****
Tak butuh waktu lama, Yusuf dan Athalia sampai di rumah yang dulu sempat di beli oleh Yusuf, rumah sederhana dengan gaya minimalis yang terdiri dari dua lantai dua kamar yang memiliki toilet di masing masing kamar.
Setelah memarkirkan mobilnya di halaman Yusuf dan Arhalia memutuskan turun dan langsung berjalan menuju pintu rumah yang masih tertutup rapat. Kesan pertama yang Athalia lihat saat memasuki halaman rumah adalah kesan asri karena rumah ini memiliki sebuah taman kecil dan ayunan yang sengaja di taruh di bawah pohon mangga yang berada di depan rumah tidak lupa dengan bunga bunga yang berjajar tidak beraturan.
Setelah menemukan kunci rumah Yusuf pun bergegas membuka pintu rumah dengan sekali putar pintu rumah terbuka menampilkan sarang laba laba dan beberapa debu berterbangan membuat Athalia terbatuk-batuk saat memasuki rumah.
"Maaf ya sayang, rumahnya udah lama kosong," ucap Yusuf Setelah mereka berada di ruang tv.
"Enggak apa apa mas."
"Jadi gimana mau bersih bersih atau istirahat dulu."
"Bersih bersih dulu mas, nanti biar aku yang nyapu ngepel mas Yusuf yang ngecek lampu sama yang lainnya masih berfungsi apa enggak," ucap Athalia sembari membuka sofa yang tertutup kain putih dan melipatnya.
"Ya udah, aku ke belakang dulu nyari peralatan, kamu bisa keatas liat kamarnya," pamit Yusuf sembari meletakkan koper milik Atha yang sedari tadi ia bawa.
"Iya"
Setelah membagi tugas Yusuf dan Athalia langsung pergi dan menyelesaikan tugasnya masing masing.
Sore harinya mereka sudah selesai membersihkan dan mengecek perabotan rumah dan memilih mana yang masih layak dan tidak untuk di pakai. Setelah membuang sampah dan beberapa perabotan yang tidak layak Yusuf dan Atha memutuskan untuk beristirahat di ruang tv. Beruntung sofa dan tv di rumah ini masih bisa di gunakan jadi mereka tidak akan kebosanan.
"Mas," panggil Atha yang tengah duduk bersandar di d**a Yusuf.
"Iya kenapa."
"Mas laper ya?. "
"Enggak."
"Bohong banget, dari tadi perut siapa yang bunyi kalo bukan perut mas Yusuf? ," ucap Atha sembari menegakkan badannya dan menatap Yusuf intens.
Yusuf yang di tatap seperti itu-pun pura pura memasang wajah datar untuk menutupi rasa malunya ,"Perut kamu lah."
Atha-pun memasang wajah cemberut saat Yusuf memilih berbohong padahal sudah tertangkap basah ,"Enggak, Mas Yusuf laper kan jangan bohong, aku denger dari tadi perut Mas bunyi mulu.kalo laper aku masakin ya? ."
Yusuf-pun sudah tidak bisa mengelak, ia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena malu ,"Beli aja deh ya, kan di dapur belum ada apa apa, perabotannya juga baru datang seminggu lagi."
"Eh iya. ya udah Mas mau makan apa biar aku yang beli" tanya Atha sembari mengambil handphone miliknya yang berada di atas meja.
"Jangan, nanti sama aku aja belinya sekalian makan di luar, kan jarang jarang kita makan di luar," tolak Yusuf saat Atha sedang memilih beberapa menu di aplikasi.
Mendengar penuturan Yusuf membuatnya tersenyum senang ,"Iya Mas, kalo gitu Mas mandi gih biar aku siapin bajunya."
"Kamu nggak sekalian," tanya Yusuf sembari berdiri.
"Sekalian apa,"tanya Atha dengan raut wajah polosnya.
Yusuf-pun berdeham sebentar lalu melanjutkan ucapannya,"Sekalian mandi bareng gitu."
Sontak saja wajah Atha berubah merah kala mendengar ucapan Yusuf,dengan kesal Atha-pun langsung melempar bantal yang berada di sebelahnya ke arah Yusuf saking malunya ,"Iihhh mas."
Tawa Yusuf-pun pecah saat ia berhasil menggoda Atha ,"Iya iya udah, aku mandi dulu kalo gitu."
"Ya udah sana." usir Atha.
"Bener nih enggak mau bareng, nanti nyesel loh ya," bisik Yusuf tepat di telinga Atha, lalu memberikan kecupan singkat di pipi Atha sebelum berlari menaiki tangga.
"Ihhhh mas Yusuf," teriak Atha ke pada Yusuf yang sudah lari menaiki tangga dengan tawanya.
Setalah mandi dan bersiap Yusuf dan Atha-pun langsung berangkat mencari makan untuk mengisi perut mereka yang sudah bergejolak meminta untuk di isi.
"Mas,makan sate madura aja yuk,"ajak Atha memecah keheningan yang melanda sedari tadi.
Yusuf-pun melirik sekilas Atha ,"Kenapa,aku mau makan di resto yang biasanya tapi."
Atha-pun langsung memasang wajah cemberutnya yang tampak menggemaskan bagi Yusuf,"Aku mau Sate madura tapi."
Yusuf-pun menahan tawanya saat Atha sudah memasang wajah menggemaskan bagi Yusuf, ia sengaja mengerjai Atha ,"Ya udah iya kita makan nasi padang."
"Kok nasi padang sih mas," rengek Atha sembari menggoyang goyangkan lengan Yusuf.
Tawa Yusuf tidak bisa di bendung lagi saat melihat wajah memelas Atha yang tampak menggemakan saat ini, "Hehe iya iya kita makan Sate madura, sebentar aku cari parkir dulu"
Arha-pun bersorak senang saat Yusuf memenuhi permintaannya ,"Yeyy makasih," ucap Atha sembari memberikan satu kecupan di pipi Yusuf dan langsung menutup wajahnya karena malu.
Senyum Yusuf mengembang setelah mendapat satu kecupan pertama dari Atha setelah mereka resmi menjadi suami istri ,"Wah udah berani cium cium ya, itu kenapa pake di tutup wajahnya. Nanti cantiknya enggak keliatan kalo di tutup, buka dong sayang," ucap Yusuf sengaja menggoda Atha setelah berhasil mendapatkan tempat parkir.
"Enggak mau," tolak Atha dengan masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya, yang ia yakini sekarang sudah menjadi merah saking malunya.
"Kenapa?," tanya Yusuf sengaja menggoda Atha dengan menusuk nusuk tangan Atha yang menutupi wajahnya.
"Malu," cicit Atha membuat tawa Yusuf pecah begitu saja.
"Haha kenapa harus malu, sini dong Mas mau liat wajah Adek yang cantik," goda Yusuf mencoba menari tangan Atha.
"Hah apa tadi?, " tanya Atha sembari menatap Yusuf dengan wajah setengah bingung.
Alis Yusuf terangkat saat Atha bertanya ia tidak faham memang ada yang salah dari ucapannya tadi, setelah berfikir beberapa saat ia baru tau apa yang di permasalahkan oleh Atha "Adek. kamu panggil aku kan Mas, dan aku panggil kamu Adek, ah lebih tepatnya Adek cantik."
"Ihhh Mass," rengek Atha sembari menutup wajahnya kembali saat merasakan panas di kedua pipinya yang sudah pasti berubah menjadi merah bak tomat.
Yusuf-pun terkekeh melihat Atha menutup wajahnya kembali "Loh kok di tutup lagi, Mas mau liat wajah Adek yang manis kaya kue lepis, buka dong sayang," goda Yusuf sembari menusuk tangan Atha.
"Enggak mau, malu," tolak Atha sembari menepis jari Yusuf yang menusuk nusuk tangannya.
"Haha kok malu, sama suami sendiri loh ya masa malu," goda Yusuf lagi.
"Pokoknya malu," rengek Atha.
"Ya udah, jadi makan sate madura nggak nih," tanya Yusuf sembari berhenti menjaili Atha.
"Jadi, yuk Mas aku tunggu di luar," ucap Atha langsung membuka sabuk pengaman dan keluar begitu saja, membuat tawa Yusuf pecah.
Dengan cepat Yusuf menyusul Atha yang sudah berdiri memasang wajah cemberutnya.
"Yuk, keburu penuh," ajak Yusuf sembari menggenggam tangan Atha, dan menariknya lembut menuju warung sate madura keinginan Atha.
Setelah memesan Yusuf dan Atha memilih tempat duduk yang berada di pinggir sesuai permintaan Atha yang merasa tidak nyaman dengan beberapa laki laki yang menatapnya sedari tadi. Atha-pun menyimpulkan mereka menunggu ia untuk duduk agar bisa duduk di sebelahnya makanya ia memilih pojok dengan Yusuf duduk di sebelah bangku kosong dan dirinya di himpit oleh tembok dan Yusuf jadi aman.
Benar saja dua laki laki yang sedari tadi memperhatikannya-pun mengambil tempat duduk di depannya, dan sialnya ia tidak mempertimbangkan hal itu sebelumnya.
Yusuf yang sedari tadi di sebelahnya-pun sedang sibuk menghubungi pihak toko peralatan rumah, ia meminta agar mereka mengantarkan perabotan yang di pesan tadi lebih cepat dari waktu sebelumnya.
Benar saja Kedua laki laki itu-pun mencuri curi pandang kearahnya membuat dirinya risi apa lagi mereka sengaja memanggilnya dengan siul siulan, dan anehnya Yusuf sepertinya tidak menyadari dua laki laki yang berad di depannya.
Dengan berani Atha menggeser duduknya lebih menempel ke arah Yusuf, agar membuat dua laki laki itu berhenti mengganggunya.
"Kalian berdua kalo masih pengen hidup mending pergi dari sini,sebelum kesabaran saya habis," ucap Yusuf begitu saja tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone miliknya.
Kedua laki laki tersebut-pun tidak menanggapi ucapan Yusuf malah mereka semakin berani dengan mencoba menyentuh tangan Atha yang berada di atas meja, belum sempat di sentuh Atha-pun langsung menarik tangannya dan langsung memeluk lengan Yusuf erat.
"Ma-mas," cicit Atha ketakutan.
"Saya sudah bilang untuk kalian pergi dari sini, tapi sepertinya kalian malah lebih berani mengganggu istri saya," ucap Yusuf langsung menatap tajam ke dua laki laki yang berada di hadapannya.
"Dia kan cantik cewe cantik itu pamali kalo di anggurin, jadi terserah saya dong," ucap laki laki yang bertubuh lumayan berisi dengan kulit sawo matang.
"Bro udah, dia lakinya," ucap temannya yang bertubuh lebih kecil.
"Enggak percaya gw, cewek secantik dia mana mau sama cowok kaya dia," ucap laki laki pertama dengan senyum remehnya, membuat kedua tangan Yusuf terkepal menahan amarah
"Udah lah broo ayo ntar tambah jadi masalah," ucap laki laki kedua mencoba menarik temannya ke luar dari tempat makan.
"Ekhem lebih baik anda ikuti saran teman anda sebelum kesabaran saya habis," ucap Yusuf sembari menatap Atha yang sudah merasa takut, di belainya rambut Atha sebelum ia menatap tajam ke arah laki laki yang berani mengganggu istrinya.
"Ohh lo nantangin, sini gw jabanin," ucap laki laki tersebut sembari berdiri dan melipat lengan kausnya ke atas dan bersiap dengan kuda kudanya.
"Ma-Mas aku takut," isak Atha di dekapan Yusuf.
Dengan sayang Yusuf mengusap kepala Atha dan memberikan beberapa kecupan di sana,"Tenang ya, dengerin aku sekarang kamu tutup mata, dan pake headsetnya dan jangan dilepas kalo bukan Mas yang lepas."
"Tapi Mas."
"Udah nurut aja, Mas enggak bakal kenapa napa, Mas janji sama Adek oke. Sekarang tutup mata dengerin lagunya aja ya," ucap Yusuf sembari memasangkan headset ke telinga Atha yang sudah ia putarkan lagu dengan folume lumayan keras.
"Iya"
Sebelum berdiri Yusuf memberikan kecupan di kedua mata Atha agar sang istri lebih tenang ,"Tutup mata sayang."
"Jadi mau di mana," tanya Yusuf ke pada laki laki tersebut.
"Cih lo takut malu kalah dari gw sampe wanita cantik itu lo suruh tutup mata, ck banci," ejek pria tersebut saat melihat Atha menutup matanya.
"Udah lah men cari masalah aja sih," ucap temannya yang memang tidak ingin cari masalah.
"Sebaiknya kita selesaikan di luar, kasihan kalo tempat ini jadi rusak," ajak Yusuf setelah melihat sekeliling ada beberapa pelanggan yang sedang makan.
"Oh oke" ucap pria tersebut mendahului berjalan keluar dari tempat makan tersebut, dengan Yusuf yang berjalan di belakangnya.
Sudah sekitar empat lagu yang di dengarkan oleh Atha tapi belum ada tanda tanda dari Yusuf. Anda saja ia tidak trauma dengan bau bau k*******n mungkin ia tidak akan menyusahkan seperti ini. Kejadian saat di rinya masih berumur lima tahun membuatnya depresi dan trauma dengan hal hal yang menyangkut k*******n. Itu di sebabkan saat di rinya berusia lima tahun ia di titipkan ke pada seorang perawat saat ke dua orang tuanya harus pergi ke luar negri untuk menyembuhkan sang kakak yang tengah sakit. Dirinya yang seharusnya di rawat dan di jaga oleh sang perawat malah harus mendapatkan siksaan dari perawat tersebut.
Beruntung saat itu datang keluarga dari adik sang papa singgah untuk menjenguknya kala itu, jika tidak mungkin dirinya akan bernasib lebih parah saat itu.
Dengan mengumpulkan keberanian Atha membuka kedua matanya secara perlahan. Ia pun melihat sekeliling tidak menemukan Yusuf di manapun, dengan tekat yang bulat Atha berjalan keluar untuk bergabung dengan beberapa orang yang sedang bergerombol. Dengan tubuh kecilnya Atha berhasil menyelip di atara tubuh orang orang. Saat sampai di barisan depan mata Atha membulat saat melihat kejadian di depan matanya
"MAS YUSUF!"
*****