Berdamai dengan Masa Lalu

1053 Words
Djuanda Airport, Surabaya. Jingga menyeret koper miliknya dengan santai. Pria dengan tinggi semampai itu baru saja melakukan perjalanan jauh yang menguras tenaga. Ia tiba di Surabaya saat hari masih gelap, dini hari yang seharusnya digunakan untuk tidur. Pria itu berjalan menuju pintu keluar, mengutak atik ponselnya untuk memberi tahu kepulangannya kepada sang supir keluarga. "Mas Jingga!" seru Joko, supir kediaman keluarga Pelangga. Jingga menoleh ke arah pria dengan kumis tebal serta rambut yang mulai memutih di beberapa bagian. Pria itu tersenyum lalu menghampiri supir keluarganya. "Pagi, Pak," sapanya kemudian. "Wah, Mas Jingga tambah ganteng saja," komentar Pak Joko. "Iya dong, makin dewasa makin menawan," kelakar Jingga. "Ayo, Mas, berangkat sekarang. Supaya Mas Jingga bisa beristirahat di mobil," ajak Pak Joko. "Hehm." Jingga mengangguk. Pria itu menarik kopernya setelah sebelumnya menolak bantuan Pak Joko. Jingga memang sangat akrab dengan pria paruh baya tersebut. Pak Joko adalah supir yang dipekerjakan oleh keluarga Pelangga sejak usia Jingga masih bayi, bahkan jauh sebelum itu. Ia dulu juga sering bermain dengan pria itu, mengingat kedua orangtuanya sangat sibuk. Jingga duduk di bagian kursi dengan samping supir, berkilah ingin merasakan angin segar serta melihat pemandangan lebih jelas dan menoleh permintaan Pak Joko yang menyuruhnya untuk tiduran di kursi belakang. "Banyak yang berubah ya, Pak," ujar Jingga menatap jalanan yang mereka lalui. "Iya, Mas. Sudah 5 tahun nggak ke Indonesia sama sekali. Emangnya Mas Jingga nggak kangen sama keluarga?" komentar Pak Joko. "Kangen," balas Jingga singkat. "Tapi yang lebih dikangenin ada di New York, Pak. Gimana dong?" candanya kemudian, ia tersenyum konyol ke arah Pak Joko yang tengah fokus menyetir. "Weleh, siapa ini yang sudah membuat Mas Jingga klepek klepek sampai rela jauh dari rumah?" tanya Pak Joko ikut bercanda. "Ada deh, Pak. Nanti saya kenalin kalau usaha saya meluluhkan hatinya berhasil," jawab Jingga. "Lho, memangnya belum berhasil? Waduh, pasti wanita itu ndak tahu kalau Mas Jingga itu sempurna. Sudah ganteng, baik, dermawan, mapan, kurang apalagi coba," oceh Pak Joko tersenyum menggoda. "Nah, itu dia, Pak. Saya aja heran kenapa dia nolak saya terus?" keluh Jingga pura pura kesal. "Hahahahah." Pak Joko dan juga Jingga tertawa bersama. Suasana di dalam mobil lebih hangat begitu terdengar suara tawa mereka. Perjalanan yang panjang mereka lalui dengan gelak tawa dan juga candaan yang dulu sering mereka lakukan bersama. "Mama sama Papa gimana, Pak, kabarnya?" tanya Jingga tiba tiba. "Baik, Mas, Alhamdulillah. Paling cuma ngeluh sakit punggung saja, maklum saja mereka kan sudah tua," jawab Pak Joko. "Kalau Mas Mada sama Mbak Lintang gimana? Ah, mereka pasti kesal karena aku nggak datang ke pernikahan mereka," celoteh Jingga mengingat selama 5 tahun ini nggak pernah pulang ke rumah bahkan saat hari hari penting seperti pernikahan kakak tertuanya. "Mereka juga baik, Mas. Sekarang Mbak Lintang lagi mengandung," jawab Pak Joko sekali lagi. "Kalau Nayun gimana? Dia kuliah di UB 'kan sekarang? Katanya ngambil manajemen. Dia masih suka kpop kpop?" tanya Jingga bertubi tubi. Saat pergi ke New York, usia adik bungsunya masih 14 tahun. Sekarang pasti Nayun sudah menjadi gadis remaja menginjak dewasa yang cantik. "Iya, Mas. Makanya sejak 2 tahun yang lalu orangtua Mas Jingga tinggal di Malang. Kalau Mas Mada sama Mbak Lintang sering bolak balik Jakarta-Malang, mungkin sebulan 2-3 kali." Pak Joko diam sejenak. "Mbak Nayun masih kpopers, Mas, bahkan saat hari ulang tahunnya yang ke 17 tahun, dia minta dibelikan tiket liburan ke Korea bareng sama teman temannya. Tresno banget sama yang namanya idol idol korea itu." Pak Joko tertawa saat mengingat kegirangan anak majikannya yang paling bungsu saat mendnegarkan lagu lagu korea. Jingga tersenyum mendengar cerita Pak Joko barusan. Dia jadi semakin kangen dengan adik kesayangannya itu. "Kalau Mas Biru..." "Pak, kita ke hotel aja ya. Besok siang baru ke rumah orangtua saya." Jingga memotong ucapan Pak Joko. Pak Joko diam sejenak, lalu mengangguk. Ia tak berniat melanjutkan ucapannya sebelum Jingga memotongnya tadi. Rupanya, luka di hati mereka berdua masih belum sembuh sepenuhnya. Biru juga selalu menghindar jika Pak Joko sudah bercerita tentang Jingga. Heh, sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka berdua? Jingga menoleh ke luar jendela, ia tak lagi berbicara dan membiarkan hening mengambil alih. Fikirannya melayang jauh ke masa lalu, ke masa dimana dirinya masih mengenakan seragam putih abu abu. Masa dimana hubungan mereka semua masih baik baik saja. Lalu tanpa sadar, Jingga tertidur dalam usahanya mengenang masa lalu. *** Jingga membuka kedua matanya, mengerjab sebentar untuk menyesuaikan pencahayaan yang masuk ke kamar hotelnya. Pria itu menginap di hotel Ritz, hotel bintang 5 yang tidak ada hubungannya dengan usaha Biru. Ia terlalu enggan untuk tinggal di hotel milik pria itu, bukan apa apa, ia hanya belum siap jika tanpa sengaja mereka bertemu. Pria itu tak berniat untuk bangun dari ranjangnya, ia menoleh ke arah dinding dan melihat jam menunjukan pukul 8 pagi. Terdengar suara hujan dari arah balkon, rupanya bumi sedang kedatangan jutaan tamunya. Ia kemudian meraih ponselnya dan mengecek beberapa notif yang muncul. 3 panggilan dari Mama. 2 panggilan dari Papa. 3 panggilan dari Nayun. 1 panggilan dari Biru. Jingga terdiam menatap 1 panggilan terakhir yang masuk ke ponselnya. Ia memilih mengabaikan panggilan tersebut dan mendial nomor seseorang. "Jingga, astaga!" seru seseorang di ujung telfon. Teriakan orang itu membuat Jingga tertawa kecil. "Kamu masih bisa tertawa ya? Mama sudah menunggu kedatangan kamu, tapi kamu malah milih tinggal di hotel. Memangnya kamu nggak kangen sama Mama? Huh!" omel Ratu menggebu nggebu. "Rileks, Ma," sahut Jingga masih dengan senyuman gelinya. Ia rindu dengan omelan ibunya. Pria itu beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan ke arah jendela dan menyibak gorden tinggi yang menutupinya. "Nanti siang aku ke rumah," imbuhnya kemudian. "Kenapa nggak sekarang? Kenapa harus nanti siang?" tanya Ratu menyelidik. "Aku harus pergi ke suatu tempat dulu. Mengunjungi teman lama," balas Jingga. Ratu tak langsung membalas. "Ehm, ya sudah, Mama tunggu ya. Jangan lari lagi." Dek. Jingga tersentak mendengar ucapan sang ibu barusan. "Mama tahu hubungan kalian sedang tidak baik baik saja, tapi bisa nggak, kalian berpura pura baik baik saja hanya di hadapan mama dan papa," pinta Ratu terdengar memohon. Jingga terdiam cukup lama. "Akan aku usahakan ya, Ma. Aku janji akan menyelesaikan semuanya dengan Biru." Untuk pertama kalinya, pria itu menyebut nama yang semula tabu di dihidupnya. "Ya sudah, kamu istirahat, pasti masih capek. Bye, Sayang, love you," pamit Ratu kemudian. "Love you." Jingga mematikan panggilan. Apa sekarang waktunya berdamai dengan masa lalu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD