****
"MAS YUSUF" teriak Atha.
Sontak Yusuf langsung mencari ke sumber suara setelah mendengar suara sang istri "Loh sayang, kok disini? aku kan suruh kamu di dalem"
Dengan cepat Atha langsung memeluk Yusuf sekilas"Mas lama, jadi aku kesini, itu kenapa dia mas suruh pus-ap"
"Biasa di kasih pelajaran dulu biar faham" ucap Yusuf sembari menghapus keringat yang ada di dahi Atha menggunakan tangannya.
"Kasian ih itu udah keringetan, mas turun aja udah," rengek Atha ke pada Yusuf tidak tega dengan pria tersebut.
"Tapi sayang"
"Kasihan ih"
Yusuf-pun pasrah langsung menatap jengah pria tadi "Ya udah, lo pulang sana, dan jangan di ulangin lagi, dan ini uang buat beli minum sama obat merah" ucap Yusuf sembari memberikan selembar uang 100 ribu.
"Terimakasih mas terimakasih saya permisi" ucap pria tersebut langung pergi bersama temannya.
"Silahkan"
"Mas enggak apa apa kan" tanya Atha sembari meneliti tubuh Yusuf.
"Enggak apa apa, yuk makan sate, Mas udah laper banget" kekeh Yusuf dengan tingkah sang istri lalu merangkulnya mengajaknya masuk ke rumah makan lagi.
****
Pagi harinya, Atha sudah kalang kabut sendiri, pasalnya ia sempat kesiangan dan melupakan fakta bahwa dirinya harus berangkat ke kampus hari ini.
Atha adalah mahasiswi semester 6 di salah satu Universitas ternama di Jakarta. Ia pun mengambil jurusan kedokteran, Atha sengaja mengambil jurusan kedokteran karena dirinya ingin menyelamatkan nyawa orang lain. Atha tidak ingin ada orang yang bernasib sama sepertinya yang di tinggal oleh sang ibu untuk selamanya, maka dari itu ia memutuskan menjadi dokter.
Yusuf yang melihat Atha sibuk dengan buku dan peralatan yang akan di bawa pun hanya bisa menahan tawanya.
Atha yang melihat Yusuf menahan tawa-pun hanya mendengus sebal, Dan jangan melupakan fakta bahwa Atha bangun kesiangan karena ulah Yusuf semalam yang meminta "itu" kepada Atha sampai tengah malam, dan baru membiarkannya tidur setelah ia merengek kelelahan.
Mengingat kejadian semalam membuat pipi Atha panas dan berhenti memasukkan buku ke dalam tas miliknya.
"Mau sampe kapan bengongnya, nanti telat" ucap Yusuf sengaja menggoda Atha, karena ia tau apa yang tengah difikirkan Atha, itu semua dapat di tebak dengan mudah saat melihat kedua pipi Atha yang memerah bak tomat.
Setelah sadar dari lamunannya Atha-pun dengan cepat memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya, lalu menutup dan menggendong tas tersebut ke punggungnya.
"Udah" tanya Yusuf setelah Atha selesai dengan aktifitasnya.
"Udah, aku berangkat ya Mas," jawab Atha sembari meraih tangan Iqbaal untuk di cium.
Belum sempat Atha keluar kamar tangannya sudah di tarik lebih dulu oleh Yusuf menuju lantai bawah"Sini"
"Mau kemana? " tanya Atha bingung, namun tetap mengikuti tarikan Yusuf sampai di depan rumah.
"Anterin kamu lah" jawab Yusuf santai setelah mendorong tubuh Atha pelan masuk ke dalam mobil.
"Nggak usah Mas, Mas kan harus ke kantor, a-adek bisa kok naik taksi atau angkot" tolak Atha setelah Yusuf masuk dan duduk di depan kemudi.
"Mas bakal antar Adek, dan jangan bantah" ucap Yusuf sembari memakaikan sabuk pengaman ke tubuh Atha.
Atha-pun hanya menelan ludahnya saat Yusuf memakaikannya sabuk pengaman"I-iya, tapi mas hari ini pulang ke rumah mbak Rania kan" tanya Atha saat mobil sudah berjalan keluar dari pekarangan rumah.
Wajah Yusuf yang tadinya ceria berubah menjadi datar "Nggak tau, liat nanti aja" jawab Yusuf dengan wajah datarnya, membuat Atha menunduk takut.
Setelah beberapa saat hening, Atha-pun memberanikan diri untuk memulai kembali"Mas"
"Hm"
"Mas marah sam Adek? " cicit Atha sembari meremas ujung bajunya.
"...."
"Mas, maafin Adek,Adek ngaku salah maaf" isak Atha.
Yusuf-pun membuang nafas beratanya setelah mendengar Atha menangis, setelah mobil berhenti barua Yusuf menarik tubuh Atha kedalam pelukannya, bukannya berhenti tangis Atha semakin kencang.
"Udah dong, kenapa makin nangis kan udah di peluk"ucap Yusuf sembari mengusap punggung Atha dengan sesekali mencium kapala Atha.
"Enggak tau," isak Atha semakin erat dan menenggelamkan wajahnya ke d**a bidang Yusuf.
"Udah ya, kita udah sampe di kampus adek. Dan Mas enggak marah sama Adek, cuma agak nggak suka aja sama ucapan Adek tadi. Apalagi semalem kan Adek udah denger sendiri kalo Rania udah ngizinin Mas tinggal sama Adek seminggu" ucap Yusuf sembari melepas pelukannya dan menghapus air mata yang membasahi pipi Atha.
"Tap-tapi kasihan Naura Mas, dia pasti kak-kangen sama Papanya" ucap Atha dengan masih sesegukan sehabis menangis.
"Cup cup, udah ya. Tadi Rania bilang Naura bakal Mas bawa ke rumah kamu, katanya dia ada acara sama Mamanya di luar kota beberapa hari, jadi Naura di tinggal" ucap Yusuf sembari merapikan kembali rambut Atha yang berantakan.
"Bener? " tanya Atha dengan mata berbinar.
Dengan gemas Yusuf mencum pipi Atha yang sedang menatapanya dengan wajah menggemaskan, tak lupa mata berbinarnya setelah mendengar nama Naura"Iya sayang, nanti Mas bakal jemput Naura di rumah. habis pulang kuliah nanti Mas jemput kamu, nanti kita main sama Naura ya, jangan nangis lagi"
Senyum Atha langsung mengembang setelah mendengar kata jalan jalan bersama Naura "Janji"
Senyum Yusuf-pun ikut mengembang saat melihat wajah Atha sudah kembali ceria "Iya janji, udah gih masuk nanti telat"
"Siap, Adek belajar dulu ya Assalamualaikum Mas Yusuf" pamit Atha sembari mencium tangan Yusuf dan memberikan senyum manisnya ke pada Yusuf.
"Wa'alaikummussalam, belajar yang rajin ya" jawab Yusuf sembari mencium kening milik Atha.
"Iya" jawab Atha sembari keluar mobil dan melambaikan tangannya ketika Yusuf mulai mengendarai mobil keluar dari area kampus.
Setelah mobil milik Yusuf hilang dari pandangannya, barulah Atha berjalan menyusuri koridor dengan santai menuju kelasnya. Ia-pun sampai lupa bahwa dirinya sudah melewatkan satu mata pelajaran saking senangnya akan bertemu Naura yang sudah menjadi anak tirinya sekarang ini.
Setelah sampai di depan pintu kelas, Atha-pun masuk begitu saja menghiraukan semua orang yang berada di kelas yang menatapnya bingung, karena senyum senyum sendiri. Beruntungnya Atha saat sampai di kelas si dosen telah pergi hanya tinggal menunggu dosen berikutnya masuk.
Dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya Atha-pun duduk di tempat duduk miliknya, dengan kepala yang ia sangga dengan tangganya.
Semua orang menatap heran kearah Atha, tidak terkecuali dua sahabat Atha yang sedari tadi menggelengkan kepala dengan kelakuan polos milik sahabatnya itu.
Sasa dan Dianty, dua sahabat Atha dari bangku smp, mereka selalu bersama sampai sekarang bahkan mereka-pun bisa kompak sama sama mengambil jurusan kedokteran. Keberuntungan yang sangat pas bukan.
" Atha, lo kenapa? Habis nikah jadi gesrek ya" tanya Dianty yang sudah mulai was was karena Atha yang tersenyum sedari tadi.
"Bukan gesrek lagi kena sindrom ekhem ekhem" ledek Sasa sembari menaik turunkan alisnya.
"Et deh ekhem ekhem, gw masih kecil woy jangan racunin otak saya" ucap Dianty sok drama.
"Brisik ah" kesal Atha dengan celotehan kedua sahabatnya, karena mengganggu dirinya menghayal.
Dengan iseng Dianty memajukan bangkunya untuk duduk lebih dekat dengan Atha "Lo kenapa sih Tha, habis mikirin semalam ya. Gimana udah buka segel kan" tanya Dianty.
"Anjir frontal si Dianty haha" pekik Sasa membuat semua orang melihat ke arahnya, dan di balas cengeringannya.
Athalia-pun memutar matanya malas dengan kelakuan dua sahabatnya ini "Hah. Bukan itu gw lagi seneng soalnya ntar siang gw mau ketemu sama Naura, anaknya mas Yusuf sama mbak Rania" ucap Atha dengan semangat.
"Haha lo masih aja ya manggil Rania pake mbak," ucap Sasa.
"Haha gw jadi inget pas kita pertama ketemu dia, dan disitu si Atha dengan lugunya manggil Rania mbak padahal cuma beda 2 tahun"ucap Dianty setelah mengingat kejadian di mana mereka pertama kali bertemu dengan Rania.
"Udah ah, jangan bahas itu gw jadi malu plus sakit hati, pas inget itu" kesal Atha dengan eh kan kedua sahabatnya.
"Iya iya, eh pertanyaan gw tentang buka segel belum di jawab" tanya Dianty dengan senyum jahilnya.
"Segel apa" tanya Atha dengan wajah polosnya.
"Anjir si Atha udah nikah masih aja polos, udah lah Dianty jangan racunin ni anak, nanti bapaknya marah" ucap Sasa heboh dengan kepolosan Atha yang mungkin sudah mendarah daging.
"Udah ah, tuh dosen udah masuk" lerai Dianty sebelum topik melebar kemana mana.
****
Di tempat Yusuf.
Setelah Atha turun dari mobil dan melambai ke arahnya, barulah Yusuf melajukan mobilnya menuju rumah utama atau rumahnya dengan istri pertamanya Rania.
Mobil Yusuf berhenti tatkala lampu lalulintas menampilkan warna merah. Saat menunggu lampu berubah menjadi hijau tiba tiba Yusuf teringat aktifitasnya tadi malam bersama sang istri.
Entah kenapa saat memikirkan kejadian semalam membuat Yusuf tersenyum sendiri, bahkan ia sampai gemas berulangkali ia memukul dan mengacak acak rambutnya dengan sesekali tertawa, ia merasa gemas akan dirinya sendiri.
"Hahh, Alhamdulillah udah buka segel" bisik Yusuf ke pada dirinya sendiri.
Saat tengah menikmati lamunannya Yusuf tersentak tak kala mendengar
suara kelakson berbunyi di belakang mobilnya,dengan berbagai u*****n yang terus menghujaninya.setelah sadar dengan cepat Yusuf melajukan mobilnya sebelum mendapat amukan dari semua orang yang ada di belakangnya.
"Ahirnya bisa buka segel" ucap Yusuf di sela sela dirinya fokus ke jalanan.
Tak lama ia sudah sampai di kediamannya bersama Rania, rumah yang bisa dibilang mewah bagi seorang pengusaha muda seperti Yusuf saat ini.
Setelah memarkirkan mobilnya di halaman Yusuf-pun bergegas masuk kedalam rumah untuk bertemu Naura putri kecilnya yang benar benar menggemaskan.
Baru saja Yusuf masuk ia sudah di sambut oleh teriakan sang putri, sembari berlari kearahnya.
"Papa...... Naula angen... " teriak Naura langsung memeluk kaki Yusuf.
Dengan sigap Yusuf-pun mengangkat tubuh Naura ke dalam gendongannya"Hey princess Papa, Papa juga kangen sama Naura. Mama mana kok Naura sendiri?"
"Mama di kamal cama oma Papa" ucap Naura dengan bahasanya yang masih sedikit cadel dan bolepotan.
Yusuf-pun mendudukkan dirinya di sofa sembari mendengarkan ucapan Naura"Oo. Naura udah siapin baju kan buat tinggal sama Bunda? " gemas Yusuf sembari mencium pipi Naura.
"Cudah papa, tadi di antuin cama kak Ita" ucap Naura sembari memainkan kancing baju Yusuf.
"Terus kak Mitanya mana? "
"Macih di amar, tadi beyum celecai belesin bajunya, Naula dengel cuala mobil Papa dadi Naula lali kecini hehe" ucap Naura sembari menunjuk ke arah kamarnya yang berada di lantai atas.
Yusuf-pun tersenyum dengan kelakuan sang putri yang terbilang sangat menggemaskan"Lain kali kalo mau nyambut papa di depan, harus ajak kak Mita ya, biar ada yang megangin kalo turun tangga. Pahamkan Naura" ucap Yusuf lembut sembari membelai rambut panjang Naura.
Naura-pu mengangguk berulang kali membuat rambut panjangnya bergerak kemana mana"Ia papa, maapin Naula ya, lain tali enggak begitu agi, anji" ucap Naura dengan wajah yang menggemaskan.
Karna gemas Yusuf-pun mencium pipi Naura berulang kali, membuat sang putri tertawa karena kegelian"Pinter ih princess Papa, nanti jalan jalan sama Bunda ya"
"Iya, Naula udah endak cabal mau tetemu unda antik, Naula udah angen engen peyuk" ucap Naura natusias karena ingin bertemu dengan sang Bunda yaitu Athalia.
Yusuf-pun sengaja memberitahukan kepada Naura setelah Atha memberikan jawaban iya kepada perjodohan yang di layangkan kepada dirinya dan Atha, Yusuf-pun memberitahu Naura dengan perlahan jika sang putri tak lama lagi akan memiliki Mama baru.
Tapi reaksi pertama yang Yusuf dapat dari Naura adalah ekspresi senang dan antusias saat mendengar kata Mama baru untuknya. Bahkan Yusuf sempat berfikir kalo sang putri akan marah dan tidak mau memiliki Mama lagi tapi ini reaksi yang tidak pernah di duga oleh Yusuf sendiri. Beruntungnya Yusuf memiliki putri sebaik dan secantik Naura.
Yusuf masih ingat betul bagaimana pertemuan pertama Naura dengan Atha saat itu. saat bertemu dengan Atha, Naura-pun langsung akrab dan selalu menempel pada Atha seharian, tanpa mau lepas dari sang Bunda barunya.
Mengingat kedekatan Naura dan Atha membuatnya senang, dengan begini semua akan berjalan dengan sempurna, tanpa penghalang.
"Ya udah, yuk bantuin kak Mita buat beresin baju Naura, biar bisa cepet ketemu Bunda" ajak Yusuf sembari menggendong Naura menaiki tangga menuju kamarnya.
"Yeyyy tetemu unda, ayo epet Papa Naula udah ndak cabal mau tetemu unda" ucap Naura sembari bergerak gerak agar Yusuf lebih cepat menaiki tangganya.
"Sabar sayang"
"unda antik Naula atangggg" teriak Naura saat sudah memasuki kamarnya.
****