Main di Pantai

1242 Words
**** Setelah menyiapkan keperluan Naura Yusuf-pun membawa Naura ke ruang keluarga, yang ternyata sudah ada Rania dan juga mama Rita. "Seneng nya yang habis dapet istri baru" sindir Rania setelah Yusuf duduk di sofa dengan Naura yang berada di pangkuannya. "Jangan mancing Ran, ada Naura" tegur Yusuf. "Siapa juga yang mancing" "Sudah kalian ini. Gimana Suf sudah semua, kalo sudah mama sama Rania pamit dulu. Takut telat Sampe Bandungnya" lerai Mama Rita. "Iya ma, hati hati" "Ya udah yuk ma berangkat. Ingat ya Baal habis dari bandung aku mau hak aku sebagai seorang istri dari kamu" ajak Rania langsung mengambil tas jinjingnya. Lalu mulai berdiri merapikan pakaiannya. "Iya. Nggak perlu di ulang, aku masih inget. Naura salim sama Mama, sama nenek" kesal Yusuf dengan semua ucapan Rania, lalu mulai mengalihkan fokusnya ke Naura yang berada di gendongannya. "Iya Papa." Naura pun langsung saja mencium punggung tangan sang mama dan neneknya. Dengan gemas Rania pun mencium kedua pipi gembul milik Naura"Nurut sama Papa ya sayang, jangan nakal" "Iya Mama" ucap Naura sembari tersenyum menampilkan deretan giginya yang sudah tersusun rapi. "Mama pergi dulu, d**a Naura" pamit Rania setelah mereka berada di luar dengan Rania yang sudah berdiri di samping mobil, sedangkan mama Rita sudah duduk di dalam mobil. "d**a mama, d**a nenek" teriak Naura sembari melambaikan tangan mungilnya saat mobil sudah berjalan keluar dari halaman rumah. Setelah mobil yang di tumpangi Rania dan mama Rita benar benar hilang barulah Yusuf membawa Naura masuk ke dalam rumah. "Papa. Tapan ketempat undanya, Naula udah angen pengen peyuk unda" tanya Naura setelah mereka duduk di sofa sembari menonton tv. Yusuf pun tersenyum lembut ke pada Naura yang sudah tidak sabar bertemu sang Bunda"Sabar ya sayang. Bundanya masih sekolah" "Tapi Naula udah angen" lirih Naura sembari mengrucutkan bibirnya ke depan. "Em... gini aja deh, kita buat makan siang untuk bunda gimana, Naura mau" usul Yusuf saat melihat sang putri cemberut. Senyum Naura pun langsung mengembang. Ia merasa senang dengan ide sang papa"Iya pa, Naula mau, Naula mau. Naula mau ikin naci goyeng uwat unda pa." "Ya udah, kalo gitu Naura mandi dulu gih" ucap Yusuf sembari menurunkan Naura dari pangkuannya. Kini wajah Naura kembali masam ketika Yusuf menyuruhnya mandi"Naula kan udah mandi cama tak Ita" "Masa sih, kok bau asem ya" goda Yusuf sembari menciumi pipi gembul milik Naura. "Naula ndak bau acem " lirih Naura dengan mata yang mulai berkaca kaca. Yusuf pun terkekeh pelan saat melihat mata sang putri mulai berkaca kaca"enggak sayang, enggak kok Naura wangi , papa cuma bercanda jangan nangis ya. Ya udah kita siap siap ya" "Benel papa" senang Naura langsung menghapus air matanya yang sudah membasahi pipi cabinya. "Iya, Naura wangi kok. Yuk bikin nasi goreng buat Bunda" "Yey, Naula au antuin boyeh kan Papa" tanya Naura dengan wajah memohonnya. Membuat Yusuf gemas sendiri. "Boleh dong. Tapi hati hati ya" "Em, iya papa" semangat Naura. Siangnya Yusuf dan Naura-pun berangkat untuk menjemput Athalia yang sudah selesai dengan semua mata kuliahnya hari ini. Di jalan senyum milik Naura pun tak pernah luntur dari wajahnya. Ia tampak semangat untuk bertemu dengan sang bunda, apa lagi ia tampak senang dengan hasil masakannya bersama Yusuf yang sekarang tengah di pangkuannya, memikirkan reaksi sang bunda membuat hati Naura begitu senang, ia bener benar tidak sabar untuk memberikan nasi goreng buatannya ke pada sang bunda. "Papa, unda ana" tanya Naura setelah Yasuf memarkirkan mobilnya di depan universitas kedokteran. Yusuf pun tersenyum ke pada Naura yang nampak tak sabar bertemu sang bunda"Sebentar ya sayang, papa telpone bunda dulu" Dengan cepat Yusuf mengambil handphone miliknya yang berada disaku celananya, dan memulai menekan no milik sang istri. "Hallo dek dimana, mas udah di depan" "Ah adek di kantin mas, lagi makan sama temen temen" "Kamu udah makan, yahh padahal mas sama Naura bawa makanan buat kamu" "Ada Naura mas? " "Iya ada, ini lagi duduk samping mas, dari tadi enggak sabar ketemu kamu" "Ya udah aku kesana sekarang, tunggu ya mas" Panggilan terputus setelah terdengar grasak grusuk dari tempat Athalia. "Unda mana" tanya Naura setelah Yusuf meletakkan handphone miliknya. "Sabar ya bunda lagi kesini" Tak lama dari kejauhan nampak Atha yang tengah berlari menuju mobil milik Yusuf, membuat Naura teriak kesenangan. "Assalamualaikum" salam Atha setelah melihat Naura keluar dari mobil dengan di gendong Yusuf. "Waalaicumcalam unda" jawab Naura sembari merentangkan tangannya pertanda ingin di gendong oleh sang bunda. Atha-pun dengan senang hati menggendong Naura dan memberikan bebepara kecupan di pipi gembul milik Naura"Hey, prinses bunda bawa apa ini" Dengan semangat Naura memberikan kotak bekal berisikan masakannya bersama sang papa"Naci oyeng uwat unda. Adi Naula macak cama papa uwat naci oyeng cepical uwat unda" Dengan senang Atha menerima kotak bekal yang di berikan Naura dan berjalan ke arah bangku taman"Wahhh makasih sayang, pasti enak bunda makan ya" "Sayang, kamu kan habis makan" tahan Yusuf saat Atha ingin memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya. "Enggak apa apa mas. wahhh enak nasi gorengnya, Naura hebat ih masaknya. Masakan bunda kalah sama Naura" ucap Atha ke pada Naura yang duduk di sebelahnya, membuat Naura tersenyum senang. "Hehe maacih unda, Naula cayang unda" ucap Naura sembari memeluk Atha tidak lupa memberikan satu kecupan di pipi sang bunda. "Bunda juga sayang sama Naura. Jadi mau kemana sekarang? " tanya Atha sembari membelai rambut panjang Naura. "Jayan jayan. Boyeh kan papa"tanya Naura sembari menatap penuh harap ke pada sang papa yang tengah duduk di samping Atha. "Boleh dong. Jadi kedua princess papa mau jalan jalan kemana" tanya Yusuf ke pada Atha dan Naura. "Pantai" jawab Atha dan Naura bersamaan. "Wahhh kok samaan. Ya udah yuk ke pantai. dek mau ke rumah dulu enggak, ambil baju" ucapan Yusuf sembari menggendong Naura. "Iya mas, mampir ke rumah dulu" "Ya udah yuk" ajak Yusuf sembari menarik lembut tangan Atha menuju mobil. **** Disinilah mereka sekarang menatap hamparan laut yang berwarna biru dengan pasir putihnya yang menyentuh lembut telapak kaki mereka yang tak beralaskan apapun. "Papa tuyun,tuyun papa Naula mau ain pacil tuyun papa"rengek Naura di gendongan Yusuf. Hampir saja tubuh Naura terjatuh saat ia memberontak ingin turu. Untunglah Yusuf sigap menangkap tubuh Naura kembali"Iya sayang, hati hati ya" "Iya papa, unda ain pacir cana" ajak Naura dengan menarik tangan Atha menuju gundukan pasir. "Sama papa aja ya" tolak Atha setelah mensejajarkan tingginya sejajar dengan Naura. Naura yang mendengar penolakan dari sang bunda-pun langsung melengkungkan bibirnya kebawah tidak lupa dengan matanya yang sudah berkaca kaca"Cama unda, Naula au cama unda" "Iya iya, ya udah yuk sama bunda. Mas aku main sama Naura ya, jagain tasnya" ucap Atha setelah melihat air mata Naura menetes membasahi pipinya. "Iya, hati hati ya" pesan Yusuf. "Iya. Yuk sayang kita buat istana pasir" ajak Atha sembari menggandeng tangan Naura menuju menuju gundukan pasir. "Yey yuk unda di cana aja di cana" tarik Naura semangat. Ahirnya mereka bermain di pinggir pantai sampai sore hari. Setelah mandi dan bersih bersih Yusuf mengajak Atha dan Naura makan di salah satu restoran di pinggir pantai. Sembari melihat matahari tenggelam Setelah di rasa puas Yusuf dan Atha memutuskan langsung pulang, dikarenakan Naura yang sudah kelelahan dan tertidur di pelukan Atha yang tengah duduk bersandar di jok mobil. "Tidur aja dek, kalo kamu capek. Nanti mas bangunin kalo udah sampe" ucap Yusuf ke pada Atha yang sudah menguap beberapa kali. "Mas enggak apa apa sendiri? " tanya Atha dengan mata sayunya. "Enggak apa apa. Adek tidur aja matanya udah sayu gitu" ucap Yusuf sembari mengelus kepala Atha dengan lembut. "Ya udah adek tidur dulu ya mas" "Iya, sayang" ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD