"Astaghfirullah!" Abu gosok meletakan aku pada brankar dengan kasar. Bahkan aku sampai sakit pinggang.
"Pelan kenapa? Sakit tahu!" Gerutuku. "Ngga usah ketakutan begitu, Allah pasti mengampuni dosa-dosa hambanya yang tak sengaja."
Sengaja aku menyindir, seperti kata dia tadi.
"Kalau apa-apa panggil saja aku! Jangan lakukan apapun sendiri. Aku ngga mau kamu makin parah karena nanti adikku yang akan disalahkan!" ujarnya dengan nada sedikit ketus. Aku memilih memalingkan wajah.
Dia mengaduh dan mengangkat kakinya yang berdarah.
"Astaga! Itu kena beling, Bu!" ujarku melihat dia tapi tak dapat berbuat apapun.
Dia berjalan dengan pincang menuju sofa. Mencoba mencabut pecahan gelas yang menancap pada kakinya.
Aku memanggil suster saat melihat ada suster lewat.
"Sus, bisa bantu obati lukanya dan sapu pecahan kacanya!"
"Baik, Mbak. sebentar saya ambil alatnya."
Tak lama datang dua suster, satu memegang sapu satunya membawa kotak P3K.
"Saya obati ya, Mas!" ujar suster yang bertugas mengobati Abu gosok.
Kaca sudah dibersihkan dan suster yang membersihkan sudah keluar. Tinggal suster yang mengobati Abu gosok. Aku menatapnya kesal kala melihat dia mengobati Abu gosok dengan sesekali mencuri pandang.
"Sus, jangan ambil kesempatan dalam kesempitan!" Sindirku.
Suster itu langsung menyelesaikan pekerjaannya kemudian pamit keluar.
Dia terkekeh kala suster itu sudah pergi.
"Senang ya di goda suster cantik!" Aku mencebik. Dia makin terkekeh.
"Memangnya ada yang salah?" tanyanya.
"Salah lah. Dosa dan zina mata kan?" Aku sok tahu.
Dia mengangguk. "Apa kamu sebenarnya tahu batas zina dan dosa? Tapi kenapa jika kamu tahu itu zina tapi masih menjalaninya?"
Aku kesal dibuatnya. Memberitahu dirinya malah kini aku yang balik ditanya
"Aku belum berzina dengan siapapun setelah bersamamu kemarin."
"Benarkah? Apa kamu sedang berniat taubat?" Matanya berbinar.
"Lebih tepatnya bukan taubat tapi masih ada uang dari kamu untuk kebutuhan sehari-hari. Entah besok kalau sudah habis," jawabku santai.
Dia menghela nafas. "Semoga saja nanti akan ada uang halal yang membuat kamu tak harus bekerja seperti itu lagi."
"Ngga yakin kecuali kalau kamu melamar aku!" candaku.
Tepat disaat itu Nay masuk. Dia mungkin mendengar apa yang baru kukatakan hingga matanya membulat.
"A-apa tadi aku tak salah dengar, A?" Nay bertanya pada Abu gosok. Aku meliriknya, melihat bagaimana expresi si Abu.
"Dengar apa, Dek?" tanya Abu gosok pura-pura tak tahu.
"Tadi Mbaknya bilang kalau dia mau dilamar Aa."
Aku tersenyum kecil, rupanya candaanku tadi menimbulkan sebuah harapan.
"Owhh itu ... Dia itu tengah meminta pertanggungjawaban atas apa yang kamu lakukan, Dek. Dia mau Aa lamar agar dia memaafkan kamu!"
Mendengar jawaban demikian, aku membulatkan mata. Dia ... Apa yang dia katakan.
Kini Nay terlihat bingung. Sejenak memandang aku, sejenak memandang Abu gosok.
"Bagaimana dengan kondisi Mbak sekarang?" tanya Nay padaku.
"Masih begini, pusing dan kadang mual. Jika sudah begitu nanti ruangan ini seperti berputar." Aku menjelaskan.
"Gagar otak butuh pemilihan dan perawatan yang tepat, Dek. Jadi kita harus bisa merawatnya dengan baik." Kali ini jawaban dia membuat aku tersenyum.
"Semoga lekas membaik ya, Mbak." Nay menatapku dengan tersenyum.
"Aa ngga ada jadwal manggung hari ini?" tanya Nay. Aku melirik lagi pada Abu gosok.
"Dua hari kedepan Aa sudah batalkan jadwalnya, Dek. Lagian nunggu Umi dan Abah pulang dari umroh. Ingin membuat kejutan kecil-kecilan di rumah." Abu gosok menjelaskan.
