Avalon
Brakkk
(Suara yang keras pertikaian dan tangisan menjadi satu.)
"Leaa!! Lea!! dengar! ikut ya ikut ibu!"
"Hentikan sudah kubilang dari awal! Sudah kuperingatkan padamu. Jangan pernah sentuh Lea!"
"Jangan bawa-bawa Lea!"
"Dia putriku apapun yang terjadi! Dengar yaa!"
Seseorang berlari dan memegang tanggannya dengan cengkraman yang kuat dan amat menyakitkan.
Bersimpuh dan menangis.
"Sudah kubilang jangan sentuh Lea!"
Kemudian orang itu ditariknya keras. Sampai dia bisa merasakan kuku tajam menggores kulitnya.
Melihat nya dengan penuh tangis. Perlahan menjauh dan menghilang dari pandangan.
Flasback berakhir.
"Lea? Leaa?" panggil seseorang.
Gadis itu tersentak dan melihat kedepan seorang lelaki menatapnya dengan kepala miring.
"Oh ayah. Maaf." lalu dia mulai kembali menggerakkan sendoknya untuk makan.
"Apa tidurmu nyenyak? Ayah tadi menanyakan itu sayang." ucapnya sambil melahap sarapan.
"Yah tidak buruk. Hehe." balas gadis itu.
"Ohh jangan bilang kau terlalu bersemangat karena mau sekolah ya Lea."
Nada senang diutarakan oleh sang ayah, tetapi dirinya tersentak dan tersenyum kecut.
"Ah ayah.... Ya aku senang sih hehe.."
Kemudian tanpa berlama lama acara sarapan pagi itu berlalu.
Dan kini mereka pergi untuk bersiap.
Saat diperjalanan,
"Semangat ya anak ayah. Pasti akan menyenangkan bertemu teman baru. Benar kan." ucap ayahnya sembari menatap kedepan mengendarai mobilnya.
"Iya semoga saja. Tapi ayah, aku sudah bilang tidak usah diantar."
"Hei tentu saja ayah harus mengantarmu." tersenyum.
Mobil pun terus melaju melewati jalan yang asing baginya.
Tak lupa wajahnya ia palingkan pada kaca yang setengah terbuka sambil menikmati hilir angin pagi.
Leanida Avalon nama gadis murung itu. Tadinya dia periang juga banyak teman.
Sebuah tragedi menerpa hidup keluarga kecilnya yang manis. Ayah dan ibunya bercerai secara tiba-tiba. Ayahnya membawanya jauh ke kota asing supaya Lea melupakan kejadian pahit itu. Namun tentu saja dia tak akan pernah bisa menghapus wajah belahan jiwa yang selalu ada bersama hidupnya. Sejak saat itu dia pun tak pernah mendapat kabar dari ibunya.
Hanya perubahan drastis dari senyum menawan ibunya menjadi wajah gila penuh air mata. Hatinya terus merasa sakit mengingat kejadian itu. Kata-kata keras dan ujaran masih terngiang di telinganya. Membuat dia bertanya keras, apakah selama ini semuanya memakai topeng? Kenapa dia ditipu seperti ini. Kenapa dia tiba-tiba dijatuhkan dengan keras sampai jiwa raganya hancur. Apakah dirinya tidak pantas mendengar lebih banyak, lebih jauh, agar kekecewaan nya teratasi. Apakah selama ini dia hanya orang lain yang tidak pantas tau apa-apa.
Ncitt..!
Tiba-tida mobilnya berhenti membuyarkan lamunannya. Di depan sebuah gedung dengan banyak anak sebaya berlalu lalang. Ya dia sampai di sekolah barunya.
"Lea bagaimana?" tanya ayah.
Tersenyum,
"Sempurna ayah. Kalau begitu aku pergi."
Memegang tangann putrinya dengan sigap.
"Hei tunggu dulu." mengecup singkat dahi Lea. "Semangat yaa." tersenyum.
"Iyaaa.. Dah.!" ucapnya sambil pergi keluar dan menutup pintu mobil.
Dan kini Lea memantapkan kakinya menuju gedung yang tampak asing baginya itu.
Menyusuri koridor yang penuh dengan anak-anak sebaya dengan dirinya.
Ruang Kepala Sekolah.
Nah dia menemukan tempat nya. Itu mudah karena ruangan paling dan tak terlalu jauh dari pintu masuk.
Di depan ruang itu dia berhenti sejenak.
Mengambil nafas panjang.
"Oke ayo lakukan saja." gumamnya dengan wajah malas.
Dan akan dimulailah kehidupan sekolah baru Lea.
Cuplikan selanjutnya.
"Halo gadis aneh.. Kamu gak bisa bicara yaaaa.. Hahahaa" gelak tawa.
Beranjak dan pergi.
"Hei!! Budek ya!" teriak gadis-gadis itu.
Menoleh dengan malas.
"Maaf aku nggak bisa bahasa binatang."
Duak! Brakk
"Dasar payah."
"Makan makananmu."
Prakkkk
"Ahhh!!"