“Hah.”
Entah, sudah berapa kali perempuan yang sedang rebahan di atas tempat tidur itu menghela nafas lelah. Ia melirik ponsel yang tergeletak tak jauh darinya. Ia sedang menunggu email dari beberapa perusahaan yang sedang ia lamar. Semburat jingga di pagi hari menyorot langsung ke kamar Fresia.
Well. Ia sekarang memang seorang pengangguran.
Satu Bulan setelah wisuda, ia belum mendapatkan pekerjaan apapun. Ia bahkan gagal seleksi PLN tahap psikotes yang pernah dilakukan di Surabaya. Sekarang yang bisa ia lakukan hanya duduk merenung di depan meja belajarnya, rebahan di kasur dengan tatapan menerawang, menjelajah internet dan selalu bosan karena terlalu sering melakukannya.
Fresia lalu meraih ponselnya, ia memilih untuk kembali menjelajah akun sosial medianya. Melihat lihat cerita yang di bagikan teman daringnya di akun Insta. Hal yang selalu membuatnya merasa iri saat melihat kehidupan teman temannya yang terasa menyenangkan.
“Hah, bahkan Rania juga sudah bekerja,” gumam Fresia saat melihat foto yang baru saja di upload oleh sepupunya.
Sepupunya itu mengenakan pakaian rapi, dengan kalung ID berwarna biru. Ia juga menge-tag sebuah tempat di daerah Malang Kota, dekat Universitas Brawijaya. Rania memang berencana untuk menyewa kontrak di sekitas kampus setelah mendapatkan pekerjaan menjadi tenaga pengajar di salah satu agensi les privat. Sebagai mahasiswa lulusan PGSD, tentu ini kesempatan yang sayang untuk di lewatkan.
Meskipun Mbak Yuni sempat mengomel karena keputusan Rania untuk kontrak di tempat lain. Wanita itu juga tidak tenang jika Rania harus bolak balik Malang-Batu, Batu-Malang, alhasil ia memberikan izin kepada Rania untuk pindah dengan syarat Rania harus pulang ke Batu setiap weekend.
Sedangkan Fresia, ia sudah kembali ke Tulungagung. Ia sudah kembali ke rumahnya karena tidak punya alasan untuk tetap tinggal di Batu. Padahal Mbak Yuni tidak masalah, jika Fresia memutuskan untuk tetap tinggal. Fresia hanya merasa tidak enak karena Mbak Yuni sudah banyak membantunya selama 4 tahun ia menuntut ilmu di Malang.
Ting!
Fresia secepat kilat menoleh ke arah laptopnya di atas meja. Barusan ia mendapat notif dari akun emailnya. Ia bergegas bangkit lalu duduk di depan meja belajar. Laptop di hadapannya menyala dan menampilkan laman akun emailnya.
PT. Tarigan Surabaya
“Huft.” Fresia menarik nafas dalam dalam, lalu menghembuskannya perlahan lahan. “Semoga berhasil,” gumamnya kemudian. Tangannya bergerak ke arah mouse, lalu mulai menggerakkan jari jarinya untuk membawa kursor mouse ke arah open email.
Klik.
Email langsung terbuka setelah jari Fresia mengklik open email. Fresia segera membaca email tersebut dengan hati berdebar debar.
To : fresia.diwijacita@gmail.com
From : tarigancorporation@ptarigan.com
______________________Kami telah menerima lamaran Saudara/i yang dikirm pada tanggal 15 Februari 2022. Kami mengucapkan terimakasih atas lamaran Saudara/i. Dengan ini, kami mengundang Saudara/i untuk datang Tes Wawancara pada tanggaL 18 Februari 2022 di Gedung BCA Building, Jl. Diponegoro No. 118, Surabaya Jawa Timur pada pukul 08.00 wib.
Kami tunggu kedatangan Saudara/i. Sekian dan terimakasih_____________________
Fresia menatap layar laptopnya yang menyala. Ia tengah membaca email undangan wawancara yang di kirimkan oleh perusahaan sekuritas yang berada di Surabaya.
“Aku pernah melamar di perusahaan ini?” gumam Fresia saat membaca nama perusahaan. Ia terlalu banyak melamar kerja sehingga bingung sendiri.
“Ah, tapi besok wawancaranya. Bagaimana ini?” Fresia mengacak acak rambutnya. “Aku harus bagaimana? Naik apa ke Surabaya? Besok? Jam 8 pagi?”
Fresia mondar mandir di dalam kamarnya. “Ah, aku pesan tiket ke Malang dulu, setelah itu aku akan meminta Kak Moka untuk mengantarku ke Surabaya. Ya, dia pasti mau mengantarku.” Fresia bergegas meraih ponselnya di atas tempat tidur, mencari aplikasi KAI access lalu memesan satu tiket tujuan Malang.
“Semoga saja wawancara nanti berjalan lancar,” gumam Fresia berdoa untuk wawancaranya nanti.
***
Stasiun Malang, Pukul 12.30 wib.
Fresia turun dari kereta dengan satu tas ranselnya. Ia tidak membawa banyak barang, hanya satu set baju untuk tes wawancara besok, laptop, ponsel, dompet dan barang barang penting lainnya. Ia bahkan tidak membawa baju ganti, masalah mudah karena sebagian bajunya masih ada di rumah Mbah Yuni.
“Fre!” seru Mbak Yuni yang sebelumnya mendapat kabar dari Fresia jika perempuan itu akan datang ke Malang.
Fresia tersenyum ke arah Mbak Yuni, ia lalu menghampiri perempuan itu.
“Kenapa mendadak sekali?” tanya Mbak Yuni heran.
“Aku baru dapat emailnya tadi pagi, Mbak,” jawab Fresia.
“Ayo masuk mobil dulu,” ajak Mbak Yuni.
Fresia lalu masuk ke dalam mobil, di susul Mbak Yuni. Mobil melaju meninggalkan Stasiun Malang.
“Tante Sofi nggak marah?” tanya Mbak Yuni fokus menyetir.
“Ya enggak dong, Mbak. Aku kan ke Malang karena ada undangan wawancara,” sahut Fresia. “Meskipun aku nggak bilang kalau undangannya dari perusahaan yang ada di Surabaya,” imbuhnya kemudian.
“Lho, kok nggak bilang sih?” tanya Mbak Yunita heran.
“Takut nggak di bolehin, Mbak,” jawab Fresia jujur.
“Karena terlalu jauh ya?” Mbak Yuni mengerti kekhawatiran Fresia. Mengingat dulu sebelum mengambil keputusan kuliah di Malang adalah pilihan terakhir Fresia setelah orangtuanya melarang perempuan itu kuliah jauh ke Semarang.
Fresia mengangguk.
“Kali ini mungkin akan berbeda, Fre. Kamu kan sudah besar.” Mbak Yuni memberi nasehat. “Lagipula kan ini untuk kepentingan karir kamu, kalau kamu hanya berdiam diri di kotamu, kamu nggak akan pernah bisa berkembang,” imbuhnya kemudian.
“Nah, itu dia yang aku fikirkan, Mbak!” seru Fresia. “Aku ingin keluar dari zona nyamanku, cari hal hal baru di luar hal yang biasanya aku lakukan. Tulungagung-Malang, Tulungagung-Malang. Hanya dua tempat itu saja. Makanya sekarang aku ingin cari kerja di kota lain. Aku bahkan pernah melamar kerja ke Jakarta, Jogja sama Makassar,” celoteh Fresia panjang lebar.
“Makassar?” tanya Mbak Yuni terkejut.
“Iya.” Fresia mengangguk lalu tertawa. “ Itu namanya nekat sih, untuk orang yang nggak pernah keluar kota tapi malah mengajukan lamaran ke luar pulau. Hahahaha.”
“Hahahaha.” Mbak Yuni juga ikut tertawa.
“Untungnya di tolak sih, Mbak. Kalau enggak aku pasti udah galau mikirin mau pergi atau enggak,” oceh Fresia.
“Rejeki nggak akan kemana, Fre. Mungkin rejeki kamu memang di Jawa,” ujar Mbak Yuni.
“Iya, Mbak.” Fresia mengangguk membenarkan. “Oh, ya, Rania sering mampir ke rumah, Mbak?” tanyanya kemudian.
“Enggak, Fre, mungkin dia sibuk. Udah 2 Minggu dia nggak datang ke rumah. Katanya banyak pekerjaan, kamu kan tahu kalau agensi tempat kerja Rania itu besar,” jawab Mbak Yuni.
“Hufh, senangnya bisa sibuk karena pekerjaan.” Fresia menoleh ke luar jendela.
“Semoga secepatnya, kamu juga sibuk sama pekerjaan.” Mbak Yuni tersenyum ke arah Fresia.
“Amin.” Fresia mengaminkan doa baik tersebut.