Nay mengangguk, kepalaku mulai pusing kembali'dan aku memilih merebahkan diri untuk meminimalisir. Aku sudah tak peduli dengan apa yang mereka bicarakan.
Entah sudah berapa lama aku terpejam, saat mendengar suara orang yang aku kenal.
Cinta?
"Kiara? Ka-kamu baik-baik saja? Pantas semalam setelah kamu dikejar Mami Mawar aku telfon ngga diangkat. Ternyata kamu disini!" Cinta yang datang dengan pakaian kurang bahan itu bercerita.
"Kamu tahu dari mana aku disini?" Selidikku.
"Kan tadi aku telfon kamu berkali-kali, karena Mami Mawar itu terus nyariin kamu. Katanya Bang Rozak cuma mau sama kamu!" Aku melihat kearah Abu Gosok. Ponselku benar ada disana. Pasti tadi dia yang mengangkat panggilan telfonnya.
"Dan ... Dia yang mengangkat telfonnya." Cinta berbisik. Entah kenapa Cinta seperti ingin tahu sesuatu.
"Dia siapa? Bukan langganan kamu kan?" Cinta bertanya dengan suara pelan.
"Dia itu orang yang menabrak aku! Lagi tangung jawab di sini." Aku menjawab tanpa memelankan kata-kata. Abu gosok sama sekali tak menoleh. Mungkin karena takut zina mata melihat penampilan Cinta.
"Owhh, kok kayanya aku pernah lihat. Dia kaya ngga asing, artis apa ya?" Cinta langsung menebak.
"Coba aja tanya, siapa dia? Kayanya sih anggota dewan DPR." Aku terkekeh.
"Beneran?" Cinta menanggapi dengan serius. "Kalau begitu buat dia menebus dengan uang yang banyak. DPR itu gudang duit! Walau duit rakyat juga." Cinta mengedipkan mata.
Aku tertawa keras membuat Cinta mencubit pahaku.
"Awww, sakit tahu!"
"Tapi ketawanya itu ditahan. Nanti dia dengar bagaimana? Cari netizen buat jeblosin kita ke penjara!" Cinta terlihat ketakutan.
Tak lama Abu gosok pamit untuk salat. Tentu dia tetap tak mau menatap pada kami. Berjalan lurus tanpa menengok satu centi pun.
"Tapi gagah juga dia! Tampan dan jambangnya itu loh!" Cinta mulai kumat bucinnya.
"Terus?" Aku pancing dia untuk lebih lanjut.
"Goda dia agar mau booking kamu!" Cinta menutup mulutnya. Aku kembali tertawa.
"Kalau kamu sakit begini, artinya jelas bakal libur lama kamu nanti!" ujar Cinta setelah beralih topik. Tak lagi membahas masalah Abu gosok.
"Iya, Cin. Mungkin sih bukan cuma lama tapi akan selamatnya aku berhenti." Entah keberanian atau sebuah candaan aku mengatakannya.
"Apa? Kamu benar mau berhenti?" Mata Cinta membulat.
"Ngga tahu juga, Cin. Ini hanya sebuah do'a. Bukankah ucapan adalah doa?" Aku bertanya pada Cinta.
Dia mengganguk. "Aku mendukung kamu jika benar mau bertobat. Walau mungkin aku akan sedih karena tak ada lagi teman sebaik kamu, tapi tentu aku sangat senang temanku bisa keluar dari lembah dosa. Do'akan aku juga agar segera bisa memiliki keyakinan untuk segera naik dari lembah itu."
"Aamiin aamiin yarobbalalamin." Aku terharu dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Cinta. Bagaimanapun kita sering berbagi suka dan duka.
"Jangan beritahu Mami Mawar kalau aku di rumah sakit ya. Aku ngga mau dia kesini." Aku memohon pada Cinta.
"Kamu tenang saja. Nanti aku bilang pada dia kalau kamu sedang pulang kampung."
Aku mengangkat jempol setuju. Cinta pamit pulang saat Abu gosok sudah kembali.
"Cepat sembuh ya, Say!" Kita bercipika cipiki. Melambaikan tangan dengan membuka pintu sebelum benar-benar menghilang.
"Apa benar kamu punya niatan mau insaf?" tanya Abu Gosok tanpa menoleh. Kenapa ini orang, lagi kenger kayanya itu leher jadi ngga bisa nenggok.
"Leh nguping ternyata!" Aku mendesis, "tapi memang sedang aku pikirkan."
"Bagus kalau begitu, lebih cepat lebih baik." Dia menjawab Kemabli.
"Kalau begitu segera lamar aku!"
Dia sontak langsung menatapku kaget.
"Apa aku terlalu percaya diri?"