"Benarkah menyimpan cinta sesakit ini. Atau kah seperih ini dalam melihatnya bahagia bersama yang lain. Atau sepatah ini mendengar ia yang teramat kita cinta terluka"
*****
Setelah seminggu menginap di rumah Atha, Yusuf dan Naura memutuskan untuk pulang ke rumah utama. Setelah memasukkan baju milik Naura kedalam koper Atha-pun bergegas membawanya ke bawah menyusul Yusuf dan Naura yang sedang menyantap sarapan buatannya.
Setelah sarapan selesai Yusuf pun mengajak Naura untuk segera berangkat, mengingat hari ini dia ada miting penting di kantor, yang tidak bisa di lewatkan.
"Kamu bener nggak mau bareng sekalian" tanya Yusuf ke pada Atha setelah memasukkan koper Naura kedalam mobil.
"Enggak Mas, nanti adek di jemput sama Dianty kok" ucap Atha sembari merapikan dasi milik Yusuf yang sedikit berantakan.
"Bener"
"Iya Mas"
"Unda" panggil Naura semabari menarik ujung baju milik Atha.
Atha pun mensejajarkan tingginya seperti Naura"Iya sayang"
Dengan cepat Naura mencium pipi sang Bunda"Naula pulang ulu ya. Anti Naula ain agi cecini"
"Iya bunda tunggu. Hati hati ya"
"Iya unda"
"Ya udah Mas berangkat dulu ya" pamit Yusuf setelah Naura masuk kedalam mobil.
"Iya Mas, hati hati" ucap Atha sembari mencium tangan Yusuf.
"Assalamualikum" salam Yusuf sembari memberikan satu kecupan di kening Atha.
"Wa'alaikumsalam"
Setelah mobil Yusuf tidak terlihat barulah Atha masuk kedalam rumah untuk bersiap siap menuju kampus.
*****
Tak lama Yusuf dan Naura sudah sampai di rumah utama. Terlihat sebuah mobil terparkir di garasi, menandakan istri pertamanya sudah pulang dari bandung.
Setelah mengeluarkan koper, Yusuf pun menggendong Naura masuk kedalam rumah dengan satu tangannya di gunakan untuk menyeret koper milik Naura.
Saat memasuki rumah Yusuf menemukan Rania, sitri pertamanya yang sedang duduk membaca sebuah majalah di soffa ruang tv.
"Ran" panggil Yusuf setelah mereka sampai ruang tv.
Rania yang sedang fokus pada majalahnya pun langsung menengok ketika namanya di sebut "Eh udah sampai. Gimana udah siap ngasih hak buat aku"
"Ini masih pagi Ran, aku harus ke kantor" jengah Yusuf dengan ke inginan Rania yang selalu meminta hak tanpa henti sejak seminggu yang lalu.
"Aku maunya sekarang"
Yusuf pun memutar matanya jengah, selalu seperti ini jika sang istri menginginkan sesuatu harus selalu di turuti detik itu juga"Tapi aku ada miting hari ini dan enggak bisa di tinggal begitu aja"
"Ayo lah kamu kan bos. Suruh aja karyawan kamu buat gantiin. Dan aku maunya sekarang,inget ya Suf aku udah nunggu ini selama 3 tahun"
"Oke fine."putus Yusuf dengan kesal.
"Mama cama papa tenapa belantem"tanya Naura yang sedari berada di gendongan Yusuf, dan melihat perdebatan kedua orang tuanya.
"Mama sama papa enggak berantem kok sayang.emm gini deh Naura mau enggak bantuin papa"ucap Yusuf ke pada Naura yang sudah di turunkan dari gendonganya.
"antu apa pa" tanya Naura tampak senang.
"Naura bisa kan buat lukisan buat papa" tanya Yusuf sembari merapakan poni milik Naura yang sedikit berantakan.
"Bica, cebental Naula mau ambal cama tak Ita duyu" ucap Naura antusias langsung berlarin mencari sang pengasuh untuk di ajaknya menggambar.
Setelah kepergian Naura, Yusuf dan Rania langsung menuju kamar mereka yang berada di lantai atas. Yusuf pun masih tampak kesal dengan apa yang di lakukan sang istri hanya karna meminta haknya selama ini.
Malamnya suasana di meja makan keluarga Ramadhan tampak sunyi sepi ,tidak seperti biasanya yang selalu ramai dengan celotehan dari milik Naura.
"Naura kenapa sayang ,kok makanan nya cuma di aduk aduk"tanya Yusuf yang mulai hawatir dengan perubahan sang putri.
"Naula angen unda papa.apa unda uda akan benyum,pasti unda kecepian tidul cendili"lirih Naura sembari mengaduk aduk nasi yang berada di piringnya.
"Em bunda pasti udah makan kok. Nanti kalo Naura nggak makan Bunda sedih gimana. Emang Nuara mau liat Bunda sedih" jelas Yusuf sembari mengusap kepala Naura dengan sayang.
Mendengar ucapan sang papa jika sang bunda akan bersedih membuat Naura buru buru melahap makanannya"Ndak mau papa, Naula akan yang anyak bial unda ndak cedih"
"Pinter"
Rania yang mendengar sang putri menyebut sang istri kedua dari suaminya mambuatnya kesal sendiri"Apa istimewanya sih tu orang, pelakor nggak tau diri aja di banggain" sinis Rania.
"Ran. Jaga ucapan kamu, ada Naura di sini" tegur Yusuf sembari melirik Nuara yang masih fokus makan dengan mulut penuh nasi.
"Emang kenapa, biarain aja dia tau kalo orang yang di sebut Bunda tu nggak lebih dari dari seorang pelakor"
"Ran aku pringatin sekali lagi" ucap Yusuf sembari menekan kemarahannya, ia hampir kehilangan kesabarannya.
Bukannya mereda Rania malah semakin menjadi"Apa, emang kenyataannya dia itu pelakor nggak tau diri"
"RANIA "teriak Yusuf dengan emosi yang sudah tidak bisa di bendung lagi.
"Papa....." lirih Naura yang merasa takut dengan suara tinggi dari sang papa. Apa lagi dengan wajah Yusuf yang tampak memerah.
Yusuf pun mengusap wajahnya kasar setelah melihat wajah takut Naura. Beberapa hari ini ia memang susah untuk mengendalikan emosinya, saat menghadapi sifat istri pertamanya ini.
Setalah dingin barulah Yusuf kembali berbicara ke pada Rania "Dengar Ran, aku nggak mau kita bicarain masalah kita di depan Naura kamu inget itu, atau aku nggak bakal ngasih apa pun yang kamu mau lagi."
"Terserah" jawab Rania lalu berlalu pergi menuju kamar.
Setelah tubuh Rania hilang dari balik pintu barulah Yusuf mengakihkan fokusnya ke pada Naura yang masih melihatnya dengan tatapan takut "Naura, maafin papa ya. Tadi papa hilaf, Nuara maukan maafin papa"
Tak ada respon dari Naura sama sekali. Baru setelah Yusuf mengusap lembut kepala sang putri, Naura meresponnya "Iya papa. Api angan agi betitu Naula akut"
"Iya janji" ucap Yusuf sembari mencium kening Naura.
******
Di Tempat Atha, sekarang ini ia sedang menatap nanar meja makan yang terdapat bebarapa piring lauk yang sengaja ia masak. Ia lupa bahwa Naura dan Yusuf sudah kembali ke rumah utama tadi pagi.
Ia pun menghela nafas beratnya, dengan sangat terpaksa ia menaruh masakannya ke dalam wadah dan di letakkan nya di dalam lemari pendingin. Rencanya esok akan di hangatkan lagi dan membawanya ke kampus untuk di berikan ke pada Dianty dan shalsa yang memang sangat suka dengan apa pun yang ia masak.
Tanpa menyentuh satu sendok nasipun, Atha langsung berjalan menuju kamar, untuk mengerjakan tugas yang harus di kumpulkan esok hari.
Bohong kalo Atha menyebut dirinya tidak lapar. Bahkan mungkin ia sudah sangat lapar apalagi siang tadi ia hanya memakan beberapa potong roti untuk mengganjal perutnya. Mungkin ia hanya tidak nafsu makan saat melihat meja makan yang kosong tanpa orang lain yang menemaninya makan.
Ia merindukan si kecil Nuara yang beberapa hari belakangan selalu mengisi hari harinya dengan senyum dan tawanya. Mengingat Naura membuatnya lebih merindukan laki laki yang sudah resmi menjadi suaminya beberapa hari yang lalu.
Mengingat itu semua membuat kepala Atha menjadi pusing. Dengan kesal Athalia menutup buku paketnya dan memasukkannya ke dalam tas. Lalu berjalan ke arah kasur dan mejatuhkannya di atas kasur empuknya.
"Ahh gini banget ya punya suami tapi berasa enggak punya" lirih Atha sembari menatap langit langit kamarnya yang tampak polos tanpa hiasan apapun di sana.
Setelah beberaoa lama bergilat dengan fikirannya, Atha memutuskan untuk langsung tidur, berharap hari esok lebih indah dati hari ini.
"Selamat tidur para bintang yang berada di atas langit. Sampaikan kepada dia yang teramat aku sayang. Katakan padanya di sini ada seseorang yang membisikkan namanya dengan sepenuh hati untuknya" bisik sebelum memasuki alam mimpi.
*****
"Tak ada salahnya memaafkan dia yang telah menghianati kita. Tapi Yang salah adalah sudah tau di penghianat kenapa kau masih mau bersamanya,bahkan bersama orang yang suda menancapkan ribuan belati ke dalam hatimu"
*****