo pake buat gue jantungan." Oceh Alesha. "Stop hei, ini gue Rayyan." Ucap Rayyan yang membuat Alesha berhenti memukulinya dan mendelik memastikan kalau yang ada didepannya benar-benar Rayyan. "Gila lo, lo mau matiin gue." Gerutu Rayyan. Meskipun hanya dengan bekas botol air mineral tidak akan membuatnya mati. "Eh, maaf maaf... Lo sih ngagetin gue." Ucap Alesha sembari menetralkan sikapnya. "Lo juga ngapain disini?" Tanya Rayyan yang langsung mengskakmat gadis itu. "Gue, gue didapur, lo juga pasti tau orang kedapur ngapain." Jawab Alesha dnegan terbata-batanya. "Apa? Masak? Cuci piring? Cari minum? Atau mandi?" Tebakan Rayyan, kecuali yang terakhir, yang begitu tidak masuk akal. "Yaa, gue..." Ucapan gadis itu terpotong. "Sedangkan lo nggak sedang megang apa-apa, dan melakukan apapun selain berdiri didepan tembok." Ucap Rayyan.  Kemudian dia menyipitkan matanya, dan menarik alisnya sebelah, juga tersenyum miring. Coba bagaimana bentuk wajahnya? Yang pasti, dalam hatinya dia sedang menyeringai kejam, untuk segera mengerjai Alesha. "Atau jangan-jangan lo sedang, nguping ya?" Tambah Rayyan yang berhasil membuat Alesha kelabakan. Jujur dalam hatinya, Alesha memang melakukan itu, rasa penasarannya atas acara yang sudah berlangsung membuatnya nekat ijin dari teman-temannya yang ada dikamar untuk ke dapur. "Ngawur. Gue, gue nggak nguping. Gue lagi, ngisi air minum dibotol ini." Ucapnya sembari mengangkat botol bekas air mineral tadi, dia bersyukur ada alasab atas tuduhan laki-laki didepannya. "Itu udah bekas, dan harus dibuang." Jawab Rayyan. Alesha semakin kelabakan. Sampai akhirnya Azalea, Asilah dan Adirah (yang tadi datang terlambat) menghampiri mereka. "Ada apa ini, kok rame-rame." Tanya Asilah. "Loh Ray, lo kok ada disini sama Alesha sih?" Ucap Adirah juga. "Jangan salahin gue. Gue cuman mau kekamar mandi, tapi karna gue liat ada yang mencurigakan didapur, gue liat. Dan ternyata Alesha ada disini." Jelas Rayyan. "Oh gitu, lo juga Sha. Udah cuci tangannya? Lama banget nggak balik-balik?" Tanya Azalea. Yang membuat Rayyan seketika mendelik kearahnya, mempertanyakan jawaban yang paling benar mana. Sedangkan Alesha menggerutu dalam hatinya, kenapa dia ada di momen yang awkward abis. Kenapa tadi saat ditanya Rayyan tidak beralasan juga sedang cuci tangan seperti yang diutarakannya pada sahabat-sahabatnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD