Still Love You

1149 Words
Malang, Indonesia, pukul 09.19 Wib. Sejak makan malam semalam, Biru tak fokus pada pekerjaannya. Sejak tadi ia hanya berkutat pada laporan yang itu-itu saja. Di hadapannya terdapat 3 cangkir kopi yang sudah kosong. Kebiasaan yang ia lakukan saat terlalu banyak fikiran adalah meminum kafein lebih banyak dari biasanya. Ia sering melirik ponsel yang berada tak jauh darinya. Setelah menimbang cukup lama, ia akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan kepada seseorang yang saat ini mengacaukan fikirannya. New York, Amerika, pukul 22.19 waktu setempat. “Masih terlalu sore untuk mabuk.” Seorang pria menahan gelas yang akan di minum oleh seorang wanita yang duduk sendirian di meja bar. Sang wanita menoleh, lalu mendengkus. “Berhenti mengikutiku, Ngga,” ocehnya kemudian. Ia melepas tangan pria itu lalu meneguk cairan kuning di dalam gelas hingga tandas. “Aku berniat melakukannya,” ujar pria itu tak acuh. Ia mengambil tempat di samping wanita itu. Wanita bernama Hajeng itu menoleh ke samping. “Ini bukan april mop.” Ia diam sejenak. “Kamu sudah muak mengikutiku selama 5 tahun ini?” tanyanya kemudian. “Hehm.” Pria itu hanya bergumam. “Wow.” Hajeng justru bertepuk tangan. “Seorang Nanggala Jingga muak dengan seorang wanita. Sulit dipercaya,” ocehnya meremehkan. Sebagai seorang pemain, pria bernama panggilan Jingga itu memang tidak pernah lepas dari yang namanya wanita. Tapi sejauh apapun ia berlari, ia selalu kembali ke garis awal. Pada wanita yang selalu menyita perhatiannya selama ini. Pada wanita yang menjadi alasan kepindahannya ke negara ini. Pada cinta pertamanya yang memilih kabur setelah mematahkan hati pria yang ia cintai. Jingga tak mengacuhkan ucapan Hajeng, ia mengambil botol minuman di hadapan wanita itu lalu menuangkan cairan pahit itu ke dalam gelas miliknya. Menghabiskan dalam sekali tegukan. Keduanya tak lagi berbicara. Sibuk dengan kekalutan dalam fikiran masing masing. Hanya terdengar musik kencang di lantai dansa serta hiruk pikuk di klub yang mereka datangi malam ini. “Aku akan kembali ke Indonesia,” ujar Jingga tiba tiba. Tangan pria itu memainkan bibir gelas dengan jari telunjuknya. Tangan Hajeng yang hendak menuangkan minuman berhenti di udara. Ia terkejut mendengar ucapan Jingga barusan, namun memilih untuk tak menunjukan rasa terkejutnya di hadapan pria itu. “Kapan?” tanyanya kemudian. Suaranya yang serak membuat wanita itu mengumpat di dalam hati. Berharap Jingga tak menyadari jika dirinya terpengaruh oleh ucapan pria itu. “Bulan depan,” jawab Jingga singkat. Hajeng tersenyum miring. Ia tak jadi menuang minuman, melainkan minum dari botolnya langsung. “Kamu nggak mau ikut?” tanya Jingga menoleh ke samping. Hajeng menaruh botol yang sudah kosong ke atas meja. Ia menyeka mulutnya yang basah. “Untuk apa? Di sini hidup baruku,” ujarnya kemudian. Ia berdiri dengan sempoyongan. “Mau kemana?” tanya Jingga mencegak Hajeng pergi. “Bersenang senang.” Hajeng menepis tangan Jingga di lengannya. “Sampaikan salamku untuknya. Bilang padanya kalau aku merindukannya.” Setelah mengatakan hal itu, ia pergi ke lantai dansa. Meliuk liukkan tubuhnya dengan iringan musik yang memekakkan telinga. Jingga menatap wanita yang tengah berjoget di lantai dansa. “Sampai kapan kamu lari dari perasaanmu sendiri, Jeng,” bisiknya pelan. 5 tahun yang lalu, Jingga memilih pergi ke New York untuk menyusul Hajeng yang sudah menetap di sana sejak lulus SMA, hampir 10 tahun yang lalu. Pria itu ingin melihat keadaan Hajeng yang pergi dengan keadaan patah hati. Ia juga ingin menenangkan rasa rindunya yang semakin bertambah setiap harinya sejak kepergian wanita itu. Hajeng merupakan cinta pertamanya, mereka tumbuh bersama sejak kecil hingga ia lupa bagaimana caranya jatuh hati dengan wanita lain. Namun sayangnya, perasaan wanita itu bukan untuknya tapi untuk oranglain. Jingga patah hati, ia tak bisa menerima jika ada oranglain di hati Hajeng. Hingga 10 tahun yang lalu, saat mereka lulus SMA; ia mendapat kabar jika Hajeng putus dengan kekasihnya. Harapan yang semula redup kembali bercahaya setelah ia tahu ada kesempatan yang muncul. Namun ternyata apa yang ia harapkan tidak berjalan dengan mudah. Setelah putus dengan kekasihnya, Hajeng memutuskan untuk pindah ke New York. Saat itu Jingga sudah mendaftarkan kuliahnya di Jakarta atas suruhan orangtuanya. Ia tak bisa pergi begitu saja hanya karena alasan seorang wanita. Pada akhirnya, Jingga hanya menunggu kepulangan Hajeng. 1 tahun berlalu, 2 tahun berlalu hingga tahun ke 5, tidak ada kabar apapun dari Hajeng. Lalu setelah lulus kuliah S-1, Jingga memutuskan untuk pergi ke New York dengan dalih mengambil S-2. Mereka bertemu di sana dan waktu berjalan hingga tahun ke 5 ini. Selama 5 tahun ke belakang, Jingga di hadapkan oleh kenyataan pahit jika wanita yang ia masih terluka oleh cinta pertamanya. Jingga berusaha menghibur dan selalu ada untuk Hajeng, namun perasaan wanita itu terlalu kuat untuk di runtuhkan. Sampai satu minggu yang lalu, orangtuanya menelfon dan menyuruh Jingga pulang ke Indonesia. Awalnya, pria itu menolak karena melihat akhir akhir ini Hajeng semakin rapuh. Namun pada akhirnya ia bersedia kembali pulang ke Indonesia, dengan harapan Hajeng ikut serta bersamanya. “Sepertinya untuk saat ini mustahil membawamu kembali, Jeng. Aku berharap suatu saat nanti kamu pulang, meski bukan karenaku tapi karena b******n itu,” ujar Jingga masih terus menatap Hajeng yang sibuk berjoget. Seperti sebelum sebelumnya, Hajeng akan bersenang senang saat fikirannya mulai berkecamuk. Berharap hiruk pikuk di klub dansa bisa mengusir rasa getir di hatinya. Menunjukan pada semua orang jika dia baik baik saja padahal sebenarnya tidak. Drrt Drrt. Ponsel milik Jingga bergetar, ada sebuah pesan masuk ke ponselnya. Sebuah nomor baru yang ia tahu siapa pemiliknya. Pria itu enggan untuk menyimpan nomor dari ‘orang itu’. 085604321180 | Mama bilang bulan depan Lo pulang. | Dia... gimana? Jingga mengepalkan tangan kirinya erat, ia juga mencengkeram ponsel yang berada di tangan kanannya. Pria itu kemudian mengetik pesan balasan dengan rahang yang mengeras lantaran emosi. Jingga | Kenapa? | Lo belum siap ketemu dia? | Sayang sekali, padahal dia pengen banget ketemu sama Lo. Tak butuh waktu lama sampai pesannya di balas. 085604321180 | Lo gagal bawa dia pulang. “Sial,” maki Jingga pelan. Tak menyangka jika orang itu dengan mudah mengetahui tipu muslihatnya. Jingga | Dia pergi ke New York karena Lo, b******k! | Dia nggak mau kembali ke Indo juga karena Lo! | Lo nggak merasa bersalah sama sekali! 085604321180 | Yang nyuruh pergi bukan gue, Ngga. | Yang memilih untuk mengakhiri juga bukan gue. | Yang menjadi pengecut bukan gue, tapi dia. Jingga tak langsung membalas. Jingga | Terus kenapa nggak Lo susul? | Bukannya Lo masih cinta sama dia. 085604321180 | Dia memilih berhenti memperjuangkan. | Bukannya itu artinya dia menyerah sama hubungan kita. | Lalu kenapa gue harus berjuang sendirian? Jingga | Berhenti bukan berarti nggak berjuang. | Dia berjuang dengan caranya sendiri. | Kalau 10 tahun yang lalu Lo datang ke sini. | Mungkin kisah kalian nggak berhenti. | Sampai saat ini, dia masih menangis kalau teringat Lo. | Lo tahu artinya apa, ‘kan? Tak ada balasan lagi. “Dia masih sangat mencintai Lo, b**o’!” Jingga memaki sendirian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD