Kecelakaan

1054 Words
Mungkin ini adalah akhir dari hidupku. Ya Allah ... Ampunilah dosa-dosaku! Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Aku membuka mata, merasakan sakit yang teramat dibagian kepala. Aku memeganginya dan mendapati sudah diperban. Kutatap sekeliling dan baju yang aku gunakan. Aku sudah berada di rumah sakit. "Dok, dia sudah sadar!" Seorang suster berkata pada laki-laki yang berjas putih dengan stetoskop di lehernya. "Sudah sadar, Mbak? Apa yang anda rasakan?" Dia mulai menempelkan stetoskop pada d**a bagian atas ku. "Ini sakit banget, Dok." Aku menjawab dengan jujur. "Iya, Mbak. Itu luka cukup lebar, bahkan sampai sepuluh jahitan. Apa pusing atau mual?" tanya dokter lagi. "Sedikit, Dok." "Ya sudah, kita lihat perkembangannya lagi. Istirahat ya!" Setelah dokter selesai memeriksa, ia pun keluar. Tak lama muncul seorang gadis masuk. "Mbak sudah sadar? Siapa yang bisa saya hubungi, Mbak. Takutnya keluarga khawatir." gadis itu terlihat panik. Aku menyempitkan mata. "Ngga papa, Dek. Aku sendiri di kota ini, jadi tak perlu ada yang dirisaukan. Adel siapa?" tanyaku merasa heran. Kenapa dia begitu khawatir. "Nama saya, Naysila, Mbak. Biasa dipanggil Nay. Saya ...." Dia menggantung ucapannya, seolah ada sesuatu yang tercekat. Tepat saat dia akan mengatakan lagi, ponselnya berdering. "Sebentar ya, Mbak. Saya angkat telfon dulu dari kakak saya." Dia pamit walau tak sampai keluar ruangan tapi dia sedikit menjauh. Aku memilih memegangi kepalaku yang makin terasa berat. "Ini Mbaknya sudah sadar, A, tapi Nay takut untuk mengakui bahwa Nay adalah ...." Dia melirikku. "Ya sudah, Aa segera datang ya. Nay memang salah, tapi untuk saat ini tolong bantu Nay mengakui kesalahan dan menebusnya terlebih dahulu!" Setelah mengatakan demikian dan terlihat mematikan sambungan telfon. Ia kembali mendekat padaku. "Apa kamu yang membawa aku kemari, Dek?" tanyaku. Dia terlihat seperti orang bingung tapi kemudian mengangguk. "Terima kasih ya, kamu sudah menyelamatkan nyawaku." Aku tersenyum. Setidaknya ternyata aku masih hidup dan diberikan kesempatan untuk menebus dosa-dosa. Padahal tadi aku sudah pasrah. Apalagi saat melihat banyaknya darah yang menetes dari kepala. Aku yang memang fobia darah langsung lemas dibuatnya. Entah kenapa tiba-tiba kepalaku sangat pusing, perut terasa seperti diaduk-aduk membuat aku ingin muntah rasanya. Beruntung dengan sigap gadis kecil itu membantu dan langsung berteriak memanggil suster. Mataku terlihat kabur, aku langsung merebahkan diri karena tak kuat menyangga kepala yang serasa berbobot satu kwintal. Tak lama terdengar langkah kaki tergesa, aku masih tak bisa melihat sempurna. Membuka mata seolah ruangan ini berputar. "Seperti dugaan saya, pasien terkena gagar otak ringan. Coba nanti hasil scan bawa ke meja saya!" Hanya suara dokter yang aku dengar. Aku tetap tak bisa membuka mata. "Suntikan obat pereda nyeri!" Aku hanya merasakan betapa suster dan dokter sibuk. Setelah itu aku seperti terlelap dan sedikit membaik. Aku terbangun karena mendengar isak tangis seseorang. Kubuka mata berlahan dan benar saja dugaanku jika dia adalah gadis yang tadi. "Umi, Abah, maafin Nay, Nay ngaku salah dan sekarang Nay bingung. Orangnya sampai gagar otak dan sekarang masih belum sadar. Mana Ada belum sampai lagi!" Dari ucapannya sekarang aku dapat menyimpulkan jika gadis itu ternyata yang menabrakku. Bagaimana bisa? Apa bocah yang baru ABG itu sudah diizinkan bawa mobil? Mungkin dia baru saja dapat SIM. Aku memilih tetap menutup mata, masih terasa berat walau tak seperti tadi. "Aa sudah didepan?" Terdengar ia kembali menelfon. Terdengar pintu dibuka dan kupastikan dia keluar. Aku membuka mata, tak tahu ini sudah jam berapa. Mungkin hampir tengah malam atau malah sudah pagi. Aku meratapi diri. Saat seperti ini harus menjalani semuanya sendiri tentunya. Tak mungkin aku mengabari Ibu dan Ayahku karena itu hanya akan memperkeruh suasana. Ayah akan murka dan Ibu akan tahu apa yang aku kerjakan disini. Pintu dibuka. "Itu, Aa, dia-dia masih belum stabil kondisinya. Maafin Nay, A." "Ki-kiara?" Aku mendengar suara yang tak asing. Siapa? "Aa, mengenalnya?" Nay langsung bersuara dengan kaget. Aku membuka mata dan terkejut dengan sosok yang beranjak mendekat. "Abu Gosok?" Ah, apakah mungkin ini yang disebut berjodoh? Dipertemukan kembali walau tak sengaja. "Kalian?" Nay bingung. Aku memilih mengerucutkan bibir, pura-pura tak tahu apa yang terjadi. Aku akan buat dia merasa sangat bersalah. Ini kesempatan bagus! "Iya, Dek. Aa kenal sama Mbak ini, dia teman Aa." Abu gosok menjelaskan. "Alhamdulilah, kalau begitu. Nay sedikit lega, setidaknya pasti teman Aa memaafkan apa yang telah Nay lakukan." Gadis polos itu berkata. "Ini buat perhatian kamu, Dek. Pokoknya Aa ngga akan biarkan kamu bawa mobil lagi! Ngga ada tapi-tapian!" Abu gosok berkata dengan garang. "Jadi Adek ini ... Yang menabrak aku?" Aku pura-pura baru tahu. "I-iya, Mbak. Maafkan saya ya, Mbak. Tolong!" Ia meraih tanganku, aku memilih membuang wajah. "Tolong, Mbak. Saya salah dan berjanji akan menanggung semua biaya perawatannya sampai Mba sembuh!" Ia memohon. Aku masih bungkam. "Ya sudah kalau gitu Adek pulang dulu, ini sudah pagi biar Aa yang jaga." Abu gosok menyuruh adiknya pergi. Aku melirik pada Nay yang terlihat masih ketakutan karena aku belum memaafkan. "Siapa yang harus aku hubungi?" tanya Abu gosok. "Ngga ada." Jawabku cuek. "Keluarga, Ayah, Ibu atau Kakak, Paman, Suami?" "Aku sudah bilang ngga ada! Ngga perlu kabari orang tua aku karena itu akan menambah bebannya. Biar aku sendiri pun tak apa, pasalnya sudah biasa." "Baik, kalau begitu biar aku ngga menemani." Putusnya "kamu tak butuh sesuatu?" Aku menggeleng, masih terasa sangat berat kepala. Entah kenapa jika dibawa membuka mata terlalu lama, terasa semua berputar. Lagi-lagi aku mual. Dia dengan sigap membantu, aku memuntahkan semuanya. Dia mengambil minyak angin di tasnya lalu digosokkan pada tengkuk. "Maaf ya!" Ia meminta maaf karena menyentuh tengkukku. "Bukan mahram!" Aku menyidir. "Bismillah, Allah maha melihat, dia pasti mengampuni dosa-dosa hambanya." Ia pandai menjawab. Aku memilih menjatuhkan kepala lagi di bantal dan memilih terpejam. "Aku pamit salat dulu!" Dia berbisik. Aku tak menjawab. Karena rasanya kepalaku makin menjadi. Pagi menjelang, aku yang merasa haus membuka mata. Berusaha untuk duduk dan ingin mengambil minuman yang berada dinakas. Melihat Abu Gosok masih terlelap tidur aku susah payah berusaha menggapai air itu. Kepala yang terasa amat berat, itu yang membuat aku kesulitan. Rasanya susah sekali untuk duduk tegak. Aku masih berusaha menggapai gelas, sampai harus memiringkan kaki dan saat hampir tercapai, gelas tersenggol dan jatuh, aku pun yang ingin berusaha menangkap akhirnya lolos dari brankar. Tepat saat itu tangan Abu gosok menangkap tubuhku hingga tak sampai menyentuh tanah. Dia begitu tepat menangkapku sampai aku mengalungkan tangan pada lehernya. Seperkian menit mata kita bertemu, dadaku berdebar sangat hebat, bahkan terdengar sampai telinga. Apa dia pun demikian?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD