"Berjalan dan saling menggenggam adalah impian yang belum terlaksana"
*****
Hari ini Yusuf memutuskan mengambil cuti dari semua pekerjaan yang menyita waktunya. Apa lagi setelah mendenger keluhan sang putri tentang kesibukannya beberapa hari ini yang memang padat, sampai tidak punya waktu untuk istri dan putrinya di rumah. Yusuf pun selalu berangkat pagi dan pulang larut malam ketika Nuara dan Atha sudah tidur dengan saling memeluk satu sama lain.
Mengingat keluhan Naura kemarin membuat perasaan bersalah di hati Yusuf menyeruat. Semua yang di katakan sang putri memang ada benarnya, sebelum menikah dengan Atha-pun, dulu ia sering menghabiskan waktunya di kantor, bersama seluruh tumpukan berkas berkas pentingnya. Tanpa memikirkan Naura yang butuh kasih sayang lebih darinya.
Andai waktu bisa di putar mungkin Yusuf akan mengulang waktu yang di habiskan di kantor selama ini dengan mencurahkan seluruh kasih sayangnya ke pada Naura.
"Ahhh Naura curang nih" keluh Yusuf entah sudah berapa kali ia kalah dari sang putri.
Naura-pun merengut sebal karena ucapan sang papa, yang membuat dirinya tampak lebih menggemaskan"Naula ndak culang. Papa nya aja yang ndak bica"
"Nggak mau ah, masa papa kalah mulu dari tadi"
"Bialin. Andanya Naula lebih hebat dali papa. Adi ini mutanya Naula acih bedak ulu" ucap Naura langsung menarik wajah Yusuf dan mengolesi bedak bayi yang sudah di tuang kedalam wadah kecil.
"Yah muka ganteng papa, jadi putih semua" ucap Yusuf sembari berpura pura sedih.
Tanpa memperdulikan raut wajah sang papa, Naura terus mengoleskan bedak sampai wajah Yusuf sudah berubah menjadi putih "Papa adi ambah anteng"
" Nggak ah papa jadi jelek"
"Anteng papa. Unda...."
Mendengar namanya di panggil, Atha yang sedang berada di dapur menyiapkan cemilan-pun langsung berjalan menuju ruang keluarga dengan nampan berisi potongan buah dan segelas s**u untuk Naura, tidak lupa dua cangkir teh untuk dirinya dan Yusuf "Ke napa sak... ya Allah ini kenapa mukanya pada cemong bedak"
Naura-pun langsung tersenyum kepada sang Bunda yang sudah memasang wajah heran"Hehe abis main ulal angga unda"
"Sama Mas kalah mulu Dek dari Naura" adu Yusuf seperti anak kecil.
"Itu berarti Naura lebih hebat dari papa. Ya kan Naura" ledek Atha sembari duduk di sebelah Naura setelah menaruh nampan di atas meja.
"Iya Unda" jawab Naura senang karena sang Bunda membelanya.
"Kok gitu."
"Abis Mas kalah mulu, jadi Adek timnya Naura, ya kan Naura"
"Iya Unda. Cama Naula aja angan ama papa. Papa kayah muyu"
"Gitu ya. Ya udah papa marah ah" ucap Yusuf sembari pergi dari ruang keluarga menuju entah kemana.
Atha-pun dengan jailnya, tidak memperdulikan sang suami yang sedang merajuk"Naura Bunda mau main dong"
Naura pun tersenyum senang dengan keinginan sang bunda"Boyeh Unda Cini, Naula ajalin"
"Wah maksih sayang"
"Cama cama Unda"
Tak lama datanglah Yusuf "Kok nggak ada yang ngejar papa sih" ucap Yusuf sembari berkacak pinggang di depan Nuara dan Atha yang masih asik main ular tangga.
Naura dan Atha masih diam dan terus asik dengan permainan ular tangga mereka"Terus aja cuekin papa"
Yusuf yang melihat dirinya benar benar di anggurin-pun, dengan sepontan duduk dengan posisi seperti orang berdoa dengan kedua tangan mengadah ke atas "Ya Allah bantu papa ya Allah. Papa di cuekin dari tadi" ucap Yusuf membuat Nura dan Atha tertawa.
"Kok malah ketawa" tanya Yusuf heran.
Naura yang sudah berhenti tertawa pun langsung turun dari sofa dan menarik tangan sang papa untuk duduk bergabung dengan sang Bunda "Abis papa ucu. Cini pa maapin Naula ya pa, Naula janji ndak akal agi"
"Hem iya. Ya udah main lagi gih" ucap Yusuf sembari memberikan dua buah dadu kepada Naura.
"Kenapa" tanya Yusuf kepada Atha setelah Naura fokus kembali kepada ular tangganya.
"Kenapa apa Mas" tanya Atha bingung.
"Kenapa Adek hari ini tambah cantik" goda Yusuf dengan senyum jailnya.
Mendengar pertanyaan dari sang suami membuat Atha salah tingkah"Emm apa sih mas, biasa aja kayaknya"
"Iya ih tambah cantik kok. Apa lagi Senyumnya tambah manis"
"Ishhh Mas ada Naura" ucap Atha sembari menutup kedua pipinya yang sudah memerah.
"Emang kenapa kalo ada Naura"
"Ishh tau ah" kesal Atha dangan wajah cemberutnya.
Bukannya berhenti Yusuf pun malah semakin menggoda Atha "Ngambek nie. Kamu itu cantik dek bener deh, apa lagi kalo lagi manyun begitu jadi tambah imut"
"Masss" rengek Atha sudah tidak tahan menghadapi godaan dari sang suami.
Nuara yang mendengar suara sang Bunda pun langsung berhenti dari kegiatannya dan langsung menatap sang bunda "Unda enapa. Papa natal ya"
"Eh enggak papa sayang"
"Papa angan angguin unda Naula" ucap Naura sepada sang papa sembari menatap tajam ke arah Yusuf.
"Papa enggak gangguin kok"
"Oong itu pipi unda melah. Asti papa ubit kan, Nuala ndak au agi emenan ama papa" kesal Naura sembari mengusap pipi sang Bunda yang masih terlihat bersemu merah.
"Loh papa enggak nyubit bunda sayang"
"Naula ndak pecaya papa. Ayo unda itut Naula" ajak Naura sembari menarik tangan sang Bunda untuk pergi dari ruang keluarga.
"Loh loh Naura. Masa papa di tinggal. Dekk bantuin" cegah Yusuf sembari menahan tangan Atha yang hanya diam.
"Maaf ya mas, mas sih jail" kekeh Atha sembari melepas genggaman Yusuf.
"Dekkk" panggil Yusuf saat Atha pergi bersama Naura.
Malamnya Yusuf pun tampak uring uringan sedari tadi, pasalnya Naura sampe sekarang masih marah kepadanya perihal kesalah pahaman tadi pagi.
Semua cara sudah Yusuf coba untuk membuat sang putri berbicara kepadanya, namun semua usahanya nihil tidak ada yang bisa membuat Naura luluh.
"Naura maafin papa dong. Tadi beneran papa enggak cubit pipi Bunda kok" ucap Yusuf kepada Nura yang tengah fokus melihat televesi.
"..."
"Naura" panggil Atha lembut.
"Iya unda"
"Maafin papa ya. Tadi papa enggak cubit bunda kok" jelas Atha kepada Nuara, ia sudah tidak tega melihat wajah melas sang suami.
seketika wajah Naura melembut ketika mendengar penjelasan sang Bunda"Teyus pipi unda meyah tenapa"
"Emm tadi gatel aja terus bunda garuk jadi merah"
"Benel"tanya Nura sembari menatap intens sang Bunda
"Iya sayang."jawab Atha lembut sembari mengelus kepala Naura.
setelah puas mendengar jawaban sang Bunda Naura pun langsung menatap wajah sang papa "Papa mapin Naula ya"
senyum Yusuf pun mengembang"Iya sayang. Sini papa mau peluk"ucap Yusuf sembari melebarkan tangannya untuk memeluk sang putri.
belum sempat Yusuf memeluk sang putri,Naura lebih dulu menghindar"Ndak mau. Ium pipi aja boyeh"
"Kenapa enggak mau peluk"ucap Yusuf pura pura sedih.
"Papa beyum mandi, bau acem"ucap Naura sembari menggeser tempat duduknya menjadi lebih rapat dengan sang Bunda.
"Heheh iya papa belum mandi tadi"
"jorok Mas ih"ucap Atha sembari ikt menggeser tempat duduknya.
"hehe ya udah papa mandi dulu ya "ucap Yusuf sembari berdiri dan merapikan sedikit bajunya.
"iya yang angi "
"siap tuan putri"
"Mas mau pake air anget"tawar Atha sembari mengikuti Yusuf berdiri.
"pake air biasa aja Dek.kamu di sini aja sama Naura Mas bisa sendiri"
"ya udah kalo gitu ak..... Masssss"pekik Atha ketika Yusuf tiba tiba mencium pipi kanannya dan pergi begitu saja.
"makasih sayang"teriak Yusuf dari dalam kamar.
*****