~Lidah tak bertulang. Kau berucap, kau lupa. Tapi yang mendengar akan selalu mengenang~
Mentari pagi mulai menyapa di atas atap-atap rumah di desa. Aku kembali melanjutkan masa 'idahku. Masa 'idah yang bertambah lama karena aku juga harus selesai masa nifasku dulu. Setelah selesai baru ditambah tiga kali masa suciku. Mungkin jika dijumlah kurang lebih empat bulan lamanya. Namun, aku tak mau hanya diam saja di rumah. Setidaknya aku akan menyelesaikan pekerjaan rumah seperti saat aku belum menikah dulu.
Pagi ini aku menjemur pakaian di halaman yang letaknya di samping rumah. Aku sadar, saat sedang menjemur pakaian, beberapa tetanggaku melihat ke arahku dengan wajah penuh tanya. Hingga ada seorang ibu-ibu yang rumahnya kurang lebih berjarak sepuluh meter dari rumah menghampiriku.
"Mbak Osya. Kok pulang ke rumah sendirian? Mana suaminya?" tanya ibu-ibu berpakaian daster selutut dengan perut berlemak sembari menatapku.
"Di Jakarta, Bu," jawabku mencoba tersenyum menutupi kesedihanku.
"Oh. Kok nggak ikut? Lagi berantem ya?" tanya wanita itu lagi. Ingin tahu.
"Permisi ya, Bu Edah. Saya lupa sedang rebus songkong di dapur," ujarku sembari membawa masuk ember yang telah kosong. Tak ingin aku meladeni tetanggaku yang sok ingin tahu itu. Astaghfirullahal'azim.
"Dih. Palingan juga dicerai tuh orang. Sombong banget. Sok suci lagi." Lamat-lamat aku masih mendengar ucapan Bu Edah. Wanita itu memang dengan sengaja berujar dengan sedikit mengeraskan volume suaranya. Aku hanya bisa terus beristighfar agar tak larut dalam emosi.
Pada hari berikutnya Bu Edah kembali datang mendekati rumahku. Seperti pada hari sebelumnya aku akan mencari alasan untuk menjauh darinya. Mana mungkin aku memberitahunya jika aku benar sudah berpisah dengan Mas Radit. Tak tahu lagi berita apa yang akan Bu Edah sebarkan di desaku.
Sekarang tak hanya Bu Edah yang bertanya-tanya tentang kepulanganku. Ibu-ibu pengajian yang lainnya juga ikut penasaran dengan hubungan pernikahanku. Apalagi sekarang aku sudah genap sebulan berada di rumah. Menjadi beban kedua orangtuaku.
Ingin aku segera keluar lagi untuk mencari pekerjaan. Tak enak rasanya jika sudah besar bergantung pada orangtua. Salah satu hal yang sangat aku sesalkan adalah saat aku lulus aku langsung menikah dengan Mas Radit. Seandainya saja waktu bisa diputar kembali, aku ingin mengukir prestasi dengan bekerja sebagai guru seperti cita-citaku. Rasanya percuma bapak dan ibu membiayai kuliahku selama ini. Aku hanya menjadi pengangguran.
Saat malam hari tiba, aku kembali teringat dengan kenangan lama. Kenangan saat pertama kali aku bertemu dengan Mas Radit. Waktu itu Mas Radit berkunjung ke rumah bersama Mas Satrio. Mereka merupakan teman satu prodi. Bahkan sudah menjadi teman akrab pada awal pertemuan mereka.
"Osya. Kenalkan ini teman Mas. Namanya Radit. Dia dari Jakarta," ucap Mas Satrio. Aku menatap seorang laki-laki tampan yang berdiri di samping Mas Satrio. Dia tersenyum sembari menundukkan kepalanya padaku.
"Raditya Suherman," sapa Mas Radit sembari menelangkupkan kedua tangannya di depan d**a.
"Saya, Osya. Adiknya Mas Satrio," balasku ikut tersenyum dan melakukan hal yang sama.
Dari perkenalan singkat itulah aku semakin akrab dengan Mas Radit. Laki-laki itu kuliah pada kampus yang sama dengan Mas Satrio di Jogja. Aku yang waktu itu berusia enam belas tahun terpesona pada pembawaannya. Mas Radit pun sering ke rumah dengan Mas Satrio ketika hari libur. Mas Radit adalah cinta pertamaku. Namun, waktu itu aku tak berani mengungkapkan perasaanku. Aku hanyalah pengagum rahasianya hingga tiga tahun lamanya.
"Osya. Sekarang kamu udah kelas dua belas ya?" tanya Mas Radit saat kami duduk di ruang tamu bersama Mas Satrio tentunya.
"I-iya," jawabku gugup.
"Kenapa kau tanya-tanya itu ke Osya?" tanya Mas Satrio menatap Mas Radit dengan curiga.
Mas Radit menggaruk belakang lehernya yang mungkin terasa gatal. "Cuma tanya aja, Sat. Oh iya. Terus rencananya mau nerusin kuliah di mana?" tanya Mas Radit menatapku.
"InsyaAllah sih di Magelang aja, Mas," jawabku.
"Nggak di Jogja aja biar sama kaya kami?" tanya Mas Radit lagi. Aku menggeleng.
"Dih. Sok nyuruh-nyuruh," ejek Mas Satrio.
"Ya kan tanya doang," sungut Mas Radit.
"Memangnya kenapa pakai tanya-tanya segala? Kau suka sama adikku?" Pertanyaan itu membuatku terkejut. Bahkan Mas Radit juga ikut kaget dan menoleh menatap Mas Satrio.
"Ehem. Memangnya kenapa kalau aku suka sama adikmu?" tanya Mas Radit. Membuatku kaget dua kali. Aku yakin saat itu kedua pipiku mulai merona.
"Punya apa kau menyukai adikku?" tanya Mas Satrio.
"Punya hati dan nyali lah," jawab Mas Radit. Mas Satrio menaikkan sebelah alisnya.
"Tapi aku beneran serius. Aku suka sama Osya bahkan sejak pertama kali ketemu. Tapi aku nggak ngajak kamu pacaran loh, ya," jelas Mas Radit membuatku terkejut. Ternyata laki-laki yang aku kagumi juga menyukaiku.
"Aku cuma mau ngungkapin perasaanku aja. Kalau kita berjodoh, insyaAllah kita akan dipersatukan. Dan aku sadar kalau Osya nggak mungkin menyukai orang sepertiku," ucap Mas Radit lagi.
"Aku juga suka sama Mas Radit!" seruku tiba-tiba. Kedua laki-laki di hadapanku terperangah tak percaya. Begitu pula diriku. Dari mana aku mendapat keberanian mengungkapkan perasaanku?
Mas Radit kemudian tersenyum padaku. Menatap lembut ke arahku. "Kalau begitu biarkan seperti ini. Setidaknya kita tahu perasaan kita masing-masing. Mas janji. InsyaAllah jika Allah menghendaki, setelah kamu lulus kuliah Mas akan langsung lamar kamu," ucap laki-laki itu dengan tatapan serius.
"I-iya, Mas." Aku membalas sembari menganggukkan kepalaku.
"Awas tapi kalau sampai kau ingkar janji!" ancam Mas Satrio sembari merangkul pundak Mas Radit.
"Enggak kok. Aku serius. Dan saat kamu kuliah, aku akan serius bekerja biar bisa jadi imam yang baik buat kamu," imbuh Mas Radit meyakinkan. Aku terharu mendengarnya. Tanpa aku ketahui, papah Mas Radit menjodohkanku dengan pria yang aku cintai. Diam-diam bapak dan ibu menerima perjodohan itu dan menjalin hubungan baik dengan keluarga Mas Radit.
***
Setelah tiga setengah tahun kemudian, Mas Radit menepati janjinya. Dia datang bersama kedua orangtuanya. Bahkan Mas Satrio dengan istri dan anaknya yang masih bayi ikut menyaksikan momen membahagiakan itu. Momen bahagia saat aku mendengar secara langsung Mas Radit mengucapkan kalimat yang disaksikan para malaikat. Saat kami sudah menjadi suami istri yang sah secara agama dan negara, aku diajak tinggal di rumah keluarga Pak Raharjo, almarhum ayah mertuaku. Mas Radit juga sangat menyayangiku. Dia selalu memperlakukanku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Rasa cintaku semakin besar padanya. Pak Raharjo juga benar-benar menerimaku dengan baik. Beliau bahkan menganggapku seperti anaknya sendiri. Namun sayang, hingga pernikahan kami yang baru berusia enam bulan, beliau meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya. Setelah itulah istrinya menunjukkan sikap ketidaksukaannya padaku. Sikap itu ditunjukkan secara terang-terangan saat Mas Radit pergi ke luar kota.
Karena rasa benci yang aku terima itulah aku kembali pulang ke rumah. Kembali menjadi beban di keluarga ini. Sedih rasanya jika mengingat kebahagiaan yang singkat itu. Apalagi sekarang aku mendengar cemoohan dari tetanggaku. Sungguh. Berita dari mulut ke mulut itu sangat menyakitkan. Apalagi jika berita itu sudah dibumbui dengan aneka rasa. Akan tetapi aku tak menghiraukannya. Bisa gila jika aku terlalu memikirkan cemoohan tetangga.
Di rumah aku pun tak tinggal diam. Alhamdulillah ada sebuah pekerjaan yang dapat kukerjakan tanpa harus keluar rumah. Meski sekedar memasukkan cotton buds ke dalam kemasan kecil, tetapi aku bersyukur setidaknya aku tidak menganggur. Bapak juga ikut membantu mengambilkan cotton buds dari produsen yang merupakan teman lama bapak. Meski upahnya tak seberapa, aku sudah sangat bersyukur. Setelah masa 'idahku selesai, aku akan mencari pekerjaan yang lain. Pekerjaan yang sudah lama menjadi cita-citaku.
***bersambung***