Tanda Tanya Biru

1444 Words
“Yeay!” seru Fresia sembari cheers dengan sahabat sahabatnya. Setelah melakukan foto studio bersama, Fresia dan teman temannya. Mereka tengah merayakan gelar baru di belakang nama mereka. Makan makan sembari menikmati kebersamaan yang mungkin akan jarang mereka lakukan ke depannya. Laila akan kembali ke Pasuruan dan bekerja di sana, Devi akan kembali ke Blitar dan merencanakan pernikahannya dengan sang pacar, Kimi akan kembali ke Lombok dan mengelola usaha keluarganya, Amina akan kembali ke Makasar untuk bekerja di Rumah Sakit kakaknya dan Lika akan kembali ke Kalimantan untuk bekerja di sana. Sementara, Fresia, ia sendiri masih bingung dengan tujuannya. “Hehm, nggak terasa ya, kita udah 4 tahun bersama,” ujar Laila memulai pembicaraan. “Iya, padahal kayak baru kemarin kita kumpul bersama di depan masjid buat bahas mata kuliah AIK,” imbuh Devi. “Iya, iya, itu semester 3 lho, kita baru deket banget sampai sekarang,” oceh Fresia. “Yah, bakalan kangen banget nggak sih, kita bakalan balik ke kampung masing masing.” Kimi mempoudkan bibirnya. “Kapan kapan kita reunian ya, pokoknya harus,” oceh Lika. “Iyalah, harus.” Semua orang mengangguk kompak. “Malam ini jadi terasa banget ya kenangannya, kita dulu juga pernah makan di sini kan untuk pertama kalinya setelah dekat,” ujar Fresia menatap ke sekitar. Puk Puk Bawang, sebuah cafe and restaurant yang terletak di kota Batu. Sebuah tempat makan yang menyajikan pemandangan luar biasa pegunungan Batu. Hawa dingin yang terasa, lampu lampu yang terlihat indah, juga selimut langit malam dengan pesona jutaan bintangnya. Di sudut ruangan ada sebuah band yang mengiringi keindahan malam ini. Fresia dan teman temannya menggoyangkan bahunya sembari menikmati alunan lagu yang kebetulan mencerminkan suasana hati mereka saat ini. *** Berbeda dengan malam kenangan milik Fresia dan teman temannya. Biru harus terjebak dalam makan malam yang di rencanakan oleh sang ibu. Pria itu dengan hati malas menyetir ke daerah Ijen, tempat ibu dan adiknya tinggal selama di Malang. Di ujung meja makan, terdapat sang ayah yang baru saja kembali dari Jakarta. Lalu di sebelah kiri sang ayah ada kakak laki lakinya dan kakak iparnya, sebelah kiri ada ibu dan juga adiknya. Biru mengambil tempat duduk di sebelah kakak iparnya, sementara wanita yang ingin di jodohkan oleh Biru duduk di sebelah adiknya. Mereka semua menikmati makan malam dengan cukup tenang dengan di selingi beberapa obrolan ringan. “Kamu kerja di sektor pariwisata dan perhotelan kan, Ru?” Wanita bernama Selen, melirik pria yang hanya duduk diam dihadapannya. “Hehm.” Biru hanya bergumam. Ratu, ibunda Biru melirik putranya itu sekilas. Ia lalu menoleh ke arah Selen dan tersenyum. “Dia itu sudah mengurus hotel dan pariwisata sejak kuliah, Len, usaha pribadi dari hasil jeri payah sendiri. Om Raja nggak ikut campur dalam usahanya Biru ini,” terangnya kemudian. Sikap dingin putranya membuat wanita itu merasa tidak enak kepada Selen. “Wah, hebat banget dong,” tutur Selen yang rupanya tidak terlalu perduli dengan sikap dingin Biru. “Kamu juga hebat, Len, bisa jadi produser di usia yang terbilang muda,” komentar Lintang, kakak ipar Biru. “Ah, kalau dibandingkan sama Biru ya kalah jauh lah, Mbak,” ujar Selen merendah. Wanita berusia 25 tahun itu merupakan produser untuk acara traveling yang tayang di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia. Kebetulan untuk beberapa hari ini ia sedang ada syuting di Malang dan Ratu mengundangnya untuk makan malam bersama. “Kamu dulu kuliah dimana, Len?” tanya Mada, kakak kandung Biru. “Aku di Los Angels, Kak,” jawab Selen. “Berapa lama disana?” tanya Lintang. “Aku dari SMA sih, Mbak. Kebetulan ikut abangku yang pindah kerja di sana.” Selen tersenyum sopan. Biru hanya mendengarkan dalam diam, tidak berniat untuk ikut masuk ke dalam obrolan mereka. Membuat Ratu gemas sendiri dengan sikat tak acuh putranya. “Kamu kuliah ambil apa, Nay,” tanya Selen kepada gadis remaja yang baru saja lulus SMA itu. “Manajemen, Kak,” jawab Nayun seadanya, gadis itu tengah fokus pada ponsel di tangannya. “Hehm.” Raja berdehem. “Simpan dulu ponselmu, Nay,” ujar Raja melirik putri bungsunya. “Aduh, nanggung banget, Pa, ini acara live yang nggak bisa di ulang,” celoteh Nayun protes. Ia adalag gadis akhir remaja yang menyukai segala hal bertema kpop. Hari ini adalah acara ulang tahun dari grup idolanya, sehingga ia tak bisa melewatkan acara live yang idolanya lakukan. “Ck, dasar kpopers,” cibir Mada kepada adik bungsunya. “Wey.” Nayun hanya menjulurkan lidahnya kepada sang kakak. Selen tersenyum kecil melihat interaksi dua orang itu. Ia lalu melirik ke arah Biru yang masih duduk dengan tenang. Makanan di hadapannya sudah hampir habis, ia sendiri juga sudah kenyang. “Jadi pulang Minggu ini?” Mada melirik layar ponsel di atas meja. Ada sebuah notif pesan yang muncul di sana. “Siapa yang pulang, Kak?” tanya Selen ingin tahu. Semua orang tiba tiba saja terdiam. Ratu dan juga Raja melirik sekilas ke arah Biru yang tengah fokus menyendok nasi terakhirnya. Meskipun terlihat tak perduli, mereka yakin kalau Biru juga mendengarkan ucapan Mada dan juga pertanyaan Selen tadi. “Ehm...” Mada bingung harus menjawab apa. “Bulan depan Jingga pulang, Ru,” ujar Raja pada akhirnya. Biru tak merespon apapun. Sementara Selen menoleh ke arah Biru lalu ke arah semua orang secara bergantian. Cukup aneh dengan suasana saat ini juga ucapan Om Raja yang khusus di tujukan untuk Biru padahal tadi ia yang bertanya. “Kalau dia pulang, kita makan malam ya?” pinta Ratu kemudian. Suara wanita itu terdengar memohon. Biru tak langsung menjawab, jauh di dalam lubuk hatinya ia terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh sang ayah. Ia lalu hanya bergumam pelan. “Hehm.” “Jingga siapa, Tan?” tanya Selen memberanikan diri untuk bertanya. “Dia itu—” Biru beranjak dari kursinya. “Udah selesai makan, ‘kan? Aku antar pulang.” Nada suara pria itu terdengar dingin. Selen menoleh ke arah Biru, ia lalu beranjak dari kursinya. Ratu tersenyum ke arahnya dan dibalas senyum tipis dari Selen. “Saya pamit pulang ya, Tan, Om. Bye, semuanya,” pamitnya kemudian. Wanita itu berjalan cepat menyusul Biru yang pergi lebih dulu. Pria itu bahkan tidak pamitan dengan keluarganya. Di dalam mobil hitam yang ditumpangi Selen dan juga Biru, tidak ada suara apapun selain suara kendaraan di sekitarnya. Mobil melaju pelan meninggalkan perumahan Ijen, berbelok ke kanan lalu putar arah menuju jalan veteran. Selen merasa tidak enak karena sudah bertanya, ia melirik Biru sesekali namun pria itu hanya menatap ke depan dan fokus menyetir. Seolah olah hanya ada dirinya sendiri di dalam mobil ini. “Ehm, ehm.” Selen berdehem untuk memecah keheningan. “Aku—” “Kamu tahu ‘kan kalau hubungan kita nggak akan berhasil.” Biru memotong ucapan Selen. Selen diam sejenak, ia lalu mengangguk pelan. Sikap dingin dan diamnya Biru membuatnya sadar jika perjodohan yang di atur oleh orantua mereka tidak akan pernah berhasil. “Aku minta ma’af karena sudah membuang waktumu,” ujar Biru menoleh ke arah Selen. Untuk pertama kalinya, mereka berdua saling bertatapan. Hanya dalam waktu yang singkat karena Selen langsung mengalihkan pandangannya ke depan, begitu juga dengan Biru. Selen takut jika ia menatap sepasang iris milik Biru terlalu lama, ia akan jatuh cinta dengan pria itu. “Sama sekali nggak membuat waktuku karena aku bisa menikmati masakan Tante ratu yang enak,” ujar Selen kemudian. “Aku minta ma’af karena sudah bertan—” “Tidak perlu membahasnya.” Lagi lagi Biru memotong ucapan Selen. “Oke.” Selen mengangguk mengerti. Meskipun sangat penasaran dengan sosok Jingga yang membuat mendung di wajah Biru semakin terlihat. Saat awal makan malam, Selen hanya melihat wajah dingin Biru, dingin yang memang sifat dari pria itu. Namun saat nama Jingga di sebut, wajah itu menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Juga ada sedikit kesedihan di wajah pria itu. Sebenarnya siapa Jingga? Apa yang terjadi dengan mereka berdua? Apa yang membuat Biru marah dan juga sedih pada saat yang bersamaan? “Sudah sampai,” ujar Biru membuyarkan lamunan Selen. Mobil pria itu berhenti di depan sebuah hotel tempat Selen menginap selama di Malam. “Thanks,” ujar Selen tersenyum tulus. “Sampaikan salamku untuk om dan tante. Bye, Ru. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu dan menjadi teman,” imbuhnya kemudian sebelum keluar dari mobil. Biru hanya balas tersenyum saat Selen pamit pergi. Mobil kembali melaju meninggalkan pelataran hotel. Kini malam hanya menyisakan kegalauan di hati Biru. Pria itu tak ingin langsung kembali ke apartemennya, ia ingin berada di jalanan lebih lama lagi. Sembari memikirkan kegundahan yang tiba tiba melanda hati dan fikirannya. “Kembalinya Jingga ke Indonesia, apa artinya dia berhasil?” gumam Biru lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD