~Meski kau pernah terpuruk, bangkitlah!~
Kini sudah habis masa 'idahnya. Osyana Putri sudah bisa bernapas lega. Waktunya untuk segera mencari pekerjaan lain. Dengan berbekal ijazah sarjana serta doa kedua orangtua, wanita itu pergi mencari lowongan pekerjaan yang dekat dengan rumahnya. Di kecamatan sebelah. Ia mendengar dari sang ayah bahwa ada sebuah sekolah yang sedang mencari seorang guru pengganti.
Osyana menaiki sebuah ankutan kota agar sampai di tempat tujuan. Setelah kurang lebih lima belas menit, Osya sudah tiba di sebuah taman kanak-kanak. Wanita itu pun berjalan memasuki pintu gerbang. Ia langsung bertanya pada ibu-ibu yang sedang menunggu kepulangan anak mereka.
"Assalamu'alaikum. Permisi bu-ibu. Maaf mengganggu. Saya mau tanya, kantor kepala sekolahnya di mana ya?" tanya Osya dengan sopan.
"Wa'alaikumussalam. Oh. Di sana, Mbak," jawab salah seorang ibu-ibu sembari menunjuk sebuah bangunan di sudut TK.
"Terima kasih, Bu," balas Osya sembari tersenyum.
"Tapi biasanya kepala sekolah masih mengajar di kelas, Mbak. Tunggu saja. Sebentar lagi waktunya pulang," imbuh ibu-ibu yang lainnya.
"Begitu ya, Bu? Terima kasih. Saya akan menunggunya di sana. Sambil melihat-lihat," balas Osya.
Wanita itu pun berjalan menuju kelas tempat mengajar anak-anak. Ketika ia sedang melangkahkan kakinya, ia mendengar suara langkah anak-anak kecil yang sedang berlomba keluar kelas. Benar saja, sudah waktunya pulang sekolah. Semua murid langsung keluar menuju rak sepatu. Duduk berjejer sembari memakai sepatu mereka yang beraneka warna. Osya tersenyum melihat wajah ceria anak-anak itu. Ia sekilas teringat dengan anaknya yang sudah tiada beberapa bulan yang lalu. Andai saja anaknya bisa diselamatkan, pastinya ia kini bisa mengelus perutnya yang buncit dengan rasa sayang.
Osya kembali tersadar dengan tujuannya datang ke tempat itu. Ia ingin bertemu dengan kepala sekolah. Ketika seorang guru keluar dari ruang kelas, guru itu menatap Osya dan tersenyum ke arahnya.
"Assalamu'alaikum, Bu," sapa Osya ramah.
"Wa'alaikumussalam, Mbak. Ada apa ya?" tanya wanita itu pada Osya.
"Maaf sebelumnya. Saya ingin menemui kepala sekolah di TK ini," ucap Osya.
"Saya kepala sekolahnya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita berusia sekitar empat puluh lima tahun itu.
"Oh, Ibu, ya? Perkenalkan nama saya Osyana. Kedatangan saya kemari karena saya mendapat informasi jika sekolah ini membutuhkan guru bantu," jawab Osya.
"Oh. Iya, Mbak. Benar, benar. Kalau begitu silakan ke kantor, Mbak. Kita bicara di sana saja," ajak wanita itu.
Osya berjalan mengekor kepala sekolah menuju ke kantornya. Ruangan itu tak terlalu besar. Desainnya pun sederhana dengan buku-buku dan berkas-berkas yang tertata rapi.
"Silakan duduk, Mbak," tawar sang kepala sekolah.
"Terima kasih, Bu."
"Oh iya. Nama saya Sinta. Kepala sekolah di TK Semesta. Kami memang sedang mencari guru bantu untuk menggantikan Bu Mala yang mau cuti. Maklum saja jumlah guru di sini terbatas dan kami butuh guru bantu selama kurang lebih satu semester sampai kelulusan TK B. Mbak Osyana serius berminat mengajar di sini?" tanya Sinta.
"Iya, Bu Sinta. Saya ingin mengajar di sini." Osya menjawab dengan antusias. "Dan ini berkas yang saya bawa sebagai syarat pendaftaran," imbuhnya sembari menyerahkan berkas-berkas yang ia bawa.
"Saya lihat dulu ya, Mbak?" tanya Sinta.
"Silakan, Bu."
Sinta memeriksa kelengkapan dokumen yang dibawa. Wanita itu tersenyum ketika melihat transkrip nilai Osya.
"Wah. Mbak nilainya bagus-bagus, ya? Bahkan nilai praktiknya juga," puji Sinta.
"Te-terima kasih, Bu."
"Sudah pernah mengajar anak-anak TK, Mbak?" tanya Sinta.
"Emmm. Kalau di sekolah belum sih, Bu. Tapi kalau ngajar mengaji pernah dulu waktu kuliah," jawab Osya.
"Oh begitu. Pengalaman mengajar apa lagi yang pernah, Mbak?" tanya Sinta lagi.
"Saya pernah praktik mengajar di SD, Bu," jawab Osya sembari tersenyum.
"Begitu, ya? Hmmm. Baiklah. Mbak Osya saya terima mengajar di sini. Kalau mau, Mbak bisa mulai mengajar besok. Kebetulan juga kami sedang membutuhkan guru ngaji. Tapi ... Mbak keberatan tidak kalau ngajar di kelas plus ngajar ngaji?" tanya Sinta.
"InsyaAllah tidak keberatan, Bu," jawab Osya yakin.
"Alhamdulillah kalau begitu. Saya akan memberitahukan Bu Riska. Beliau ini juga guru di TK A. Maklum saja Mbak. Sekolah ini kecil, jadi gurunya sedikit," jelas Sinta.
"Iya, Bu. Tidak apa-apa. Saya sangat berterimakasih diterima mengajar di sini," balas Osya.
"Bagus, Mbak. Nah ini dia Bu Riska. Bu, kenalkan ini Mbak Osya, yang akan menggantikan Bu Mala," seru Sinta pada seorang wanita yang baru saja memasuki ruangan.
"Oh, Mbak Osya anaknya Pak Salim ya?" sapa Riska.
"Iya, Bu Riska," jawab Osya.
"Saya kenal sama beliau, Bu Sinta. Dulu tetangga saya sebelum saya pindah rumah. Orangnya baik kok. InsyaAllah bisa langsung akrab sama anak-anak," ucap Riska.
"Begitu ya? Bagus dong, Bu Riska. Ya sudah. Mulai besok Mbak bisa datang sebelum jam setengah delapan. Soalnya pelajaran dimulai jam setengah delapan. Mbak juga akan megajar di kelas B. Menggantikan kelasnya Bu Mala. Kelas itu disebut kelas Mentari oleh Bu Mala. Karena anak-anaknya sangat antusias." Sinta kembali memberi penjelasan.
"Kelas Mentari? Sepertinya kelas yang bagus sekali, Bu," puji Osya.
"Iya."
"Ya sudah. Kalau begitu saya permisi dulu, Bu. InsyaAllah besok saya akan datang tepat waktu," ucap Osya.
"Ya, Mbak. Akan saya tunggu." Sinta menjabat tangan Osya.
"Saya permisi ya, Bu Riska," ucap Osya bergantian menyalami Riska.
"Iya. Hati-hati di jalan ya, Mbak," balas Riska.
"Iya, Bu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Osya pun meninggalkan ruang kepala sekolah. Wanita itu senang sekali. Akhirnya hal yang sudah ia cita-citakan sejak lama menjadi nyata. Meski hanya sebagai guru sementara. Tak apa, Allah pasti punya jalan yang lain. Dengan pengalaman ini, mungkin bisa dijadikan sebagai pengalaman mengajar yang sesungguhnya.
Di luar sudah tak ada lagi ibu-ibu yang menunggu di tempat tunggu. Anak-anak pun sudah pulang bersama orangtua mereka. Namun, saat langkah kakinya ia lanjutkan menuju pintu gerbang, ia melihat sesosok anak kecil berambut panjang sedang duduk di ayunan. Osya penasaran kenapa anak kecil itu belum pulang? Perlahan ia berjalan mendekati anak kecil itu.
"Nduk. Kamu sedang apa di sini sendiri?" tanya Osya lembut.
Gadis kecil itu pun menoleh dengan wajah lesu. "Saya sedang menunggu Nenek jemput," jawabnya dengan suara lirih. Namun, masih dapat didengar oleh Osya.
"Oh sedang nuggu dijemput? Mau Ibu temani?" tanya Osya sembari berjongkok di dekat gadis kecil itu. Gadis kecil itu pun mengangguk pelan.
"Nama kamu siapa?" tanya Osya ramah.
"Ana ...." jawab Ana masih dengan suara lirih.
"Oh. Ana. Nama saya Osya. Kamu di kelas apa?" tanya Osya lagi. Mencoba meredamkan kegugupan Ana.
"Kelas Mentari," jawab Ana.
"Wah kelas Mentari." Osya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"I-ibu siapa?" tanya Ana penasaran.
"Emmm. Bu Osya ini insyaAllah akan mengajar di sini," jawab Osya sembari tersenyum.
"Oh ...." Ana mengangguk pelan.
Sunyi sesaat. Osya memutar akal untuk membuka pembicaraan. "Emmm. Ngomong-ngomong Ana suka jajan apa nih?" tanya Osya.
"Cokelat," jawab Ana singkat sembari menatap Osya.
"Cokelat? Kok kita sama."
"Benarkah?" tanya Ana berubah menjadi antusias.
"He-em. Oh iya. Kebetulan kemarin pas belanja Bu Osya beli cokelat. Bentar, kebawa tidak, ya?" ucap Osya sembari membuka tasnya. Ana tampak sedang menunggu.
"Nah ini dia. Ini buat Ana saja." Wanita itu memberikan sebatang cokelat pada Ana.
Ana tampak ragu-ragu ketika mau menerima cokelat itu. Sepertinya ia takut jika Osya akan berbuat jahat padanya.
"Nggak apa-apa. Ini cokelatnya enak kok. Ibu juga kemarin udah makan. Nanti boleh deh dibawa pulang sama Ana," bujuk Osya.
"Be-beneran boleh Ana bawa pulang?" tanya Ana dengan wajah polos.
"Iya. Boleh," jawab Osya sembari menyodorkan cokelat itu.
"Makasih, Bu Ocha," balas Ana akhirnya mau menerima cokelatnya.
"Sama-sama." Osya tersenyum mendengar panggilan barunya.
Ana pun langsung memasukkan cokelat itu ke dalam tasnya.
"Nenek!" seru Ana saat melihat orang yang menjemputnya. Gadis kecil itu pun berlari menghampiri neneknya.
Osya tersenyum kecil melihat Ana. Gadis kecil itu akan menjadi salah satu muridnya.
"Nenek. Bu Ocha kasih aku cokelat loh. Bu Ocha juga tadi nemenin Ana nungguin Nenek. Ana jadi tidak sendirian," ujar Ana pada neneknya.
"Iya? Wah berarti harus berterimakasih dong sama Bu Ocha," balas sang nenek.
"Sudah kok tadi," jawab Ana sembari tersenyum ke arah Osya.
"Bu. Terima kasih ya sudah menemani cucu saya," ujar wanita itu pada Osya.
"Sama-sama, Bu," balas Osya.
Ana dan neneknya pun pergi meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Osya yang masih tersenyum melihat keceriaan Ana.
"MasyaAllah. Dia akan menjadi muridku," gumam Osya senang.
***bersambung***