Dyra turun dari boncengan dan terdiam. Ia merasa sedikit canggung. Selama ini, meski mereka satu kelas. Dyra jarang mengobrol dengan Tama. Mereka hanya akan mengobrol jika berkumpul dalam satu kelompok. Selain itu, Dyra juga tidak pernah pergi berdua dengan laki-laki lain, kecuali Papanya dan Dero.
"Lo mau ngapain ke mall?" tanya Dyra. Ia harus mencari cela agar bisa terpisah dari Tama. Daripada ia harus merasa ke
canggung.
Tama yang baru melepas helmnya kini menatap ke arah spion dan sibuk menata rambut. Lebih tepatnya menata jawaban untuk disampaikan ke Dyra.
"Ada yang mau gue beli. Ayo," ajak Tama yang bangkit dari motornya.
"Tujuan kita kan beda. Jadi, kenapa enggak pisah di sini aja?" tanya Dyra dengan hati-hati. Tama justru menatapnya sebentar.
"Lo kan sendirian, gue juga. Mending bareng-bareng. Gue nemenin lo."
Dyra menggigit bagian bawah bibirnya.
"Tapi gue mau makan dulu." Dyra merutuki ucapannya yang belum sempat ia saring. Seharusnya ia memilih alasan yang lebih logis untuk mengusir Tama secara halus. Namun nyatanya, Dyra tidak menemukan alasan yang tepat.
"Nah. Lo makan aja dulu, gue temenin. Gue mau makan juga."
"Gue nggak enak ngerepotin lo."
"Nggak enak apanya, Dyra? Udah, ayok. Santai aja. Kita kan temen."
Kita kan temen.
Ah iya, Dyra berusaha meyakinkan hatinya jika ia baik-baik saja. Toh ia hanya akan membeli boneka dan beberapa pakaian bayi. Dan setelah itu ia cukup pulang dengan naik taksi.
"Ayo." Tama menyadarakan Dyra dari lamunannya. Dyra pun melangkah mengikuti Tama.
------
"Gue ke toilet dulu, ya." Rudra mengangguk. Dea bangkit dari duduknya. Kini Rudra hanya duduk sendirian. Ia membuka ponselnya, sebuah pesan dari Tama.
Tama :
Posisi dimana?
Rudra mengernyitkan keningnya. Tumben Tama menanyakan hal seperti itu di jam seperti ini.
Rudra membulatkan matanya ketika Tama menelponnya. Keanehan ini membuatnya penasaran. Pasalnya Tama tidak akan pernah menelpon jika bukan dalam keadaan genting.
Agar cepat, Rudra memutuskan menelpon Tama.
"Halo."
Dimana?"
"Kenapa?"
"Gue nanya lo dimana?"
"Di Bougette Cafe. Ngapa?"
"Gue lagi jalan sama Dyra di mall."
Rudra membulatkan matanya. Bagaimana bisa Tama pergi bersama Dyra.
"Ngapain lapor ke gue?"
"Dyr, udah belum?"
"Bentar lagi, Tam. Sabar, ya"
"Telponan sama siapa, Dra?" Rudra menoleh dengan terkejut ke arah Dea.
"Kok udah balik?" tanya Rudra pada Dea.
"Iya." Dea duduk di kursinya dengan tenang. Rudra mematikan sambungan.
"Enggak. Ini tadi Johan misscall."
"Oh. Yuk makan."
Rudra mengangguk kaku.
-----
"Maaf ya, jadi nunggu lama." Dyra menatap Tama dengan raut wajah merasa bersalah.
"Enggak, santai aja. Yuk, cari makan."
"Terus elo? Kita beli yang lo cari aja dulu."
"Gue nggak jadi beli."
"Loh, kok gitu?"
"Iya. Setelah di cek, uangnya kurang."
"Emang lo mau beli apa?" Tanya Dyra.
"Hp baru."
Dyra mengangguk.
"Ya udah, ayo cari makan."
Setelah dari pakir tadi, Dyra memutuskan untuk membeli terlebih dahulu keperluannya. Ia bersyukur karena Tama mau mengantar tanpa protes, ia menunggu Dyra dengan sabar. Tidak seperti Dero yang akan mengacaukan acara belanja Dyra ketika Dyra menghabiskan waktu cukup lama.
"Lo beli baju bayi buat siapa, Dyr?" tanya Tama.
"Keponakan gue."
Tama menganggukkan kepalanya. Ia tidak lagi bertanya hingga mereka tiba di sebuah kafe. Dyra juga tidak membuka bicara karena memang tidak tahu apa yang harus ia bicarakan. Tama menatap sekeliling. Ia mencari keberadaan Rudra. Tampaknya akan lebih menyenangkan jika makan bersama Rudra kali ini. Dyra hanya mengikuti langkah Tama. Ia mengabaikan keadaan sekeliling karena ia merasa lapar.
"Hey, Dra." Dyra membulatkan matanya saat sadar Tama berhenti di dekat meja dimana ada Rudra di sana. Dyra tidak menyadari kehadiran pria itu dan juga kehadiran Dea karena sebelumnya mereka hanya menampakkan punggung.
"Dyra? Lo bareng Tama?" Dea terlihat bingung.
"Gue gabung di sini, ya." Tama segera duduk di sebelah Rudra. Ia meletakkan belanjaan Dyra yang dibawanya. Sedangkan Dyra masih berdiri terpaku di tempat.
"Dyr, sini." Dea menepuk kursi di sebelahnya. Meminta Dyra untuk duduk di sana. Dyra mengangguk kaku.
"Darimana? Kok bisa sama Tama?" tanya Dea.
"Tadi dia nebeng gue." justru Tama yang menjawab.
"Gue pesen dulu." Tama bangkit dari duduknya berniat memesan makanan. Sistem di Bougette Cafe adalah pelanggan memesan ke bagian resepsionis. Sehingga Tama harus melangkah menuju resepsionis.
"Lo pesen apa, Dyr?"
"Samain sama lo aja."
"Kok tumben lo nebeng Tama, biasanya lo bawa motor. Atau enggak lo naik taksi." tanya Dea selepas kepergian Tama. Dyra menggigit bagian bawah bibirnya. Ia bingung harus menjawab apa.
"Irit ongkos." Akhirnya alasan yang menurut Dyra paling aman, terlontar dari mulutnya.
"Oh gitu."
Dyra melirik Rudra di hadapannya. Pria itu tampak santai dan fokus memainkan ponselnya. Seolah tidak tertarik sama sekali mendengar obrolan Dyra dan Dea. Tiba-tiba ponsel Dyra berbunyi. Ah, Dyra lupa mengaktifkan mode diam. Dyra mengeluarkan ponsel dari sakunya. Menatap layar ponsel dengan terkejut. Dero menelponnya. Dea menatap Dyra dengan bingung ketika raut wajah gadis itu terlihat tegang. Ia kini mengalihkan pandangan ke ponsel Dyra dimana terpampang jelas nama Dero di sana. Dea semakin bingung ketika melihat Dyra menolak panggilan tersebut.
"Dero. Kenapa nggak diangkat?"
Rudra mendongakkan kepalanya. Kini ia menatap Dyra yang tengah terlihat salah tingkah karena ucapan Dea.
"Enggak." Dyra segera menonaktifkan ponselnya. Iya lantas memasukkannya kembali ke dalam sakunya kembali.
"Dyr, jawab jujur. Sebenernya hubungan lo sama Dero itu apa, sih?"
Dyra merasa sangat terintimidasi. Ia menatap ke arah Rudra. Pria itu masih sibuk berkutit dengan ponselnya. Sedangkan Dea, gadis itu tengah menanti jawaban Dyra dengan penasaran.
"Gue cuma temenan."
"Temenan tapi kok kayaknya, sikap Dero ke lo lebih dari sekedar temen."
"Iya, kita temen deket."
"Oke. Gue terima jawaban lo, tapi besok-besok, kalo lo udah jadian sama Dero lo harus lapor sama gue."
"Sebentar lagi pesanan datang." Tama kembali dan segera duduk di sebelah Rudra. Membuat Dyra menghela napas lega. Setidaknya tidak perlu lagi membahas hubungannya dengan Dero.
"Btw. Lo tadi beli apa aja, Dyr?" tanya Dea.
"Si Dyra beli boneka bayi, nih." Tama menunjukkan boneka yang Dyra beli.
"Nggak usah di keluarin juga kali, Tam." Dea sempat protes. Namun ia tetap memperhatikan boneka tersebut. Begitu pula dengan Rudra.
-----
Setelah keluar dari kafe. Dyra memutuskan berpisah dari rombongan. Ia harus segera pergi ke rumah sakit jiwa. Setelah melakukan perdebatan dengan Tama, akhirnya laki-laki itu menyerah dan mengikuti kemauan Dyra.
"Tam. Lo bisa anterin Dea pulang, kan?" tanya Rudra.
"Emang lo mau kemana, Dra?" tanya Dea.
"Mau jenguk Mama."
"Ya udah kalo gitu gue ikut."
"Jangan." Rudra mencegah. Hari ini sudah sore dan dia tidak ingin mengajak Dea pulang malam. Karena rencananya ia akan menjenguk Mamanya dalam waktu yang cukup lama.
"Udah sore. Nanti Bunda lo marah. Lagian, lo juga masih pake seragam. Nggak enak diliat kita pulang sore masih pakaian seragam lengkap."
Dea menghela napas.
"Ya udah, deh. Lo hati-hati ya."
Mereka memutuskan berpisah di parkiran. Rudra segera menuju motornya. Dan ia tersenyum sinis ketika melihat Dyra masuk ke dalam taksi.