"Sudah tuan. Nyonya Nana Abraham sudah datang kemari dan membayar biaya rumah sakit. Setelah itu Nyonya Abraham langsung pergi meninggalkan rumah sakit ini." Bian menghela nafasnya kasar. Ia yakin jika wanita itu telah mengetahui mengenai Lily maupun Billy.
"Lalu, bagaimana keadaan korban lainnya yang bersama saya, sus?" Tanya Bian lagi, karena penasaran.
"Mohon maaf Pak, anak bapak mengalami beberapa patah tulang di kakinya, hingga menyebabkan kelumpuhan. Sedangkan istri bapak tidak dapat kami selamatkan, beliau sudah meninggal satu jam yang lalu."
Bagai disambar petir di siang bolong. Bian bungkam seribu bahasa, seolah pikiran dan hatinya kosong seketika, saat mendengar kabar buruk tersebut. Lily telah tiada, dan kini anaknya mengalami kelumpuhan. Apakah ini karma baginya, karena telah mengkhianati Nana, istri sahnya?!
*
Satu Minggu telah berlalu. Bian pun sudah diperbolehkan untuk pulang, karena keadaannya yang tidak terlalu buruk dan tubuhnya pulih dengan cepat. Sedangkan Billy, sosok anak kecil itu sudah berada dalam gendongan sang ayah. Kondisi anak kecil itu sudah membaik, hanya saja kedua kakinya mengalami kelumpuhan.
Hal pertama yang ia ingat adalah pulang. Ia yakin jika Nana mau berbaik hati menerima Billy sebagai putranya juga, karena wanita itu belum memiliki keturunan darinya. Meskipun ada rasa khawatir yang menyelimuti hati dan juga pikirannya. Takut jika sang istri akan murka. Murka? Tentu saja hal itu pasti terjadi. Akan tetapi, mengingat sifat Nana yang lembut, membuat Bian tak tahu diri. Hanya dikarenakan istrinya begitu mencintainya, hingga ia terlalu percaya diri.
"Ayah, kita akan ke mana?" Tanya sosok anak kecil berusia 4 tahun, yang ada dalam gendongan Bian. Sang ayah menoleh dan tersenyum lembut pada putranya.
"Kita akan pulang sayang. Kita akan ke rumah ibumu," jawab Bian sangat yakin, hingga membuat Billy mengerutkan dahinya tanda heran. Bukankah ayahnya bilang jika sang ibu sudah istirahat di tempat jauh? Lalu kenapa kini sang ayah ingin menemui ibunya? Begitu pikir Billy.
"Ayah, apakah kita mau menyusul ibu ke tempat jauh? Aku juga sudah merindukan ibu. Ayah, aku harap ibu baik-baik saja."
"Billy, ibu Mela sudah tenang di tempat jauh. Kali ini Billy akan bertemu ibu Billy yang paling cantik. Ibu Nana. Ibu orang yang sangat baik dan lembut, Billy mau kan ketemu ibu Nana?" Tanya Bian berharap anak itu mau menerima keadaannya saat ini. Billy memang anak yang baik dan patuh, tidak salah jika Bian sangat menyayangi anak itu.
Tak ingin membuang banyak waktu, akhirnya Bian segera berangkat menuju rumah sang istri. Ia sebenarnya merasa ragu, karena selama ia dirawat di rumah sakit, Nana Belum pernah menunjukkan batang hidungnya sekalipun.
Akan tetapi, Bian merasa heran karena setelah sampai di kediaman sang istri, ia tak melihat sisi kehidupan di dalamnya. Hanya ada bik Surti yang tengah membersihkan isi rumah.
"Eh, tuan! Maaf bibi tidak melihat kedatangan Tuan." Wanita paruh baya itu terburu-buru menghampiri Bian, dengan menampilkan raut wajah tak enak hati. Sedetik kemudian bik Surti menatap heran ke arah sosok anak kecil yang ada di gendongan sang tuan rumah.
"Tidak apa-apa bi. Apa bibi melihat Nana? Kenapa keadaan rumah sangat sepi?" Tanya Bian berturut-turut, karena biasanya wanita itu selalu menyambut kedatangannya, dengan senyuman yang mengembang indah. Terlihat ada raut kecemasan di wajah bik Surti, tatkala nama Nana tersemat dalam pertanyaan Bian.
"Anu tuan ... Bu Nana pulang ke rumah orang tuanya satu minggu yang lalu dan belum kembali sampai saat ini." Mendengar jawaban dari bik Surti, Bian langsung mengernyitkan dahinya tanda heran.
"Pulang? Memangnya ada urusan apa bik? Apa selama ini Nana tidak tahu mengenai keadaan saya?" Bik Sumi hanya terdiam, seraya menundukkan kepalanya tanda tak berani menjawab. Bian menghela nafasnya panjang tanda mengerti.
"Bik, tolong jagakan Billy sebentar. Saya akan menjemput Nana. Kemungkinan nanti malam saya akan pulang. Oh ya, namanya Billy, putra kandung saya," tutur Bian sambil menyerahkan pada bik Surti. Meskipun wanita paruh baya itu terkejut, tapi ia tetap mengambil alih Billy dari gendongan tuannya.
***
Bian mengemudi dengan kecepatan tinggi, karena tidak ingin hal buruk terjadi pada rumah tangganya. Akan tetapi, apapun keadaannya, ia tidak akan pernah melepaskan Nana, istrinya tercinta.
Kurang dari tiga puluh menit, Bian telah sampai di kediaman keluarga Abraham. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju ruang mewah nan megah milik sang mertua, sekaligus mantan atasannya.
Beberapa kali ia menekan bel yang ada di sana, tapi tak kunjung ada yang datang. Bian semakin gusar karena sudah hampir lima menit ia berdiri, tetapi tetap saja tidak ada yang membukakan pintu.
Sedangkan di dalam sana, seorang wanita tengah bergegas untuk membukakan pintu, karena sejak tadi tidak ada yang menyambut kedatangan sang tamu.
Betapa terkejutnya Nana, saat mendapati sang suami sudah ada di hadapannya. Nana hanya diam mematung tatkala Bian memeluknya dengan erat sambil menangis.
"Sayang ... Maafkan aku," ucapnya lirih tanpa melepaskan dekapan erat dari tubuh sang istri.
"Lepaskan aku mas!" Bentak Nana seraya mendorong tubuh Bian, lalu mendaratkan tamparan keras di rahang tegas milik suaminya.
"Aku tahu, aku salah. Aku mohon maafkan aku. Sekarang ayo kita pulang dan bicarakan ini baik-baik. Aku mohon padamu." Bian memohon agar sang istri mau mendengarkannya. Meskipun saat ini ia merasa terkejut karena Nana berani menampar bahkan membentak, karena selama ini, wanita itu selalu bersikap ramah dan anggun.
"Sepertinya tidak ada perlu dibicarakan baik-baik lagi mas. Aku sudah terlanjur kecewa, karena selama pernikahan kita, kamu telah mengkhianati aku, mas! Kamu sudah mengkhianati kepercayaan ku! Aku sudah terlanjur sakit mas. Keputusan ku sudah bulat, aku ingin kita bercerai!" Nana bergetar karena tangisnya yang sudah pecah. Ia tidak tahan menerima luka yang ditorehkan oleh pria yang sangat ia cintai. Bahkan saat melihat wajah Bian pun, hati Nana semakin merasakan sakit.
Sedangkan Bian, pria itu menggelengkan kepalanya dengan cepat, tanda ia tidak setuju dengan apa yang Nana ucapkan. Bagaimana bisa ia menceraikan wanita yang ia cintai. Pada kenyataannya, Nana adalah istri yang sangat berharga baginya.
"Tidak Na, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Sebaiknya ayo kita pulang dan bicarakan dulu baik-baik. Aku tidak ingin bercerai dengan mu. Aku mencintaimu, sayang." Bian berusaha meraih tangan sang istri, tapi wanita itu selalu menepisnya dengan cepat.
"Ada apa ini?!" Terdengar suara bariton dari arah dalam, yang tak lain adalah tuan Abraham. Pria paruh baya yang terlihat bengis itu keluar dengan suasana hati yang tidak baik.