Muka jadi merah karena malu dengan ucapan Bu Katy, sedangkan Gentala hanya diam saja tanpa ada tanda-tanda ingin membelaku.
"Pokoknya Pak Genta harus hati-hati sama Mahasiswi kita yang satu ini Pak, dia sangat berbahaya, jangan sampai Bapak mau menerima tawaran darinya, apalagi kalau sampai dia ngajak kencan!" Mulut bu Katy bagaikan rem blong, melaju tak tentu arah hingga dia tidak sadar sedang mempermalukan ku di tempat umum, dan yang sangat ku kesal kan Gentala sama sekali tidak melakukan pembelaan terhadap ku.
Aku bahkan tidak bisa membela diriku, jalan satu-satunya adalah pergi dari hadapan mereka.
"Tuh liat, bukanya mau minta maaf malah nyelonong pergi, mahasiswi kok begitu." cibiran Bu Katy masih dapat ku dengar sayup-sayup saat aku meninggalkan restoran itu.
Aku memilih pulang menggunakan taksi, tidak lupa membeli fried chicken favoritku untuk mengganjal perut.
Sesampainya di depan rumah Gentala sudah menungguku di depan pintu masuk, dia berdiri dengan tangan di masukannya kedalam kantong celana, berdiri khas Gentala yang meniru para opa Korea, tapi sayang wajahnya tidak memadai.
"Kenapa pergi?" pertanyaan Gentala tak ku hiraukan, aku masuk melewati Gentala, tapi lenganku di cekalnya.
"Jawab dulu pertanyaan saya!" ucapnya tanpa menatapku.
"Anda sudah tau jawabannya Pak Gentala, kenapa masih bertanya? Atau anda sengaja ingin mempermalukan saya?" jawabku sambil berusaha melepaskan cengkraman tangannya yang besar dan kokoh.
Aku masuk kedalam menuju ruang makan, mengambil piring dan sebotol air mineral dingin lalu duduk di meja makan, baru saja ingin menyuap sobekan fried chicken kedalam mulut Gentala kembali datang duduk di depanku.
Berusaha untuk tidak terpengaruh atas kehadiran Gentala aku tetap menyantap makanan favoritku dengan lahap. Tiga potong chicken wings sudah ku telan menyisakan tulang belulang, hanya tinggal satu potong yang sengaja ku sisihkan untuk Gentala, meskipun aku sangat-sangat tidak menyukainya aku juga kasian melihatnya yang mungkin ngiler saat aku makan tadi.
Ku tutup makan malamku dengan sebotol air mineral yang sudah tandas.
"Soal tadi saya minta maaf, pertemuan dengan Bu Katy di luar dugaan saya ."
"Yakin soal itu saja?" tanyaku sambil menatap tajam pada Gentala, atas pertanyaanku dia mengerutkan alisnya, itulah menandakan kalau Gentala tidak peka. Gentala tidak tau di mana letak kesalahannya.
Aku tidak ingin lagi membahas soal ini kepada Gentala, ku tinggalkan saja dia di meja makan dalam kondisi kebingungan, mungkin sedang memikirkan apa saja kesalahannya malam ini padaku. Aku melenggang menaiki tangga menuju kamar tidurku.
Pagi sekali aku sudah bersiap untuk pergi ke kampus, menggunakan outfit simpel karena rencananya aku seharian di kampus, agendaku hari ini adalah ingin menyelesaikan administrasi seminar proposal yang telah di ACC oleh Gentala dan bertemu dengan Firdaus untuk membahas tentang proposal skripsiku itu, sedikit banyak aku harus mengerti juga dengan isi proposal yang di buat oleh Firdaus sebagai bahan presentasi.
Sebelum berangkat aku menuju kebelakang dulu, sarapan s**u bersama roti untuk mengganjal perutku, takutnya kalau tidak sarapan maag akut ku akan kambuh.
Di meja makan aku kembali bertemu dengan Gentala, dia sudah berpakaian rapi dengan kemeja bewarna hitam di sertai dasi, rambutnya klimis dan bau parfumnya langsung menyapa indra penciumanku, segar!
Dia sedang menikmati sepotong roti dengan sayuran, tomat dan yang lainnya, di hadapannya juga tersaji juga roti selai coklat kesukaanku beserta segelas s**u.
"Ini untukku?" Gentala hanya menjawab dengan anggukan.
Ternyata baik juga si kutub ini, dengan senang hati aku menikmati sarapan buatan Gentala, kami sarapan di temani kesunyian, sama sekali tidak berbicara hanya kadang bertatap lalu kembali menikmati sarapan.
Setelah sarapan aku bergegas pergi keluar rumah, di depan halaman sudah terparkir mobilku, tapi secara serentak Gentala berjalan melewati ku lalu masuk ke mobilku.
"Lho-lho Pak Gentala, kok Bapak masuk ke mobil saya!" Aku menggedor pintu mobil karena keburu di tutup oleh Gentala.
Kaca jendela di turunkan olehnya.
"Cepetan! Saya ada jadwal penguji sidang skripsi hari ini." ucapnya sambil memasang seat belt.
"Tapi Pak ini mo-" kalimatku di potong lalu,
"Cepetan naik atau saya tinggal." Ancam pak Gentala.
"Bapak sadar diri gak sih, ini mobil saya Pak, kok Bapak yang ngotot."
"Masih mau berdebat? Oke kamu jangan ikut saya." Tiba-tiba mobil sudah bergerak meskipun masih lambat.
Sialan ni Gentala, sengaja kayaknya mau ngerjain aku, tapi aku pakai apa kekampus kalau mobilku di bawa.
"Pak, tunggu Pak!" Aku terpaksa berlari mengejar mobilku yang di bawa oleh Gentala menuju pintu Gerbang keluar rumah.
Mobil berhenti.
"Kenapa sih Bapak resek sekali, Bapak punya mobil sendiri kenapa harus naik mobil saya, lalu merepotkan saya, dan pakai acara ancaman lagi, situ waras?" Aku mulai merepet kalau sudah seperti ini, ku rasa bukan saja aku, seluruh wanita pun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisiku.
"Saya sudah bilang kalau saya terlambat." kilahnya sambil membunyikan klakson, pak Santoso yang setia menjadi tukang kebun kami membukakan pagar besi sambil tersenyum.
"Bapak terlambat itu bukan urusan saya, kenapa saya di libatkan, kita pergi kekampus dengan satu mobil begini akan menimbulkan gosip Pak, dan saya tidak Sudi di gosipkan dengan Bapak." Aku kembali melanjutkan ucapanku sekencang kereta api listrik.
Lagi-lagi Gentala tidak menjawab, dia fokus menyetir mobil membelah jalan raya yang di padati oleh kendaraan.
"Atau jangan-jangan Bapak senang kalau kita di gosipkan? iya?" Ku ulangi ucapanku yang mungkin tidak jelas di telinga Gentala.
Ponselku berdering, sebuah panggilan masuk dari Rangga, tumben sekali dia menelpon pagi-pagi, biasanya kalau pagi Rangga pasti sibuk menemani dokter untuk visit pada pasien.
"Assalamualaikum sayang!" Ku jawab panggilan suara dari kekasih hatiku itu dengan lemah lembut dan mendayu. Berbeda sekali kalau aku berbicara dengan Gentala, ototku menjadi kencang semua.
"Wa'alaikum salam, Sayang kamu sudah lihat Grup BEM dan Grup informasi dosen dan mahasiswa di aplikasi biru berlogo pesawat kertas?" Rangga yang biasanya selalu menyambut sapaku dengan manis tiba-tiba berbicara terburu-buru.
"Belum sayang, a-aku sedang di jalan mau kekampus." Jawabku tergagap sambil melirik pada Gentala yang sedang fokus menyetir.
"Sebaiknya liat dulu sayang, aku sedang sibuk nanti ku telpon lagi ya!"
Tut-tut-tut.
Panggilan suara di matikan oleh Rangga.
Akupun langsung masuk ke aplikasi biru berlogo pesawat kertas yang di maksud oleh Rangga, dua Grup perkumpulan masyarakat kampus berada di paling atas, ada seribu pesan yang belum terbaca membentuk angka di sana.
Permasalahan apa yang sedang menjadi trending topik sehingga begitu antusias para mahasiswa dan dosen berbalas pesan di sana.
Saat aku membuka pesan pertama jantungku seakan berhenti berdetak, ponsel yang ku genggam sampai terlepas dari tanganku saking terkejutnya aku.