~Aku memanglah mantan berandal, tapi tinjuku tak pernah kulepas sembarangan~
Malam itu seorang pria menghentikan motor bebeknya di depan rumah modern yang sederhana. Perlahan ia membuka pintu samping dan menuntun motornya. Saat memasuki rumah, tak lupa ia melepaskan helm dan masker hitam yang tadi ia kenakan. Salam pun ia ucapkan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Ayah!" seru seorang anak kecil berambut panjang yang konsentrasinya menonton acara televisi terganggu akibat kedatangan pria itu.
"Halo! Princessnya Ayah kok belum tidur?" balas pria itu sembari merendahkan tubuhnya. Berjongkok untuk memeluk putrinya.
"Belum. Kan Ana mau nungguin Ayah," jawab gadis kecil itu menatap wajah sang ayah dengan tatapan polos khas anak kecil.
"Nunguin Ayah apa nungguin oleh-oleh?" tanya pria itu.
"Hehe. Dua-duanya, Yah," jawab sang anak jujur.
"Ya udah. Ini Ayah beliin brownies buat Ana. Sana disimpen dulu! Besok baru dimakan," ucap sang ayah sembari menyerahkan sebuah kantung kresek berisi sekotak brownies.
"Asyik. Kue cokelat!" seru sang anak girang.
"Ya udah. Ana sekarang tidur, ya? Udah malam. Besok kan sekolah," ucap sang ayah mengingatkan.
"Iya, Ayah. Makasih, ya," balas Ana sembari mencium pipi kanan ayahnya dengan gemas. Kemudian gadis kecil itu berlari-lari kecil ke dapur untuk menyimpan oleh-oleh dari sang ayah.
"Kok tumben baru pulang, Rif?" tanya seorang wanita paruh baya yang tadi duduk bersama Ana.
"Iya, Bu. Tadi ada kendala dikit," jawab sang anak sembari menggaruk hidungnya.
"Astaghfirullah. Itu tanganmu kenapa, Rif?" tanya sang ibu saat melihat luka pada buku tangan putranya. Pria bernama lengkap Arif Rahman itu ikut menatap tangan kanannya. Benar saja, tangannya terluka akibat baku hantam dengan preman. Ia lupa dengan luka itu.
"Oh. Ini ... Ini tadi ... Anu ...." Arif ragu untuk menjelaskannya pada sang ibu.
"Kamu nggak berantem lagi, kan, Rif?" tanya sang ibu curiga.
"Emmm. Sebenarnya tadi ...."
"Haduh, Rif. Jangan berantem lagi kalau itu nggak penting," ujar sang ibu.
"Bukan, Bu. Tadi sebenarnya Arif ketemu sama perempuan yang mau diper.kosa dua preman waktu aku mau pulang," tukas Arif.
"Astaghfirullahal'adzim. Terus perempuan itu gimana?" tanya Rinah, ibu kandung Arif.
"Alhamdulillah dia baik-baik saja, Bu."
"Tapi ... Kenapa dia bisa sampai mau diper.kosa? Apakah dia perempuan nakal?" tanya Rinah.
"Sepertinya bukan, Bu. Soalnya dia itu seperti habis dari pertemuan. Tapi pulangnya sendirian. Lewat jalan sepi lagi," jelas Arif.
"Oh gitu. Kasihan. Terus kamu anterin dia pulang gitu?" tanya Rinah.
"Nggak kok, Bu. Dia nggak mau ku antar pulang. Sepertinya dia masih syok dengan kejadian itu."
"Lha terus pulangnya gimana? Kasihan kalau dia pulang sendirian lagi?" tanya Rinah tampak khawatir. Pasalnya ia juga perempuan.
"Dia naik taksi kok, Bu. InsyaAllah aman," jawab Arif menenangkan sang ibu.
"Oh. Alhamdulillah kalau gitu. Semoga saja dia selamat sampai di rumah," tutur Rinah.
"Amiin."
"Ayah." Panggilan itu terdengar dari ruang sebelah.
"Kenapa, Ana?" tanya Arif pada putrinya. Sang anak pun berjalan mendekati ayahnya dan memeluk kaki pria itu.
"Ana pengen bobok sama Ayah," ucap gadis kecil itu dengan manja.
"Tumben. Biasanya juga Ana bobok sendiri," balas sang ayah sembari mengusap lembut kepala Ana.
"Sekali aja ya, Yah? Ana mau cerita sama Ayah," pinta sang anak. Merajuk.
"Okay, my princess," balas Arif sembari menggendong putri kesayangannya. Lalu membawanya ke kamar.
Rinah tersenyum melihat anak dan cucunya. Sebagai orang tua, ia juga ingin melihat keluarga putranya lengkap. Namun, sebagai manusia tidak boleh banyak mengeluh dengan takdir yang sudah ada. Orang yang sudah tiada, tak boleh diharapkan selalu hadir menemani kita. Biarlah ia tenang dan bahagia di alam barzah. Menunggu nikmat di surga.
Di dalam kamar berukuran dua kali tiga meter itu, Arif membaringkan putrinya dengan hati-hati. Lalu ia ikut duduk di samping putrinya. Tangan kekarnya mengusap lembut surai panjang gadis kecil itu. Menatapnya dengan kasih sayang seorang ayah. Selimut pun ia tarik untuk menutupi tubuh mungil putrinya.
"Ayah. Ayah tahu tidak?" Ana mulai bertanya. Menatap sang ayah dengan mendongakkan kepalanya.
"Apa, Ana?" tanya Arif membalas tatapan putrinya.
"Di sekolah tadi Ana mimpin doa loh, Yah. Di depan kelas," ucapnya dengan wajah berbinar.
"Benarkah? Wah. Hebat dong," puji sang ayah.
"Tadi Ana sebenarnya takut, Yah. Malu kalau dilihatin teman-teman. Tapi untung ada Bu Ocha yang nyemangatin Ana," sambung gadis kecil itu. Merubah wajah senang, sedih, lalu kembali ke senang lagi.
"Berarti Ana harus berterima kasih sama Bu Ocha," ucap Arif sembari mengusap kepala putrinya.
"Iya. Ana udah kok bilang makasih. Tahu nggak, Yah? Bu Ocha itu cantik banget kaya bidadari. Baik juga. Bu Ocha juga pinter banget ngajarin Ana ngaji iqro'," jelas Ana menatap wajah sang ayah.
Arif menaikkan kedua alisnya. "Keren dong bu gurunya Ana," pujinya.
Baru kali ini pria berusia dua puluh delapan tahun itu mendengar putri kesayangannya bercerita tentang kegiatan di sekolah. Sebelumnya Ana bahkan sering diam. Jika ada tugas ia akan mengerjakannya dengan sang nenek dalam diam. Arif tahu meski anaknya termasuk anak yang cerdas dan mudah memahami materi. Namun, pria itu juga tak tega jika melihat putri kecilnya sering diam. Ia lega akhir-akhir ini sang putri lebih sering tersenyum ceria. Sama seperti dulu sebelum ia paham ibunya telah tiada.
"Iya. Keren banget Bu Ocha. Ana jadi keinget Bunda deh, Yah. Kalau Bunda masih ada, Bunda mau nggak ya ngajarin Ana ngaji," tutur anak kecil itu sembari menatap langit-langit kamarnya.
Arif tersentak mendengar penuturan itu. Anak sekecil Ana memang seharusnya mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Arif tahu, putrinya sangat mendambakan sosok ibu dalam kesehariannya. Namun, pria itu belum bisa membuka hatinya lagi. Ia takut akan kehilangan untuk kedua kalinya.
"Kok Ayah diem? Memangnya Ayah nggak seneng kalau lihat Bunda ngajar ngaji?" tanya Ana dengan tatapan polosnya.
Arif tersenyum menanggapi pertanyaan itu. "Ayah pasti seneng dong lihat orang yang Ayah sayangi belajar agama. Biar nggak kaya Ayah. Jadi, selama di sekolah Ana harus nurut sama bu guru, ya? Belajar ngaji yang rajin biar nanti bisa baca Quran dengan lancar. Nanti kalau sudah lancar, gantian Ana yang ngajarin Ayah," ucap Arif sembari tersenyum.
"Kenapa Ayah nggak ngaji aja sama Bu Ocha? Bu Ocha baik, kok. Pasti mau ngajarin Ayah," celetuk Ana membuat Arif terkekeh.
"Ya Ayah kan udah gede. Masa belajar bareng anak-anak TK?"
"Oh. Iya, ya? Nanti Ayah jadi sekelas sama Ana." Gadis kecil itu ikut terkekeh. Membayangkan sang ayah yang ikut duduk pada kursi kecil warna-warni yang berada di kelasnya.
"Ya udah. Sekarang Ana tidur, ya? Udah malem. Besok sekolah," ucap Arif sembari menarik selimut lagi untuk putrinya.
"Iya, Ayah." Ana mengucapkan doa sebelum tidur. Kemudian kedua matanya mulai terpejam.
"Yah? Besok kapan-kapan Ayah ketemu Bu Ocha, ya?" tanya sang anak dengan kedua mata yang sudah terpejam.
"InsyaAllah. Lho? Udah berdoa kok malah ngomong lagi?" Sang ayah gemas dengan tingkah putrinya. Kemudian Ana kembali berdoa dan tidur.
Arif mematikan lampu kamar. Meninggalkan sang putri untuk beristirahat. Lalu ia tutup pintu itu. Melangkahkan kaki menuju kamarnya sendiri. Sang ibu ternyata belum tidur. Wanita paruh baya itu mendengarkan pembicaraan anak dan cucunya.
"Rif. Apa nggak seharusnya kamu carikan ibu untuk Ana?" tanya Rinah pada putranya.
"Nggak, Bu. Aku bisa kok ngurus Ibu sama Ana," jawab pria itu.
"Tapi, Rif. Ana sangat merindukan sosok ibu. Kamu juga harus mulai mengikhlaskan mendiang istrimu. Jangan terlalu larut dalam kesedihan," hibur Rinah pada putra semata wayangnya.
Arif tersenyum lembut. "Aku baik-baik saja kok seperti ini. Jika memang aku ditakdirkan untuk menikah lagi, insyaAllah nanti juga akan bertemu jodohku," balas sang anak sembari berjalan menuju kamarnya.
***bersambung***