Antara Passion dan Kesempatan

1073 Words
Selamat Anda diterima kerja. Fresia menatap layar ponselnya dalam diam. Ia tengah menimbang nimbang pesan singkat yang baru saja masuk ke notif ponselnya. Pesan yang mengabarkan jika dirinya diterima di Perusahaan Tarigan dan besok sudah bisa mulai bekerja. Ia senang tentu saja, namun ada sebagian hatinya masih bingung dan juga bimbang. Pekerjaan yang perusahaan tawarkan bukan passion Fresia. Ia merasa tak yakin bisa melakukan pekerjaannya nanti dengan baik. Tidak baik memang berfikir negatif sebelum memulai sesuatu, namun sifat manusia memang seperti itu bukan. Selalu overthinking atas apapun yang belum pernah di coba. "Aku harus bagaimana?" gumam Fresia lirih. Perempuan itu berbaring di atas ranjangnya, menatap langit langit kamar dengan kebingungan akan pilihan masa depannya. "Terima nggak ya? Kerja di Surabaya, kerjaan yang bukan aku banget," gumamnya. "Ah, pusing!" Fresia menutup wajahnya dengan bantal. Tring! Tring! Notif ponsel Fresia kembali berdering. Fresia melempar bantal yang menutupi wajahnya ke sudut ranjang, ia kemudian meraih ponsel yang terletak tak jauh darinya. Kali ini ia mendapat sebuah email, dari seseorang yang mengaku sebagai editor di sebuah aplikasi novel online bernama Innovel. Ia membaca dengan seksama, tawaran untuk menjadi penulis di aplikasi tersebut. Pekerjaan yang sesuai dengan passion-nya, pekerjaan yang tak membuatnya khawatir setiap saat, pekerjaan yang bisa di lakukan kapan pun dan dimanapun. Hati Fresia tergoda untuk menerima tawaran tersebut. Terlebih lagi ia sudah cukup lama menjadi penulis di beberapa aplikasi novel online lainnya. Pengalamannya menulis sejak SMP membuatnya sedikit lebih percaya diri ketimbang dengan pekerjaan baru yang datang dari Surabaya. "Ah, gimana ini," keluh Fresia kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Perempuan itu menoleh ke arah jendela kamarnya. Hari ini kota Malang di landa hujan gerimis sejak subuh lalu. Mendung kelabu menyelimuti hati Fresia yang hari ini juga tengah menggalau. Perempuan itu duduk termenung di sofa dekat jendela, ia harus memikirkan kesempatan yang datang padanya dengan matang matang dan hati hati. "Ah, lebih baik aku jalan jalan sebentar sembari memikirkan apa yang akan aku pilih nanti," putus Fresia kemudian. Fresia lalu branjak dari tempat tidur, mengambil handuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Hujan hujan seperti ini enaknya menyeduh kopi di tempat langganannya. Beberapa menit kemudian, perempuan itu sudah berada di dalam taksi online menuju daerah Alun alun kota Malang. Ia berniat pergi ke sebuah kedai kopi kecil yang terletak di samping Hotel Grand. Sebuah kedai mungil yang menjadi langganan Fresia selama kuliah di Malang. "Sudah sampai, Mbak," ujar sang supir taksi online memberitahu. "Iya, Pak, terimakasih ya," balas Fresia. Awan masih gelap dengan butiran air yang menetes menyentuh bumi. Fresia berlari kecil menuju teras kedai, ia membersihkan butiran air yang mengenai rambut dan juga bajunya. Tring! Lonceng di atas pintu masuk kafe berdering, ada seorang pria yang keluar dari dalam kafe tersebut. Fresia hanya menoleh sekilas sebelum kemudian masuk ke dalam kedai. "Morning," sapa Fresia tersenyum ramah, ia langsung berjalan ke depan mini bar. Seorang pria berusia akhir 30-an menyambut kedatangan Fresia dengan senyum ramahnya. "Morning. Tumben jam segini mau nyeduh kopi," ujarnya kemudian. "Lagi galau, Mas," jawab Fresia lesu. "Mikirin cowok?" goda pria bernama Bayuta itu. "Ih, bukan dong. Ini lebih penting daripada cowok," tukas Fresia. "Terus apa?" tanya Bayu. "Eh, ini kopi yang biasa 'kan?" "Iya yang biasa," jawab Fresia. "Aku lagi bingung mau pilih kerja jadi marketing di Surabaya atau kerja jadi penulis di rumah," curhatnya kemudian. "Marketing? Wow, tawaran bagus 'kan? Meskipun bukan sesuai bidang studi yang kamu ambil, eh, dulu kamu ambil keuangan 'kan ya?" komentar Bayu, tangannya sibuk meracik kopi pesanan Fresia. "Iya, sih. Tapi aku juga pernah belajar di bidang itu, kan bagian dari manajemen. Cuma..." "Apa?" tanya Bayu sembari meletakkan secangkir kopi di hadapan Fresia. Pria yang lebih tua dari Fresia itu merasakan kegalauan perempuan itu saat ini. "Menurutmu, bukan sesuai passion kamu?" "Hehm." Fresia mengangguk. "Sulit banget buat ngomong ke diri sendiri kalau kita perlu mencoba hal baru, kita nggak boleh overthinking sebelum mencoba sesuatu dan kata kata penyemangat lainnya." Fresia diam sejenak. "Aku merasa kalau pekerjaan itu bukan keahlianku, aku terlalu takut untuk melakukannya, belum lagi pekerjaannya di Surabaya, aku... ah, entahlah, pusing." Bayu tertawa kecil melihat perempuan yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri itu. "Kalau gitu kenapa ngelamar ke sana?" ocehnya kemudian. Fresia mempoudkan bibirnya. "Waktu itu kan masih semangat semangatnya, Mas, semua lowongan yang ada aku apply semua. Eh, nggak tahunya yang lolos malah yang bukan passion aku," keluhnya. Fresia menoleh ke sekitar. "Eh, kopi dari pengunjung yang tadi?" tanyanya saat melihat cangkir tak jauh darinya. "Hehm." Bayu mengangguk. "Teman kuliahku dulu. Dia itu sebenarnya nggak suka kopi, jadi setiap datang ke sini selalu minta dibuatkan teh," imbuhnya kemudian. "Heh, aneh. Ini 'kan kedai kopi," komentar Fresia. "Memang aneh." Bayu membenarkan. "Tapi sejak kuliah dulu, dia memang nggak suka kopi. Berhubung sejak dulu aku kerja di sini, jadi tempat nongkrong kita juga di sini. Setiap kali kita kumpul. dia selalu minta di buatkan teh alih alih kopi. Kayaknya dia kangen banget sama teh buatan gue, makanan hujan hujan ke sini," terangnya kemudian. "Lho, emangnya udah jarang ke sini?" tanya Fresia kemudian. "Dia baru bali dari New York, Fre," jawab Bayu. "Wow, kuliah? Kerja?" tanya Fresia penasaran. "Katanya lagi usaha meluluhkan hati wanita," jawab Bayu tersenyum kecil. "Wah, romantis banget. Bela-belain datang ke New York demi pujaan hati. Aku juga mau cowok yang kayak gitu," oceh Fresia meng-iri. "Nanti juga bakalan ada yang perjuangin kamu, Fre. Tenang aja, jodoh udah di atur kok sama Allah." Bayu tersenyum dengan alis terangkat sebelah. Fresia hanya mengangguk sekilas. "Jadi, gimana sama pilihanmu? Perbandingan aja, lebih condong ke arah mana?" tanya Bayu kemudian kembali ke topik pilihan pekerjaan Fresia. "Ya kalau condong sih, lebih ke arah penulis sih. Aku pernah cerita 'kan, kalau aku udah nulis dari SMP. Nulis itu udah jadi makanan sehari hari aku. Jadi pasti kerjanya nanti nggak terlalu tertekan, meskipun pasti nanti ada target dan kontrak yang harus dipenuhi," oceh Fresia panjang lebar. "Ya udah, pilih jadi penulis," balas Bayu. "Lakukan sesuatu yang membuatmu bahagia menjalaninya, bukan karena paksaan atau apapun itu. Yang menjalani semua itu kan kamu, bukan oranglain. Aku ngerti kok kekhawatiran kamu, Fre," imbuhnya menasehati Fresia. Fresia mengangguk mengerti. "Wah, bener nggak ada salahnya aku datang ke sini, pas hujan hujan. Entah kenapa aku ajdi lega setelah dengar ucapan Mas Bayu tadi," ocehnya tersenyum lebar. "Yah, bakalan kehilangan satu pengunjung tetap di sini dong," celoteh Bayu bercanda. "Hahahahha." Fresia tertawa mendengar lelucon Bayu barusan. "Aku bakalan sering main ke Malang kok, Mas. Tenang aja." Bayu tersenyum mendengarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD