8. Emangnya Gosip Itu Asyik?

1270 Words
~Semakin dewasa, kita juga harus semakin bijak dalam bersikap~ Setelah senja, Osya akan berkumpul bersama teman-teman masa SMAnya. Mereka hendak melaksanakan reuni alumni. Osya pun pergi bersama teman sekaligus tetangga beda desa. "Sudah siap, Sya?" tanya seorang perempuan berusia dua puluh empat tahun. Ia memakai blouse dan celana panjang. "Sudah. Ayo, Mel!" balas Osya sembari memakai helmnya. Motor matic itu meninggalkan halaman rumah Osyana. Menuju ke kota untuk berjumpa dengan rekan-rekan lainnya. "Oh iya, Sya. Udah lama banget aku gak ketemu kamu. Kangen deh." Amel tersenyum lewat kaca spionnya. Meski gadis itu sedang memakai masker. "Iya. Aku juga kangen sama kamu, Mel. Kamu sekarang kerja di mana? Masih di Bali?" tanya Osya. "Iya. Masih. Ini aja baru liburan," jawab Amel. "Oh gitu." Perjalanan pun berlanjut. Sekitar lima belas menit lamanya, mereka pun tiba di tempat pertemuan. Banyak yang sudah hadir dan telah menempati tempat duduk yang tersedia di restoran itu. Mereka pun berbincang-bincang hangat melepas rindu. Osya sedikit terhibur dengan melihat senyuman teman-teman lainnya. Hingga sekitar pukul delapan malam, seorang teman menanyakan tentang sebuah foto padanya. "Sya. Aku mau tanya. Ini kamu?" tanya seorang teman perempuan. Osya menatap foto itu dengan wajah terkejut. Tak menyangka jika fotonya bersama seorang pria bisa tersebar pada teman-temannya. "Astaghfirullahal'azim. Kenapa kamu bisa dapat foto ini, Ninda?" tanya Osya. "Aku dapat dari seseorang. Aku nggak bisa mengatakan siapa orangnya," jawab Ninda. "Tapi, Sya. Kamu kan udah nikah. Kenapa kamu melakukan hal ini?" tanya teman yang lainnya. "Eh? Astaghfirullah. Kalian salah paham." Osya mencoba menjelaskan. "Pantesan. Denger-denger si Osya diceraikan sama suaminya yang kaya itu." Terdengar bisikan dari belakang tubuh Osya. "Katanya juga sih karena dia hamil anak haram dari selingkuhannya," timpal yang lainnya. "Dih. Padahal alim begitu tapi kok ternyata sikapnya nggak banget. Tukang selingkuh," imbuh teman Osya yang lainnya. Wanita itu terus beristighfar dalam hati. Menahan segala rasa marah dan malunya. Mengapa saat ia sudah mulai tenang sejak perceraiannya empat bulan yang lalu, kini malah terusik lagi? "Sya. Memangnya bener apa yang mereka katakan?" tanya Amel ikut penasaran. "Enggak, Mel. Itu fitnah. Demi Allah foto itu fitnah," ucap Osya mencoba membela diri. "Amel. Mendingan lu nggak usah temenan lagi deh sama Osya. Takut nanti pacarmu direbut dia," ucap teman Osya yang tadi membicarakan wanita itu dari belakang. "Astaghfirullahal'azim. Kalian semua kenapa malah membenarkan berita itu tanpa mau cari tahu faktanya?" tanya Osya kesal. Mencoba untuk tidak menangis. "Buktinya sudah nyata. Kelihatan jelas. Jadi, lu nggak bisa mengelak." "Iya bener." Suara-suara itu terus menyudutkan Osya. Semakin lama wanita itu tak tahan dengan cibiran yang terus menyebar. Entah siapa yang menyebarkan foto itu. Padahal sedari tadi tak ada yang menyinggungnya. Kenapa sekarang malah menjadi topik utama? Apakah seasyik itu membicarakan aib orang lain? Osya pun bergegas dari tempat duduknya. Ia pergi meninggalkan tempat pertemuan itu. Bahkan sampai melupakan helmnya. Amel masih ditahan teman-teman yang lain. Kini Osya pulang sendiri sembari mencari taksi. 'Ya Allah. Siapa yang telah menyebarkan foto itu? Apakah Mas Radit yang menyebarkannya pada teman-temanku?' tanya Osya dalam hati sembari terus berjalan menjauhi tempat reuni. Hingga beberapa ratus meter kemudian, suasana semakin sepi. Osya harus berjalan beberapa puluh meter lagi untuk sampai di tempat para sopir taksi menunggu penumpang. Jika hari masih siang, Osya ingin naik angkot saja. Ketika baru beberapa langkah, wanita itu dicegat oleh dua orang pria berpakaian preman dan bertampang sangar. Osya pun berjalan menjauh dari dua orang itu. Bau menyengat pun tercium dari tubuh mereka. Bau alkohol dan rokok. "Sendirian aja, Neng?" tanya salah seorang preman berambut gondrong. Osya tak memedulikan pertanyaan itu dan terus berjalan cepat. Menjauh. "Sombong amat, Neng? Mendingan Neng ikut kita aja, yuk?" ajak preman berambut cepak sembari menahan lengan kanan Osya. "Tolong lepaskan saya!" pinta Osya mencoba melepaskan diri. "Jangan takut, Neng. Kita cuma mau ngajak main bentar kok," ucap si preman gondrong. "Maaf. Tapi saya mau pulang. Tolong lepaskan saya!" seru Osya semakin ketakutan. Genggaman pada lengannya semakin kencang. "Sombong banget sih. Nanti kita anterin Neng pulang ke rumah deh," ucap preman berambut cepak sembari menarik tangan Osya. "Nggak. Lepasin! Tolong!" teriak Osya semakin panik. Namun, suasana begitu sepi di jalan kecil itu. Preman yang satunya menutup mulut Osya. Osyana terus berjuang melarikan diri. Ia gigit tangan preman yang menutup mulutnya dengan kuat. Membuat preman itu mengumpat kesakitan. Karena kesal, preman itu menarik kerudung Osya hingga membuat peniti terlepas. "Lepaskan saya! Tolong!" teriak Osya lagi mencoba memberontak sekuat tenaga. "Hei! Lepaskan dia dasar preman ber.engsek!" seru seorang pengendara yang kebetulan lewat dengan motor bebeknya. Kedua preman itu pun menghentikan aksinya. Salah satu preman menahan Osya, sedangkan preman satunya menghampiri pria yang dengan berani mengganggu kegiatan mereka. "Siapa lu? Lu nggak tahu kita siapa?" tanya preman berambut cepak menatap garang pengendara motor yang masih mengenakan helm, masker, dan jaketnya. "Kalian preman nggak tahu diri. Beraninya nyakitin perempuan," balas pria pengendara misterius itu. "Baji.ngan!" Preman itu langsung mengarahkan tinjunya. Pria misterius itu dengan cekatan menghindar kemudian menghantam perut preman dengan sekali pukulan telak. Preman itu langsung jatuh tersungkur. Melihat temannya sudah terkapar, preman yang menahan Osya segera menolong kawannya secara tiba-tiba. Pria misterius yang sedang menolong Osya pun spontan melayangkan pukulan. Namun, pukulan itu meleset dan mengenai tiang listrik yang berada di pinggir jalan. Osya ingin berteriak. Akan tetapi ia terlalu syok dengan kejadian yang tiba-tiba menimpanya. Terlebih dengan kemunculan pria misterius yang tak ia ketahui identitasnya. Setelah berhasil menghajar dan mengusir kedua preman kurang ajar itu, si pria misterius mendekati Osya. "Kau cepatlah pulang!" ucapnya menatap Osya dari balik helmnya. Osya hanya mengangguk pelan. "Jilbabmu mau lepas tuh. Benerin dulu!" ucap pria misterius itu lagi sembari menunjuk jilbab Osya. "Ma-makasih. Emmm. Tangan kanan Anda terluka ... Maafkan saya," ucap Osya sembari membetulkan jilbabnya. "Sudahlah. Luka sedikit saja. Memangnya kau mau ke mana malam-malam begini? Mana teman atau keluargamu?" Pria misterius itu kembali bertanya. Mengalihkan pembicaraan. "Saya mau pulang, habis dari reuni. Tadi sedang cari taksi ... Tapi malah bertemu dua preman itu," jawab Osya sembari menunjuk arah yang ia tuju. "Oh. Taksi ada beberapa meter lagi. Mau aku antar?" tanya pria misterius itu. "Eng ... Nggak usah. Terima kasih. Terima kasih sekali sudah menolong saya," balas Osya cepat-cepat. Wanita itu masih takut untuk percaya pada orang yang baru ia kenal. "Ya sudah kalau begitu. Kau jalanlah dulu. Aku akan mengawasimu dari sini jika kedua preman itu masih kembali mengganggumu lagi," ucap pria itu sembari berjalan mendekati motornya. Ia paham bahwa wanita yang ia tolong masih merasa trauma pasca kejadian itu. "Terima kasih," ucap Osya sembari berjalan mendahului pria misterius penolongnya malam ini. Wanita itu pun sudah mendapatkan taksi. Ia menunduk untuk memberikan isyarat pada pria yang sudah menolongnya. Pria misterius itu pun membalas anggukan Osya. Lalu pergi meninggalkan Osya bersama motor bebeknya. Setelah beberapa belas menit kemudian, Osya tiba di rumah. Sang ibu melihat putri bungsunya pulang dengan taksi. "Nduk. Kenapa pulangnya naik taksi? Mana Amel?" tanya Ismi penasaran. "Assalamu'alaikum, Bu. Oh. Osya pulang duluan kok, Bu. Amel masih di tempat reuni," jawab Osya mencoba memberikan alasan. "Oh. Wa'alaikumussalam. Ya sudah. Masuk sana! Sudah malam juga," ucap sang ibu lembut. "Iya, Bu. Osya langsung ke kamar ya, Bu. Habis makan malah ngantuk," ujar wanita itu sembari berjalan menuju kamarnya. "Oh. Ya udah sana." Osya pun memasuki kamarnya dan menutup pintu dari dalam. Ia melepas jilbabnya dan ternyata ada luka gores pada bagian bawah dagunya. Luka itu akibat tergores dengan peniti yang berada di jilbabnya. Wanita itu pun teringat dengan pria yang menolongnya. Ternyata pria itu orang yang baik. Meski ia tak tahu identitas yang sebenarnya. "Ya Allah. Terima kasih karena sudah menolong hamba malam ini ... Ya Allah. Tolong balas kebaikan orang yang tadi nolongin Osya. Amiin," gumam wanita itu. ***Bersambung***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD