"Selamat malam ayah. Maaf aku ke sini membuat keributan. Aku hanya ingin membawa Nana untuk pulang," ucap Bian bersikap sebaik mungkin seraya mengulurkan tangannya untuk menyapa ayah mertuanya.
"Berani sekali kau menemui putri ku, setelah apa yang kau lakukan selama ini! Dasar pria yang tidak tahu diuntung!" Tuan Abraham bukan hanya membentak, melainkan menepis bahkan sudah melayang bogeman mentah pada sang menantu.
Bian meringis kesakitan di bawah sana, sambil berusaha berdiri kembali. Pukulan mertuanya tidak main-main, hingga membuat ia tersungkur. Sehingga sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar.
"Ayah, aku bisa menjelaskan semuanya. Nana, berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semua ini. Aku mohon," pinta Bian memelas, berharap istrinya mau mendengarkan apa yang ia minta. Namun sayang, wanita itu justru membuang wajahnya ke arah lain, seolah tak sudi menatap wajah sang suami.
"Kenapa kau masih tidak tahu malu, dan berani datang ke sini! Bian, aku sangat kecewa padamu. Kau bukan hanya menghancurkan kepercayaan putri ku, melainkan kepercayaan ku juga untuk mu! Sebaiknya kau cepat pergi dari sini, dan tunggu surat dari pengadilan gugatan cerai dari putri ku!" Hardik tuan Abraham penuh amarah. Selama ini sudah sangat percaya pada Bian, menantu yang dipilih oleh putrinya. Berharap pria itu benar-benar bisa menjaga dan membahagiakan Nana. Namun, semuanya telah sirna, setelah mengetahui kebenaran, jika sang menantu telah menikahi wanita lain secara siri, bahkan sampai memiliki anak.
"Pah, ada apa ini?" Tanya nyonya Oliver setelah menghampiri keributan di depan rumahnya. Wanita paruh baya yang masih cantik diusianya yang tak muda lagi itu mengernyitkan dahinya, saat melihat Bian sudah babak belur di tangan sang suami, Arsenio Abraham. Panggil saja tuan Abraham.
"Aku hanya tidak ingin melihat pria tidak tahu diri ini menemui putri kita Mah. Aku tidak sesabar itu, untuk menghadapi orang yang sudah berani menyakiti putri kita."
"Sudah pah, sudah. Apa sebaiknya kita dengarkan dulu penjelasan Bian. Bian, bukankah kau ingin menjelaskan sesuatu pada kami?" Bian mengangguk dengan cepat dengan tatapan berbinar.
***
Kini mereka sudah ada di ruang tamu, seperti sedang mengintrogasi seorang tersangka. Nana hanya diam saat melihat kejadian demi kejadian sejak tadi. Hatinya masih merasa sakit, bahkan ia sudah tidak peduli lagi pada sosok pria yang sangat ia cintai itu.
"Cepat katakan, apa yang ingin kau jelaskan sejak tadi!" Titah tuan Abraham sambil menampilkan raut wajah bengisnya.
Suasana mulai hening saat Bian hendak menjelaskan apa yang telah terjadi di masa lalu. Tak dapat ia pungkiri atas segala sesuatu yang telah terjadi, karena sebaik apapun ia menutupi, semuanya akan terbongkar dengan sendirinya. Bian sesekali menatap wajah Nana yang masih enggan untuk membuka suaranya. Wanita itu hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Bian tidak menyalahkan sikap istrinya yang sangat kecewa terhadap dirinya. Bahkan, ia dapat melihat dan merasakan luka serta kekecewaan yang dialami oleh Nana.
"Kejadiannya terjadi setelah dua bulan pernikahan kami ...."
Flashback on ...
Hujan deras menyelimuti jalanan yang sepi, mengguyur mobil seorang pria yang ditemani oleh karyawan magang bernama Mela. Ya, Bian mengajak Mela untuk menemui kliennya di suatu bar untuk menandatangani kontrak pekerjaan.
Namun entah kenapa, mobil yang dikendarai oleh mereka mogok seketika di sebuah jalanan sepi yang dipenuhi pepohonan yang rindang. Suasana gelap dan dingin, membuat mereka berdua menjadi gugup, karena rasa canggung diantara keduanya.
"Kenapa kepala ku pusing," ringis Bian saat tubuhnya mulai merasa aneh. Ia merasa suhu tubuhnya kian memanas dan pikiran liar mulai menyerang. Apalagi saat melihat pakaian Mela yang begitu seksi tepat di sampingnya.
"Pak, apa anda baik-baik saja?" Tanya Mela sambil menyentuh pundak Bian. Merasa ada sentuhan dari Mela, Bian langsung menarik tengkuk milik wanita itu dan menindihnya dengan cepat.
"Pak, apa yang anda lakukan?!" Mela berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Bian yang sangat agresif menyentuh setiap lekuk tubuhnya, hingga tanpa bisa ia cegah, mahkotanya telah direnggut paksa oleh Bian.
Sentuhan demi sentuhan yang Bian berikan tak mampu membuat Mela bertahan. Naif sekali rasanya jika ia menolak sentuhan Bian yang begitu memabukkan. Siapa yang rugi, jika disentuh oleh pria tampan dan mapan. Bahkan Mela tak memikirkan status Bian yang sudah beristri. Justru wanita itu jauh lebih agresif dan semakin lincah ikut menggerakkan pinggulnya.
"Pak, saya ingin lebih. Keluarkan saja di dalam," bisik Mela tepat di telinga Bian, sambil menciumi dan mencumbu leher pria yang tengah memompa tubuhnya dengan gagah. Bahkan mobil yang mereka tumpangi pun kian ikut bergoyang seiring hentakan pinggul Bian.
"Apapun yang kau minta, sayang. Jangan Salahkan aku, jika besok kau tidak bisa berjalan." Bian membalas bisikan Mela sambil meremas dua bukit Himalaya milik wanita tersebut, bahkan ia seperti Bayi yang sedang kehausan saat menikmatinya. Mela mengerang nikmat saat Bian memainkan puncak gunung himalaya miliknya yang berwarna cokelat. Sungguh, permainan liar Bian begitu membuat dirinya mabuk kepayang.
Mela yang semakin panas, kini menukar posisi. Kini wanita itu yang mengambil alih setiap gerakan. Mela tersenyum puas, saat Bian mengerang nikmat di bawahnya. Pria itu tak henti-hentinya memuji pelayanannya yang begitu memuaskan, hingga satu jam lamanya, permainan mereka berakhir dan Bian langsung menyemprotkan lahar panas miliknya di rahim wanita itu.
"Nana, terima kasih." Setelah itu, Bian tak sadarkan diri dan langsung tertidur.
***
Satu bulan kemudian dalam kejadian itu...
"Pak, saya hamil. Saya ingin bapak bertanggung jawab atas apa yang telah bapak lakukan pada saya." Bagai disambar petir, Bian mematung tatkala mendengar penuturan dari Mela. Wajahnya memucat dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Apa kamu gila? Saya sudah memiliki istri, dan bagaimana mungkin saya menikahi kamu." Bian menentang permintaan Mela, karena ia tidak bisa mengkhianati Nana, istrinya tercinta.
"Kita bisa nikah siri pak. Saya mau jadi istri kedua bapak. Atau mungkin bapak ingin saya melaporkan kejadian ini pada keluarga Abraham." Lagi dan lagi, Bian dibuat tak berkutik dengan ancaman yang dilontarkan oleh wanita yang ada di hadapannya. Sehingga mau tidak mau, ia harus menerima tawaran pertama, yaitu menikahi Mela secara siri.
"Saya akan menikahi kamu secara siri, tapi ini hanya hitam di atas putih. Setelah anak itu lahir, saya akan menceraikan kamu."
Namun, semuanya berubah saat Bian mulai mencintai Mela. Apalagi saat tahu wanita itu melahirkan anak laki-laki yang sangat lucu, yang ia beri nama Billy. Sehingga Lima tahun pernikahannya secara siri dengan Mela, ia ingin menemui Nana agar menerima Mela sebagai adik madunya.
Bahkan ia berharap Nana juga bisa menerima Billy sebagai anaknya, karena ia tahu, Nana sangat menginginkan anak darinya. Akan tetapi, entah mengapa wanita itu belum kunjung hamil, hingga ia berpikir Nana akan menerima Mela maupun Billy.
Untuk meminta maaf sekaligus izin dari Nana, Bian sengaja membawa Mela bersama Billy malam itu. Malam kejadian kecelakaan yang menimpa keluarga kecilnya. Dan kini, ia harus menerima akibat, atas segala perbuatannya.
Flashback off ...