7. I Have Loved You

1261 Words
~Rasa cintaku begitu besar padamu. Kenapa kau tega mengkhianatiku?~ Setelah palu diketuk, perceraianku dengan Osyana Putri sudah sah secara hukum. Bahkan aku sudah menalaknya sebanyak lima kali. Sungguh. Aku tak habis pikir pada istriku yang sangat aku cintai. Dia begitu tega mengkhianatiku saat aku pergi bekerja keluar kota. Kini aku sudah resmi menjadi duda. Aku kembali sendirian di kamar luasku ini. Jika biasanya aku akan berpelukan hangat dengan Osya setiap malam, kini aku hanya akan ditemani guling dan selimut saja. Sebenarnya aku tak ingin berpisah darinya. Rasa cintaku teramat besar untuk mantan istriku. Namun, aku begitu kecewa menerima kabar dan bukti perselingkuhannya. Bahkan ia berani memperlihatkan hasil dari benih cinta terlarangnya dengan pria lain. Ketika aku mencoba memejamkan kedua mataku, aku kembali teringat dengan kenangan lama. Memori manis bersama Osyana. Aku bertemu dengan mantan istriku ketika aku berkunjung ke rumah Satrio. Temanku di kampus. Aku dan Satrio bisa dibilang dekat. Karena kami memang memiliki visi dan misi yang sama. Malam itu aku langsung terpana saat pertama kali melihat gadis berparas ayu dan bertingkah laku lemah lembut. Bahkan dia begitu pemalu saat pertama kali berjumpa denganku. Seiring berjalannya waktu, rasa sukaku berubah menjadi rasa cinta yang besar. Aku pun memberanikan diri menyatakan perasaanku saat Satrio memancingku. Hal yang tak kuduga adalah, Osya juga memendam perasaan padaku. Aku merasa menjadi laki-laki paling beruntung karena mendapatkan hati sang bidadari. Hingga mahligai pernikahan kami arungi bersama. Aku semakin dibuat jatuh cinta padanya. Osya begitu penuh kasih sayang pada suaminya. Bahkan ia selalu hormat pada kedua mertuanya. Tak pernah sekali pun Osya membantah ucapanku. Dia selalu menurut. Ketika saat malam pertama tiba, aku dapat memadu kasih dengannya. Menyatukan jiwa dan raga yang selama ini selalu terpendam untuk berbalas cinta. Aku mencoba memperlakukan orang yang aku cintai dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Makasih ya, Mas. Mas Radit sudah mencintaiku. Aku benar-benar bahagia sekali bisa menjadi istri untuk orang sebaik Mas," ucap Osya sembari memeluk tubuhku. "Seharusnya aku yang berterimakasih padamu, Sayang. Kau adalah bidadari dunia yang telah aku dapatkan." Aku pun mengusap peluh di dahinya. Lalu kucium kening Osya dengan penuh rasa cinta. Osya benar-benar sangat menjaga kehormatannya. Untuk laki-laki yang beruntung meminangnya. Akulah laki-laki beruntung itu. Aku bisa mendapatkan hati dan raganya. Sungguh. Nikmat mana lagi yang aku dustakan? Mendapatkan istri yang tak hanya cantik, tetapi juga sholihah dari Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tak ada hal janggal selama pernikahan kami. Bahkan Osya tak pernah mengeluhkan apa pun. Dia selalu melayaniku dengan baik. Cintaku bertambah besar seiring bertambahnya waktu kami bersama. "Mas. Masih garis satu ...." cicit Osya saat keluar dari kamar mandi. Memperlihatkan test pack yang ia genggam dengan wajah kecewa. "Nggak papa, Sayang. Mungkin Allah belum memberi kita rezeki," balasku sembari merengkuhnya dalam dekapan. Mengelus lembut surai hitam panjangnya. "Tapi kita sudah menikah selama tiga bulan, Mas. Dan kita juga sudah sering melakukan ikhtiar," ucap Osya menatapku dengan tatapan sayu penuh harap. "Ssst. Nggak boleh seperti itu. Percayakan semuanya sama Allah. InsyaAllah sebentar lagi kita akan segera dapat momongan yang sholih dan sholihah. Kita hanya bisa usaha," ucapku kembali menenangkan. "Astaghfirullah. Iya, Mas. Amiin, amiin Ya Rabbal 'alamiin. Makasih, Mas. Mas Radit selalu bisa menenangkan aku," balas Osya sembari tersenyum padaku. Senyuman yang sungguh manis. "Pokoknya kamu harus siap sedia berikhtiar dengan Mas." Aku sengaja menggodanya dengan mencubit pelan kedua pipinya. Lalu kucium bibirnya dengan lembut. "Sekarang juga kita ikhtiar lagi, yuk!" ajakku dengan sengaja. Aku pun menggendong tubuh mungil Osya dan membawanya ke tempat tidur. Hingga suatu hari, pada bulan kelima usia pernikahan kami, Osya tiba-tiba memintaku untuk pindah ke rumah baru. Aku tak mengerti. Mengapa Osya begitu ingin tinggal sendiri bersama denganku saja? Padahal aku sering pergi ke luar kota bersama Papah. "Mas. Emmm. Anu .... Apa tidak sebaiknya kita ... punya rumah sendiri?" tanya Osya saat kami duduk berdampingan di atas ranjang. Aku memeluknya sembari mengusap-usap tangannya. "Kenapa? Kalau kita punya rumah sendiri, nanti kamu sendirian aja di rumah, Sayang. Kalau di sini kan ada Mamah sama Bi Wiwin," balasku. "Bukannya aku nggak mau tinggal di sini, Mas. Tapi ...." "Tapi kenapa, Sayang?" "Nggak, Mas. Nggak papa," jawab Osya sembari tersenyum padaku. Sepertinya ia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. "Kenapa, Sayang? Cerita padaku jika ada sesuatu yang mengganggumu," ucapku menangkap kedua pipinya. Mata bening itu menatapku lurus. Tatapan yang lembut dengan mata cokelat gelap yang mampu menghipnotisku. "Nggak ada apa-apa, Mas. Ya udah. Kita tidur, ya? Besok Mas juga harus kembali kerja," balas Osya sembari menggenggam kedua tanganku. *** Sepuluh bulan usia pernikahan kami, aku yang sedang berada di luar kota mendapatkan sebuah berita tiba-tiba. Berita itu datang dari sebuah pesan yang tak aku ketahui siapa pengirimnya. Pesan berisi foto Osya bersama seorang pria yang tak kukenal. Sekali dua kali aku tak menggubris pesan itu. Namun, sudah kelima kalinya pesan itu aku terima. Terakhir, pria asing itu sedang menyentuh istriku. Tak mengerti lagi aku. Bukti sudah nyata. Osya telah berkhianat padaku, suami sahnya. Padahal, sebelum aku pergi, kami sudah memadu kasih bersama lagi. Melakukan ikhtiar seperti sebelumnya agar segera mendapatkan momongan. Aku pun pulang dengan amarah yang terus kutahan selama di perjalanan. Hingga aku disambut dengan senyuman manisnya yang biasa saja. Seolah Osya tak pernah melakukan kesalahan berupa pengkhianatan yang sudah aku terima. "Mas. Aku punya kejutan buat, Mas," ucap Osya dengan wajah berbinar menatapku. "Akhirnya aku hamil, Mas. Sebentar lagi kita akan segera punya anak," serunya sembari menunjukkan sebuah test pack yang sedari tadi ia sembunyikan di dalam kantong gamisnya. Aku sudah tak tahan lagi. Tangan kananku tiba-tiba terasa ringan melayangkan tamparan di pipi putihnya. Plak Seketika hatiku langsung mencelos. Baru kali ini aku berlaku kasar pada orang yang sangat aku cintai. Namun, rasa cemburu dan marahku sudah tak dapat ditahan lagi. "Itu bukan anakku. Kau pikir aku akan percaya begitu pada ucapanmu?" tanyaku sembari mencengkeram kedua bahu Osya dengan erat. Setelah kuperlihatkan fotonya bersama pria lain, aku pun meninggalkan istriku keluar kamar. Tak ingin aku melihatnya lagi. Aku pun tak ingin melayangkan tanganku lagi. Aku pun terlanjur menalaknya satu kali. Setelahnya aku menalak istriku lagi karena ia masih bersikukuh bahwa janin di dalam rahimnya adalah anakku. Menalaknya lagi dan lagi karena rasa kecewaku padanya. Hingga malam tiba, Osya mengalami keguguran. Kulihat wajahnya yang sedang kesakitan. Ingin aku menghampiri untuk memberikan pertolongan padanya. Akan tetapi hati ini sudah terlanjur sakit. "Mas Radit. Tolong aku, Mas. Sakit." Aku mencoba untuk tak mendengarnya. "Mas!" panggil Osya lagi. Aku pun menoleh dan menatap tajam ke arahnya. "Itu bukan anakku! Urusi saja sendiri!" hardikku. "Astaghfirullahal'azim. Mas Radit! Ini anak kandungmu. Kenapa Mas nggak percaya?" tanya Osya. "Cukup!" balasku sembari berjalan pergi. Masuk kembali ke dalam kamar. Aku sudah tak ingin melihatnya lagi. Aku pun sudah menalaknya sebanyak tiga atau empat kali. Jadi, aku sudah tak ada ikatan lagi dengannya. Kini aku pun kembali pada masa di mana aku harus menerima status baruku sebagai seorang duda. Ku lihat figura di dinding. Berisikan fotoku dan Osya yang sedang tersenyum bahagia saat pernikahan kami. Aku pun berdiri untuk mengambilnya. Menatap nanar foto dalam genggaman. Pyar Kubanting figura itu keras hingga kacanya pecah berkeping-keping. Rasa frustasi kembali menghinggapi hati. "Radit? Astaghfirullah. Kamu nggak papa, Sayang?" tanya Mamah menghampiriku dengan wajah cemasnya. "Aku nggak papa, Mah. Aku hanya tak mengira Osya akan melakukan hal itu. Mengkhianati suami saat ditinggal pergi." Aku menatap Mamah dengan air mata yang sudah menumpuk di kedua pelupuk mataku. "Sudahlah, Dit. Mungkin ini jalan terbaik buat kalian. Mamah kan juga selalu bilang padamu untuk jangan terlalu percaya pada istrimu. Sekarang kamu tahu kan kebenarannya?" Mamah mencoba menenangkanku. Aku mengangguk setuju. "Makasih, Mah," balasku sembari mengusap air mataku yang hendak keluar. ***bersambung***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD