3. Kembali ke Rumah Lama

1017 Words
~Rumah terbaik adalah keluarga yang selalu menerimamu apa adanya ~ Kini aku mulai kembali tinggal dengan kedua orangtuaku. Kembali ke sebuah desa modern di Kabupaten Magelang, salah satu kabupaten yang berada di provinsi Jawa Tengah. Aku bersyukur, setelah perceraianku dengan Mas Radit, kedua orangtuaku masih mau menerimaku di rumah mereka. Hati ini sebenarnya tak ingin berpisah dengan Mas Radit, pria yang aku cintai. Aku akan berusaha menguatkan hati ini untuk menerima takdirku sebagai janda di usia muda. Ya. Usiaku saat ini dua puluh empat tahun. Baru saja lulus kuliah pendidikan satu tahun yang lalu. Aku ingat betul saat Mas Radit datang melamarku bersama kedua orangtuanya. Begitu senang hati ini karena Mas Radit serius dengan ucapannya. Kami sudah saling memiliki rasa delapan tahun lamanya. Aku kenal betul Mas Radit adalah orang yang baik, sopan, paham agama, dan berwibawa. Bahkan bisa dibilang Mas Radit memiliki daya tarik pada fisiknya. Tubuhnya tinggi, tegap, dengan wajah yang tampan. Sungguh beruntung aku pada masa itu. Dicintai oleh orang yang luar biasa. Namun, semua telah berubah. Setelah kepergian ayah mertuaku, kebencian ibu mertuaku semakin menjadi. Sungguh. Mas Radit sama sekali tak tahu dengan apa yang dilakukan ibunya padaku. Dengan perpisahan ini, meski aku tak mau, tetapi hatiku lega. Memangnya siapa yang betah berlama-lama hidup dalam penjara? "Sya? Kamu kenapa, Nduk? Kok dari tadi diam saja?" Pertanyaan itu menyadarkan lamunanku. "Ibu. Osya nggak kenapa-kenapa kok," jawabku mencoba tersenyum. "Sudahlah, Nduk. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Ibu yakin, di balik semua ujian ini kamu akan segera mendapatkan kebahagiaan tak terkira dari Allah," ucap ibu dengan tatapan lembut. Memberiku kekuatan agar berbesar hati menghadapi semua ujian ini. "Iya, Bu. Amiin. Makasih ya," balasku memeluk ibuku dengan penuh rasa syukur. Untung saja ibu tidak tahu perlakuan buruk Mamah Nia, ibu mertuaku. Aku tak ingin ibu tahu. Hal itu pasti akan melukai perasaannya. "Ya sudah, Bu. Osya mau masuk ke kamar dulu," ujarku dengan sopan. Meletakkan piring dan gelas yang sudah kucuci pada tempatnya. "Iya, Nduk. Sana! Kamu seharusnya banyak istirahat," balas ibu. Aku hanya mengangguk lalu berjalan menuju kamar lamaku yang sederhana. Saat duduk di atas tempat tidur, aku kembali tersadar. Ternyata memang perbedaan keluargaku dan Mas Radit begitu jauh. Mas Radit berasal dari keluarga orang yang berada. Bahkan memiliki perusahaan yang cukup besar di Jakarta. Sedangkan aku? Aku hanyalah anak dari seorang guru honorer dan ibu rumah tangga. Namun, aku sangat berterimakasih pada kedua orangtua hebatku. Mereka berdua bahkan mampu menyekolahkan kedua anak mereka hingga lulus sarjana. Saat aku sedang larut dalam lamunanku lagi, ponselku tiba-tiba berdering. Kulihat nama kakakku tertera pada layar. Segera saja aku mengangkat panggilan itu. "Assalamu'alaikum, Mas Satrio?" sapaku. "Wa'alaikumussalam, Sya. Osya, gimana kabarmu?" tanya Mas Satrio. "Ya beginilah, Mas," jawabku. "Mas sudah mendengar semuanya. Kamu sudah diceraikan oleh Radit. Maafkan Mas karena belum bisa menengokmu," ucap Mas Satrio. "Nggak papa, Mas. Osya tahu Mas lagi sibuk. Apalagi sekarang ada Irsyad. Mbak Mirna pasti juga sedang repot," balasku. Mas Satrio adalah kakak kandungku. Dia sudah menikah lima tahun yang lalu dan tinggal bersama Mbak Mirna di Surabaya. Sudah memiliki dua anak yang masih kecil-kecil. Meski begitu Mas Satrio sangat perhatian padaku. Bahkan istrinya juga orang yang baik. Sudah seperti kakak kandungku sendiri. Mas Radit dan Mas Satrio sebenarnya sahabat baik. Karena pertemanan merekalah aku menjadi kenal dan semakin akrab dengan Mas Radit, mantan suamiku. "Kamu memang pengertian, Sya. Emmm. Sebenarnya Mas mau nanya sama kamu, Sya," ucap Mas Satrio. "Tanya apa, Mas?" "Mas sebenarnya dapat foto dari Radit. Foto dirimu dan seorang pria. Mas sih nggak percaya. Nggak mungkin kamu berbuat seperti itu. Tapi ... siapa sebenarnya dia, Sya?" tanya Mas Satrio. Ternyata Mas Radit sudah memberitahu kakakku tentang foto itu. "Astaghfirullahal'adzim," desahku sembari membuang napas. "Mas. Osya juga nggak kenal sama laki-laki itu. Dia itu tiba-tiba datang ke rumah nganterin makanan dan minuman. Dan yang dituju itu Mamah Nia. Bukan aku. Hanya saja Mamah Nia yang menyuruhku untuk mengambilnya. Soalnya waktu itu Mamah Nia katanya sedang nggak enak badan," jelasku. "Berarti ini fitnah, Sya. Radit harus kuberi pelajaran. Seenaknya saja memutuskan hubungan denganmu," ucap Mas Satrio geram. "Mas. Sudahlah. Lagipula nasi sudah menjadi bubur. Biarkan saja," ucapku. "Tapi ini nggak bisa dibiarin, Sya. Dia udah keterlaluan." "Sudah, Mas. Biarin aja. Lagian kalau dijelaskan pun nggak akan percaya. Bukti sudah ada meski faktanya berbeda. Biarin aja, Mas. Lagian aku juga udah capek tinggal di sana." Kembali aku menenangkan Mas Satrio. "Kau serius membiarkan ini begitu saja?" protes Mas Satrio. "Iya, Mas. Aku udah nggak mau lagi membahas hal ini. Aku ingin hidup tenang dan memulai lembaran yang baru. Mas juga jangan hubungi Mas Radit lagi, ya?" pintaku. Takut jika Mas Satrio akan memarahi mantan suamiku. "Tapi, Sya ...." "Sudah ya, Mas. Osya minta cukup sampai di sini saja pembahasan mengenai Mas Radit. Dan Mas jangan mengurusinya lagi. Biarkan mereka hidup dengan seperti itu, dan kita juga harus bisa hidup dengan cara kita." "Baiklah. Tapi aku masih tak terima. Bahkan nomor Radit nggak bisa dihubungi lagi. Sepertinya dia benar-benar cari gara-gara," ucap Mas Satrio kembali emosi. "Istighfar, Mas. Biarkan saja. Nggak akan ada selesainya kalau semuanya marah. InsyaAllah Osya udah ikhlas kok," kataku. "Mas benar-benar nggak habis pikir. Kau itu terlalu baik, Sya. Kau bisa memaafkan orang yang menyakitimu begitu saja," ucap Mas Satrio. "Aku nggak bilang maafin mereka gitu aja, Mas. Yah. Meski kita memang harus saling memaafkan. Tapi ... aku nggak akan lupa perlakuan jahat mereka." "Ya. Memang seharusnya seperti itu. Dan jangan kembali pada orang yang menyakitimu!" "Iya, Mas. Osya juga paham," sahutku. "Ya sudah. Mas mau balik kerja lagi. Salam buat bapak sama ibu ya." "Iya, Mas. Nanti aku sampaikan." "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumussalam," jawabku diikuti panggilan yang ditutup. Dalam benakku, aku juga tidak mau kembali ke dalam keluarga Mas Radit lagi. Meski jika mantan suamiku yang sangat aku cinta itu memintaku kembali padanya, aku tak akan mau. Memangnya siapa yang mau tinggal dengan orang yang membencimu dan tiap hari mencemooh setiap jerih payahmu? Aku hanya manusia. Hatiku terbuat dari segumpal darah. Jadi, aku tak ingin masuk ke dalam penderitaan yang sama lagi. Luka yang sudah tergores, tak akan sembuh. Karena ini luka yang tak kasat oleh mata. ***bersambung***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD