"jadikan aku mutiara yang sulit di dapat, dan jangan jadikan aku sebongkah batu yang bertumpuk di pinggir sungai"
****
Hari ini Atha dan Naura berencana membuat kue sebelum jam makan siang tiba. Mereka sengaja membuat kue untuk Yusuf, karena mereka berencana datang ke kantor Yusuf, saat jam makan siang. Apa lagi hari ini memang Atha tidak ada kelas yang harus di hadiri.
"Unda anti kuenya adi jam belapa" tanya Naura setelah sang bunda memasukkan loyang berisi adonan kue buatan mereka berdua ke dalam ofen.
"Hemm mungkin sebelum jam dua belas udah mateng. Kenapa?, Naura udah enggak sabar buat ketemu papa ya"
Naura pun mengangguk senang "iya, Naula mau kacih papa kue nya. Bial papa cemangat kelja"
"Kalo bunda di kasi apa kalo gitu" tanya Atha dengan ekspresi sedikit merajuk kepada Naura.
Naura yang melihat sang bunda memasang wajah merajuknyapun mencoba memikirkan hadiah apa yang pantas untuk di berikan kepada sang bunda. Tangan mungilnya pun di ketuk ketukkan ke dagu miliknya pertanda sedang berfikir "Emm aci apa ya. Aha.... Naula tau."
"Apa" tanya Atha tampak bingung dengan ekspresi seneng Naura.
Naura-pun langsung menarik tangan Atha agar berhadapan dengan nya dengan posisi jongkok"Cini unda, ongkok cini"
"Apasih"
Dengan cepat Naura memberikan satu buah kecupan di pipi sang bunda setelah jongkok di depannya "Itu uwat unda telcayang Naula"
"Haiss kok manis banget sih Naura. Siapa yang ajarin" gemas Atha sembari mencubit pelan pipi gembul milik Naura.
Senyum Naura-pun merekah saat melihat sang bunda tersenyum manis kepadanya"Papa yang ajalin unda. Atanya kayo kita cayang cama ceceolang caya ungapinnya ake ium pipi."
"Gitu ya. Jadi kalo sayang harus cium pipi"
"Iya"
"Tapi kok bunda cuma di cium sekali. Berarti Naura sayang sama bunda sedikit doang" ucap Atha dengan wajah di buat sesendu mungkin.
Naura yang melihat sang bunda kembali sedih-pun langsung menarik wajah Atha dengan tangan mungilnya untuk di cium"Naula cayang ama unda anyak. Ini Naula ium agi yang anyak"
Atha-pun hanya bisa tertawa ketika Naura terus menghujani wajahnya dengan kecupan miliknya. "Ihhh gemes deh bunda sama Naura, sini nak bunda mau peluk" ucap Atha sembari menarik tubuh Naura kedalam pelukannya.
"Naula cayang ama unda, angan inggalin Naula ya unda" ucap Naura sembari memeluk leher Atha erat.
"Iya sayang, bunda juga sayang sama Naura." Ucap Atha sembari mencium kening Naura.
"Unda. Uenya udah ateng eyum" tanya Naura sembari menunjuk ke arah oven yang sedang memanggang kue buatan mereka.
"Sebentar lagi sayang. Gimana sambil nunggu kuenya mateng kita mandi dulu" saran Atha setelah melihat wajah Naura yang sudah tidak sabar.
Naura-pun tersenyum senang dengan saran sang bunda "Iya unda. Naula au di andiiin unda hali ini. Coalnya biacanya Naula di andiin ama tak Ita"
Mendengar ucapan Naura membuat kening Atha berkerut, ia bingung bukankah mama dari Naura alias Rania ada di rumah. Tapi kenapa Naura tidak pernah di mandikan oleh sanang ibu. "Emang mama kemana" tanya Atha penasaran.
Wajah Naura berubah cemberut saat mengingat sang mama "Mama cibuk muyu. Adi Naula andi ama tak Ita iap hari"
Sekarang Atha mengetahui satu fakta tentang istri pertama suaminya yang sibuk sampai lupa memperhatikan sang putri "Ya udah, selama di sini Naura mandi sama bunda ya"
"Benel unda." Tanya Naura dengan mata berbinarnya.
"Iya"
Naura-pun langsung loncat kegirangan saat Atha bersedia memandikannya setiap hari"Yeyy acik ayo unda andi ayo"
"Iya iya"
Atha-pun mengangkat tubuh Naura kedalam gendongannya dan membawanya menuju lantai atas. Senyum manis milik Naura-pun tak pernah luntur dari wajah manisnya, ia begitu senang keinginannya untuk di mandikan oleh sosok seorang ibu terpenuhi, walau bukan ibu kandungnya sendiri tapi itu sudah cukup bagi gadis sekecil Naura.
"Unda, anti coye Naula au andi ama unda di koyam lenang boyeh" tanya Naura dengan senyum manisnya.
"Hem Naura mau berenang ya" tanya Atha memastikan
"Iya bunda. Bial Naula epet inggi taya unda. Telus again unda deh. Ata tak Ita talo seling lenang anti bica epet inggi unda" ucap Naura semangat.
Mendengar perkataan Naura membuat Atha gemas sendiri "Uhhh pinter banget sih. ya deh nanti sore kita mandi di kolam renang"
Naura-pun tersenyum senang sampai memperlihatkan jajaran giginya yang putih"Yeyyy aci unda"
"Sama sama sayang"
Setelah mandi dan bersiap Atha mengajak Naura menuju kantor milik Yusuf menggunakan taksi. Setelah membayar ongkos Atha menggandeng tangan Naura menuntunnya masuk ke dalam kantor, dan mendekati meja resepsionis.
"Permisi mbak, apa pak Yusuf nya ada" tanya Atha ke pada seorang resepsionis.
Sang resepsionis melihat Atha dari ujung kaki sampai ujung kepala, seperti meneliti tampilan Atha saat ini. "Iya. Maaf pak Yusuf nya tengah sibuk. Apa sebelumnya sudah membuat janji" ucap sang resepsionis yang bername tag Marta tersebut sedikit sinis.
"Em belun. Tapi saya in-"
"Kalo begitu maaf, mbak tidak bisa menemui pak Yusuf" potong Marta cepat, seperti terganggu dengan ke hadiran Atha dan Naura.
"Saya ada kepentingan" jelas Atha.
"Anda harus buat janji dulu"
"Unda yuk acuk, Naula udah ndak cabal" rengek Naura sudah tidak sabar.
"Sebentar sayang. Bunda bicara dulu ya sama tantenya" ucap Atha kepada Naura yang tengah menarik ujung bajunya.
"Ante buyu. Naula mau acuk" rengek Naura kepada Marta yang sudah tersenyum sombong.
"Adik kecil. Kalian nggak boleh masuk.pak Yusuf nya lagi sibuk, datang lagi besuk ya. Tante banyak kerjaan jadi jangan nangis di sini" ucapannya sinis dengan tatapan tidak sukanya kepada Naura, membuat Naura sedikit takut.
"Maaf, tolong jaga ucapan anda" ucap Atha kepada Marta. Ia merasa kesal bisa bisanya ada orang yang berbicara seperti itu kepada anak kecil seperti Naura. Bahkan membuatnya takut terbukti dari remasan tangan Naura kepada ujung bajunya.
"Maaf sebaiknya anda kembali besuk. Saya masih banyak kerjaan." Usir Marta ke pada Atha dan Naura, membuat Naura langsung bersembunyi di belakang tubuh sang bunda.
"Apa seperti ini. Seorang karyawan menyambut tamunya" sinis Atha, kesabarannya serasa di uji di sini.
"Maaf bisa anda pergi" usir Marta sekali lagi dengan sedikit menyentuh pundak Atha saat ia berjalan mengambil sebuah maap di rak.
"Unda...." rengek Naura sudah hampir menangis.
"Iya sayang. Sebentar ya bunda telpone papa dulu" ucap Atha lembut dengan mensejajarkan tubuhnya ke pada Naura. Sudah cukup kesabarannya dengan sikap pegawai yang tengah menatapnya dengan senyum remeh.
Dengan cepat Atha mengambil handphone dan mencari kontak milik Yusuf.
"Hallo. Mas bisa ke depan nggak" sapa Atha kepada Yusuf Setelah panggilannya terhubung
"..."
"Iya adek masih di depan resepsionis" ucap Atha sembari menghapus air mata Naura.
"....."
"Nggak boleh. Naura udah nangis mau ketemu sama mas Yusuf"
"...."
"Iya adek tunggu di sini" ucap Atha sembari menatap Marta sinis. Pembalasan akan di mulai, siapa dia dengan mudahnya membuat putri kesayangannya hampir menangis.
Atha memang gadis polos tapi untuk urusan seperti ini dia ahlinya, apalagi ada orang yang sengaja menyakiti orang yang di sayanginya. Jangan salahkan jika Atha berubah menjadi gadis nakal seperti sekarang.
"Yuk masuk yuk" ajak Atha langsung menggendong tubuh Naura dan di balas anggukan kepala oleh Naura.
"Maaf saya sudah bilang, anda di larang masuk" cegah Marta sudah berdiri di hadapan Atha.
"Ohh benarkah. Tapi jika saya memaksa" ucap Atha remeh.
"Saya akan panggil pihak keamanan untuk mengusir anda dari sini" ancam Marta dengan nada sombongnya.
Tampak dari kejauhan Yusuf berjalan menghampirinya dengan wajah datarnya" oh ya. Silahkan kalo bisa" pancing Atha seraya memberi kode kepada Yusuf untuk berhenti.
"Anda meremehkan saya" sombong Marta.
"Tidak. Saya cuma penasaran. Bagaimana kalo atasan anda tau dengan kinerja anda yang seperti ini" ucap Atha santai.
"Anda mengancam saya" tunjuk Marta dengan sombongnya.
"Saya tidak mengancam anda. Cuma ingin memastikan, bagaimana nasib anda setelah ini. Apa lagi anda baru seminggu di sini"
"Maksut anda apa"
"Bukan apa apa. Naura sayang, naura masuk duluan ya nanti bunda nyusul" ucap Atha sembari menurunkan tubuh Naura dari gendongannya.
"Iya unda" ucap Naura lalu berbalik berlari masuk ke dalam kantor
"Hai mau kemana. Jangan masuk" cegah Marta mencoba menangkap Naura.
Brukkk
Naura yang berlari pun tidak bisa menyeimbangkan langkahnya pun terjatuh dengan kening mendarat lebih dulu. "Aaaaa unda cakit aaaaaa" teriak Naura kesakitan dengan wajah yang sudah basah air mata.
"NAURA" teriak Yusuf dan Atha bersamaan, membuat seluruh karyawan menatap ke arah Yusuf dan Atha yang tengah menenangkan Naura yang berada di gendongan Atha .
"pak-pak Yusuf" ucap Marta dengan tubuhnya yang sudah menegang.ia menelan slavinanya kuat kuat apa yang dilihatnya sekarang ini benar benar di luar pengetahuannya selama ini.
"KAMU BISA KERJA TIDAK HAH" sentak Yusuf dengan wajah penuh amarah membuat nyali siapa saja menciut.
"maaf pak" ucap Marta tertunduk menyesal, ia baru tahu bahwa wanita dan anak kecil tersebut adalah anak dan istri dari bosnya. Jika ia mengizinkan mereka masuk mungkin semua ini tidak akan terjadi.
"maaf kamu bilang. Liat putri saya menangis gara gara kecerobohan kamu." Ucap Yusuf penuh amarah. Apalagi setelah melihat kening sang putri membiru akibat tebentur lantai.
"Mas udah" ucap Atha mencoba meredakan emosi Yusuf, dengan mengelus punggung Yusuf lembut.
"Enggak. Dia harus di hukum sayang. Kamu Marta, saya masih berbaik hati untuk dengan tidak memecat kamu. Tapi saya memindahkan jabatan kamu menjadi seorang ob selama satu bulan masa percobaan kamu" jelas Yusuf sembari menatap tajam ke arah karyawannya itu.
"Maaf pak.maaf saya benar benar tidak tau.maaf"ucap Marta benar benar menyesel.
"Sekarang pergi dari hadapan saya.sebelum saya berubah pikiran"
"Baik pak.permisi"pamit Marta lalu pergi menuju meja resepsionis untuk membereskan barang barangnya.
"Naura nggak papa"tanya Yusuf berubah menjadi lembut kepada Naura yang memeluk erat leher sang bunda.
"Cakit papa.paya Naula pucing.unda uyang yuk Naula ndak au agi cecini"rengek Naura dengan masih menyisakan isakannya.
Mendengar Naura mengeluh pusing membuat Atha sedikit merasa bersalah. Seharusnya ia tidak membiarkan Naura berlari sendiri tadi "Iya sayang.sebentar ya.mas aku pulang dulu ya, kasihan Nauranya"
"Mau mas anter" tawar Yusuf sembari mengelus rambut panjang Naura.
"Enggak usah mas. Adek naik taksi aja. O iya ini kue sama makan siang buat mas Yusuf, di makan ya" ucap Atha sembari menyerahkan kantong berisi kue dan kotak nasi untuk Yusuf.
Yusuf tersenyum manis ke pada Atha "Makasih sayang. Hati hati ya, nanti mas usahain pulang cepet"
"Iya. Assalamualaikum" pamit Atha sembari mencium punggung tangan Yusuf.
"Wa'alaikummussalam"
****