~Tabahlah saat kau disakiti. Ingat bahwa Allah pasti akan membalas setiap perbuatan makhluknya~
Setiap pagi hingga siang aku mengajar di kelas Mentari. Kelas yang aktif dengan murid yang berbeda karakter. Akan tetapi aku sangat senang. Melihat senyuman ceria mereka membuatku bisa sedikit melupakan rasa sedih atas kehilangan anak pertamaku.
Di kelas ini ada seorang anak yang menarik perhatianku. Namanya Anaya Putri. Seorang gadis kecil yang awalnya pendiam dan pemalu. Lambat laun Ana bisa menunjukkan rasa percaya dirinya. Senang rasanya melihat perkembangan dari anak didik. Ana merupakan satu-satunya anak piatu, yang sudah tak memiliki ibu di sekolah ini.
Bu Rinah selalu menjemput Ana di waktu yang sama. Mungkin beliau sibuk. Maka dari itu aku sengaja menemani Ana hingga ia dijemput oleh neneknya. Senang rasanya bila memiliki seorang anak. Ibu mana yang tak bahagia memiliki anak?
***
Tepat pada hari Jumat sore, Mas Satrio dan Mbak Mirna berkunjung ke rumah. Tak lupa mereka mengajak kedua anaknya, Ridho dan Irsyad.
"Assalamu'alaikum," ucap Mas Satrio dan istrinya.
"Wa'alaikumussalam," balas Bapak, Ibu, dan aku secara bersamaan.
"Satrio, Mirna! MasyaAllah. Kenapa ndak kasih kabar kalau mau datang?" tanya Ibu sembari menggendong Irsyad. Bayi berumur satu tahun.
"Iya, Bue. Maaf nggak kasih kabar dulu. Kami memang mau datang aja kok. Nantu kalau Bue dikasih tahu, Bue repot-repot lagi," jawab Mbak Mirna sembari mencium punggung tangan Ibu.
"Ya ndak repot dong. Sama mantu sendiri kok dibilang repot," balas Ibu.
"Bulik!" seru Ridho. Anak pertama Mas Satrio dan Mbak Mirna yang usianya sudah empat tahunan.
"Wah. Ridho udah tambah besar sekarang," balasku sembari berjongkok dan menggendong keponakanku.
"Bulik, Paklik mana?" tanya Ridho dengan tatapan polosnya. Menanyakan keberadaan Mas Radit.
Aku diam sesaat. Bingung mau bagaimana menjelaskannya pada anak sekecil itu.
"Paklik lagi kerja jauh, Dho. Jadi nggak ikut ke sini," ucap Mas Satrio. Mencoba memberikan alasan pada anak sulungnya.
"Oh ...."
"Ya sudah. Yuk masuk! Sana, Sya. Buatin minum buat Mbakmu sama Masmu!" tutur Ibu.
"Nggih, Bu," balasku. Aku pun menurunkan Ridho. Keponakanku langsung berlari ke arah Bapak. Minta pangku sang kakek.
"Aku bantu, Sya," tawar Mbak Mirna.
"Nggak usah, Mbak. Mbak kan tamu," balasku.
"Udahlah. Ayo!" Mbak Mirna ikut berjalan menuju dapur.
Sebelum menuju dapur, aku ikut membawakan tas Mbak Mirna ke dalam kamar lama Mas Satrio. Beruntung kamar itu selalu bersih dan rapi. Tinggal ditepuk-tepuk saja untuk menghilangkan debu tipis yang menempel di atas kasur. Kami pun berlanjut menuju dapur, menyiapkan minum. Tak lupa menyiapkan makanan yang dibawa oleh Mbak Mirna dan Mas Satrio. Menatanya di atas piring.
"Sya. Maaf aku mau tanya," ucap Mbak Mirna.
"Tanya apa, Mbak?"
"Kamu nggak cari gitu siapa pelaku yang buat foto fitnah itu ke Radit?" tanya Mbak Mirna menatapku.
"Mau cari gimana, Mbak. Toh aku sudah resmi cerai dengan Mas Radit," jawabku.
"Ya Allah, Sya. Kamu kok sabar banget jadi orang. Padahal mereka udah berbuat kejam padamu." Mbak Mirna memperlihatkan kekhawatirannya. Aku senang memiliki kakak ipar seperti Mbak Mirna. Dia orang yang baik dan tak pernah membeda-bedakan orang. Dia sudah seperti kakakku sendiri.
"Sebenarnya Osya bukan orang yang cukup sabar kok, Mbak. Aku juga merasa marah dan kesal. Hanya saja, jika terus-terusan menyesal juga nggak ada gunanya," ucapku.
"Bener juga. Pokoknya kamu yang tabah, ya? Berdoa saja semoga Allah membalas semua kesabaranmu selama ini. Mbak doain semoga kamu segera mendapatkan kebahagiaan yang hakiki," ucap Mbak Mirna sembari tersenyum lembut.
"Amiin, amiin Ya Rabbal 'alamiin. Makasih, Mbak sudah mendoakan aku."
"Iya. Sama-sama. Kamu kan sudah seperti adikku sendiri, Sya."
Setelah selesai berbincang, kami pun kembali ke ruang tamu. Menyuguhkan minuman dan makanan di atas meja. Ridho kembali mengajakku bermain bersamanya, sedangkan Irsyad sedang bercanda dengan Bapak dan Ibu.
***
Sabtu pagi aku ditemani Mbak Mirna berbelanja di tukang sayur keliling yang selalu lewat tiap pagi. Kami pun berencana untuk memasak semur ayam. Ketika kami sedang memilih-milih, Bu Edah datang. Ikut memilih bersama kami dan ibu-ibu yang lainnya.
"Duh. Kok ya masih berani menampakkan diri sih, Mbak?" sindir Bu Edah yang aku sadari ditujukan padaku. Aku hanya diam saja. Toh dia tidak menyebut namaku.
"Kenapa sih, Bu Edah?" tanya ibu-ibu yang lainnya. Penasaran dengan siapa yang disindir oleh wanita berdaster itu.
"Nih lho. Ini," jawab Bu Edah sembari menunjukku dengan dagunya.
Aku pun mempercepat memilih bumbu yang belum. Mbak Mirna tampak menatap tajam pada Bu Edah.
"Kenapa dengan Mbak Osya?" tanya ibu yang lainnya.
"Mosok pada nggak tahu, sih?" Bu Edah bertanya balik dengan gaya sinisnya.
"Maaf, Bu. Pagi-pagi jangan mulai menggosip," ucap Mbak Mirna mencoba menasihati.
"Dih. Ini juga. Sudah tahu iparnya salah masih dibelain," sungut Bu Edah pada Mbak Mirna.
"Pak. Tolong hitung totalnya," ucapku sembari menyerahkan belanjaanku pada si tukang sayur.
"Bu-ibu. Denger, ya! Mbak Osya ini sudah diceraikan sama suaminya. Tahu nggak kenapa? Ya karena ketahuan selingkuh," cecar Bu Edah yang jujur saja membuatku geram. Padahal selama beberapa minggu ini aku bisa tenang karena Bu Edah pergi ke luar kota. Namun, sekarang dia malah menyebarkan berita bohong yang entah dari siapa sumbernya.
"Bu! Jangan sembarangan kalau ngomong, ya! Inget fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan," balas Mbak Mirna emosi.
"Hilih. Sok-sokan," cibir Bu Edah.
"Ini, Mbak. Totalnya tujuh puluh lima ribu," ucap si tukang sayur.
"Ini, Pak. Pas, ya!" ucapku sembari membayarkan total belanjaku.
"Dibilangin nggak percaya!" sungut Mbak Mirna masih tak terima.
"Sudah, Mbak. Ayo pulang! Dijelasin juga nggak bakal ada yang percaya," ajakku sembari menarik lengan kakak iparku.
"Nah kan. Langsung kabur kalau dibilangin," cibir Bu Edah lagi. Aku sudah jengah mendengarnya.
"Udah, Mbak. Biarin aja!" ajakku lagi sembari menyeret lengan Mbak Mirna sebelum kakak iparku membalas cibiran Bu Edah.
Ku lihat Bu Edah bersedekap sembari menatap sinis pada kami. Wajahnya tampak puas setelah menyebarkan berita bohong itu pada tetanggaku yang lainnya. Lamat-lamat aku pun mendengar kebanyakan dari mereka percaya begitu saja tanpa mau mencari faktanya.
"Sya. Kenapa kamu biarin aja orang kaya gitu?" tanya Mbak Mirna saat kami berjalan bersama menuju rumah.
"Sudah, Mbak. Biari aja. Capek nanti meladeni Bu Edah," jawabku.
"Ya Allah, Sya. Kamu tuh jangan ngalah gitu aja! Kamu itu terlalu sabar. Sekali-sekali jawablah cibiran orang kaya dia!" ucap Mbak Mirna yang tampak kesal.
"Bukannya aku nggak mau jawab, Mbak. Hanya saja percuma. Mau dijelasin kaya apa pun mereka nggak akan percaya. Bagi mereka cukup satu bukti saja. Entah itu benar atau tidak. Mereka mana mau cari fakta yang sebenarnya. Yang terpenting adalah, ada topik yang bisa dibahas," jelasku.
"Lagi pula, sayang Mbak marah-marah ke mereka. Nggak akan faham. Aku sudah mencoba terbiasa. Kalau kupikir terus, yang ada aku malah jadi nggak semangat buat menjalani hidup," imbuhku lagi.
Mbak Mirna tiba-tiba memelukku. "Kamu memang wanita yang luar biasa. Semoga Allah membalas orang-orang yang jahatin kamu, ya!"
Setelah itu, kami pun kembali ke dalam rumah. Aku memang sudah membulatkan tekad agar tak terlalu memikirkan ucapan orang yang membenciku. Biarlah Allah yang membalas perbuatan mereka. Yang terpenting, jangan sampai aku terjerumus ke dalam jurang yang sama. Astaghfirullahal'azim.
***bersambung***