Part 30

1126 Words
    "Kalian ngapain?"     Dyra membuka mata dan yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Tama dalam jarak yang sangat dekat. Matanya membulat ketika menyadari dirinya tengah dalam dekapan Tama. Serta tatapan Tama yang sangat lekat padanya. Ia lantas mengalihkan pandangan kepada Rudra yang berada di dekat pintu. Raut wajah Rudra juga kelihatan terkejut. Ia terkejut ketika memasuki ruang kelas XII IPA 3, ia justru melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat.     "Eh. Sorry." Dyra menarik tubuhnya untuk menjauh dari Tama. Tama juga terlihat sama terkejutnya dengan Dyra. Tidak menyangka hal itu akan terjadi. Dyra hampir jatuh dan mau tidak mau, Tama harus menahan tubuh Dyra agar tidak membentur tembok. Alhasil, posisi mereka menjadi sangat dekat dan mereka berpelukan. Kini ia merasakan pipinya merona seperti udang rebus. Ia benar-benar merasa malu.     "Maaf, gue nggak bermaksud. Gue cuma nolong lo biar nggak bentur tembok." Tama berusaha mengutarakan yang sebenernya terjadi kepada Dyra. Ia tidak ingin Dyra salah paham dan marah kepadanya.     "Iya, nggak papa. Itu kecelakaan. Gue paham kok kalo lo cuma niat ngebantu." Dyra berusaha tersenyum. Biar bagaimana pun ia tidak bisa menyalahkan Tama karena hal ini murni kecelakaan.     "Ya udah. Biar gue yang ambil hpnya di atas. Maaf ya, Dyr." Tama meminta maaf sekali lagi. Dyra tersenyum canggung. Ia masih merasa sedikit salah tingkah akibat kejadian tadi. Tama tengah mengambil ponselnya di atas lemari sedangkan Dyra sedang menyadarkan dirinya bahwa apa yang tadi terjadi hanya kecelakaan belaka. Tama dan Dyra mengabaikan kehadiran Rudra di ambang pintu. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Rudra tadi, sehingga ia memutuskan untuk berdiam diri di tempat untuk mengawasi apa yang akan terjadi selanjutnya.     "Kalo gitu. Gue balik duluan ya, Tam."      "Iya. Makasih udah bantuin," ujar Tama yang masih berusaha mengambil ponselnya.     Dyra mengangguk kemudian tersenyum sekilas. Ia melangkah menuju pintu dan mendapati Rudra berdiri dengan raut wajah datar di sana. Dyra merasa terkejut. Itu artinya suara tadi benar-benar suara milik Rudra dan bukan imajinasinya.     "Gue tunggu di RSJ." Rudra angkat bicara ketika Dyra melintas begitu saja di sebelahnya. Dyra hanya mengangguk kemudian melangkah dengan terburu-buru ke arah parkiran. Rudra melangkah mendekati Tama yang baru turun dari menaiki kursi.     "Lo ngapain tadi?" tanya Rudra ketika Tama tengah mengembalikan kursi guru kembali ke tempatnya.     "Ngambil hp. Si Yuda nyumputin hp gue." Tama mengecek ponselnya yang hampir satu jam tidak ia sentuh. Tadi ia mencharging ponselnya di kelas.Tama hampir melupakan ponselnya jika saja Yuda tidak berkata jujur bahwa telah menyembunyikan ponsel milik Tama. Yuda akhirnya mengaku karena ia merasa percuma saja menjahili Tama.Baginya tingkah jahilnya tidak seru karena Tama tidak menyadari bahwa ponselnya tidak ada.     "Maksud gue, yang sama Dyra."     Tama menelan ludahnya dengan kasar. Ia jadi merasa salah tingkah sendiri dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Namun detik kemudian ia tersenyum senang.     "Pelukan sama Dyra," sahutnya dengan percaya diri.     "Pasti lo nyuri kesempatan dalam kesempitan." tuduh Rudra dengan menyipitkan matanya dan menatap Tama dengan pandangan curiga.     "Apaan sih, bukan nyuri kesempatan. Tapi ketiban berkah." Tama melangkah meninggalkan Rudra. Namun seketika langkahnya terhenti.      "Btw, ngapain lo kesini?" tanya Tama dengan membalikkan tubuhnya dan kini menatap Rudra.     "Gue ada perlu sama Dyra." Tama menganggukkan kepalanya.      "Yah seenggaknya lumayan. Lo dapet tontonan gratis." Tama tertawa. Ia lantas kembali melangkah.     "Mimpi apa gue semalem bisa pelukan sama Dyra. Lama, pula." gumam Tama dengan suara yang bisa ditangkap oleh indra pendengaran milik Rudra.                                                                                 -----     Dyra melepas helm yang ia kenakan. Setelah itu ia bangkit dari duduknya. Ia sedikit bersyukur saat tiba di rumah tadi, Dero belum pulang. Jadi ia tidak perlu berdebat hanya agar diizinkan pergi. Dyra menjinjing kantong plastik berisikan nasi goreng. Makanan yang sering Dyra bawakan untuk Bu Rahayu. Dyra membeli empat porsi. Dua untuk dirinya dan Rudra, serta dua lagi untuk Bu Rahayu. Selain itu dia juga membelikan dot juga bando, dan nanti ia akan memberikannya kepada Ayu.      melangkah sembari sedikit menunduk. Ia berusaha memeriksa barang yang berada di dalam kantong plastik yang dibawanya. Apakah benar nasi goreng serta dot dan bando. Dyra tersenyum ketika kantong plastik yang dijinjingnya benar berisi nasi goreng serta bando dan dot.     Dyra menghentikan langkahnya seketika saat melihat sepasang sepatu di depannya. Dengan cepat Dyra mendongak dan ia melihat Rudra yang masih lengkap dengan seragam sekolah.     "Rudra. Lo?"     "Enggak ganti baju?" tanya Dyra dengan memerhatikan penampilan Rudra dari atas hingga bawah. Sepatu serta kaos kaki, pakaian seragam dan tas di punggungnya. Rudra sepertinya langsung datang kemari.     "Lambat." Rudra menatap Dyra dengan tatapan malas.     "Apaan tu?" tanya Rudra ketika menyadari Dyra menjinjing dua buah kantong plastik.     "Buat Bu Rahayu."     Rudra mengangguk. Ia lantas membalikkan tubuhnya dan melangkah memasuki rumah sakit. Usaha pertamanya akan ia mulai.                                                                                          -----     "Bu. Makan dulu, ya." Dyra menyodorkan sebungkus nasi goreng kepada Bu Rahayu. Sedangkan sang pasien masih sibuk mendandani bonekanya dengan bando yang baru saja Dyra berikan.     "Bu. Ayo, makan."     Dyra masih berusaha membujuk. Beginilah yang terasa menyebalkan baginya. Terkadang Bu Rahayu akan dengan mudah menuruti ucapannya. Namun kadang Bu Rahayu juga tidak mau mendengarkan Dyra. Bahkan memukul Dyra jika Dyra terus saja memerintahnya.     "Ayo makan. Nanti Dyra belikan Ayu baju baru. Baju baru," ujar Dyra dengan pengulangan. Bu Rahayu terhenti sejenak dari aktivitasnya.     "Baju baru?" tanyanya dengan raut wajah polos. Dyra mengangguk dan tersenyum. Bu Rahayu mengangguk antusias dan memangku bonekanya. Ia bertepuk tangan dengan ria kemudian mencomot bungkus nasi goreng dari tangan Dyra. Dyra tersenyum puas melihat usahanya berhasil. Ia mengalihkan pandangan ke arah Rudra yang sedari tadi memperhatikan mamanya dari jauh.     "Dra, sini." Dyra memanggil Rudra dengan gerakan tangan. Rudra pun mendekat.     Rudra mendekat dengan tatapan penuh arti pada mamanya. Ia sangat merindukan mamanya.     "Bu. Ini Rudra," ujar Dyra memperkenalkan Rudra pada Bu Rahayu yang baru saja membuka bungkusan nasi gorengnya.     "Ma, ini Rudra." Rudra berlutut di depan mamanya yang nampak kebingungan karena kehadiran Rudra. Bu Rahayu memerhatikan sejenak pemuda yang berdiri di hadapannya.     "Hush. Hush!" Dyra seketika bangkit dari duduknya ketika tanpa di duga, Bu Rahayu mendorong Rudra dengan kuat hingga Rudra terpental. Bu Rahayu segera bangun dan menggendong boneka yang selama ini beliau anggap sebagai putrinya.     "Hush. Pergi." Bu Rahayu mendekap bonekanya dengan erat kemudian berlari meninggalkan Dyra serta Rudra.     "Dra, lo nggak papa?" tanya Dyra yang berusaha membantu Rudra bangun.     "Kenapa sih, mama gue malah lebih seneng deket sama lo daripada sama gue. Padahal gue kan anaknya." Rudra melampiaskan kekesalannya kepada Dyra.     "Sabar, Dra. Emosinya masih labil. Lo harus sabar. Kita coba lain waktu, oke."     Rudra menatap Dyra sejenak. Ia tidak tahu apa yang sudah Dyra perbuat hingga mamanya bisa tunduk kepada Dyra.     "Kita kesini dua kali seminggu. Gue harap lo bener-bener bisa ngebuat nyokap gue mau berinteraksi sama anaknya."     Rudra melangkah pergi meninggalkan Dyra.     "Kalo tentang nyokap. Lo ngomong banyak ya, Dra." gumam Dyra.     Ia tersenyum penuh arti. Setidaknya ia memiliki kunci untuk mendekati laki-laki yang selama ini diam-diam ia sukai. Dyra memiliki peluang. Dan ia akan memanfaatkan ini sebaik mungkin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD